
Masih flashback
Sudah dua minggu ini Al tidak pulang ke rumahnya, tepatnya semenjak dia tahu bahwa Lily adik kandungnya. Al tidak sanggup jika harus bertemunya, bagaimana Al bisa melupakan perasaannya jika mereka masih tinggal bersama, itu akan sulit bagi Al, hingga Al pun memutuskan untuk menginap di apartemen temannya.
Dua hari lagi adalah hari dimana dia akan berganti status, dua hari lagi dia akan melepas masa lajangnya, tapi semua itu sirna sudah saat kenyataan serta takdir tidak berpihak padanya, Al bahkan belum memberitahu perihal ini pada Ayahnya, bagaimana kalau Ayahnya tahu? Apa reaksinya bahwa putri yang selama ini tidak pernah ditemui, justru sebenarnya sudah cukup lama tinggal di rumahnya, terus bagaimana Ibunya, kenapa dia meninggalkan Lily sendiri hingga tinggal bersama orang lain yang ternyata bersikap kejam pada putrinya, apakah Ibunya tahu jika selama ini Lily menderita, tidak hanya meninggalkan dirinya, bahkan Ibunya juga meninggalkan putrinya? Apakah dia setega itu?" Al sedih memikirkan semua yang telah terjadi, apalagi dia pernah melihat sendiri perlakuan buruk wanita yang dia kira Ibu Lily, justru sering menyiksanya, kini Al tahu itu semua terjadi karena Ibu yang membesarkan Lily hanya tahu bahwa Lily anak suaminya, tapi kenyataannya Lily adalah anak Alan Horison, lantas ada hubungan apa Ibu kandungnya itu dengan almarhum Ayah Dahlia? Apa itu yang menyebabkan orang tuanya dulu berpisah? Kini sejuta pertanyaan hinggap di pikiran Al, sampai-sampai Al tidak bisa lagi mencernanya, seketika otaknya penuh dengan pertanyaan yang bahkan jawabannya tidak dia tahu.
Setelah memantapkan hatinya, Al pun akhirnya menghubungi Ayahnya yang pasti khawatir karena dirinya tidak pulang ke rumah bahkan tidak memberi kabar sama sekali.
"Halo Nak, kamu kemana saja? Kenapa tidak mengabari Ayah, kamu sekarang dimana? Apa ada masalah? Jika ada kamu bisa ceritakan sama Ayah, bukan malah menghilang seperti ini, apa kamu bahkan tidak ingat jika dua hari lagi kamu akan menikah" ucap Alan sesaat setelah menjawab panggilan telepon dari putranya itu dengan nada penuh khawatir, karena tidak biasanya Al seperti itu.
"Ayah bisakah kita bertemu? Tapi tidak di rumah, Ayah sibuk tidak? Jika tidak saya akan ke rumah sakit sekarang," Al langsung mengutarakan maksud dirinya menelpon tanpa menjawab serentetan pertanyaan yang Ayahnya ajukan.
"Baiklah datang tiga jam lagi, langsung masuk ke ruangan Ayah saja, ya sudah, sebentar lagi Ayah harus masuk ruang operasi," Tanpa banyak tanya Alan pun menyetujui permintaan putranya, dia seakan tahu jika yang akan dibicarakan Al adalah hal penting, mungkin ini tentang pernikahannya. Dan Al takut jika Lily, calon istrinya mendengar apa yang akan mereka bicarakan nanti.
"Baiklah Al akan kesana tiga jam lagi," Al pun kemudian langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
Sebelum ke rumah sakit, Al menelpon seseorang untuk menanyakan keberadaan pria yang belakangan ini membuat adiknya menangis.
Setelah tahu dimana Jason berada, Al pun segera melajukan mobilnya membelah Ibu kota menuju ke tempat Jason.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat Jason karena kebetulan dia sedang berada di sekitar tempat yang akan menjadi tujuannya.
Begitu sampai di sebuah gedung tinggi, Al langsung masuk dan menuju ke lift untuk mempercepat pertemuannya dengan Jason.
Setelah urusan dengan Jason selesai, Al pun melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, tempat janjian dirinya dengan sang Ayah, Al menceritakan semuanya pada Alan apa yang dia tahu, termasuk memintanya untuk tetap melakukan pernikahan seperti apa yang direncanakan sejak awal.
__ADS_1
Flashback off
***
Lily menangis mendengar cerita Al, Lily langsung memeluk Kakaknya yang kini duduk di sampingnya itu, melihat kedua anaknya saling berpelukan Alan pun memeluk keduanya, mengecup puncak kepala kedua anak-anaknya.
"Ayah bahagia, karena kita bisa berkumpul kembali, Ayah akan berusaha mencari Ibu kalian," lanjut Alan dalam hati.
"Mm maaf menyela Paman, aku pamit pulang, Ibu pasti sudah terlalu lama menunggu," Dahlia pamit kepada mereka, jujur saja dia tidak nyaman di tengah-tengah keluarga mereka, Dahlia benar-benar merasa seperti orang asing, ya sebenarnya bukan hanya dirinya, tapi juga pria yang duduk di single sofa yang hanya bisa menatap momen adiknya bersama keluarga aslinya, Jason terlihat biasa saja, tapi tidak dengannya, Dahlia ingin segera pergi dari tempat itu, dia tidak ingin mengganggu momen kebersamaan mereka untuk pertama kalinya setelah tahu kenyataan sebenarnya.
Al yang mendengar Dahlia berpamitan langsung melepaskan pelukannya. "Biar aku antar," Al menawarkan diri dan segera bangun dari duduknya.
"Tidak perlu Kak Al, aku bisa pulang sendiri, terima kasih atas tawarannya," Dahlia pun bangun dan mengambil tasnya.
"Aku antar atau kau tidak akan bisa pulang hari ini" kata Al datar ketika melihat Dahlia mulai melangkah.
Dahlia hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Al.
"Kakak pamit dulu," ucap Dahlia ketika sang adik menatapnya.
Lily pun mengangguk melihat kepergian Kakaknya yang kini sudah menghilang di balik tembok.
Setelah itu Lily menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, dirinya merasa lega, akhirnya masalah yang dia hadapi satu persatu terselesaikan, tentunya bukan dia sendiri yang menyelesaikannya, tanpa bantuan orang-orang yang dia sayangi, Lily mungkin sudah menyerah karena tidak bisa melalui semua apa yang telah terjadi padanya.
"Sekarang kalian istirahatlah, kalian pasti lelah," kata Alan menatap anak dan menantunya bergantian.
__ADS_1
"Ale bawa Suamimu ke kamar kamu sayang," perintah Alan pada Lily.
Lily diam saja, tidak menanggapi ucapan Ayahnya, Jason menggenggam tangan Lily membuyarkan apa yang Lily pikirkan saat ini.
"Hah kenapa Ayah?" Reflek Lily yang terkejut karena sedari tadi dirinya sibuk dengan lamunannya.
"Bawa Suamimu ke kamarmu," ulang Alan mengatakan apa yang tadi dia katakan yang tidak didengar putrinya.
"Hah, oh iya, ya sudah Yah, aku ke kamar dulu," pamit Lily kemudian.
Alan mengangguk, Lily berbalik badan hendak melangkah menuju kamarnya. Tapi…
"Tunggu!" Ucap Alan menghentikan langkah Lily.
Lily menoleh kembali ke arah Ayahnya, begitu mendengar suara Ayahnya.
"Iya Yah kenapa?" Lily menatap Alan, yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
Melihat Ayahnya yang diam saja, Lily pun mendekat dan langsung memeluk Alan.
Alan sempat terkejut karena tiba-tiba Lily memeluknya. Tapi setelah menetralkan keterkejutannya Alan pun langsung membalas pelukan putrinya.
"Katakan saja apa yang ingin katakan!" Ucap Lily seakan tahu isi pikiran Ayahnya.
Alan melepaskan pelukannya pada sang putri dan menatap putrinya lekat, diusapnya dengan lembut wajah cantik putrinya.
__ADS_1
"Bolehkah Ayah memanggilmu Ale, seperti Ayah memanggilmu saat masih kecil?" Tanya Alan menunggu jawaban Lily, yang hanya diam saja dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.