
Wajah Lily sedari tadi terus memberengut saat suaminya meminta izin akan pergi, dan yang lebih membuatnya kesal, dirinya tidak diizinkan untuk ikut dengannya.
"Kamu mau kemana sih sayang? Ini hari minggu loh, masih pagi juga, kalau kamu mau pergi, oke, tapi aku ikut," untuk kesekian kalinya, Lily berusaha membujuk suaminya agar dirinya diizinkan pergi bersama Jason.
Jason yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias, berbalik dan menatap Lily, saat melihat wajah istrinya yang cemberut dari balik cermin.
Tangan Jason terulur memegangi kedua bahu Lily.
"Aku hanya sebentar, lagian aku tidak sendiri sayang, aku pergi sama Cinta, jadi kamu di rumah saja, jaga Uli juga jagoan kita," ucap Jason, satu tangannya beralih pada perut Lily.
"Ya aku cuma nemenin aja kok, kan Uli juga bisa diajak, jika Cinta diajak, lalu Uli tidak, dia pasti akan ngambek."
"Oh ya? Bukan Uli kan yang ngambek sebenarnya, tapi ibu nya," Jason menarik hidung Lily gemas.
Tangan Lily menabok lengan Jason karena suaminya itu justru meledeknya.
"Lepas tangannya, jangan pegang-pegang!" Lily menyingkirkan tangan Jason, lalu segera melangkah pergi, meninggalkan Jason yang terkekeh karena berhasil membuat sang istri semakin kesal saja.
"Tuhkan kamu yang ngambek, bukan Uli," teriak Jason sambil berjalan mengekor di belakang Lily yang ternyata masuk ke kamar putri mereka.
"Kak Cinta uda rapi? Sepertinya niat banget ya, jalan-jalan ninggalin ibu sama adek," Lily melangkah dan duduk di tepi ranjang.
Cinta bingung dengan perkataan ibunya, kemudian gadis kecil itu menatap sang ayah, meminta penjelasan.
Jason yang mengerti melangkah maju dan duduk di samping istrinya, lalu meminta sang putri mendekat dan memintanya berdiri, di depannya.
"Ibu mau ikut."
Cinta menatap Lily yang jika ngambek seperti ini mirip dengan Uli, lebih tepatnya Uli versi dewasa.
"Ibu kan sudah sama ayah terus, kini giliran Cinta dong yang menghabiskan waktu sama ayah," ucap Cinta membuat Lily memutar bola matanya. Karena Lily yakin jika Cinta beralasan seperti itu, dirinya yang pasti akan kalah.
"Tapi kamu kan juga tetap ikut, kita pergi sama-sama."
"Ibu tidak adil, ibu aja sering berduaan sama ayah, Cinta juga ingin bu, masa cuma sekali dua kali ibu keberatan."
Jason menahan senyumnya, hal ini yang paling membuatnya senang, karena dirinya merasa dicintai, karena diperebutkan dua perempuan kesayangannya, untungnya Uli masih tidur, jika ditambah putri kecilnya itu, mungkin Jason tidak akan jadi pergi hari ini.
"Ibu tidak usa ikut ya, gantian nanti habis Cinta pulang, ibu bebas bisa berduaan sama ayah."
__ADS_1
"Bertiga sayang, sudah tidak berdua lagi."
"Hehehe, oh iya, ada adek ya," ucap Cinta mengelus perut ibunya.
"Hmm."
"Ya sudah ayah, ayo kita pergi sekarang, agar nanti cepat pulang," Cinta kini beralih menatap ayahnya.
"Ibu ikut ya," sepertinya Lily tidak menyerah, dia terus berusaha mendapatkan izin dari suami dan anaknya agar ikut.
"Ibu mau apa? Nanti biar ayah yang belikan, ibu tidak usa ikut, nanti ibu lelah, adek juga lelah."
Lily mendengus, yakin jika bujukannya tidak akan berhasil, putri pertamanya terlalu kompak dengan Jason, jadi dia tidak akan punya kesempatan menang melawan jika keduanya sudah seperti itu.
"Sudah dong sayang, jangan cemberut gitu, aku hanya sebentar, aku sudah janji sama Cinta, mau menemaninya hari ini."
Jason merangkul pinggang istrinya, mengikis jarak diantara mereka.
"Aku sama Cinta pergi dulu ya."
"Hmm."
"Kok gitu jawabnya, yang ikhlas dong sayang."
Jason hanya menggeleng, lalu menggandeng putrinya keluar.
"Jaga diri baik-baik, jangan terlalu lelah, jika ada apa-apa segera hubungi aku ok," pesan Jason saat mereka kini berjalan bersama menuruni tangga, Lily hendak mengantarkan Jason sampai mobil.
"Iya, beneran ya jangan lama-lama."
"Iya sayang."
Kini mereka bertiga berjalan keluar, rumah masih tampak sepi, karena Jason memang pergi pagi-pagi sekali, selain tempat yang mereka tempuh cukup jauh, Jason juga harus menjemput Ian juga Stevano dan Alno yang memang hari ini juga akan berlatih bersama.
Kini mereka sudah sampai di depan rumah, Jason meminta Cinta masuk ke mobil lebih dulu setelah mencium punggung tangan Lily. Dan melihat Cinta yang kini sudah berada di dalam mobil, Jason segera melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri, menatap lama wajah wanita yang sangat disayanginya itu, memberikan kecupan lembut di kening sang istri cukup lama, lalu berpindah pada bibir yang kini menjadi candunya, secepat kilat, tak ingin putrinya yang berada di dalam mobil sampai melihat kelakuannya.
"Jangan ngambek lagi, kamu nanti kalau mau dibeliin apa, kirim pesan saja, aku pasti akan membelikannya," ucap Jason menyelipkan helaian rambut Lily ke belakang telinga wanita itu.
Setelahnya Jason berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan perut Lily, mendaratkan bibirnya di sana cukup lama.
__ADS_1
"Jangan nakal ya jagoan, jaga ibu!" Ucap Jason membuat senyum terbit di sudut bibir Lily.
"Iya ayah."
Sekali lagi, Jason mengecup perut istrinya yang sudah tampak membuncit, berbisik entah apa, mengelusnya sebentar setelah itu kembali berdiri tegak.
"Aku pergi dulu sayang." Kata Jason berpamitan.
Lily mengangguk pelan, membiarkan suaminya yang kini berjalan menjauh dan masuk ke sebuah mobil yang langsung melaju meninggalkan pelataran rumah Alan.
Lily pun dengan segera masuk ke mobil yang terparkir di belakang mobil suaminya tadi, meminta sopir untuk segera melajukan mobilnya, mengikuti mobil Jason. Rupanya Lily tadi menghubungi sopir untuk stand by, untuk mengantarnya pergi. Dan sebelumnya, Lily juga mengirim pesan pada ibunya, menitipkan Aulia yang tadi masih lelap tidurnya.
"Jangan sampai suamiku tahu ya pak, kita jaga jarak aja, jangan terlalu dekat" ucap Lily mengingatkan.
Lily mengernyit saat kini melewati jalan asing yang belum pernah dilaluinya, sampai akhirnya suaminya berhenti di depan sebuah rumah yang besarnya sama dengan rumah miliknya.
Tak lama, Lily melihat suaminya keluar dari mobil dan tak berselang lama, Jason kini keluar, tapi tidak sendiri, Jason bersama seseorang, Lily menajamkan penglihatannya, memastikan bahwa yang dilihatnya benar.
"Ian?" Gumam Lily dan buru-buru Lily meminta sopir untuk kembali mengikuti mobil suaminya yang kembali melaju.
Kali ini Lily tidak asing dengan jalanan yang dia lalui, benar saja, kini dia sampai di depan rumah Stevano. Lily lihat Stevano keluar bersama Alno juga Jasmine sahabatnya.
"Jasmine ikut?" Tanya Lily dalam hati.
Pertanyaannya langsung terjawab, saat dia melihat Jasmine yang kini melambai pada mobil yang sekarang sudah mulai kembali jalan.
"Kita masih terus mengikuti Tuan, Nona?"
Pertanyaan sopir mengejutkan Lily yang tadi sempat sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Iya pak, ikuti saja!" Ucap Lily kemudian mencari ponselnya untuk menghubungi Jasmine, menanyakan perihal kepergian suami mereka, Lily yakin Jasmine tahu sesuatu. Tapi Lily kini justru menepuk keningnya pelan, saat melihat ponselnya kini mati.
"Kenapa nona?"
"Hah? Oh ini, ponselnya mati pak, bisa tolong isikan daya pak?"
"Bisa nona."
__ADS_1
Lily segera memberikan ponselnya pada sopir, dia pun menengok ke arah kirinya keluar jendela. Matanya menyipit, mengingat-ingat jalanan yang saat ini mereka tempuh.
"Sepertinya aku pernah melewatinya," gumamnya sembari mengingat-ingat.