Please Love Me

Please Love Me
Bab 310


__ADS_3

Lily terus melirik Jason yang tengah mengendarai mobil, pria itu hanya diam saja.


"Sayang!"


Lily memanggil suaminya, tapi tidak mendapat sahutan.


"Sayang, kamu marah?"


"Aku sedang fokus nyetir, jangan ganggu."


Mendengar nada datar suaminya, Lily jadi 


semakin jika Jason memang sedang marah dengannya.


Lily menarik nafas panjang, "Berhenti disini!" Ucapnya sambil menutup telinga Aulia yang tidur dipangkuannya. 


Ya Lily mengajak putrinya ikut, karena tidak ada yang menjaganya.


Jason langsung melirik istrinya yang kini membuang wajah keluar jendela.


"Kenapa?"


"Aku mau turun."


"Ini belum sampai, masih lumayan jauh."


"Aku mau turun, berhenti disini!"


Entah kenapa Lily begitu kesal, dia merasa jika Jason tidak mau mengerti kondisinya yang tidak mungkin meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil.


"Aulia tidur."


"Cepat berhenti!"


Cit


Jason mengerem mobil dan menepikannya. Lantas, Lily dengan sedikit kesusahan turun dari mobil sambil menggendong Aulia. Ditutupnya pintu mobil cukup keras, untung saja Aulia tidak terbangun. Wanita itu berjalan dan menyetop taxi, lalu segera masuk ke dalamnya.


Sedangkan Jason mengacak rambutnya frustasi, tidak tahu kenapa dirinya bisa sekesal itu.


Jason kembali menjalankan mobil, sambil menghubungi seseorang. 


*


*


"Ibu!"


Lily tersenyum saat Cinta berlari menghampirinya.


"Ibu," Cinta mengecup pipi Lily dan memeluknya. Lalu berpindah pada sang adik dengan mata sayu, terlihat seperti mengantuk.


"Adik baru bangun tadi," beritahu Lily pada putrinya yang sepertinya penasaran, karena adiknya hanya diam saja.


"Oh ya ayo! Kita beli kue dulu buat adik."


"Ibu katanya mau buat sendiri."


"Sudah."


"Lalu kenapa beli?"


"Kuenya sudah lebih dulu dimakan adik kamu."


Cinta menatap adiknya.


"Benar dek?"


Aulia hanya menunjukkan deretan giginya yang rapi, takut kakaknya marah.


"Ih kamu nakal, kasihan ibu tahu, ibu kan sudah capek-capek, minta maaf cepat sama ibu."


Uli mengerucutkan bibirnya, tapi gadis kecil itu tetap menuruti perintah sang kakak.


"Uli, minta maaf Bu."


"Iya, tidak apa-apa sayang, ya sudah ayo!" Lily menggandeng kedua putrinya di sisi kiri dan kanan menuju taxi yang memang sudah diminta Lily untuk menunggu.


Ketiganya masuk, taxi pun melaju meninggalkan sekolah Cinta menuju toko kue langganan Lily.


Taxi sudah sampai setelah 10 menit perjalanan, karena jarak toko yang memang tidak terlalu jauh dari sekolah putrinya.


"Ayah nanti pulang cepat kan Bu?" Tanya Cinta begitu mereka kini dalam perjalanan pulang.


"Hmm tidak tahu, bagaimana kalau Cinta bicara sama ayah."


"Hmm boleh."


Lily kemudian menekan nomor suaminya dan memberikan ponselnya pada Cinta, Aulia gadis kecil itu kini sudah kembali terlelap, biasanya jam segini memang waktu tidur Aulia.

__ADS_1


"Halo ayah."


Mendengar putrinya memanggil Jason, Lily mendekat, berusaha mencuri dengar apa yang suami dan anaknya itu bicarakan.


"Hmm ayah sudah makan?"


"Oh, ayah lagi makan. Hmm Cinta belum makan, lagi di jalan, sebentar lagi sampai, iya kan bu?" 


Lily terkejut karena tidak menyangka jika putrinya akan bertanya padanya. Lily menjauhkan diri agar tidak ketahuan menguping.


"Bu, bentar lagi sampai kan?" Tanya Cinta lagi, karena belum juga mendapatkan jawaban dari ibunya.


"Iya sayang, hmm lima menit lagi," ucap Lily sambil melihat jalanan yang memang sudah dekat dengan rumah.


"Lima menit lagi ayah."


"Iya, nanti Cinta habis ini langsung makan."


"Adik sedang tidur, oh ya ayah, apa ayah nanti bisa pulang cepat?"


"Yes, baiklah, nanti Cinta sama adek tunggu di rumah.


"Ya sudah, ini Bu," Cinta mengembalikan ponsel ibunya.


Lily segera mengakhiri panggilan, lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Sudah? Ibu tidak ngomong sama ayah?"


Lily menggeleng, "Ayah kan lagi kerja, nanti kalau ngobrol terus sama ayah, kapan ayah selesainya? Nanti yang ada ayah jadi tidak bisa pulang cepat lagi."


Cinta mengangguk mengerti.


"Ibu sini!" Cinta kemudian meminta ibunya untuk mendekat. 


Lily hanya menurut, ternyata putrinya itu mau berbisik padanya.


"Ibu, Cinta sudah kumpulin uang jajan." Bisiknya.


"Lalu?" Lily berpura-pura tidak mengerti.


Cinta mengerucutkan bibirnya, Lily terkekeh dibuatnya.


"Cinta mau beli apa buat adek?"


"Ssttt, ibu jangan keras-keras ngomongnya, nanti adek bangun."


Lily kemudian mendekat ke putrinya.


"Lalu Cinta mau beli apa buat hadiah adik."


Cinta tersenyum kemudian kembali berbisik.


"Baiklah, kita beli nanti ya, setelah mengantarkan adik ke rumah, Cinta juga harus ganti baju, lalu makan siang dulu. Ibu tadi juga sudah masak makanan kesukaan Cinta.


"Yeah asyik!" Teriak Cinta riang, namun setelahnya gadis itu segera menutup mulutnya, kelepasan. Untung saja Aulia tidak bangun, hanya menggeliat saja.


"Hehe, maaf ibu," ucap Cinta pelan.


"Sudah sampai Bu," ujar sopir taxi memberitahu, lalu turun dan membantu membukakan pintu untuk Lily. Tak hanya itu, pria tua itu, membantu Cinta turun, apalagi saat  melihat Lily kesusahan.


"Terima kasih pak."


Sopir taxi itu mengangguk, masuk dan melajukan kendaraannya.


"Ayo sayang!" Lily menggandeng Cinta lalu berlalu masuk.


"Loh, kak Lia ada disini? Dari kapan kak? Kenapa tidak memberitahu? Terus kakak naik apa kesini?" Tanya Lily karena tidak melihat mobil kakaknya.


"Hmm sekitar sepuluh menit yang lalu, kakak naik taxi, mobil kakak lagi di bengkel, maklum mobil bekas," jawab Dahlia sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


"Kakak sudah mengirimkanmu pesan, bahkan menelponmu, tapi kamu tidak menjawab."


Dahlia segera mengambil barang bawaan Lily.


"Oh iya, ponselku ada di tas."


"Kamu sendiri? Jason?"


"Oh, suamiku kan kerja kak."


"Kenapa kamu tidak menghubungi kakak, lihatlah kamu kesulitan seperti ini."


"Tidak juga kok, ini Aulia baru tidur saja tadi habis beli kue. Lagian kakak kan kerja, gak  mungkin aku ganggu kakak."


"Tapi tetap saja, harusnya…"


"Iya, iya, sudah dulu ngomelnya, kita masuk dulu, kakak tolong ambil kunci di tasku!"


Dahlia mengambil kunci dan sekalian membukakan pintu rumah adiknya.

__ADS_1


"Ayah sama ibu belum pulang?"


"Hmm iya, tidak tahu deh kapan pulang, nomornya tidak bisa dihubungi."


Lily masuk lebih dulu setelah berpamitan pada Dahlia untuk menidurkan Aulia, juga membantu Cinta mengganti pakaian di kamarnya, lalu kembali keluar dan menemui Dahlia bersama putri sulungnya.


"Kakak kok kesini?"


"Memangnya tidak boleh?"


"Bukan gitu, memangnya kakak tidak bekerja?"


"Jam istirahat kan ini, jadi ya kakak mampir dulu kesini sekalian tadi makan di luar sama klien."


Lily mengangguk mengerti.


"Oh ya kak, kakak masih lama istirahatnya?"


"Hmm sekitar 45 menit lagi, kenapa?" 


"Boleh gak kak, aku nitip Aulia dulu, aku mau ngantar Cinta sebentar,  tidak jauh juga kok."


"Ya sudah tidak apa-apa, memang Cinta mau kemana?" Kini Dahlia melemparkan pertanyaan pada keponakannya.


"Beli kado buat adek."


"Wah, Cinta mau ngado?"


"Hmm," Cinta berlari entah kemana, kemudian kembali dengan membawa sebuah celengan.


"Ini ibu, tabungan Cinta."


"Pinter banget sih anak ibu," Lily berjongkok menatap putrinya penuh haru, karena menyimpan uang jajan untuk kado adiknya.


Dahlia yang gemas pun mengelus rambut Cinta. Cinta mendongak dan tersenyum pada bibi nya itu.


"Ya sudah sana! Kakak akan jagain Uli."


"Makasih ya kak. Kakak nanti langsung ke kamarnya saja."


Lily menerima celengan yang diberikan putrinya, lalu menyimpannya di lemari yang memang ada di sana.


Dahlia mengangguk, "Kamu mau naik apa?"


"Diantar sopir," ucap Lily kemudian mengajak Cinta segera pergi ke toko mainan.


"Ke toko mainan ya pak," ucap Lily pada sopirnya  begitu mereka masuk ke mobil.


Sopir mengiyakan dan segera melajukan mobilnya.


Tak lama mereka akhirnya sampai, Cinta sangat antusias bahkan gadis kecil itu berlari untuk masuk ke toko itu. Lily hanya mengikuti putrinya dan tentunya mengawasi setiap gerak-geriknya. Keduanya berkeliling mengitari tempat itu, hingga kemudian Cinta berhenti.


"Itu Bu, mainan yang sedang viral!"


"Tau darimana kamu Viral?"


"Dari teman-teman."


"Dasar anak sekarang, tau saja, kata viral," gumam Lily yang melihat anaknya sibuk memilih.


"Sudah sayang yang ini?"


"Iya Bu. Oh ya bu, nanti dibungkus juga ya?"


"Iya dong."


Gadis kecil itu mengangguk-angguk senang. 


"Ya sudah ayo pulang! Bibi Lia kan mau kerja lagi." Lily mengajak Cinta ke kasir untuk melakukan pembayaran.


Setelah itu, ibu dan anak itu keluar dan masuk ke mobilnya.


"Langsung pulang saja ya pak."


"Iya Non."


Sepanjang jalan, Lily tersenyum menatap putrinya dan mendengar celotehannya menceritakan apa saja yang terjadi di sekolah hari ini. Sudah menjadi kebiasaan Cinta dan Lily menyukai itu, dia jadi tahu apa saja yang putrinya itu lakukan selama tidak bersamanya.


"Sudah sampai sayang, ayo kita turun!" Lily turun lebih dulu kemudian membantu Cinta.


Keduanya berjalan masuk dengan bergandengan tangan, langkah Lily berhenti dengan kerutan di dahi, saat melihat mobil suaminya sudah terparkir di halaman.


Lily pun membuka pintu dan masuk.


"Sayang, kamu tunggu disini dulu ya, ibu mau ambil kertas kadonya," kata Lily meminta putrinya duduk di karpet tempat biasanya kedua putrinya bermain.


Cinta mengangguk, Lily kemudian naik tangga ke kamarnya. Sesampainya disana tidak ada siapa-siapa. Lily kemudian melangkah menuju kamar anak-anaknya yang memang ada di sebelah kiri kamarnya. Dirinya terkejut melihat apa yang sedang terjadi di depan matanya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"  

__ADS_1


__ADS_2