
"Ini!"
Cinta menyerahkan semua coklat kepada anak laki-laki yang kemarin memberikannya padanya.
Tak hanya Ian, Lily dan Jason pun heran melihat apa yang dilakukan putri mereka. Siang ini, Ian kembali berkunjung, semalam Jason dan Lily juga sudah membicarakan hal ini, dan kata suaminya hanya bisa membiarkan semua mengalir seperti air, mereka masih anak-anak, semakin waktu bertambah, pelan-pelan putrinya juga akan mengerti.
"Kenapa coklatnya diberikan lagi sama kakak, kakak memberikan ini untuk Cinta," ucap Ian mengutarakan kebingungannya.
"Cinta tidak mau, kak Ian memberi Cinta semua coklat ini karena tidak mau menemui Cinta lagi kan, jadi lebih baik Cinta kembalikan semuanya, biar kak Ian bisa tiap hari menemui Cinta," lirih Cinta.
Jason dan istrinya saling pandang, bingung harus menanggapi seperti apa.
"Maaf, Kak Ian kemarin tidak ke sekolah Cinta, Kak Ian juga kemarin tidak berangkat ke sekolah. Kak Ian tidak bisa katakan penyebabnya, dan sekarang kak Ian langsung kesini karena kata pak satpam, Cinta sudah pulang, kak Ian ingin meminta maaf sama Cinta karena tidak menepati janji, lain kali kak Ian akan kabari jika tidak bisa menemui Cinta, biar Cinta tidak menunggu kak Ian. Jadi, simpan coklatnya lagi ya, nanti dimakan, tapi jangan kebanyakan juga makannya, nanti giginya sakit, bagi saja sama dek Uli, sama ibu, ayah, nenek juga kakek."
"Tau, Cinta masih kesal sama kak Ian." Cinta bangun dari duduknya dan berlari menaiki tangga.
"Cinta jangan lari-lari sayang, nanti jatuh!" Teriak Lily.
Cinta langsung menghentikan larinya, tapi tak membuat gadis kecil itu mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamarnya.
Lily kemudian menatap Ian yang menunduk sedih. Dia bangun dan berpindah duduk di samping Ian.
"Maafkan Cinta ya sayang, Cinta masih kecil dan belum mengerti jika Ian juga punya hal yang perlu Ian lakukan," Lily mengelus rambut Ian, menenangkan anak laki-laki yang cara berpikirnya sudah seperti orang dewasa. Anak laki-laki yang sukses membuat putrinya merasa nyaman bersamanya hingga tidak ingin jika anak itu menjauh darinya.
"Tidak tante, harusnya Ian yang minta maaf karena membuat Cinta sedih. Maafkan Ian ya tante," anak laki-laki itu mendongak menatap Lily.
"Tante, boleh tidak Ian ke kamar Cinta?"
Lily menatap suaminya, meminta pendapat pria itu tentang keinginan Ian. Begitu mendapat anggukan dari Jason, Lily pun menyetujuinya.
Ian berpamitan dan segera berlari menaiki tangga, dia harus menghibur Cinta yang sedih karena dirinya.
__ADS_1
*
*
Lily dan Jason spontan menatap ke arah tangga, saat mendengar suara tawa Cinta, ya putri sulungnya itu sudah kembali tertawa, entah apa yang Ian katakan sepanjang jalan, karena anak itu, berucap dengan berbisik, kemudian Cinta tertawa. Sepertinya mereka sudah baikan, selain karena melihat obrolan mereka, juga Lily bisa melihat dari tangan mereka yang kini bergandengan.
"Ian mau pulang dulu tante, om, Ian harus menemui adek Ian hari ini," pamitnya begitu sudah berdiri di hadapan Lily dan Jason. Meraih tangan dan mencium punggung tangan keduanya bergantian sebelum akhirnya dirinya keluar ditemani oleh Cinta dan Jason.
"Hati-hati kak Ian," ucap Cinta melambaikan tangannya begitu Ian membuka pintu kaca mobil. Anak laki-laki itu pun membalas lambaian tangan Cinta seiring mobil yang kini sudah menjauh.
Cinta kini masuk dengan senyum yang mengukir di sudut bibirnya, Jason bahkan merasa heran akan tingkah putrinya itu.
"Kenapa?" Lily bertanya tanpa mengeluarkan suaranya sambil menunjuk Cinta dengan dagunya.
Jason mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Lebih memilih duduk di samping sang istri dengan tangan melingkar di pinggang wanitanya itu. Sementara Cinta juga duduk di samping ibunya di sisi yang lain. Duduk diapit kedua orang yang disayanginya membuat Lily bahagia. Sesekali tangan Lily mengelus lembut putrinya, Cinta menoleh kemudian tersenyum. Kakinya naik ke atas sofa, membaringkan tubuhnya dengan kepala berbantalkan paha ibunya. Wajah Cinta menghadap ke perut Lily, menciuminya.
"Bu masih lama tidak sih adiknya keluar?" Tanya Cinta mendongak.
"Sebentar lagi kok sayang, sudah tidak sabar ya pengen lihat adik?"
"Bu, aku mau kue buatan nenek yang kemarin."
"Biar ayah yang ambil," Jason langsung kembali berdiri.
"Ayo kamu juga ikut ayah!"
"Cinta mau disini saja yah, temani ibu, kasihan ibu tidak ada yang menemani."
Jason menghela nafas, dia yakin itu pasti hanya akal-akalan putrinya saja.
"Bu…"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Hmm tidak apa-apa," Cinta lalu senyum-senyum sendiri membuat Lily keheranan.
"Cinta baik-baik saja kan sayang?" Lily menunduk, menempelkan punggung tangannya di kening sang putri.
"Cinta baik-baik saja kok bu," jawabnya yakin.
"Iya sih memang baik-baik saja, tapi kok jadi aneh sih putriku ini, memangnya tadi dia membicarakan apa dengan Ian," Lily bertanya-tanya dalam hati.
"Ini kue nya!"
Cinta langsung bangun dari rebahannya, menerima kue yang diambilkan sang ayah, ayahnya juga dengan hati membawakannya minuman. Menaruh piring di atas pangkuannya dengan kaki yang disilangkan, Cinta mulai melahap makanannya.
"Sayang aku ke ruang kerja dulu, tadi Tuan Stevano menghubungiku."
Lily hanya mengangguk membiarkan suaminya pergi, dan sebelum berlalu, Jason menyempatkan diri mencium kening Lily.
"Ibu!"
Lily menoleh saat mendengar dari arah belakang Aulia memanggilnya.
"Kemari sayang!" Lily menepuk sofa di sampingnya.
Aulia menurut dan segera naik dan duduk disana.
"Uli mau kue juga kayak kak Cinta," ucap putri kecil Lily itu saat baru menyadari bahwa kakaknya tengah menyantap kue.
Bahkan Uli kini sudah turun kembali, dan menghampiri kakaknya hendak merebut piring berisi kue itu, yang sayangnya sudah tidak ada, yang tersisa hanya yang ada di sendok yang sedang kakaknya pegang yang tentunya hampir masuk ke dalam mulut Cinta.
"Bagi dong kakak!" Ucap Uli bersamaan dengan Cinta yang kini memasukkan suapannya yang terakhir.
__ADS_1
"Yah sudah habis," ucap Cinta merasa bersalah.
Aulia terlambat, dan kini gadis kecil itu menangis karena menganggap kakaknya sengaja menghabiskan kue itu, karena tidak mau berbagi dengannya.