
Dahlia meletakkan ponselnya, hingga otomatis membuat wajahnya menghilang dari layar ponsel Lily. Gadis itu tampak mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan, Dahlia mencoba biasa saja, tapi ternyata saat bertatapan dengan pria itu secara langsung, ada sesuatu dalam dirinya yang bergejolak.
Setelah cukup baginya untuk menenangkan diri, Dahlia kembali mengambil ponselnya dan kembali mengarahkan kamera pada wajahnya.
"Hai Kak Al, apa kabar?" Ucapnya mencoba untuk tersenyum.
"Baik, kamu sendiri?" Tanya Al balik.
"Aku juga baik."
Keduanya kemudian sama-sama terdiam, kecanggungan terjadi karena mereka tidak tahu harus mengobrol apalagi. Sebenarnya banyak hal yang ingin Al tanyakan, tapi lidah pria itu seakan keluh, begitu berhadapan dengan Dahlia walau hanya lewat telepon.
Lily yang melihat kedua kakaknya hanya saling diam langsung mendekat, "Kak, aku mau suapin Cinta dulu ya, Kakak bisa mengobrol dengan Kak Al," ucapnya menimbrung bersama Al menatap layar ponselnya yang masih menampilkan wajah Dahlia disana.
"Hmm bagaimana kalau kita akhir saja, Kakak juga harus segera pulang nih," kata Dahlia mencoba untuk tidak menatap Al.
"Kenapa? Kamu tidak mau mengobrol denganku?" Tanya Al yang membuat Dahlia jadi salah tingkah, menolak tidak enak, mengobrol pun dia tidak tahu harus membahas apa, apalagi setahun ini mereka sama sekali tidak pernah berkomunikasi.
"Aku tinggal dulu kak," pamit Lily yang kemudian mengangkat tubuh putrinya mengajaknya pergi dari sana, memberikan Al kesempatan untuk mengobrol dengan Dahlia lebih lama lagi.
"Jangan sia-siakan kesempatan yang aku berikan," bisik Lily pada Al sebelum pergi.
Al hanya mengangguk menanggapi ucapan adiknya.
"Bagaimana disana? Betah? Aku dengar dari Ale kamu juga sudah cukup lama tidak pulang?" Rentetan pertanyaan kini keluar dari bibir pria itu.
"Ya seperti ini Kak, susah menjelaskan, intinya ada senang dan juga enggaknya, tapi kalau ditanya betah atau tidak, ya betah, apalagi aku sudah cukup lama disini juga. Dan untuk pulang, aku terakhir pulang saat ibu…ya seperti itulah lah intinya." Jawab Dahlia yang tidak sanggup membicarakan tentang ibunya.
"Oh ya bagaimana Kak Al sendiri? Kata Lily Kak Al juga lama tidak pulang, bahkan saat Lily melahirkan. Lily sangat sedih waktu itu, Kak Al tahu Lily sampai mengira jika Kak Al melupakannya," kata Dahlia tertawa saat mengingat Lily waktu itu mengatakan kakaknya melupakannya, bahkan jika Al pulang nanti, mungkin saja pria itu lupa dimana rumahnya, karena begitu lamanya pria itu tidak kembali.
"Oh ya Ale bilang begitu?"
"Hmm."
Dan akhirnya mengalirlah obrolan keduanya yang membuat Lily tersenyum diam-diam di balik pohon, tak masalah dirinya dibawa-bawa pada awalnya yang terpenting sekarang baik Al maupun Dahlia sudah merasa tidak canggung lagi.
"Ibu, tatanya kita mau makan."
Lily menepuk dahinya begitu mendengar suara putrinya, dia sampai melupakan putrinya yang kelaparan gara-gara mengintip obrolan kedua kakaknya.
"Oh iya, maaf sayang ibu lupa," jawab Lily kemudian segera membawa putrinya masuk, membantunya cuci tangan dan menyuapinya.
__ADS_1
"Ayo kita bangunin Ayah," kata Lily begitu makanan putrinya sudah habis tak tersisa, itulah yang membuat Lily begitu senang menyuapi putrinya yang memang selalu lahap memakan masakannya.
"Ayo!" Sahut Cinta yang kemudian digandeng Lily menaiki tangga untuk membangunkan Jason yang masih tadi masih tidur, karena semalaman mengurus Cinta membuat pria itu masih terlelap tadi, hingga Lily tidak tega membangunkannya.
"Bu naik!" Pinta Cinta meminta naik ke ranjang tempat tidur ayah dan ibunya.
Lily pun membantu putrinya naik, kemudian melihat Cinta yang kini naik di atas tubuh ayahnya sambil menciumi seluruh wajah Jason membangunkannya.
"Yayah angun dah siang!" Ucap Cinta sambil menarik hidung mancung ayahnya.
"Yayah!"
"Nakal ya," ucap Jason menggelitiku perut putrinya karena memencet hidungnya hingga membuatnya sulit bernafas.
"Ampun yayah, ampun!" Cinta kemudian menatap ke arah Lily yang habis keluar dari walk in closet membawa pakaian Jason.
"Ibu tolong! Yayah nakal!" Teriak gadis kecil itu yang kini guling-guling karena merasa kegelian akibat gelitikan ayahnya.
"Sayang sudah hentikan!" Ucap Lily dan Jason pun segera menuruti perkataan istrinya, pria itu menghentikan gelitikannya berganti dengan menciumi seluruh wajah putrinya.
"Stop! Yayah bau acem, belum mandi," ucap Cinta menutup hidung mungilnya.
"Nih bau acem, Nih," Jason sengaja mendekatkan badannya pada sang putri menggoda Cinta yang juga suka sekali menggodanya.
"Sudah sana kamu mandi dulu, aku sudah siapkan airnya dan ini pakaian kamu," ucap Lily memberikan pakaian ganti untuk suaminya.
Jason kemudian langsung turun dari ranjang lalu memeluk sang istri.
"Yayah jangan peluk ibu, belum mandi!" Teriak Cinta dan pelan-pelan gadis kecil itu mencoba turun dari ranjang.
"Memang bau sayang?" Tanya Jason pada istrinya.
"Kamu percaya saja sama Cinta," ucap Lily.
"Tuh Cinta mau turun!"
Jason segera melepas pelukannya dan berjalan ke arah ranjang membantu putrinya turun.
"Ayah mandi dulu," ucap Jason setelah menurunkan Cinta.
Pria itu kemudian berlalu menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Ayo Cinta main dulu sama Ibu!" Lily menggandeng putrinya untuk ke ruang keluarga dan mengajak Cinta main disana.
"Sedang asyik main rupanya."
Cinta langsung menoleh dan berdiri, gadis kecil itu kemudian berjalan cepat menghampiri Al yang kini berjongkok dan merentangkan kedua tangan bersiap menangkapnya.
"Hap! Ketangkap!" Ucap Al yang langsung menghadiahi kecupan di seluruh wajah keponakannya.
"Aman geli," Cinta memalingkan wajahnya berusaha menghindar.
"Aman ayo ain cama Nta!" Ajak Cinta begitu pria itu menghentikan aksinya. Gadis kecil itu menarik tangan Al agar ikut dengannya menuju ke tempat tadi dirinya bermain.
Dan Al hanya bisa pasrah, tidak bisa menolak keinginan keponakannya itu.
"Ini," Al menyerahkan ponsel milik Lily yang tadi berada di tangannya.
"Bagaimana Kak?"
Al mengernyit mendengar pertanyaan adiknya.
"Bagaimana Kak Al dan Kak Lia?"
"Tidak bagaimana-bagaimana," ucap Al yang kini mengalihkan dengan bermain bersama Cinta.
"Banyak yang Kak Lia obrolin sama Kak Al?"
"Hmm lumayan."
"Apa Kak Lia membahas kekasihnya yang tidak bertanggung jawab itu?"
Al menoleh menatap sang adik, apalagi mendengar nada bicara Lily yang menyiratkan kekesalan, "Kamu tahu jika dia sudah memiliki kekasih? Apa dia juga banyak bercerita tentang kekasihnya?"
"Hmm iya, waktu itu ibu ingin bertemu dengan kekasihnya itu, padahal kekasihnya bilang akan menyempatkan waktu untuk pulang bersama Kak Lia menemui Ibu, tapi disaat hari kepulangan Kak Lia, kekasihnya itu justru menghilang entah kemana, hingga membuat Kak Lia waktu itu datang sendiri, padahal dia sudah janji sama Ibu, sampai saat ini Kak Lia masih merasa bersalah sama Ibu karena tidak bisa menuruti keinginan terakhir Ibu, aku dengar mereka sempat putus, saat itu, aku berharap Kak Al bisa bersatu dengan Kak Lia, karena aku tahu dalam hati Kak Al masih mencintai Kak Lia kan?" Lily menatap Al yang hanya diam menunduk. Wanita itu lalu melanjutkan kembali ucapannya.
"Tapi sayangnya beberapa bulan kemudian mereka kembali bersatu, aku tidak tahu apa yang pria itu lakukan hingga Kak Lia bisa menerima pria yang tidak menepati janji seperti itu."
"Mungkin pria itu ada urusan mendadak makanya mengingkari janjinya," jawab Al berusaha tenang.
"Andai saja, aku yang ada di posisi pria itu, aku pasti akan senang hati datang bersamanya," pikir Al dalam hati.
"Jika seperti itu, bukankah dia seharusnya memberi kabar? Tapi dia sama sekali tidak mengatakan apapun, sekali sudah mengingkari janjinya, suatu saat mungkin saja pria itu akan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Lily kini menatap Al dan menggenggam tangan pria itu.
"Aku sangat berharap Kak Al yang bisa mendampingi Kak Lia kelak, dengan begitu aku bisa merasa lebih tenang, Kak Al mau kan janji sama aku, jika suatu saat Kak Al punya sedikit saja kesempatan untuk mendapatkan Kak Lia, Kak Al harus berjuang untuk kembali mendapatkan hatinya, karena aku tahu baik Kak Al ataupun Kak Lia masih ada perasaan cinta di hati kalian masing-masing, kakak mau kan menuruti keinginanku ini?" Tanya Lily menatap Al menunggu jawaban pria itu.