
Liora mengakhiri teleponnya, meletakkan ponsel di atas meja, mengambil makanan yang tadi sempat belum diselesaikan, tapi saat akan menyuap makanan ke dalam mulutnya, gerakan Liora terhenti saat melihat suaminya menatapnya dengan tatapan tajam.
"Ada yang mau kamu jelaskan?" Tanyanya kemudian.
Liora mengernyit lalu tersenyum.
"Hmm jadi Jack kan akan menikah, dia bikin acara gitu mau kumpul-kumpul, jadi aku mau kesana, kamu akan mengizinkan aku pergi kan?" Liora menatap Ronald dengan tatapan memohon, berharap suaminya itu akan membiarkan dirinya pergi malam ini.
Ronald mengalihkan tatapannya, menyandarkan tubuh di sofa dan melipat kedua tangan di depan dada.
"Bukannya tadi ada yang bilang mager dan tidak ingin pergi kemana-mana saat suami mengajaknya pergi," ucap Ronald menyindir sang istri.
Liora meletakkan kembali piringnya, menghadap Ronald lalu meraih tangannya.
"Tadi rencananya seperti itu, Jack juga baru memberitahu, kalau aku tidak datang, aku tidak enak, apalagi kita sudah lama saling mengenal bukan, ayolah sayang, kamu mengizinkan aku kan?"
"Siapa lagi yang datang?"
"Hmm entahlah, karena Jack tidak mempunyai banyak teman, cuma aku dan Kak Max, hmmm mungkin juga Kak Jason, tapi sepertinya Kak Jason juga tidak bisa datang, dia kan pergi tidak tahu sudah kembali atau belum, lalu Kak Max...hmmm aku juga tidak yakin Kak Max akan pergi apalagi dengan Kak Flo yang masih hamil, jadi mungkin…."
"Hanya kamu yang akan datang maksudnya gitu," Ronald menarik kembali tangannya dan berdiri.
"Itu namanya bukan acara kumpul-kumpul, tapi kencan berdua," tambahnya ketus.
Liora ikut bangun dari duduknya, melangkah dan kini berdiri di depan Ronald.
"Kok kamu bilangnya gitu sih? Kami tidak ada niat seperti itu kok."
"Baiklah aku akan ikut."
"Tidak bisa," jawab Liora cepat, hingga Ronald kini menatap istrinya itu penuh selidik.
"Tidak yang seperti kamu pikirkan hanya saja…"
"Memang apa yang aku pikirkan?" Potong Ronald cepat.
Liora tampak bingung harus menjawab apa, dia memilih diam saja, daripada nantinya dia justru salah menjawab.
"Kenapa diam?"
"Ronald sayang, please aku hanya pergi sebentar!"
"Baiklah," jawab Ronald yang kini keluar kamar meninggalkan Liora seorang diri.
__ADS_1
Liora tersenyum, dia kembali ke arah meja dan membereskan bekas makan mereka tadi. Setelah selesai Liora segera membawanya ke dapur, sekalian menyusul suaminya yang entah pergi kemana tadi.
Liora menuruni tangga dengan perlahan, hingga kemudian dirinya terkejut saat ada yang merebut nampan yang dibawanya.
"Kenapa tidak memanggil Bibi saja untuk mengambilnya?"
Liora tersenyum saat melihat suaminya yang kini sudah berbalik dan membawa yang tadi dibawanya.
"Hmm aku hanya sekalian ingin turun sambil mencarimu."
"Kenapa? Takut aku pergi sendiri karena kamu tidak mau diajak pergi?" Jawab Ronald tanpa menoleh.
"Ya tidak seperti itu juga," Liora berusaha mengimbangi langkah suaminya begitu mereka kini sudah sampai di lantai satu.
"Lagian tidak mungkin kamu pergi, jika aku di rumah sendiri, kecuali untuk bekerja."
Ronald berhenti dan menatap istrinya. Dan yang ditatap hanya tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Kata siapa, aku pergi saat ini juga bisa." Jawabnya sambil melanjutkan langkah.
Liora berjalan dan menghadang Ronald membuat pria itu dengan segera menghentikan langkahnya, untung saja nampan di tangannya tidak jatuh karena aksi sang istri.
"Silahkan saja, tapi awas nanti kalau pulang!" Setelah mengatakan itu Liora berjalan menjauh, meninggalkan suaminya yang tersenyum mendengar gerutuan Liora sepanjang jalan saat melangkah menjauh darinya.
"Giliran aku yang hanya bilang akan pergi saja diancam, tapi jika kamu, pasti kamu akan merengek dan apa tadi, aku tidak boleh ikut? Yang benar saja, kamu pikir aku akan menurut, apalagi jika aku tahu, kalian hanya berdua saja disana? Tidak akan baby, kamu tunggu saja, apa yang akan aku lakukan," ucap Ronald dalam hati.
mengupasnya, mencuci dan menaruhnya di atas piring.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan," pelayan berlari menghampiri Ronald.
"Tidak perlu Bi, ini sudah selesai. Bibi kerjakan yang lain saja."
Bibi kembali melakukan pekerjaannya setelah berpamitan pada Ronald. Pria itu hanya mengangguk sambil membereskan peralatan yang tadi dia gunakan.
Setelah selesai Ronald segera menyusul istrinya, dia bisa menebak dimana istrinya sekarang. Dan benar saja begitu sampai di ruang keluarga, Ronald melihat Liora yang duduk di sofa tampak fokus dengan film yang tadi di tonton di kamar. Ronald duduk di sebelah Liora sambil meletakkan buah yang tadi di bawahnya.
Ronald menatap istrinya yang seperti tidak menyadari kedatangannya, dia begitu fokus dengan tayangan yang di televisi.
Ronald mengambil piring dan memegangnya, duduk bersandar dan ikut menonton, dia mengambil buah dengan garpu lalu asyik memakannya sendiri.
"Kenapa aku tidak dibagi."
Ronald menoleh melihat sang istri yang memandanginya.
__ADS_1
"Aku kira tidak mau."
"Kata siapa? Orang kamunya juga, kenapa tidak nanya?"
"Ya aku pikir kamu tidak mau, dari tadi saja bahkan aku di cuekin.!!"
"Maaf, aku lagi fokus saja tadi. Aku mau kok tapi suapin ya," ujar Liora yang tentunya langsung dituruti oleh Ronald.
"Hmm manis banget," komentar Liora.
"Terima kasih."
Liora menoleh dan menatap suaminya, "Buahnya yang manis bukan kamu," lanjutnya kemudian.
"Masa sih?"
"Hmm, cobain saja yang ini, jangan makan itu saja!"
"Baiklah, ini kamu dulu!"
Liora membuka mulut menerima suapan suaminya. Tapi dirinya terkejut saat tiba-tiba Ronald meraih dagu dan mencium bahkan melu*mat bibirnya.
"Benar manis sekali!" Ucap Ronald tanpa merasa bersalah karena hampir saja membuat Liora kehabisan nafas.
"Aku menyuruhmu mencoba buahnya bukan menciumku."
"Aku tadi mencobanya baby! Dan ternyata benar kata kamu, manis sekali."
Liora hanya menggelengkan kepala, Ronald selalu saja penuh kejutan.
"Aduh, gimana lagi tadi ceritanya," Liora kini kembali ke tayangan televisi yang sepertinya sudah terlewat cukup jauh.
Liora kemudian mengambil remote dan kembali mengulang film yang tadi dia tonton terakhir.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, Liora mematikan televisi, dan meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, karena hampir seharian ini dia duduk sambil menonton, Liora menoleh ke arah suaminya yang sibuk dengan laptopnya, mengecek beberapa pekerjaan karena besok pagi-pagi, dia ada pertemuan penting, tadi Ronald memang sempat ke kamar dan mengambil laptopnya setelah mendapatkan telepon dan mengerjakan pekerjaan sambil menemani Liora.
"Belum selesai?"
"Bentar lagi."
"Ya sudah aku ke atas dulu, mau mandi, aku kan ada janji mau keluar."
"Hmm."
__ADS_1
Liora berjalan menjauh meninggalkan Ronald.
Sementara itu, Ronald yang tadi sedang mengetik sesuatu, tiba-tiba saja gerakan jari-jarinya terhenti, saat mengingat sesuatu. Dengan segera Ronald menyelesaikan pekerjaan yang memang tinggal sedikit lagi, dan begitu selesai, Ronald menutup laptop kemudian segera berlari ke kamarnya.