
"Apa yang tadi kamu katakan?" Jason bertanya memastikan jika pendengarannya tidak salah.
"Ops, kenapa aku bisa keceplosan sih," kata Lily menyalakan dirinya sendiri dalam hati.
"Coba kau ulangi lagi apa yang tadi kau katakan!" Jason kini menghentikan makannya, melipat kedua tangannya di atas meja menatap Lily dengan pandangan menyelidik karena sekarang Lily justru diam saja dan malah terlihat asyik dengan pikirannya sendiri.
"Mm aku tinggal di rumah Kak Al, sejak semalam," jawab Lily dengan suara yang sangat pelan bahkan nyaris tidak terdengar.
Kecewa itu yang Jason rasakan, saat mengetahui gadis yang dicintainya kini justru tinggal bersama pria lain, Jason mencoba meredam amarah yang tiba-tiba menguasai dirinya sesaat setelah mendengar apa yang Lily katakan.
Jason bahkan kini menyuruh Lily menatap matanya, "Tatap aku Lily!"
Lily tidak menuruti apa yang Jason perintahkan, gadis itu kini justru menundukkan wajahnya, tidak berani menatap Jason yang kini tengah menatapnya tajam, Lily melihat jelas, jika saat ini Jason tengah marah dan Lily bahkan tidak tahu penyebabnya.
"Tatap mata aku Lily!" Perintah Jason tegas, meraih wajah gadis itu, meminta gadis itu untuk menatapnya.
Dengan ragu Lily mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap Jason.
Jason yang melihat ketakutan di wajah Lily kini menghembuskan nafas perlahan, "Kenapa?" Tanya Jason dengan suara yang kini terdengar lebih lembut dari sebelumnya.
"Kenapa kamu harus tinggal bersamanya?" Lirih Jason mengusap kasar wajahnya.
"Ada masalah yang membuatku harus tinggal disana," jawab Lily.
Bukan jawaban itu yang ingin Jason dengar, maksud Jason adalah kenapa harus tinggal di rumah pria itu, kenapa Lily lebih memilih bantuan dari Al bukan dirinya, Jason benar-benar merasa tidak berguna, karena dia bukan orang pertama yang gadis itu cari, ada orang lain yang selalu menjadi pilihan gadis itu.
"Kenapa harus tinggal disana? Kenapa harus di rumah pria itu" ucap Jason lirih.
__ADS_1
"Apa aku harus pilih-pilih tempat tinggal di saat aku tidak punya rumah, bahkan hanya sekedar untuk tempat berteduh? Aku di usir dan aku tidak tahu harus pergi kemana sementara aku tidak punya tempat tinggal lain, dan kamu dengan mudahnya bertanya kenapa aku harus tinggal disana? Apa kamu mau aku tinggal di jalanan iya, itu maksudmu?" Lily sudah tidak bisa menahan kesedihannya lagi, Lily menangis mengingat saat Ibunya meminta pergi dari rumah.
"Kenapa? Kenapa harus aku? Apa kau pikir aku ingin seperti ini?" Lily menenggelamkan kepalanya di atas meja.
Jason tidak tahu lagi harus berkata apa, apa tadi pertanyaannya menyakiti gadis yang dicintainya itu? Jason bangun dan mendekat ke arah Lily, mengelus lembut rambut gadis itu.
Jason benar-benar menyesal, lagi-lagi dia yang membuat gadis yang dicintainya itu menangis.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti yang kau ucapkan tadi, aku hanya tidak suka kamu tinggal bersama pria lain, aku...aku bilang ingin melepasmu dan membiarkan takdir yang membawamu kembali, tapi nyatanya aku tidak bisa, aku ingin selalu berada di dekatmu, aku ingin mengingkari janji yang ku buat itu dan mulai berjuang untuk mendapatkanmu, aku ingin seperti itu. Dan saat ku dengar kamu tinggal di rumahnya, aku kecewa, karena disaat kamu ada masalah, bukan aku yang kamu pikirkan tapi pria itu, hatiku sakit Lily, apa kamu tidak masih juga tidak mengerti itu?" Jason berucap dengan suara yang serak karena menahan tangis.
Lily mengangkat kepalanya, menatap Jason yang kini menatap entah kemana, karena pandangan pria itu lurus tapi seperti pikirannya sedang tidak bersamanya.
Hingga tak lama, Lily berhambur ke pelukan pria itu, Jason bahkan sampai terkejut saat tiba-tiba mendapat pelukan dari Lily.
"Bohong jika aku sudah melupakanmu, bohong jika aku sudah tidak lagi mengharapkanmu, karena jujur dalam hatiku aku masih sangat mencintaimu, aku berharap bisa selalu bersamamu, aku merindukanmu setiap waktu," suara di tengah isak tangis yang masih bisa Jason dengar dengan jelas.
Jason memeluk erat Lily dan dia tidak ingin melepaskan pelukan itu, jika bisa Jason ingin rasanya waktu berhenti saat itu, agar dia bisa bersama dengan Lily dalam waktu yang lama.
"Sudah please jangan menangis lagi, maafkan aku," kata Jason mencoba menghentikan tangis Lily.
Tapi Lily masih saja menangis bahkan kepalanya itu masih bersembunyi di perut Jason, mereka berpelukan dengan posisi Jason berdiri dan Lily duduk di kursi.
Lily menghapus air matanya dengan lengan kemeja pria itu yang sudah dilipat sebatas siku. Jason hanya tersenyum melihat gadis itu yang menarik tangannya.
"Apa sudah jauh lebih baik?" Jason menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Lily, menyelipkannya di belakang telinga.
Lily mengangguk menjawab pertanyaan Jason, rasanya lega, menumpahkan kesedihan yang belum tuntas dia rasakan kemarin.
__ADS_1
"Habiskan makannya, nanti ku antar kau pulang sekalian membawa mobil yang kau rusakan itu ke bengkel," Jason kemudian berlalu meninggalkan Lily di ruang makan, sementara dirinya menaiki tangga menuju kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Lily menatap sendu kepergian Jason, menghela nafas berat kemudian melanjutkan makan dan membereskan semuanya setelah selesai.
Setelah sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya Lily kini melihat Jason turun dari tangga.
"Ayo! Aku tunggu di luar," Jason mengajak Lily saat melihat gadis itu, kemudian berjalan lebih dulu karena Lily bilang akan menyusul.
Begitu sampai di depan, Jason menatap prihatin mobilnya. Lily yang menyusul dan melihat Jason yang sedang mengecek mobilnya, benar-benar merasa bersalah. Lily menghampiri Jason dengan tangan yang saling meremas.
"Maaf mobilmu jadi rusak," Tiba-tiba saja Lily sudah berada di belakang Jason.
"Oh ini, tidak apa-apa, bisa diperbaiki," jawab Jason enteng seakan itu bukan masalah yang besar baginya.
"Tapi…"
"Sudahlah jangan dipikirkan lagi, ini urusanku, sekarang masuklah!" Jason memotong ucapan Lily lalu membuka pintu mobil dan mempersilahkan Lily masuk ke dalam mobilnya.
Lily pun hanya bisa menuruti perintah Jason untuk masuk ke dalam mobil yang bagian belakangnya itu sudah penyok.
"Jason aku benar-benar minta maaf karena sudah membuat mobilmu seperti itu, aku akan bekerja keras dan mengganti biaya perbaikan mobilmu, tapi tidak apa-apa kan jika dicicil?" Tanya Lily yang berucap pelan saat di akhir kata.
"Ya terserah kamu saja," jawab Jason karena tidak ingin memperpanjang pembahasan ini.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Lily menatap Jason yang kini mulai menjalankan mobilnya.
"Ya tentu aku baik-baik saja, memangnya kenapa?" Jason kini justru bertanya balik.
__ADS_1
"Benarkah? Bukannya kau bilang tadi jika kepalamu pusing?" Lily memicingkan matanya menatap ke arah Jason yang tepat sedang menoleh ke arah dirinya.