Please Love Me

Please Love Me
Bab 283


__ADS_3

Seorang pria kini berjalan meninggalkan restoran yang di jadikannya tempat pertemuan. Diikuti seorang pria yang menjabat sebagai asistennya, kini pria itu masuk ke dalam mobil.


"Apalagi jadwalku hari ini?" Ucapnya yang kini sibuk dengan ponsel.


"Kita hanya perlu mengecek lokasi untuk pembangunan Tuan," beritahu pria yang duduk di sampingnya.


Pria yang sedari tadi sibuk dengan ponsel tampak menghentikan kegiatannya.


"Kita pergi sekarang kesana, setelah itu kamu persiapkan kepulangan kita malam ini."


"Baik Tuan."


"Terima kasih kerja kerasnya beberapa hari ini yang membantu saya agar cepat menyelesaikan semua pekerjaan disini."


"Itu sudah menjadi pekerjaan saya, jadi Tuan Ronald tidak perlu berterima kasih," jawab sang asisten.


Pria yang ternyata Ronald mengangguk. Kemudian dia kembali berkata.


"Kamu sudah memiliki istri dan anak bukan?"


"Iya Tuan."


"Kamu pasti sangat merindukannya," gumam Ronald yang masih bisa di dengar jelas asistennya.


"Tentu saja Tuan, apalagi anak saya yang kedua begitu lengket dengan saya."


Ronald tersentak kaget, ketika asistennya itu menjawab gumamannya tadi.


"Setelah mengecek lokasi kita bisa mampir dulu untuk membeli oleh-oleh, belilah sesuatu untuk istri dan anak-anakmu, pilihlah yang mereka suka."


"Baik baik Tuan, terima kasih, terima kasih banyak."


Ronald mengangguk dan tersenyum kemudian pria itu kembali sibuk berbalas pesan dengan sang istri yang katanya sedang makan malam.


"Aku sangat merindukanmu," itulah bunyi pesan terakhir yang istrinya kirimkan. 

__ADS_1


Ronald mematikan layar ponselnya dan memasukkan ke kantong celana, tidak membalas pesan istrinya itu karena saat ini dirinya sudah tiba di lokasi.


Ronald segera turun bersamaan dengan asistennya, seseorang datang menghampiri, memperkenalkan diri sebagai penanggung jawab proyek, dan setelahnya mereka bertiga pergi berkeliling untuk melihat-lihat sampai dimana pembangunan itu berjalan.


Sekitar satu jam berkeliling, kini Ronald berpamitan, beruntung tidak ada masalah disana hingga rencana Ronald untuk pulang nanti malam bisa terlaksanakan. Ronald segera masuk ke dalam mobil yang kemudian sopir segera melajukannya.


"Kita mampir dulu untuk berbelanja oleh-oleh," ucap Ronald sambil mengambil ponsel. Dia menghubungi istrinya tapi tidak kunjung mendapatkan balasan, dia yakin jika istrinya kini sedang sibuk, apalagi tadi istrinya sempat bilang jika dia akan lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Ronald memasukkan kembali ponselnya, saat mobil yang membawanya kini telah sampai di tempat tujuan, Ronald dan asistennya turun membeli apapun yang akan dibawanya pulang, berharap istrinya akan menyukainya.


*


*


"Kamu tidak pulang Liora?" 


Merasa namanya di sebut, Liora langsung mengangkat kepala.


"Ibu? Oh iya ini Bu, sebentar lagi Liora pulang kok." Jawab Liora tersenyum menatap Liana.


"Iya, iya Bu, ini Liora mau pulang." 


Liora segera menyimpan hasil kerjanya kemudian menutup laptop yang sedari tadi menemaninya bekerja.


"Nah gitu dong, ya sudah, ibu duluan atau kamu mau sekalian bareng sama ibu?"


"Tidak perlu Bu, Liora bawa mobil kok."


Liana mengangguk mengerti kemudian melangkah meninggalkan Liora.


Liora membereskan meja kerjanya, mengambil tas dan ponselnya lalu segera keluar ruangan.


Setelah berpamitan dengan beberapa orang yang masih ada di sana, Liora keluar menuju mobil dan langsung masuk ke dalamnya. Segera gadis itu, mengendarai mobilnya agar secepatnya sampai ke rumah.


Tak lama akhirnya mobilnya kini sudah di pelataran kediaman orang tuanya, Liora turun menyerahkan kunci pada salah satu pengawal yang bekerja di rumahnya, membiarkan pria itu yang membawa mobilnya.

__ADS_1


Liora masuk sambil melihat ponselnya, melihat bahwa ternyata ada dua kali panggilan tidak terjawab dari suaminya. Liora kemudian memutuskan untuk mengetikan sesuatu, memberitahu suaminya jika Liora akan memghubunginya nanti setelah dirinya selesai mandi, hingga terdengar suara yang mengejutkan Liora, membuat gadis itu memegang dadanya, bahkan ponsel yang sedari tadi di pegangnya juga hampir saja lepas dari genggamannya.


"Baru pulang El?"


"Mami mengejutkan saja," ucap Liora yang kini berjalan menghampiri maminya yang ternyata duduk di sofa, dan karena tadi  Liora yang begitu fokus dengan ponselnya sampai tidak melihat maminya ada disana.


"Kamu saja yang jalan sambil sibuk dengan ponsel," jawab Tiffa yang kini merasakan kecupan di punggung tangannya, karena Liora langsung meraih tangan dan mengecupnya.


"Kamu tumben jam segini baru pulang?" Tanya Tiffa lagi karena belum mendapatkan jawaban dari putrinya.


"Iya Mi, menyelesaikan pekerjaan kemarin-kemarin yang sempat El tinggalkan, mami belum tidur? Atau jangan-jangan mami nungguin El?" Liora menatap maminya.


Melihat maminya yang hanya diam saja, membuat Liora membenarkan dugaannya, jika maminya itu memang menunggunya pulang.


"Mami tidak perlu menunggu El, kan El juga sudah mengirim pesan sama mami kalau mami lebih baik istirahat dulu, karena El harus lembur."


"Mami tidak pegang ponsel, jadi mami tidak tahu kalau kamu mengirimi mami pesan," ujar Tiffa yang sebenarnya sudah membaca pesan putrinya, tanpa membuka pesan itu.


Liora menghela nafas, kemudian menatap wanita yang sudah tidak muda lagi itu.


"Ya sudah lebih baik mami istirahat sekarang, ini sudah malam, El juga mau ke kamar lalu bersih-bersih, El juga mau menghubungi suami El nanti. Semenjak mendengar nasihat kakaknya Stevano, Liora selalu menghubungi Ronald jika dirasa pria itu tidak sempat melakukannya.


Tiffa bangun, menyentuh bahu putrinya, "Ya sudah, habis itu kamu juga harus langsung istirahat!" Ucapnya setelah itu, dia pun berlalu menuju kamarnya.


Setelah melihat maminya pergi, Liora pun ikut bangkit dan segera menaiki anak tangga menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Liora menggeletakkan begitu saja tas nya, mengambil handuk dan memasuki kamar mandi.


Setengah jam menghabiskan waktu membersihkan diri, kini Liora duduk di atas ranjang, duduk bersila dengan bantal di atas kedua kaki, menyalakan ponsel dan menghubungi suaminya, tapi nomor Ronald justru tidak aktif, Liora mencoba lagi tapi sama, hanya suara operator lah yang terdengar. Liora melihat pesan yang tadi di kirimkannya, belum juga terkirim.


"Kebiasaan banget deh, kalau sudah sibuk pasti melupakan ponsel bahkan istrinya yang selalu menunggu kabar darinya" gerutu Liora.


Liora yang kesal karena tidak juga mendapat jawaban telepon dari suaminya memutuskan untuk turun dari ranjang, mengambil laptop dan berjalan menuju sofa untuk melanjutkan pekerjaannya tadi, sambil menunggu suaminya membaca pesan yang dia kirimkan dan menghubungi kembali. 


Baru beberapa menit memegang laptop, kini Liora sudah larut dalam pekerjaan hingga dering ponsel tidak mengalihkan perhatiaannya, Liora menguap lalu menutup mulut dengan telapak tangannya, memindahkan laptop yang tadi ada di pangkuannya ke atas meja kemudian membaringkan tubuhnya di sofa, kantuk yang melanda membuat gadis itu kini sudah menutup kedua matanya bahkan terdengar dengkuran halus, yang menandakan bahwa Liora benar-benar tertidur.

__ADS_1


__ADS_2