
"Siapa?" Tanya Jason yang mendengar ponsel istrinya berdering.
"Kak Lia," jawab Lily yang langsung menjawab panggilan itu.
Mendengar nama Lia disebut, Al yang tadi fokus makan, langsung menatap adiknya, ada rasa penasaran yang tiba-tiba dirasakannya.
"Kenapa sayang?" Tanya Jason setelah istrinya sudah selesai menelpon.
"Hmm sepertinya aku nanti akan ke rumah Ibu, tidak apa-apakan? Aku ingin menemani Kak Lia, lagian aku juga sangat merindukannya, boleh ya?" Lily menatap suaminya dengan tatapan memohon agar dirinya mendapatkan izin.
"Baiklah, nanti biar aku antar, sekalian aku pergi ke kantor," ucap Jason memberi izin.
"Oke," Lily kemudian melanjutkan acara makannya.
Keempat orang itu kembali makan dengan tenang, tapi tidak dengan pikiran Al yang tiba-tiba mengingat pria yang berkunjung waktu itu ke rumah Dahlia.
"Siapa Dion-Dion itu, kenapa rasanya aku seperti pernah mendengar namanya?" Gumam Al sambil mengaduk-aduk makanannya.
Sementara Lily langsung tersedak saat mendengar nama Dion disebut oleh Al.
"Hati-hati," ucap Jason dan Alan bersamaan, bahkan kedua pria itu juga sama-sama menyodorkan gelas minuman mereka.
Lily menatap dua orang itu, dan tidak ingin membuat iri keduanya, Lily menerima kedua gelas itu, dan meneguknya bergantian.
"Kenapa?" Al bertanya saat adiknya itu menatapnya.
"Kak, tadi Kak Al menyebut siapa Dion?" Lily memastikan bahwa tadi yang di dengarnya tidak salah.
"Iya kenapa?" Al mengernyitkan dahi bingung, pasalnya kemarin Dahlia memperkenalkan Dion sebagai teman kuliahnya, dan bagaimana bisa Lily mengenalnya? Apa pria itu dulu sering main ke rumahnya?" Tanya Al hanya dalam hatinya saja.
"Tunggu Kak!" Lily menyalakan ponsel dan mencari sesuatu disana. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Lily menunjukkannya pada Al. Jason yang penasaran ikut melihat apa yang istrinya tunjukkan.
__ADS_1
"Apa Dion yang Kakak maksud adalah orang ini?"
Al tampak meneliti gambar yang diperlihatkan adiknya.
"Bagaimana orangnya ini atau bukan?" Tanya Lily lagi karena tidak sabar.
"Kak Al lama," protes Lily karena Al belum juga menjawab pertanyaannya.
"Sabar dulu Ale lagian kamu ini aneh, orang yang namanya Dion yang Kakak temui kemarin itu sudah gede tapi lihat yang kamu tunjukkan ke kakak foto anak smp, bagaimana Kakak bisa langsung mengenalinya?" Al tampak kesal karena sedari tadi adiknya terus mendesaknya.
Lily cemberut, Alan hanya menggelengkan kepalanya, sementara Jason masih dilanda rasa penasaran tinggi. Apalagi istrinya memperlihatkan foto anak laki-laki sedang bersama istrinya, ya Jason mengenali foto anak perempuan itu, siapa lagi jika bukan Lily. Karena Jason pernah melihat foto-foto itu di akun sosial media milik Lily secara diam-diam.
"Sudahlah, nanti biar aku tanyakan sendiri saja sama Kak Lia," jawab Lily yang merebut ponselnya dari tangan Al.
Lily menoleh ke samping dimana suaminya sedang memperhatikannya lebih tepatnya menatap Lily seolah minta penjelasan.
"Dia bukan siapa-siapa kok," ujar Lily kemudian memperlihatkan senyumannya pada Jason.
"Oh ya Ayah tidak ke rumah sakit, bukankah seharusnya Ayah jadwal pagi hari ini?" Tanya Lily yang melihat Ayahnya masih berpakaian santai.
"Ayah ingin menghabiskan waktu denganmu, tapi sepertinya kamu sudah ada janji," jawab Alan yang sebenarnya ingin sekali meluangkan waktu untuk putrinya. Apalagi, saat bayangan masa lalu terlintas dimana dirinya terlalu sibuk dengan dunianya hingga dia dulu kurang memperhatikan istri dan anak-anaknya, bahkan saat istrinya sakit parah pun dia tidak tahu apa-apa, Alan terasa menjadi suami yang tidak berguna, egonya mengalahkan dirinya yang seharusnya bertanggung jawab pada keluarga kecilnya daripada masa lalunya.
Alan menatap Lily dan Alvaro bergantian, "Maafkan Ayah, maaf karena keegoisan Ayah kalian kehilangan sosok seorang Ibu," ucap Alan dalam hati dengan tatapan sendu.
"Ale bisa kok temani Ayah, lagian Ale akan menemui Kak Lia nanti sore mungkin, soalnya Kak Lia hari ini sudah mulai ke kampus lagi," kata Lily yang melihat wajah sedih Ayahnya, Lily tidak tahu ada masalah apa, tapi Lily berharap semuanya akan cepat selesai dengan segera menemukan jalan keluarnya.
"Benar?" Tanya Alan memastikan dengan wajah yang berbinar, akhirnya keinginan sederhana untuk berjalan-jalan dengan putrinya akhirnya bisa terlaksanakan.
"Hmm tentu saja, bolehkan sayang?" Lily menatap suaminya penuh harap, meminta persetujuannya.
"Ya boleh habiskan waktumu hari ini bersama Ayah," jawab Jason memperbolehkan, memberikan kesempatan kepada ayah dan anak itu untuk bersenang-senang.
__ADS_1
Jason tahu bagaimana perasaan Ayah mertuanya saat ini dan dia berharap jika Ayah mertuanya itu menghabiskan waktu bersama Lily, setidaknya bisa membuat kesedihan dan rasa bersalah Ayah dari dua orang anak itu berkurang.
"Tapi Ayah harus siap-siap bangkrut karena Ayah harus membeli semua yang aku inginkan," kata Lily dengan antusias.
"Tidak masalah, anything for you," kata Alan tersenyum.
Lily mengacungkan kedua jempolnya dan tertawa.
"Kalau begitu Al ke kampus dulu Yah," pamit Al kemudian mencium punggung tangan Ayahnya, mengecup kening Lily dan menepuk bahu Jason, sebelum akhirnya dirinya bangun dari duduk dan berlari keluar menuju mobilnya membuat tiga orang yang tersisa disana hanya saling pandang.
"Gadis itu ke kampus? Apa dia tidak tahu jika itu bisa saja berbahaya, sebenarnya dia merasakan sakit tidak sih," gumam Al yang tiba-tiba kesal saat mendengar Lily tadi bilang jika Dahlia pergi ke kampus.
Dengan kecepatan tinggi Al melajukan mobilnya. Menyalip mobil lain yang dikira mengganggu jalannya, bahkan suara klakson yang terus dibunyikan membuat pengendara lain sampai mengumpatnya, tapi Al tidak peduli, yang dia harapkan adalah sampai di kampusnya.
"Sial!" Sekali-sekali Al juga mengumpat saat berhenti di lampu merah. Apalagi menunggu warna lampu yang berganti terasa begitu lama dari biasanya.
Begitu lampu merah berganti hijau, Al langsung menancap gas membelah jalanan yang cukup ramai hingga tak lama dirinya pun sudah sampai di kampusnya.
Tapi ternyata hari ini Dahlia tidak ada kelas, hingga membuat Al semakin kesal.
"Tunggu, aku tadi tidak mungkin salah mendengar kan? Tadi jelas-jelas Ale bilang Dahlia bilang ke kampus, untuk apa dia ke kampus sementara dirinya tidak ada jadwal hari ini?" Gumam Al, otak cerdas Al sepertinya tidak berfungsi dengan baik saat ini.
*
*
Sementara di tempat lain, di sebuah kamar seorang pria dan wanita duduk bersebelahan di tepi ranjang, Lily tampak sedang berbicara di telepon, sementara suaminya hanya memperhatikannya. Ya pria dan wanita itu tak lain adalah Lily dan Jason.
"Kak, aku benar-benar minta maaf, hari ini aku belum bisa datang menemui Kakak, kemungkinan besok baru bisa. Aku harus menemani Ayah, tidak apa-apa kan?" Tanya Lily merasa tidak enak karena membatalkan niatnya yang akan datang menemui Dahlia, bahkan Lily tadi terpaksa berbohong pada ayahnya bahwa Dahlia ada kelas, padahal Lily hanya tidak ingin membuat ayahnya kecewa.
"Iya tidak apa-apa, Kakak mengerti, tapi janji ya besok kemari, Kakak merindukanmu, Ibu juga menanyakanmu kenapa tidak kesini padahal Ibu bilang akan memasakkan makanan kesukaanmu," jawab Dahlia yang mengerti jika Lily sudah punya keluarga lain yang juga ingin menghabiskan waktu bersamanya.
__ADS_1
"Iya, besok janji deh akan kesitu, sekalian aku bawakan oleh-oleh buat Kakak dan juga Ibu, ya sudah Kak aku siap-siap dulu, salam buat ibu" ucap Lily yang merasa lega mendengar jawaban kakaknya.