
Lily mengernyit heran menatap Al yang hanya berdiri sambil terus melihat ke arah Devan, dalam hati bertanya-tanya, apakah kakaknya itu mengenal kekasih Dahlia. Lily melirik Devan pria itu biasa saja, tampaknya tidak mengenal kakaknya.
"Kak Al!"
Alan menoleh ke belakang, Al tidak juga melangkah, pria itu kembali berbalik dan menepuk bahu Al.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Tidak apa-apa yah," ucap Al yang kemudian melangkah bersama Alan dan kini pria itu duduk di samping Dahlia, membuat Dahlia berada diantara dua pria.
"Cinta sini sama ayah!" Jason bangun berjalan menghampiri Al dan meminta Cinta agar bersamanya.
"Ayah kapan pulang?" Tanyanya mendongak menatap sang ayah yang kini duduk memangkunya.
"Sudah dari tadi, memang Cinta kemana saja, sampai tidak menyambut ayah pulang. Kata ibu, Cinta nangis pengen nyusul ayah, tapi giliran ayah pulang, Cinta malah tidak ada," Jason pura-pura merajuk pada putrinya itu.
"Tadi Cinta jalan-jalan sama paman Al, telus abis itu, Cinta main sama kakek sama paman Al juga. Cinta tidak melihat ayah, Cinta kila ayah belum pulang," ucap gadis kecil menjelaskan sambil menggambar abstrak dengan jarinya di kaos yang ayahnya kenakan.
"Memangnya Cinta waktu habis pulang jalan-jalan, tidak lihat mobil ayah di depan?"
Sepertinya Jason belum selesai menginterogasi putrinya. Sementara yang lain sudah memulai makan malam mereka sambil sesekali melihat interaksi Jason dan Cinta, pria itu banyak bicara jika bersama sang putri.
"Cinta lihat, tapi katanya Cinta ketemunya sama ayah nanti saja, masih kangen sama paman," kata Al menyela.
Gadis kecil itu menunduk, tidak lagi berani menatap ayahnya apalagi saat pamannya membocorkan apa yang Cinta katakan tadi.
"Oh gitu, ya sudah nanti Cinta tidur sama Paman Al saja."
"Ayah…."
"Sudah-sudah kenapa jadi ribut berdua, sayang kamu makan dulu, katanya tadi kamu lapar. Dan Cinta sayang, kamu mau disuapin ayah apa ibu Nak?"
"Ayah."
"Tuh, Cinta nya juga mau disuapin kamu sayang."
"Baiklah, ayo kita makan!" Kata Jason yang kini menyusul yang lainnya makan.
"Beginilah Kak Devan, jika akan makan, Kak Devan abaikan saja yang tadi ya, soalnya kami banyak berkumpulnya saat makan, jadi ya ngobrolnya juga lebih sering saat menghadap meja makan." Kata Lily dan diangguki oleh Devan, maklum.
"Hmm tidak apa-apa, aku malah suka. Karena jarang sekali jika di rumah, harus menaati peraturan kalau di meja makan tidak boleh bicara. Itu cukup membosankan bagiku."
Lily mengangguk, "Kak Devan berarti jarang mengobrol sama keluarga Kak Devan?"
Devan mengangguk sambil mengunyah makanannya, begitu makanannya ditelan, Devan kembali berbicara.
__ADS_1
"Hmm bisa dihitung, semuanya sibuk, mama papa selalu sibuk bekerja, kakak sibuk shopping dan kumpul sama teman-temannya. Bahkan jarang sih kita makan bersama. Bisa dikatakan jika ada sesuatu penting saja kita bisa berkumpul."
Lily mengangguk, ekor matanya melirik Dahlia yang sepertinya juga menyimak obrolan mereka, dan tampaknya kakaknya juga baru tahu tentang apa yang baru saja Devan katakan.
"Ya sudah Kak, lanjutkan makannya." Lily mempersilahkan Devan untuk melanjutkan makannya tadi, dirinya juga mau makan dulu.
"Rencana Na Lia apa kedepannya?"
Mereka kini berpindah ke ruang keluarga, sekedar untuk mengobrol. Al sibuk bermain dengan Cinta, tapi tak menghalangi pria itu untuk mencuri dengar apa saja yang Dahlia katakan.
"Menyelesaikan study saja Paman, habis itu Dahlia akan sepenuhnya kembali, dan akan mencari pekerjaan disini."
Alan mengangguk mengerti, "Jika butuh bantuan tidak perlu sungkan-sungkan, kamu Kakaknya Ale, berarti kamu juga putri paman.
"Iya paman terima kasih."
"Lalu rencana kalian? Kapan kalian akan menikah?"
Al terbatuk-batuk mendengar pertanyaan ayahnya kepada Dahlia. Bisa-bisanya sang ayah tanpa merasa bersalah menanyakan hal itu di depannya.
"Kenapa Kak? Kakak dulu yang akan menikah?" Lily yang dari tadi diam menyimak, kini ikut berbicara.
"Kekasih saja belum punya mau menikah, mau kakakmu ini merebut kekasih orang?" Al mengatakan itu sambil menatap Devan lalu bergantian menatap Dahlia penuh arti.
Dan gerak-gerik Al tentunya ditangkap Lily. Sementara Dahlia yang tadi tanpa sengaja bersitatap dengan Al, menundukkan kepalanya.
Jawaban Devan mengalihkan perhatian semua orang.
Alan mengangguk kemudian mengganti topik pembicaraan, karena setelah mendengar jawaban Devan entah kenapa suasana menjadi canggung.
Cukup lama mereka mengobrol, hingga tepat pukul 10, Dahlia dan Devan berpamitan. Lily melihat kakaknya Al justru melengos begitu saja sambil membawa Cinta pergi dari sana.
"Kakak hati-hati, Kak Devan bawa mobilnya pelan-pelan saja." Kata Lily yang mengantarkan Dahlia sampai ke depan ditemani suaminya.
Devan mengangguk mengiyakan, lalu keduanya melangkah masuk ke dalam mobil. Dahlia membuka kaca, melambaikan tangan pada Lily yang tentunya di balas oleh adiknya itu.
"Ayo masuk!" Ajak Jason yang melihat Lily masih saja menatap mobil yang membawa kakaknya.
Lily mendongak menatap Jason dan mengangguk, Jason merangkul pinggang Lily, membawa wanitanya untuk segera masuk ke dalam, apalagi angin malam cukup kencang malam itu.
Sepanjang melangkah bersama, keduanya hanya diam, terutama Lily yang justru tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Jason ingin bertanya, tapi urung melihat dimana mereka sekarang, Jason akan menanyakannya nanti jika mereka sudah tiba di dalam kamar.
Jason membuka pintu, dan mengiring langkah sang istri agar duduk di atas ranjang mereka. Kedua tangannya terulur menyentuh bahu wanitanya.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Jason yang kini sudah duduk di samping istrinya.
__ADS_1
"Hah? Oh...hmm...aku tidak apa-apa kok, oh ya aku mau ke kamar mandi dulu," Lily segera bangun, dengan langkah gontai wanita itu kini memasuki kamar mandi.
Jason hanya melihat pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup. Pria itu, mengambil laptopnya, naik ke atas ranjang, menyusun bantal dan duduk bersandar pada headboard, melanjutkan beberapa pekerjaannya.
Jason yang begitu fokus dengan pekerjaannya sampai tidak menyadari kedatangan istrinya. Lily sampai mendengus kesal, merasa diabaikan oleh suaminya itu.
"Sayang, sedang apa sih?"
"Hah? Iya kenapa?"
"Seharian sudah bekerja, belum cukup juga? Di rumah juga masih kerja."
Jason buru-buru menyimpan pekerjaannya tadi, lalu segera menutup laptopnya, meletakkan di meja nakas samping tempat tidur.
"Sudah selesai kok, sini naik!" Jason menggeser tubuhnya, membiarkan istrinya ikut berbaring.
Bibir Lily mengerucut, tapi tetap saja dirinya menuruti perintah Jason.
Jason menyelipkan tangan di belakang kepala istrinya dan memeluk wanita itu. Mengusap lembut rambut panjang istrinya. Tenang itulah yang Lily rasakan, dia selalu suka perlakuan sederhana itu.
"Sayang!"
"Hmmm."
"Apa kamu merasa jika Kak Al masih belum melupakan Kak Lia?" Lily mendongak agar bisa melihat wajah suaminya.
"Kak Al selalu bilang, jika dia sudah melupakan Kak Lia, Kak Al bilang sudah menerima keputusan Kak Lia yang lebih memilih menjalin hubungan dengan pria lain. Tapi aku perhatikan tadi…"
Jason menyelipkan helaian rambut Lily ke belakang telinga.
"Dan kamu percaya akan perkataan Kak Al?"
Lily menggeleng.
"Ya itu kamu sudah menemukan jawabannya."
Jason kini mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang, menatap langit-langit kamar, pandangannya menerawang jauh, "Kadang berucap itu mudah, tapi hati yang merasakannya tidak semudah berkata-kata, kita mengucapkan hal seperti itu, sebenarnya itulah hanya harapan kita. Dalam bibir kita berucap aku sudah melupakannya, tapi berbeda dengan apa yang hati kita katakan. Sebenarnya dalam hati kita justru berkata, ya semoga saja aku bisa melupakannya. Kamu tahu? Kadang suatu hari kita bilang jika kita sudah bisa melupakan orang itu, tapi disaat kita kembali bertemu dengannya dan bertatap muka, ada perasaan yang masih tertinggal, dan kita baru sadar bahwa sebenarnya kita belum bisa benar-benar melupakannya, perasaan itu masih ada. Tapi mungkin, selama ini kita hanya bisa menyembunyikan perasaan itu, bukan melupakan atau menghapus dia sepenuhnya." Tubuh Jason kini miring kembali menghadap Lily.
"Sudah, jangan terlalu memikirkan hal itu, sebelumnya kita sudah pernah membahasnya bukan? Lebih baik kamu tidur sekarang."
Lily menatap suaminya tanpa berkedip.
Jason meraup wajah istrinya itu, "Tidur sayang, bukan menatapku seperti itu." Ucapnya membuat Lily memajukan bibirnya beberapa senti.
Jason terkekeh dan dengan cepat mencium bibir sang istri yang seakan mengundangnya untuk dicium.
__ADS_1
"Ayo tidur!" Jason memeluk tubuh istrinya, dan menepuk-nepuk punggung Lily hingga wanitanya itu kini terlelap dalam pelukannya.