
"Jadi Mami dan Papi mau kembali ke rumah Kak Max?" Tanya Liora di perjalanannya melewati lorong rumah sakit.
"Iya, kamu tidak apa-apa kan sendiri?"
"Mmm tidak apa-apa sih."
"Bagaimana kalau kamu menginap saja di rumah Ibumu?" Sahut Tiffa memberikan saran.
"Mmmm tidak deh aku pulang saja, lagian aku tidak mau mengganggu Ibu pacaran."
"Pacaran? Dea? Sama siapa?" Tanya Tiffa terkejut mendengar berita terbaru tentang sahabatnya, sejak dulu Tiffa mengenal Dea, dia memang tidak pernah dekat dengan siapapun, dia hanya tahu belajar agar bisa mendapatkan beasiswa.
"Mami tidak tahu?" Liora justru balik bertanya, dia kira maminya mengetahui tentang kedekatan ibu angkatnya itu dengan ayah Lily.
Tiffa hanya menggeleng, dia memang tidak tahu soal itu, Dea memang sahabat baiknya, tapi soal asmara dia benar-benar tidak bisa terbuka, tidak seperti dirinya yang menceritakan semuanya kepada Dea. Tapi Tiffa sama sekali tidak marah, Dea berhak melakukan itu, dan Tiffa pun tidak pernah memaksa Dea untuk menceritakan semua tentang kehidupannya, karena walaupun bersahabat, setidaknya dia bisa menghargai privasi sahabatnya, karena semua orang berhak menutupi apa yang memang tidak ingin diceritakan kepada orang terdekatnya.
"Ibu sekarang dekat dokter Alan, Mami masih ingat kan dokter Alan?"
"Dokter yang dulu mengoperasi Mami?" Tanya Tiffa memastikan.
"Yups benar, dan mungkin mereka akan lanjut ke jenjang yang lebih serius," jawab Liora sambil tersenyum.
"Tunggu, bukannya dokter Alan itu adalah ayah teman Olive?" Tanya William yang ternyata mendengarkan obrolan Istri dan putrinya.
"Iya dokter Alan, Ayah Lily, mertua Kak Jason."
"Oh, sejak kapan memangnya mereka dekat?" Tanya Tiffa yang kini penasaran setelah mendengar cerita putrinya.
"Sebenarnya Ibu sama dokter Alan itu sudah sejak lama saling mengenal, lebih tepatnya mereka clbk, cinta lama belum kelar," Liora pun kemudian masuk ke dalam mobil Jason yang tadi dibawanya setelah sampai di parkiran.
"Ya sudah Pi, Mi, aku pulang dulu ya," pamit Liora, karena Mami dan Papinya akan langsung ke rumah kakak keduanya.
"Iya hati-hati tidak usah ngebut," pesan Tiffa dan Liora pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan maminya.
"Lowbat lagi," ucap Liora ketika melihat ponselnya yang melihat ponselnya hanya tinggal 10 persen saja.
Liora kemudian mulai menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya, dia ingin secepatnya mandi dan istirahat lebih awal.
Saat mobil yang dikemudikan Liora masuk melewati gerbang, Liora melihat mobil seseorang yang begitu dikenalnya.
"Untuk apa dia disini?" Gumam Liora begitu turun dan mengintip ke dalam mobil itu, melihat apakah pemiliknya ada di dalam sana.
__ADS_1
Salah satu pengawal berlari ke arah Liora dan meminta kunci mobil untuk membawa ke tempatnya.
"Mobil ini…"
"Milik Tuan Ronald Nona."
"Dimana dia?"
"Di dalam Nona, dan Tuan Ronald sudah disini sejak tiga jam yang lalu," beritahu pengawal itu.
"Baiklah, terima kasih," ucap Liora yang kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Dan begitu sampai di dalam, Liora mendekat ke arah sofa dimana seorang pria kini terlelap disana.
"Nona…"
"Sstt!" Liora meletakkan jari telunjuknya di depan mulut.
Pelayan yang tadi hendak berbicara pada Liora pun mengangguk dan kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Dari tadi siang dia bolak balik kesini mencari Nona," ucap pelayan dengan suara pelan tak ingin membangunkan pria yang tadi siang terus saja mengganggunya, menanyakan tentang Liora.
"Apa saja yang dia lakukan disini?" Tanya Liora. "Dia tidak mencari tahu tentangku kan?" Tanya lagi.
"Hmm dia…"
"Aku bertanya-tanya tentangmu, apa ada masalah," tiba-tiba seseorang yang sedari tadi itu terlelap kini sudah membuka matanya, bahkan kini dia sudah dalam posisi duduk, matanya terlihat memerah dan suaranya terdengar parau, menandakan jika pria itu tadi memang benar-benar tidur.
Liora kemudian kembali menatap pelayan tadi.
"Benar Nona, tapi Nona tenang saja, tidak ada diantara kami yang mengatakan yang aneh-aneh tentang Nona, sumpah," jawab pelayan yang seumuran dengan Liora itu.
"Sudahlah, kau bisa kembali," kata Liora yang kemudian hendak melangkah pergi.
"Kamu mau kemana? Aku sudah setengah hari ini menunggumu, tapi kau malah mau pergi begitu saja," ucap kesal Ronald.
"Aku mau mandi, lagian aku tidak menyuruhmu untuk menungguku," jawab Liora yang tetap pergi meninggalkan Ronald.
"Kau…" Ronald langsung berjalan menghampiri Liora, Liora menoleh dan begitu melihat Ronald mengejarnya Liora buru-buru berlari menaiki anak tangga, san bukannya Ronald berhenti, Ronald juga ikut berlari mengejar Liora, dan berakhirlah mereka saling kejar-kejaran.
*
__ADS_1
*
"Kenapa senyum-senyum dari tadi," ucap Jason yang melihat istrinya terus saja tersenyum.
"Tidak apa-apa, aku hanya senang saja, kamu dengarkan apa yang Ayah katakan tadi, akhirnya Ayah bisa menemukan kebahagiaannya," ucap Lily yang kini tidur dengan berbantalkan paha suaminya.
"Tapi Ayah tidak romantis, masa melamar seperti itu," ucap Jason kemudian mengambil buku di atas nakas dan membacanya.
Lily langsung merebut buku dari tangan suaminya, kemudian menatap suaminya itu.
"Kenapa?" Jason mengernyitkan dahi bingung.
"Kau pikir kamu romantis, bahkan sepertinya kamu waktu sebelum nikah juga tidak melamarku," kata Lily mengingat pernikahan dengan laki-laki yang sekarang sudah akan menjadi ayah dari anaknya.
"Bagaimana aku melamar, jika aku saja saat itu hanya menjadi pengantin pengganti," ucap Jason tapi hanya dalam hatinya saja, jika benar-benar dikatakan secara langsung pasti istrinya akan menangis dan marah padanya lagi.
"Tapi waktu itu aku sudah memberikanmu kejutan, memangnya itu tidak termasuk romantis?"
"Hmm termasuk sih, sudahlah romantis atau tidak, yang penting bagi aku, kamu sayang dan cinta sama aku, terus juga yang penting kamu setia dan bisa selalu buat aku bahagia dengan hal-hal sederhana, misalnya dengan masakin buat aku tiap hari, terus kalau mau tidur…" tidak melanjutkan ucapannya Lily justru kembali senyum-senyum sendiri.
"Apa yang sedang kamu pikirkan hmm?" Jason menyentil kening istrinya pelan.
"Hmmm tidak ada, oh ya sayang kamu sudah dapat kabar bagaimana Jasmine?" Tanya Lily mengalihkan pembicaraan.
"Hmmm sudah, Nyonya dan kedua bayinya sehat, besok juga Nyonya sudah boleh pulang, sepertinya besok aku yang akan ke rumah sakit untuk menjemputnya, kamu mau ikut atau tidak?"
"Hmm iya aku pengen ikut, tapi memangnya tidak apa-apa jika aku ikut?"
"Tentu saja tidak apa-apa memangnya kenapa?"
"Ya tidak apa-apa, oh ya terus Alno bagaimana?"
"Alno masih di rumah Tuan Alex."
"Oh, aku juga kangen sama anak itu, sudah lama juga kan tidak bertemu."
"Ya sudah besok juga bertemu kok, ya sudah ayo tidur!"
"Tidak jadi membaca?" Tanya Lily menyerahkan kembali buku yang tadi direbutnya.
"Hmm tidak deh, lain kali saja, ya sudah kamu tidurnya yang benar."
__ADS_1
Lily pun bangun dari baringannya tadi dan kini membenarkan posisi tidurnya, satu tangan Jason digunakan untuk bantalan sang istri dan tangan yang lain untuk memeluknya, Lily pun balas memeluk suaminya dengan wajah yang menghadap pada dada suaminya. Keduanya pun tertidur, sama-sama menuju ke alam mimpi.