Please Love Me

Please Love Me
Bab 321


__ADS_3

Anak kecil yang bersama Cinta tadi pun ikut mendekat. Dia menunduk meraih tangan Lily kemudian mencium punggung tangannya.


"Ian tante," ucap anak kecil yang Lily bisa perkirakan berumur 10 tahun tengah memperkenalkan diri.


"Oh Ian, tante ibunya Cinta sayang."


Anak kecil itu mengangguk, "Tadi Cinta sendirian, makanya Ian temani. Kata Cinta, semua guru tadi pergi karena ada rapat. Dan tadi Ian kebetulan lewat, jadi Ian temani Cinta. Ya sudah kalau begitu, karena tante sudah disini, Ian pamit dulu, Ian sudah ditunggu," pamit Ian sopan sambil menunjuk sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan.


"Iya, makasih ya Ian," kata Lily tulus.


Anak kecil yang bernama Ian mengangguk, lalu segera berlari, menengok kanan dan kiri, menyebarangi jalan, lalu masuk ke mobil. Anak itu Membuka kaca jendela lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya mobil yang membawanya mulai melaju.


Lily kemudian berjongkok menyetarakan tingginya dengan tinggi sang putri.


Pandangan Lily kemudian tertuju pada pria berseragam. Lily menatap satpam yang duduk di pos yang sedari tadi mengawasi anaknya menyapanya dengan anggukan yang tentunya di balas oleh Lily. Lily menggandeng putrinya menghampiri satpam itu.


"Terima kasih pak sudah menjaga putri saya," ucap Lily tulus yang disambut senyuman pria paruh baya itu.


"Sama-sama bu, untungnya anak laki-laku tadi menemani putri ibu, jika tidak putri ibu pasti merasa kesepian, karena tidak ada teman ngobrol."


"Iya, sekali lagi terima kasih pak, kalau begitu saya pamit dulu," ucap Lily yang diangguki oleh pria itu.


Lily berjalan keluar gerbang dan menyetop taxi, lalu keduanya pun segera masuk."


"Cinta sebelumnya sudah kenal sama kak Ian?" Tanya Lily yang kini sudah duduk di kursi penumpang, sedari tadi dirinya sangat penasaran karena dari jauh keduanya terlihat akrab, Lily ingin segera bertanya kepada sang putri, tapi dirinya menahan dan baru bertanya saat mereka sudah duduk tenang di dalam taxi.


Cinta mengangguk cepat, "Waktu Cinta pergi bersama nenek dan kakek, tiba-tiba kakek dapat telepon dari rumah sakit. Lalu kita kesana, Cinta bertemu kak Ian disana, adik kak Ian sakit. Terus Cinta menghibur kak Ian agar tidak sedih. Cinta juga berikan kak Ian gambar Cinta yang kata Bu guru bagus. Terus beberapa hari kemudian, kak Ian datang ke sekolah Cinta, memberikan Cinta bekal kak Ian, sebagai ucapan terima kasih, sekaligus kak Ian ngasih tahu Cinta jika adik kak Ian sudah diperbolehkan pulang. Setelah itu kak Ian berpamitan mau berangkat sekolah."


Lily masih setia mendengar cerita putrinya itu.


"Kak Ian sering datang menemui Cinta?"


Cinta mengangguk mantap, "Iya lumayan sering, kak Ian selalu datang saat Cinta pulang sekolah sambil menemani Cinta sambil menunggu ibu."


"Oh iya? Tapi kok ibu baru bertemu sekarang?"

__ADS_1


"Biasanya kak Ian memang hanya datang dan memberikan Cinta makanan bu, lalu setelah itu kak Ian langsung pulang, tapi tadi kak Ian bilang akan menemani Cinta sampai ibu datang."


"Wah, Kak Ian baik ternyata sama putri ibu, Ibu jadi lega karena ada yang menjaga dan menemani putri ibu selama ini."


"Hmmm iya bu, kak Ian baik," jawab Cinta sambil terus tersenyum, tidak tahu apa yang putri Lily pikirkan saat ini.


"Berarti lain kali, ibu juga harus buatkan bekal untuk kak Ian, nanti kak Cinta bawakan ya."


"Iya," jawab Cinta dengan senyum manisnya.


Tak lama taxi pun akhirnya sampai di kediaman mereka. Lily turun dan membantu putrinya.


*


*


"Sayang!"


"Hmmm."


Lily mendongak menatap suaminya yang kini sibuk menatap laptop. 


"Kesini dong lihatnya!"


Jason menurut menatap istrinya.


"Kenapa sayang?"


"Kamu belum selesai?" Tanya Lily yang sebenarnya ingin bercerita tentang putrinya tadi di sekolah.


"Belum, bentar lagi ya," Jason mengecup bibir istrinya sebelum akhirnya kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Lily hanya mengangguk mengurungkan niatnya, membiarkan suaminya itu menyelesaikan pekerjaannya dulu dan tidak ingin mengganggu. Lily kemudian bangkit, lalu berjalan menuju ranjang dan merebahkan dirinya di atas sana. Lily mengambil ponsel dan asyik mengirim pesan pada Al yang akhirnya membalas pesannya. Hingga lama kelamaan matanya terasa berat dan akhirnya terpejam, ponsel yang sedari tadi dipegangnya sampai jatuh ke atas kasur.


Jason yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, Jason menutup laptopnya lalu segera beranjak dari duduknya menuju ranjang dimana sedari tadi sang istri menunggunya. Tapi baru beberapa langkah Jason justru melihat istrinya sudah memejamkan mata. Jason mendekat, mengambil ponsel istrinya dan menaruh di atas meja nakas, lalu membenarkan tidur wanita itu agar merasa nyaman. Jason mengecup kening Lily lama, menarik selimut menutupi tubuh sang istri sebatas dada, lalu dia melangkah keluar, Jason menuju kamar kedua putrinya untuk mengecek tidur anak-anaknya. Jason tersenyum melihat tidur Aulia yang berputar seperti jarum jam. Jason kemudian membenarkan tidur putrinya itu, membenarkan selimut, mengecup kening keduanya bergantian, mengganti lampu utama dengan lampu tidur, barulah setelah itu, dia melangkah pergi kembali ke kamarnya. Dia sangat mengantuk terlihat dari dirinya yang terus menguap disetiap langkahnya menuju ke kamar.

__ADS_1


Begitu sampai di kamarnya, Jason menyingkap selimut dan membaringkan tubuhnya di samping istri.


"Selamat malam sayang," ucap Jason sebelum akhirnya menyusul sang istri ke alam mimpi.


*


*


Pagi-pagi sekali Lily sudah bangun, seperti apa yang dikatakannya kemarin kepada sang putri, Lily sudah mempersiapkan segala bahan-bahan untuk membuatkan bekal pada teman baru putrinya itu. Lily terlihat sangat antusias, pasalnya putri pertamanya itu, memang sulit bergaul sama orang lain, dia tidak banyak bicara pada teman sekelasnya, berbeda jika di rumah yang terdengar begitu cerewet, dan selama ini teman-temannya ya, hanya anak Jasmine dan juga Flo.


"Kamu mau masak apa sayang? Banyak sekali bahan-bahan yang dikeluarkan. Apa ada kabar baik?" Tanya Dea yang baru saja ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya.


"Oh ini Bu, mau bikin bekal untuk calon menantu," celetuk Lily yang kini sudah mulai sibuk dengan kegiatannya.


"Menantu? Anak-anak kita masih kecil sayang, jangan ngaco deh kalau ngomong," sela Jason yang kini datang dengan menggandeng tangan putrinya di sebelah kiri dan kanan. 


"Hehehe." Lily hanya nyengir, menunjukkan geretan giginya yang rapi.


"Ya kan kita tidak tahu, iya kan kak Cinta?"


Cinta hanya mengangguk, entah mengerti atau tidak atas apa yang dibicarakan orang tuanya.


Alan yang berjalan di belakang Jason hanya menggelengkan kepalanya.


"Memang siapa sayang?" Tanya Alan yang kini sudah duduk di kursi.


"Ian namanya yah, ayah kenal?"


"Ian?" Alan tampak berfikir kapan dia mengenal anak yang bernama Ian.


"Kakaknya kak Ara, kakek," jawab Cinta yang melihat kakeknya sepertinya lupa siapa Ian.


"Oh, Ian yang waktu itu sayang, yang Cinta kasih gambarnya."


"Oh, anak laki-laki itu. Kamu mengenalnya?" Tanya Alan pada Lily.

__ADS_1


"Hmm kemarin bertemu di sekolah Cinta. Dan ayah tahu, dia menemani Cinta sampai aku datang. Dan itu masuk dalam kriteria menantu kita sayang," lanjut Lily yang kini beralih tatapan ke arah suaminya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Jason hanya menggeleng, Lily selalu saja seperti itu, dan Jason tidak ambil pusing dengan candaan istrinya itu.


__ADS_2