Please Love Me

Please Love Me
Part 115


__ADS_3

"Hahaha, jadi karena itu, santai saja, kenapa kalian menampilkan wajah yang seperti itu," ucap Al tertawa, padahal disana tidak ada yang lucu.


"Maksud Kak Al, Kak Al tidak marah?" Tanya Lily setelah mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak percaya dengan tanggapan Al tadi.


"Untuk apa Kakak marah, kakak hanya memberi kalian hadiah, dan itu hak kalian mau menerimanya atau tidak, lagian Kakak juga senang mendengar Ibumu sudah bisa menerima kamu Ale, dan Kakak setuju, jika kamu lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya, seperti apa yang kamu inginkan selama ini, bukan seperti itu Ayah," tanya Al pada Alan meminta persetujuan Ayahnya tersebut.


Alan mengangguk, apa yang Al katakan memang benar, dia ingin putri satu-satunya itu bahagia, dengan merasakan kasih sayang dari sosok seorang Ibu yang selama ini belum pernah putrinya dapatkan, baik dari Ibu kandungnya ataupun Ibu yang membesarkannya. Mungkin pernah tapi hanya sebentar waktu Lily kecil, jadi Lily pasti tidak mengingatnya.


Lily kemudian bangun dari duduknya, memeluk erat bahu kedua pria yang disayanginya itu, Jason ikut tersenyum senang melihat binar bahagia di wajah sang istri.


"Terima kasih Ayah, terima kasih Kak, aku sangat menyayangi kalian," setelah itu Lily mencium Pipi keduanya di samping kanan dan kirinya.


Baik Alan maupun Al tidak bisa menyembunyikan betapa bahagianya mereka saat ini.


Dan akhirnya kini Lily juga mendapat hadiah ciuman di pipi kanan dan kirinya dari Ayah dan Kakaknya.


"Stop! Jangan cium istriku lagi!" Peringat Jason saat Alan dan Al akan mencium Pipi Lily kesekian kalinya.


Alan dan Al hanya memutar bola matanya jika Jason sudah seperti itu. Sementara Lily sendiri terkikik geli, saat Ayah dan Kakaknya jengah dengan suaminya yang posesif itu.


"Sayang sini kembali ke tempat dudukmu dan lanjutkan makanmu!" Perintah Jason pada istrinya.


Lily hanya berjalan dengan patuh untuk kembali ke tempat tadi dirinya duduk.


Mereka pun kemudian kembali melanjutkan makan dengan tenang. Dan setelahnya mereka sudah mulai menjalankan aktivitas masing-masing seperti biasanya.


"Kakak mau ke kampus hari ini?" Tanya Lily melihat Kakaknya yang tengah bersiap.


Setelah tadi mengantarkan suaminya ke depan sebelum berangkat kerja, Lily segera menaiki anak tangga menuju ke kamar Kakaknya ada yang harus dia bicarakan pada Al.


"Iya, kenapa?" Tanya Al yang masih fokus mempersiapkan keperluannya tanpa melihat ke arah Lily.

__ADS_1


"Kakak tidak ke rumah sakit?" Tanya Lily lagi yang kini sudah duduk di atas tempat tidur Al.


"Untuk apa Kakak ke sana?"


"Ya tentunya untuk menemani Kak Lia, pakai tanya segala lagi," ucap Lily kesal karena Kakaknya justru bertanya.


"Kakak  juga ada hal yang perlu Kakak lakukan Ale, jadi tidak mungkin Kakak bisa menemaninya terus, lagian di sana juga ada Ibu kalian," Al kini ikut duduk di samping adiknya.


"Ih Kak Al tidak peka deh, maksud aku ya nanti gitu sehabis Kakak pulang," Lily menatap Kakaknya.


"Lihat nanti saja ya," Al mengacak rambut Lily, kemudian berdiri, bersiap untuk pergi.


"Hmm Kak!" Panggil Lily, hingga otomatis Al berhenti melangkah.


"Kenapa?" Al menoleh dan balas memandang adiknya.


"Kenapa Kak Al tidak sama Kak Dahlia saja, Kakak tahu kan jika Kak Lia menyukai Kakak?" Tanya Lily yang memang penasaran tanggapan Kakak laki-lakinya mengenai Kakak perempuannya.


"Kakak jangan lupa, aku sudah menikah," Lily tidak terima saat lagi-lagi dirinya dibilang anak kecil.


"Ya, ya," jawab Al malas mendengar jawaban adiknya. "Ya sudah, Kakak berangkat dulu."


"Tunggu Kak!" 


Tapi lagi-lagi, langkah Al terhenti saat Lily memanggilnya.


"Kenapa sih Ale? Kakak mau berangkat nih ada mata kuliah pagi, nanti Kakak bisa-bisa terlambat," Al mengelus dadanya, berharap dia punya rasa sabar yang tidak terbatas untuk menghadapi Lily.


Kenapa Al baru menyadari jika Lily adalah gadis yang menyebalkan apa dulu dia tidak bisa melihatnya karena cinta yang dia miliki, Al kemudian mengedikkan kedua bahunya acuh, tidak ingin berpikir keras mengenai hal itu.


"Kakak aku ikut Kak Al ya," ucap Lily menatap Kakaknya penuh harap.

__ADS_1


"Tidak, untuk apa kamu ikut Kakak, nanti bisa-bisa Kakak digantung oleh Suamimu, lagian kampus bukanlah hal untuk bermain."


"Ih Kakak, maksud aku tuh bukan ikut ke kampus, tapi aku mau ikut mobil Kakak ke rumah sakit, lagian rumah sakit sama kampus Kak Al kan searah," ucap Lily menjelaskan maksudnya tadi.


"Kamu bisa sama supir Ale, jika Kakak nunggu kamu juga bakalan lama, kamu aja belum siap-siap, nanti bisa-bisa Kakak terlambat, sudah Ah kakak pergi sekarang," kata Al dan dirinya benar-benar meninggalkan Lily kali ini.


Bahkan tidak peduli dengan Lily yang saat ini berteriak-teriak memanggil namanya.


***


Sementara itu, di tempat lain.


"Ibu, mau berangkat ya sayang, kamu beneran tidak mau ikut ke tempat Kakak Ipar kamu, biar sekalian jalan-jalan juga, kan kamu bisa jagain Alno," kata Dea hari ini untuk kesekian kalinya, menanyakan apa Liora beneran tidak ikut ke tempat istri dari Kakak keduanya. Karena rencananya hari ini mereka semua akan pergi ke sana.


"Tidak Bu, aku juga sudah mengirim pesan kok ke Kak Bunga, dan dia juga mengerti, Ibu juga tahu, aku sedang sibuk juga belakangan ini," jawab Liora yang sedang membereskan piring bekas makan kedua orang, Ibu dan anak itu.


"Ya sudah jika memang itu keputusan kamu Ibu bisa apa," jawab Dea pasrah.


Liora hanya terkekeh mendengar kalimat pasrah ibunya.


"Ibu jadi hari ini pindah rumah sakit?" Tanya Liora saat beberapa hari yang lalu, Ibunya pernah cerita jika akan pindah rumah sakit, agar dekat dari rumah yang dihuninya sekarang, rumah yang sudah dipersiapkan sahabatnya Tiffa, daripada Dea harus menyewa tempat tinggal.


"Tapi bagus juga jika seperti itu, seperti yang Liora katakan kemarin, Liora setuju, capek juga kan jika Ibu harus bolak-balik tiap hari dengan jarak yang cukup jauh," timpal Liora lagi.


Dea tersenyum, "Iya, Ibu juga sudah mengurus semuanya, jadi putri Ibu ini tidak perlu khawatir, Ibu yang harusnya khawatirin kamu karena sampai saat ini kamu belum mau pulang dan berkumpul lagi sama Mami dan Papimu, Mami sering menghubungi Ibu, dan Mami bilang ke Ibu jika dia sangat merindukanmu," kata Dea.


"Ibu tidak perlu pikirin itu, aku pasti pulang nanti, lagian aku ingin selalu menemani Ibu, Ibu disini sendiri, tapi Mami masih ada Papi, Kak Vano, Alno dan Kak Olive. Mami  tidak akan merasa kesepian hanya karena tidak ada aku, sementara Ibu? Hmm ya sudah, tidak perlu dibahas lagi, Ibu lebih baik berangkat sekarang dan ingat hati-hati," Liora mencium punggung tangan Dea, dan menyuruhnya agar segera berangkat, agar Ibunya tidak membahas lagi masalah dirinya yang tidak pulang-pulang.


Dea hanya bisa menghela nafasnya, tahu jika sebenarnya Liora tidak ingin membahas tentang dirinya, senyum yang Dea tunjukkan pada Liora tadi tiba-tiba pudar saat dirinya teringat bahwa ternyata keputusan yang diambilnya mungkin salah.


"Aku pasti bisa, semua sudah berlalu," Dea kemudian masuk ke dalam mobilnya menuju ke tempat yang seharusnya tidak dia datangi.

__ADS_1


 


__ADS_2