Please Love Me

Please Love Me
Part 81


__ADS_3

"Apa mau ku gendong sampai ke bawah?" Tanya Jason pada sang istri sambil mengerlingkan matanya.


"Tidak, aku bisa sendiri," jawab Lily kesal karena sedari tadi suaminya itu terus saja menggodanya.


"Kamu yakin? Kamu tidak malu jika pelayan melihat jalanmu yang seperti bebek itu," Jason kembali mengeluarkan kata itu untuk kesekian kalinya membuat Lily jengah.


Lily kemudian mendekati suaminya yang sepertinya sangat senang meledeknya.


"Ayolah sayang, jangan lupakan jika ini semua karena olehmu," kata Lily menatap suaminya tajam tapi tak lama bibirnya tersenyum menyeringai, dia menyuruh suaminya mendekat dan  berbisik, "Jika kamu terus mengataiku jalanku seperti bebek lagi, jangan harap nanti malam kamu akan mendapatkannya," ancam Lily yang langsung membuat suaminya diam.


Lily kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan suaminya yang kini terdiam di tempat.


"Sayang, tunggu! Kenapa jadi seperti itu? Itu semua tidak ada hubungannya jadi jangan mengancamku seperti apa yang aku katakan tadi," kata  Jason berjalan menyusul istrinya.


"Benarkah tidak ada hubungannya? Padahal baru saja aku bilang aku berjalan seperti ini karena dirimu, dan kamu coba pikir sendiri ini semua ada hubungannya atau tidak?" 


Skakmat, Jason jadi malu sendiri, karena bisa-bisanya dia tidak berpikir jika istrinya akan bisa menjawab ledekannya dengan sesuatu yang membuat Jason mati kutu.


"Sayang, aku janji tidak akan meledekmu seperti itu lagi, tapi kamu juga harus janji cabut apa yang kamu ucapkan tadi," Jason menggapai tangan istrinya guna untuk menahannya agar dia tidak meninggalkannya.


"Terlambat," jawab Lily cuek.


"Sayang please!" Jason bahkan rela memohon agar istrinya itu menarik kembali kata-kata yang dia ucapkan tadi.


"Sayang!" Rengek Jason layaknya anak kecil yang meminta jajan pada Ibunya.


"Baiklah, tergantung sikapmu, ya sudah ayo sarapan, Ayah dan Kak Al pasti menunggu kita," Lily kemudian meraih tangan suaminya dan menggandengnya menuju ke ruang makan yang terletak di lantai di lantai 1.


Jason tersenyum, "Baiklah, mulai sekarang aku akan bersikap baik dengan Nona Lily Malvies.


"Good boy," Lily mengacungkan ibu Jari tangan yang satunya sebagai tanda memuji Suaminya itu.


Kemudian sepasang pengantin baru itu pun menuju ke ruang makan dengan senyum lebar yang menghiasi bibir keduanya.


"Selamat Pagi Nona, Tuan," sapa Bibi Nia kepada pasangan suami istri itu.


Jason menarik kursi untuk istrinya, setelah Lily duduk, Jason pun menarik kursi untuk dirinya.


"Kok sepi Bi, Ayah sama Kak Al mana?" Tanya Lily saat tidak melihat kedua pria yang tidak lain adalah Ayah dan Kakak laki-lakinya yang belum lama diketahui olehnya.

__ADS_1


"Tuan Alan sudah pergi ke rumah sakit Nona, tadi pagi-pagi sekali. Sementara Tuan Muda Al, dia juga baru saja pergi dan meminta maaf pada Anda karena tidak bisa menemani Anda makan," kata Bibi menjelaskan seperti apa yang Tuan Mudanya katakan tadi sebelum pergi.


"Ya sudah Nona, kalau begitu Bibi siapkan dulu makanannya," kata Bibi lalu langsung pamit undur diri setelah Lily mengiyakan.


"Sebentar ya," Lily menoleh ke arah Suaminya memberikan senyumnya yang manis.


"Baiklah, bagaimana jika sambil menunggu makanan, lebih baik aku makan dulu," Jason berkata sambil mengedipkan matanya sebelah.


"Yang kita tunggu kan makanannya, lalu apa yang akan kau makan?" Tanya Lily bingung tidak mengerti maksud ucapan suaminya.


"Kamu," bisik Jason di telinga Lily yang langsung membuat tubuhnya merinding.


"Sayang!" Kesal Lily bahkan kini bibirnya sudah maju lima senti.


Cup


Jason mengecup sekilas bibir istrinya yang mengerucut.


"Ya terus seperti itu, aku menyukainya," kata Jason yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Maksudnya?" Lily mengernyitkan dahi sambil menunggu jawaban Jason, Lily benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan pria itu.


Lily hanya merona saat mendengar suara lembut suaminya itu.


"Akan aku coba," jawab Lily sambil mengambil makanan untuk Jason yang baru saja diberikan oleh Bibi Nia.


"Bukan akan tapi harus," kata Jason memaksa.


"Iya, iya, Tuan Jason alias si pria dingin," kata Lily yang kemudian memberikan makanan yang tadi dia ambilkan untuk suaminya.


"Sekarang lebih baik kita makan, untuk mengisi tenaga kita yang sudah terkuras habis, semalam," tambah Lily yang kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Baiklah kita makan sehabis ini kita olahraga lagi," jawab Jason dengan senyum menyeringai.


"No sayang, aku ingin bersantai hari ini," Lily kemudian melanjutkan makannya tanpa memperdulikan suaminya lagi.


Selesai makan keduanya pun menghabiskan waktu dengan menonton tv, Jason tidur di pangkuan sang istri sementara Lily mengelus kepalanya sambil matanya menatap lurus pada televisi.


Jason merubah posisinya tubuhnya menjadi miring, hingga wajahnya kini tepat menghadap ke arah perut sang istri. Jason mengelus-elus perut Lily.

__ADS_1


"Sayang geli tau," protes Lily saat Jason terus mengelus perutnya.


"Sayang," bukannya menghentikan aksinya Jason justru memanggil istrinya lembut.


"Hmm kenapa?" Lily sedikit menunduk agar bisa menatap wajah Suaminya.


"Aku berharap dia akan segera tumbuh disini," ucap Jason penuh harap.


Lily tersenyum, kita berdoa saja ya, semoga dia akan cepat hadir."


Mendengar tanggapan istrinya Jason tersenyum, awalnya Jason takut jika istrinya belum mau memiliki anak, tapi ternyata di luar dugaan, Istrinya juga berharap mereka akan segera memiliki anak dan Jason senang mendengar itu.


"Tapi sayang, tidak hanya berdoa saja, kita juga harus terus berusaha, dan kita bisa memulainya sekarang," ucap Jason yang langsung bangun dan menggendong istrinya untuk kembali ke dalam kamar, melupakan tayangan televisi favorit gadis itu.


***


Tin


Tin


Suara klakson mengagetkan gadis yang sedang berjalan di trotoar.


Tak lama mobil itu berhenti tepat di samping gadis itu.


Kaca pintu mobil terbuka, menampilkan wajah seorang pria yang memang dikenalnya.


"Masuklah!" Perintah Al pada gadis yang tak lain adalah Dahlia.


"Tidak perlu Kak, aku bisa sendiri," tolak Dahlia.


"Masuk dengan cara baik-baik atau aku akan memaksamu," ancam pria yang ternyata adalah Al, Kakak kandung Adiknya.


Dahlia mau tidak mau akhirnya masuk ke dalam mobil, mengikuti langkah pria itu untuk segera masuk.


"Apa aku harus mengancam dulu, baru kau mau mengikutiku apa yang aku katakan," Al menatap Dahlia dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Maaf bukan aku niat menolak ajakan Kak Al, aku hanya tidak ingin merepotkan Kak Al saja.


Kesal tentu saja, apalagi saat niat baiknya dianggap bercanda oleh orang lain, itulah yang Alvaro rasakan saat ini, "Kapan aku bilang kamu itu merepotkan? Jika aku merasa kamu memang merepotkan, maka aku tidak akan melakukan ini dari awal dan aku tidak perlu susah-susah harus menghentikan mobil dan untuk pulang bersama."

__ADS_1


__ADS_2