Please Love Me

Please Love Me
Bab 194


__ADS_3

"Ronald awas minggir!" Liora masih berusaha sekuat tenaga untuk menutup pintu kamarnya yang ditahan oleh Ronald.


"Tidak, sampai kamu membuka pintunya," rupanya Ronald tetep kekeh tidak mau mengalah.


"Ronald, ini sudah malam, aku mau mandi, apalagi habis dari rumah sakit, jangan seperti anak kecil deh," kesal Liora karena pria itu tidak mau mendengarkan perkataannya.


"Baiklah aku buka, tapi kamu jangan dorong lagi," pasrah Liora akhirnya.


"Kamu tidak bohong?"


"Tidak, jadi jangan dorong lagi."


"Baiklah."


Liora pun membuka perlahan pintunya hingga tiba-tiba…


Aww..


Bersamaan Liora yang menutup pintu dengan keras, disaat itu juga jari Ronald terjepit.


Liora buru-buru membuka pintu kamarnya dan dilihatnya Ronald sedang mengibaskan kemudian meniup-niup jari-jarinya yang terjepit tadi.


"Sakit banget ya?" Tanya Liora dengan cepat meraih tangan Ronald tapi pria itu justru berteriak kencang.


"Maaf, lagian kamu sih dibilang suruh melepaskan ya lepaskan," omel Liora.


"Itu karena aku tahu kamu pasti akan berbohong, lagian aku juga tidak menyangka jika kamu akan menutupnya dengan keras," jawab Ronald membela dirinya kenapa melakukan itu.


Liora pun dengan segera menarik Ronald masuk ke dalam kamarnya.


"Kamu duduk disini dulu, aku ambil es batu, untuk mengompresnya agar tidak semakin bengkak," kata Liora dan buru-buru gadis itu menuruni anak tangga menuju ke dapur untuk mengambil es batu.


Tak lama, Liora pun sudah kembali dia membungkus es batu dengan handuk dan segera mengompreskannya pada jari-jari Ronald.


"Pasti sakit sekali," Liora merasa ngilu sendiri melihat jari Ronald yang kaku dan warna saja sudah keunguan.


"Ini kamu pegang," perintah Liora pada Ronald dan pria itu hanya menurut, kemudian Liora pun mencari-cari dimana kotak p3k berada, karena jujur saja Liora memang sangat jarang mengacak-ngacak kamarnya sendiri.


"Kamu nyari apa?" Tanya Ronald yang melihat gadis itu justru sibuk sendiri.

__ADS_1


"Kotak p3k, dimana ya di taruhnya? Aku tidak tahu, aku jarang-jarang membuka ini semua, yang sering aku buka cuma lemari pakaian saja, lagian aku juga tidak sering tinggal disini," ucap Liora yang kini malah curhat.


"Coba cari satu persatu, atau mau aku bantu?" Kata Ronald menawarkan diri.


"Tidak, tidak perlu biar aku saja, kamu kompres saja yang benar, jangan dilepaskan!" Tolak Liora saat pria itu menawarkan diri untuk membantunya.


"Ah ini dia akhirnya ketemu juga," ucapnya kemudian begitu menemukan sesuatu yang dicarinya.


"Ini nanti kamu minum ini, untuk meredakan rasa nyerinya, tunggu dulu, air mana air, Liora kemudian berlari ke arah nakas dimana dia biasa meletakkan air minum.


"Abis lagi," gumamnya.


"Kamu disini saja, aku mau ambil air minum dulu," kata Liora yang buru-buru mengambil air minum.


Ronald yang melihat Liora hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aww!" Ringis pria itu merasakan nyeri pada jarinya yang kini membengkak.


"Sakit banget ternyata," gumamnya pelan.


Kemudian dia menoleh ke arah pintu dimana Liora datang dengan membawa beberapa botol air mineral.


"Aku tidak bisa," ucap Ronald dengan wajah memelas.


"Oh iya, hmm sini biar aku yang pegang botol minumnya, kemudian Ronald pun meminum obat dengan dibantu Liora walaupun sedikit kesusahan karena minumannya malah tumpah hingga membasahi kaos yang dikenakan pria itu.


"Yah jadi basah lagi, kamu tunggu disini!" Kata Liora yang kemudian hendak bangun dari duduknya tapi dengan cepat Ronald menahan tangannya.


"Mau kemana?"


"Biar aku ambilkan baju buat kamu, nanti kamu masuk angin jika masih mengenakan kaos yang basa itu, kurasa ukuran Kak Max muat deh untukmu," gumam Liora sambil memperhatikan ukuran tubuh Ronald.


"Tidak perlu nanti juga kering sendiri, kamu duduk saja, kamu pasti lelah dari tadi bolak-balik turun tangga."


"Tidak apa-apa kok, kamar Kak Max ada di sebelah," jawab Liora yang melepaskan tangan Ronald dan  berlalu pergi.


"Kamu memang berbeda dari wanita-wanita yang aku kenal selama ini, dan sepertinya aku benar-benar tertarik padamu, maafkan aku sebelumnya aku mendekatimu hanya karena rasa penasaran saja, tapi tidak menyangka jika semakin lama aku mengenalmu, aku justru benar-benar ingin semakin dekat denganmu, aku ingin menjagamu dan tidak ingin merusakmu, karena aku..." kata Ronald yang kemudian menghentikan ucapannya begitu melihat Liora kembali ke kamar.


"Ini kamu bisa pakai ini," ucap Liora begitu kembali ke kamarnya menyerahkan kaos polos berwarna biru dongker kepada Ronald.

__ADS_1


"Kakakmu tidak akan marah?" Tanya Ronald memastikan takut jika kakak gadis itu akan memarahi Liora.


"Hmmm sepertinya tidak, lagian Kak Max jarang sekali pulang, apalagi istrinya kan baru saja melahirkan, dia tidak akan tahu, kamu kan hanya memakainya sampai bajumu kering, setelah itu dicuci dan dikembalikan di tempatnya semula, bereskan," ucap Liora dengan bangga pada idenya.


"Bagaimana kalau aku tidak mau mengembalikannya?" Ronald menatap wajah Liora intens.


"Hah? Oh itu memangnya kamu kekurangan baju sampai harus meminta baju kakakku?" Tanya Liora polos.


"Hmm tidak," Ronald pun mengacak rambut Liora kemudian mengambil baju yang tadi diberikan Liora kepadanya.


"Bisa tidak?" Tanya Liora saat melihat pria itu kesulitan.


"Bisa," kata Ronald menahan rasa nyerinya, saat jari-jarinya tersenggol.


Setelah selesai mengganti bajunya, Ronald pun kembali duduk ke tempatnya tadi duduk.


"Kenapa dari tadi tidak menjawab telepon dariku?" Tanya Ronald yang kini duduk menghadap Liora.


"Hmm itu karena…"


"Kamu merasa terganggu karena aku terus menghubungimu?"


"Tidak kok, bukan seperti itu, hanya saja…"


"Hanya saja apa?" Ronald penasaran menunggu jawaban Liora selanjutnya.


"Hanya saja...hanya saja…hanya saja tidak ada sinyal, iya, disana sinyalnya susah sekali," jawab Liora memberi alasan.


"Oh jadi karena susah sinyal?"


"Iya karena susah sinyal," jawab Liora semeyakinkan mungkin.


"Baiklah aku mengerti, ya sudah sana kamu mandi, aku mau pulang," Ronald pamit dan segera bangkit.


"Mau pulang? Sekarang?" Tanya Liora terkejut mendengar ucapan pria itu, lebih tepatnya merasa heran karena sedari tadi pria itu memaksa masuk, tapi tiba-tiba pamit dengan begitu mudahnya.


"Kenapa terkejut begitu? Apa tidak rela aku pulang?" Goda Ronald.


"Tidak, siapa juga yang tidak rela, hanya heran saja, tadi kekeh pengen masuk sekarang malah pamit dengan mudahnya," ucap Liora mengungkapkan apa yang dipikirannya.

__ADS_1


"Aku tadi hanya ingin memastikan jika kamu baik-baik saja, dan sekarang aku sudah melihatnya secara langsung, jadi ya sudah aku pamit pulang," ucap pria itu mengelus puncak kepala Liora yang kembali membuat jantung Liora berdetak lebih kencang, dan itu pun tidak hanya sekali dua kali saja, tapi berulang kali, tepatnya disaat Liora berdekatan dengan pria itu akhir-akhir ini.


__ADS_2