
"Kamu akan menginap kan? Kita besok akan pergi pagi-pagi sekali, seperti katamu tadi yang bilang jika kamu mau memberiku waktu satu hari untuk bersamamu dan setelah itu aku akan menjauhimu" Jason berucap di sela-sela makan malam mereka.
"Tapi….
Ucapan Lily terpotong saat Jason kembali berkata, "Kamu tidak perlu khawatir, kamu bisa tidur di kamarku dan aku akan tidur di kamar Ayah, jika kamu takut aku akan berbuat macam-macam, yang harus kamu tahu Lily aku mencintaimu dan aku tidak akan merusakmu hanya karena untuk kesenangan sesaat," ucap Jason tulus.
"Bukan itu masalahnya, tapi…
Tring
Tring
Ponsel Lily berdering.
Lily menghela nafas berat, kemudian dengan malas dia mengangkat panggilan itu.
"Halo Lily," kata orang di seberang telepon.
"Iya halo Kak, kenapa? Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Lily langsung tanpa berbasa-basi.
Sementara Jason kini mencuri dengar apa yang gadis itu bicarakan dengan seseorang di seberang telepon yang tidak dia tahu siapa, tapi jiwa penasarannya meronta-ronta saat Lily menyebut Kak.
"Kakak sama ibu tidak pulang? Iya tidak apa-apa, baiklah jaga diri disana," jawab Lily kemudian memutuskan panggilan.
"Siapa?" Tanya Jason penasaran.
"Kakakku," jawab Lily kemudian dia mengambil segelas air putih kemudian meminumnya.
"Yang perempuan waktu itu kan?" Jason bertanya memastikan.
"Perempuan waktu itu?" Lily mengernyitkan dahi bingung saat Jason mengatakan jika seolah-olah dirinya pernah bertemu dengan Dahlia.
"Oh iya, aku lupa waktu itu kamu tertidur pasti kamu tidak tahu," jawab Jason.
Lily jadi teringat saat itu, saat hampir saja dirinya ketahuan sudah tidak bekerja lagi, dan hal itu tepat saat Jason mengantarkan dirinya yang sedang tertidur.
__ADS_1
"Kenapa melamun? Apa yang tadi Kakakmu katakan?" Jason menaik turunkan tangannya di depan wajah Lily dan langsung membuat lamunan gadis itu buyar begitu saja.
"Ah tidak ada," jawab Lily tapi Jason yakin jika ada hal yang disembunyikan gadis itu.
"Baiklah aku jadi menginap, tapi ingat perkataanmu tadi," kata Lily memperingatkan.
Jason tersenyum senang, dan mengangguk dengan mantap, "Aku janji tidak akan macam-macam."
***
"Ayah sudah pulang?" Tanya Al begitu melihat Ayahnya mendekat ke arahnya dan langsung menarik kursi duduk disana.
"Iya, Ayah sudah tidak ada jadwal operasi lagi, tapi Ayah besok harus berangkat pagi" kata Alan Horison sang Ayah.
Al hanya menganggukkan kepalanya.
"Dimana gadis itu? Kenapa tidak kamu kenalkan pada Ayah?" Tanya Alan yang tidak mendapati gadis yang fotonya sudah dikirimkan padanya oleh Bi Nia.
"Dia sudah Aku antar pulang tadi sore," jawab Al sambil memberikan piring dan isinya kepada sang Ayah, karena itulah kebiasaan mereka semenjak Ibu Al meninggalkannya, Al yang berusaha untuk menggantikan posisi Ibunya yang mempersiapkan segala keperluan Alan. Walaupun Alan bisa melakukan semuanya sendiri, tapi dia menghargai putranya dan mempersilahkan putranya melakukan itu.
"Kenapa kamu tidak kaget saat Ayah bertanya seperti itu?" Tanya Alan yang merasa putranya biasa-biasa saja saat dia menanyakan tentang gadis yang dibawa pulang oleh Al.
"Apa kamu tidak suka Ayah melakukan itu?" Tanya Alan menatap putranya.
"Selama hanya untuk mengawasi saja, Kurasa Al tidak keberatan, karena Al tahu jika Ayah seperti itu karena ingin tahu tentang perkembangan Al, tapi kalau Ayah sudah ikut campur urusan pribadi Al lebih baik tidak usa, karena Al sudah dewasa dan bisa menentukan pilihan Al sendiri dan tentunya itu juga yang terbaik untuk Al," kata Al menjawab pertanyaan Ayahnya.
Alan tersenyum, setidaknya putranya bisa memaklumi apa yang dirinya lakukan, "Tentu saja Ayah tidak akan ikut campur, asal itu masih dalam jalan kebenaran, tapi jika tidak Ayah sendiri yang akan turun tangan," Alan kemudian meneguk air putih yang ada di gelas di depannya.
"Ayah kira kau menyukai Jasmine?" Tanya Alan yang tahu jika gadis itu bukanlah Jasmine.
Al menggeleng, "Awalnya, mmm mungkin lebih tepatnya sebenarnya hanya rasa kagum saja, tapi setelah bersama mereka berdua, aku jadi tahu bahwa sebenarnya gadis yang aku sukai itu Lily bukan Jasmine," ucap Al memberitahu Ayahnya.
"Oh jadi Lily namanya? Nama yang cantik, pasti dia juga gadis yang cantik."
"Ayah benar, dan dia juga sedikit unik," Al berucap sambil membayangkan Lily.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mengenalkannya pada Ayah, Ayah juga ingin tahu seperti apa gadis pilihanmu," tanya Alan penasaran pada gadis bernama Lily yang disukai putranya.
"Aku tidak tahu jika Ayah pulang cepat hari ini, jika tahu aku pasti akan menahannya agar tetap tinggal disini."
"Ya sudah, nanti kita atur waktu lagi, jika Ayah tidak sibuk, kau harus memperkenalkan pada Ayah!" Perintah Alan tidak ingin dibantah.
"Baiklah, tapi Yah, apa Ayah akan menerima apapun segala kekurangan yang dimilikinya, misalnya tentang keluarganya?" Tanya Al hati-hati takut jika Ayahnya tidak bisa menerima Lily.
Alan justru tersenyum, "Ayah percaya pilihanmu, jika menurutmu dia memang yang terbaik untukmu, Ayah akan mendukungnya."
"Terima kasih Yah," kata Al begitu senang.
"Sama-sama Nak, Ayah ikut bahagia jika kamu merasa bahagia," Kata Alan mengajak putranya itu untuk ke ruang keluarga dan melanjutkan obrolannya disana.
Kini Alan dan Alvaro duduk di sofa bersebelahan sambil melihat tayangan berita di televisi.
"Apa Ayah tidak pernah lagi berhubungan dengan Ibu walau hanya sekedar berbalas pesan?" Tanya Al menatap Ayahnya dari samping.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan tentang Ibumu? Apa kamu begitu merindukannya?" Kini Alan juga menatap sang putra yang sedang melihat ke arahnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya saja, aku hanya kangen same Ale, pasti dia sekarang sudah besar," Al membayangkan sosok adiknya yang sekarang.
"Kamu benar Ale pasti sudah besar, dan dia pasti jadi gadis yang cantik mirip seperti Ibumu," kata Alan menatap langit-langit ingatannya kembali ke masa istrinya memilih lepas darinya.
"Aku mau kita berpisah, aku akan membawa Ale bersamaku, karena dia masih kecil dan lebih membutuhkanku," kata seorang wanita yang baru menidurkan putrinya yang berumur sekitar 3 tahun.
Alan langsung menghentikan langkahnya yang akan masuk ke dalam kamar mandi.
Dia kemudian berjalan mendekati istrinya, dan duduk di samping wanita yang begitu dia cintai, wanita yang menjadi Ibu untuk kedua anaknya.
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Kita bisa bicarakan baik-baik, jangan pernah mengatakan hal itu lagi, aku minta maaf" Alan menggenggam tangan istrinya erat, takut untuk melepaskannya.
"Kau selalu sibuk Alan, bahkan dimana kamu disaat istrimu ini melahirkan? Dimana kamu? Kau justru sibuk menyelamatkan orang lain, tidak peduli apakah istri dan anakmu juga selamat, aku menunggumu setelah putri kita lahir, aku berharap kamu datang walau setelah dia lahir, tapi kamu justru tidak datang, kau tahu, aku sudah seperti tidak punya suami, apapun harus aku lakukan sendiri, aku tidak sanggup Alan, lebih baik kita berpisah ini yang terbaik untuk kita."
Bayangan itu muncul kembali untuk kesekian kalinya, tanpa terasa air mata Alan menetes begitu saja, Alan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Al yang melihat Ayahnya seperti itu tahu jika saat ini Ayahnya pasti sedang mengingat kembali tentang Ibunya. Al kemudian memeluk Ayahnya untuk menyalurkan kekuatan agar Ayahnya kembali bangkit, Al menyesal karena kembali mengungkit tentang Ibunya, hingga membuat luka Ayahnya kembali dirasakan.