
Lily terus menatap Al, masih menunggu jawaban pria itu yang hanya diam saja.
"Kak!" Lily menyentuh lengan Al, membuyarkan pikiran pria itu.
"Kakak tidak tahu Ale, doakan saja semoga semua sesuai keinginanmu," ucap Al yang kemudian memilih sibuk bermain dengan Cinta.
Lily yang melihat itu ikut sedih, dia tahu bagaimana rasanya, karena dulu dia juga seperti itu. Wanita itu kini ikut bermain dengan kakak dan putrinya tidak ingin membahas hal yang hanya membuat kakaknya berubah murung.
"Loh sayang, kamu tidak berangkat bekerja?"
Lily menatap suaminya yang kini memakai pakaian santai.
"Tidak, aku ingin di rumah saja menemani kalian," ujar Jason yang kini berjalan mendekat dan ikut duduk di karpet bergabung dengan Cinta, Lily dan Al yang sedang duduk disana menemani putrinya bermain.
"Memangnya tidak apa-apa, kamu sudah sering izin loh sama Tuan Stevano?"
"Hmm tidak apa-apa, Tuan Stevano tidak akan mungkin memecatku hanya karena aku tidak berangkat beberapa hari," ujar Jason tersenyum saat mengingat alasan dia mengatakan pada Stevano untuk mengambil cuti seminggu, yang tentunya Stevano tidak bisa menolak keinginan Jason itu.
"Kenapa malah senyum-senyum sendiri?"
"Tidak, aku hanya rindu sama putri kecilku, Cinta, ayah merindukanmu!" Ucap Jason yang kemudian memeluk putrinya yang masih asyik bermain.
"Yayah, lepas! Angan anggu Nta!" Gadis kecil itu berusaha melepaskan diri dari pelukan ayahnya.
"Cium dulu dong ayahnya!"
Cinta menghentikan mainnya kemudian menatap Jason, melihat wajah memelas ayahnya Cinta pun mendekatkan wajahnya dan
Cup
Gadis kecil itu mengecup pipi kanan Jason.
"Satu lagi dong sayang, nanti berat sebelah,"
Cinta kemudian hanya menurut dan mengecup pipi Jason sebelah kiri.
"Anak pintar," Jason kembali memeluk putrinya dan mengecupi seluruh wajah Cinta yang membuat gadis kecil itu kesal.
"Yayah!"
"Kenapa sayang? Mau lagi?"
"No!"
Jason tersenyum dan akan kembali mencium putrinya tapi sudah lebih dulu mendapat tatapan tajam dari sang istri.
"Jangan mengganggunya, Ayah!" Tegur Lily pada suaminya, Jason pun mengurungkan niatnya mengganggu Cinta, lalu memilih mengajak putrinya itu bermain.
"Dak mau, Nta mau ain cama aman!"
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Cinta main sama ayah saja ya?" Kata Jason memelas karena putrinya justru menolak bermain bersamanya.
"Yayah nakal."
"Ayah tidak nakal lagi deh."
"Dak mau!"
"Tuh kamu dengar Cinta tidak mau bermain denganmu, jadi lebih baik kamu minggir deh, aku mau main sama Cinta," kata Al menyenggol Jason agar pria itu menjauh dari Cinta.
Jason yang tidak terima balik menyenggol Al, dan keduanya saling senggol untuk berebut main bersama Cinta.
Lily menggeleng melihat kelakuan kakak dan suaminya dan hanya diam memperhatikan saja. Dia kemudian tersenyum saat melihat ayahnya berjalan pelan-pelan dan mengangkat tubuh Cinta.
"Yayah, aman, tolong! Nta diculik kakek!" Teriak Cinta membuat Jason dan Al berhenti saling rebut dan melihat ke arah Cinta.
"Ayah curang!" Teriak Jason dan Al bersamaan saat tahu bahwa Alan kini membawa kabur Cinta, padahal mereka yang susah payah berebut.
Lily bangun kemudian menghampiri Dea yang hanya menatap punggung Alan yang menjauh dengan Cinta dalam gendongannya.
"Ayo Bu, kita ke dapur!" Ucap Lily merangkul Dea mengajak wanita itu pergi dari sana.
Al dan Jason bangun dan saling tatap.
"Ini semua gara-gara kamu!" Ucap Al menyalahkan Jason.
"Kamulah, jika kita tidak berebutan dan main bersama, ayah pasti tidak mengambil putriku," kata Jason tak mau kalah.
Lily berhenti melangkah dan berbalik menatap kakaknya.
"Memangnya kenapa kakak bertanya seperti itu?"
"Tentu saja karena kakak sudah tidak sabar ingin bermain dengannya, dan lagi biar kita tidak rebutan Cinta lagi. Kalau bisa, kakak maunya cewek."
"Sana bikin sendiri, kenapa minta sama istriku?"
"Kau, kalau ngomong, bikin-bikin, bikin sama siapa? Lagian harusnya kamu senang, karena kamu dam Lily bisa terus…" Al menempelkan tangan satu ke yang lainnya.
"Ya, kamu benar juga," ucap Jason tersenyum, kemudian…
Plak
Al memegang punggungnya saat Jason memukulnya begitu saja.
"Kau pikir hanya itu saja yang aku pikirkan," ucap Jason yang kemudian berjalan meninggalkan Al yang meringis sambil berjalan memegangi punggungnya.
*
*
__ADS_1
Liora yang sedang sibuk menggambar, berhenti sebentar lalu mengambil ponselnya. Ditekannya nomor sang kekasih saat waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja.
Dan tak lama terlihat panggilannya kini sudah terhubung.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Liora begitu Ronald sudah menjawab panggilan telepon darinya.
"Belum, ini sedang bersiap, tunggu sebentar!" Ucap Ronald dan kemudian terdengar pria itu sedang berbicara dengan seseorang.
"Halo El," ucap Ronald begitu dia selesai bicara.
"Sedang sibuk ya? Kalau memang sedang sibuk, aku matikan dulu, nanti jika kamu sudah sampai di rumah, kamu bisa menghubungiku lagi," ucap Liora saat sayup-sayup mendengar Ronald yang sepertinya membicarakan hal penting tentang pekerjaan.
"Tidak kok, sudah selesai, ini sedang bersiap saja, setelah ini akan langsung pulang. Dan kita bisa sambil mengobrol."
"Sore pak!"
Bisa Liora dengar beberapa karyawan menyapa Ronald, tapi tampaknya pria itu tidak menjawab sapaan mereka, karena Liora sama sekali tidak mendengar suara Ronald.
"Disapa malah diam saja kamu," tegur Liora.
"Oh kamu mendengarnya?"
"Hmm."
"Biarkan saja, aku tidak begitu akrab dengan mereka, oh ya bagaimana tadi pertemuan dengan Jack?"
"Tidak bagaimana-bagaimana, intinya Jack minta maaf karena sudah pergi tanpa memberitahu, aku memintanya untuk nanti saja perginya setelah acara pernikahan kita, tapi Jack tidak mau dan bersikeras pergi saat itu juga, ya sudah, aku juga tidak bisa memaksa, seenggaknya aku lega, karena Jack pergi bukan karena ku." Kata Liora memberitahu Ronald tentang pesan yang baru saja Jack kirimkan mengatakan bahwa Liora tidak boleh menyalahkan dirinya karena kepergian Jack yang terkesan tiba-tiba. Memang Jack ingin menjauh dan berusaha melupakan Liora, tapi alasan utamanya karena Jack mendapat tugas dari Max untuk memimpin perusahaan cabang yang baru saja diresmikan.
"Syukurlah jika seperti itu," sahut Ronald kemudian cukup lama pria itu terdiam.
"El…"
"Hmmm."
"Tidak jadi," jawab Ronald yang tidak jadi melanjutkan perkataannya.
"Kenapa? Jika mau mengatakan sesuatu katakan saja! Jangan membuatku penasaran!"
"Aku kangen, tidak bisakah kita bertemu, sebentar saja kok, cuma sepuluh menit," ragu-ragu Ronald mengatakan apa yang diinginkannya.
"El, hei kenapa diam saja? Kamu mau kan? Sungguh, aku sangat merindukanmu."
"Hmm bagaimana ya, tapi tadi pagi mami juga bilang padaku, jika kita tidak boleh bertemu dulu, apalagi hari pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi," jawab Liora dan terdengar hembusan nafas dari seberang telepon.
"Ya sudah," ucap Ronald sedikit kecewa.
"Ronald!"
"Hmmm,"
__ADS_1
"Baiklah ayo kita bertemu, tapi untuk hari ini saja, karena sebenarnya aku juga sangat merindukanmu," kata Liora akhirnya yang membuat Ronald begitu senang.