
Pria yang ditatap Liora kini menoleh dan membalik tubuhnya lalu tersenyum.
Liora hanya membalas senyum pria itu, senyuman yang justru membuatnya merasa bersalah.
"Sudah pulang kan?" Tanya pria itu.
Dan Liora hanya mengangguk, dirinya tidak mungkin berbohong.
"Dijemput calon suami kamu?" Tanya pria itu dan Liora menggeleng.
"Hmm Ronald tidak bisa menjemputku," ucap Liora kemudian.
Pria itu mengangguk mengerti.
"Kamu sendiri kenapa kemari?" Tanya Liora berharap dalam hati jika dugaannya salah.
"Aku ingin bertemu denganmu," ucap pria itu.
"Bertemu denganku? Jack kamu tahu kan jika aku…"
"Aku tahu...kamu tenang saja, aku tidak akan mengganggumu, dan selamat untuk kalian maaf aku terlambat mengucapkannya," pria yang ternyata Jack itu mengulurkan tangannya pada Liora.
Liora menatap tangan Jack, awalnya dia ragu, tapi akhirnya Liora pun membalas uluran tangan pria itu.
"Kamu pulang naik apa?" Tanya Jack.
"Sepertinya naik taxi."
"Bagaimana jika aku saja yang akan mengantarmu, sekalian ada hal yang ingin aku bicarakan padamu."
Liora menatap Jack cukup lama, lalu dirinya pun akhirnya mengangguk. Jack membukakan pintu mobil membiarkan Liora masuk.
"Kenapa tidak jalan?" Liora menatap Jack yang hanya diam saja, tidak segera melajukan mobilnya.
"Kamu belum pasang seatbelt."
Liora menepuk keningnya, bisa-bisanya dia melupakan hal itu, mungkin karena biasanya Ronald yang selalu membantunya memasang seatbelt.
"Ah maaf, aku lupa." Liora kemudian memasang seatbeltnya dan Jack barulah kemudian mulai melajukan mobil.
"Kamu baru kelihatan, kemana saja?" Tanya Liora memecah keheningan diantara mereka.
"Tugas, hmm mewakili perusahaan untuk memantau proyek yang dilakukan di luar kota."
Liora mengangguk mengerti.
"Oh ya, ada apa? Katanya kamu tadi ingin bertemu denganku dan mengatakan sesuatu."
__ADS_1
"Oh itu, hmm aku tidak tahu kamu bisa membantuku atau tidak, tapi sepertinya tidak bisa, kamu pasti sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahanmu, hmm ya sudah, nanti aku akan coba menyelesaikannya sendiri," kata Jack.
Liora pun hanya mengiyakan saja, walaupun sebenarnya dirinya masih terlihat bingung.
"Ya sudah, tapi jika kamu memang ingin meminta bantuanku, kamu katakan saja ya, akan aku usahakan untuk membantumu."
"Hmm, tentu saja."
Keduanya kemudian kembali terdiam hanya terdengar deru mesin mobil.
Tak lama mobil Jack kini sudah sampai di halaman kediaman William. Begitu sampai Liora langsung turun saat melihat mobil calon suaminya sudah terparkir rapi di sana.
Dapat Liora lihat Ronald bersandar pada bagian depan mobil sambil bersedekap dada menatap kedatangannya.
Liora segera menghampiri kekasihnya, "Kamu sudah disini? Sejak kapan?" Tanyanya begitu sudah ada di hadapan Ronald.
"Baru saja," jawab Ronald ketus.
"Kalau begitu aku pulang dulu," pamit Jack yang tiba-tiba sudah ada di belakang Liora.
Ronald dan Liora menoleh menatap Jack, tapi Ronald menahan tubuh Liora agar tidak bisa berbalik menatap Jack.
"Pulang tinggal pulang saja!"
"Ronald!" Liora menggeleng mengisyaratkan agar pria itu tidak bersikap seperti itu.
"Maaf Jack, jangan terlalu diambil hati, dan makasih ya sudah mengantarku."
"Hmm tidak masalah," jawab Jack lalu pria itu berbalik dan pergi meninggalkan Liora dan Ronald.
"Kenapa kamu bisa bersamanya? Katanya kamu akan pulang naik taxi?" Tanya Ronald begitu melihat mobil Jack sudah pergi.
"Hmm tadi sebenarnya aku memang mau naik taxi, tapi tidak tahu kenapa Jack ada di depan butik, lalu dia bilang ada yang ingin dikatakan padaku, ya sudah jadi sekalian mengantarku pulang," jelas Liora jujur.
"Lalu apa yang dia katakan?"
Sepertinya Ronald tidak akan berhenti bertanya sebelum dia tahu dengan jelas kenapa pria yang bernama Jack menemui calon istrinya.
Liora menggeleng.
"Maksudnya?" Ronald mengernyitkan dahi.
"Jack tidak bilang apa-apa, kita hanya mengobrol seperti biasa, hmm tidak bisa dikatakan mengobrol juga sih, benarnya mungkin kita hanya saling sapa saja."
"Apa? Dasar! Dia pasti hanya modus saja, dia pasti mencari alasan untuk bertemu dan berduaan denganmu," kata Ronald yang tidak terima setelah mendengar penjelasan kekasihnya.
"Ih kamu ini, jangan berburuk sangka dulu, lagian aku cukup mengenal Jack, aku yakin dia tidak ada niatan untuk melakukan itu."
__ADS_1
"Jadi kamu lebih percaya sama dia?" Tanya Ronald kecewa.
"Bukan seperti itu…"
"Sudahlah, lebih baik kamu masuk sekarang, aku mau pulang."
Setelah mengatakan hal itu, Ronald langsung masuk ke mobil begitu saja, lalu segera melajukannya meninggalkan Liora.
"Kenapa jadi marah, aku juga tidak bermaksud seperti itu," gumam Liora yang kini memilih untuk masuk, kesal dengan sikap Ronald.
*
*
Jason mengeratkan selimutnya, dia membolak-balikkan posisi tidurnya, dirinya benar-benar tidak bisa tidur malam ini. Jason menghadap ke samping yang ada hanya guling, dan itu membuat Jason harus menghela nafas untuk kesekian kalinya.
Jason memutuskan keluar dari kamar itu berjalan mengendap-endap, dengan perlahan dia mencoba membuka pintu kamar dan ternyata dikunci. Jason hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. Salahkan dirinya yang tadi kembali ke kantor, karena ada sesuatu terjadi hingga berujung sang istri merajuk dan memintanya untuk tidur di kamar lain.
Jason menuruni anak tangga kemudian berjalan menuju sofa, menyalakan televisi dan menontonnya berharap rasa kantuk datang menghampiri dan membuat akhirnya dirinya bisa tertidur. Cukup lama Jason menonton televisi hingga waktu kini menjelang pagi barulah dirinya tertidur, pria itu memeluk dirinya sendiri kedinginan. Apalagi jam 1 dini hari tadi hujan turun dengan derasnya.
Lily terbangun, meraba tempat tidur di sampingnya, tidak ada suaminya di sana. Lily menepuk keningnya, dirinya baru mengingat jika dia telah meminta sang suami tidur di luar, karena entah kenapa semalam Lily merasa sangat kesal pada Jason yang memilih kembali ke kantor setelah mengantarnya pulang dari rumah sakit.
Dengan perlahan Lily turun dari ranjangnya, di tatapnya jam yang terpajang di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Wanita itu kini menuju ke kamar mandi, membersihkan dulu, sebelum melihat apa putrinya sudah bangun atau belum, karena semalam putrinya tidur bersama ayah Alan dan ibu Dea.
Selesai dengan urusannya, kini Lily keluar, langkahnya berhenti di kamar kakaknya, membuka pintu kamar itu, kosong, suaminya tidak ada di sana. Semalam suaminya bilang jika dia akan tidur di kamar Al, dan jika Lily butuh sesuatu, Lily bisa langsung memanggilnya atau bahkan menemuinya.
"Apa suamiku sudah bangun?" Gumamnya kemudian melangkah menuruni anak tangga perlahan dan hati-hati, Lily kini langsung berjalan menuju dapur, disana ibunya sedang sibuk menata makanan di atas meja makan.
"Bu!" Panggil Lily, membuat Dea menoleh dan tersenyum.
"Sudah bangun sayang, kebetulan nih makanannya sudah siap, ibu panggil ayah sama Cinta dulu ya," pamit wanita itu.
Lily mengangguk tapi kemudian, "Tunggu Bu, apa Ibu melihat suami Ale?"
"Kamu tidak tahu dimana suamimu?" Tanya Dea.
Lily menggeleng lemah.
"Tuan Jason ada di sofa ruang keluarga Nona," jawab Bibi yang memang sedang membantu membereskan dapur.
"Di sofa ruang keluarga?"
"Iya, Tuan Jason sedang tidur, tadi bibi melihat waktu Bibi akan membersihkan."
"Oh oke Bi, makasih," jawab Lily yang segera berpamitan ke ruang keluarga untuk menemui suaminya.
Dan begitu sampai disana, benar saja Lily melihat Jason yang tidur sambil memeluk dirinya sendiri, Lily jadi merasa bersalah, apa suaminya itu sejak semalam tidur di tempat itu? Dalam hati Lily bertanya-tanya.
__ADS_1