
Liora baru saja keluar kamar mandi, melihat ponselnya menyala, buru-buru gadis itu berjalan cepat untuk mengambil ponselnya, berharap itu dari suaminya yang sejak kemarin malam tidak bisa dihubungi lagi. Liora menghela nafas kecewa saat ternyata bukan Ronald yang menghubunginya, tapi tetap saja Liora menjawab telepon itu, telepon yang ternyata dari teman kerjanya.
"Halo." Jawabnya begitu panggilan terhubung.
"Iya sebentar lagi saya berangkat," ucapnya.
"Baiklah," setelah mengatakan itu, Liora mengakhiri panggilan mereka. Meletakkan ponsel kembali dan bersiap untuk berangkat kerja. Memoles wajahnya sedikit agar tidak terlihat kusut karena semalaman tidak bisa tidur, dan bisa tidur pukul 4 tadi pagi, jadi Liora baru tidur hanya 2 jam, karena jam 6 dirinya sudah bangun dan langsung mandi.
Begitu selesai, Liora mengambil tasnya kemudian bergegas keluar, apalagi melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7.
"Kamu tidak sarapan dulu El?" Suara William mengejutkan Liora yang baru saja tiba di lantai satu. Gadis itu mendekat dan meraih tangan papinya lalu dikecupnya.
"El buru-buru Pi, mau ketemuan sama klien di luar, nanti El sekalian makan di sana saja, setelah menyelesaikan pekerjaan El," jawab Liora sekalian berpamitan dengan papinya.
William mengangguk mengerti membiarkan putrinya yang kini kembali berjalan cepat menuju pintu keluar.
Liora masuk ke dalam mobil, dan segera mengendarainya meninggalkan pekarangan rumah menuju ke tempat pertemuan dengan kliennya.
Lima belas menit menempuh perjalanan akhirnya Liora pun sampai, Liora turun dan buru-buru masuk, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan bahwa dirinya sudah terlambat lima menit, dia hanya berharap, klien nya nanti tidak mempersulitnya karena keterlambatan dirinya.
"Maaf, saya terlambat," ucap Liora pada seorang gadis cantik yang bisa Liora diperkirakan usianya jauh lebih mudah darinya.
Gadis yang sedang sibuk dengan ponsel mendongak, menatap Liora dan tersenyum tipis padanya.
"Tidak apa-apa kak, aku juga baru saja sampai, hmmm harusnya aku yang minta maaf karena calon suamiku belum datang. Dan juga…" wajah gadis itu berubah sendu membuat Liora mengernyitkan dahi.
Liora memegang tangan gadis itu yang ada di atas meja. Gadis itu tersentak, lamunannya buyar seketika.
"Ada apa? Apa kamu sakit? Atau kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini?" Ucap Liora semakin lirih saat mengucapkan kata terakhirnya.
"Maaf bukan maksudku…" Liora segera minta maaf karena sudah lancang berbicara seperti itu, hanya saja perkataan itu tiba-tiba saja meluncur dari bibirnya saat melihat kesedihan di mata gadis yang menjadi kliennya sekarang.
"Tidak kak, tidak apa-apa, hmm aku bahagia kok, aku hanya sedih karena ayah tidak bisa hadir di hari bahagiaku," ucap gadis itu sendu.
Liora hanya terdiam menatap bingung. Sementara yang di tatap kini kembali tersenyum tipis.
"Ayah sudah tidak ada," ucapnya lirih.
__ADS_1
"Maaf…" Liora jadi tidak enak.
Gadis itu menggeleng, kemudian meminta Liora menunjukkan beberapa contoh gaun pengantin koleksinya, karena tidak mungkin dia meminta Liora mendesain sesuai keinginannya, mengingat pernikahannya yang serba mendadak ini.
Liora pun segera menunjukkan, menggulir ipadnya agar gadis itu melihat gaun koleksinya satu persatu dan memilih mana yang disukainya.
"Bagus, tapi aku mau yang ini kak, simple tapi elegan," gadis itu menunjuk gaun pengantin pilihannya lalu menatap Liora.
"Pilihanmu tepat, ini sangat cocok untukmu, hmm bagaimana kalau ada waktu hari ini kamu bisa ke butik dan langsung mencobanya, sekalian kita ukur, takut kebesaran atau kekecilan," tutur Liora panjang lebar.
Gadis itu menatap Liora ragu, tapi akhirnya mengatakan apa yang mungkin saja dari tadi di pendamnya.
"Hmm apa kakak tidak keberatan jika kita menunggu calon suamiku, dia bilang ada urusan yang harus diselesaikan, hmm mungkin agak lama, tapi kalau kakak sibuk, kita bisa cari waktu lain kali, nanti aku akan coba menghubungi lagi.
"Bentar ya," Liora kemudian melihat jadwalnya, dia kemudian tersenyum dan menatap gadis di depannya.
"Kamu beruntung Alana, karena hari ini saya tidak begitu sibuk."
Liora melihat Alana tersenyum.
"Baiklah bagaimana kalau kita sambil menunggu sekalian makan, aku tadi belum sempat makan," ucap Liora yang kini tidak bicara formal lagi.
"Tentu saja, kita juga bisa berteman kak," ujarnya senang.
"Kamu mau temenan sama kakak yang usianya mungkin terpaut jauh darimu?"
"Apa kakak keberatan?" Alana justru bertanya balik.
"Tidak."
"Ya sudah."
"Sudah? maksudnya?" Ucap Liora tidak mengerti.
"Mulai sekarang kita berteman," kata Alana.
"Baiklah, kita teman," Liora mengulurkan tangan, dan Alana dengan senang hati membalasnya, keduanya kemudian tertawa.
__ADS_1
Kemudian Liora memanggil pelayan, memesan makanan untuknya dan juga Liora.
"Oh ya, nama kakak Kak Liora ya? Wah sepertinya kita memang ditakdirkan berteman, bahkan nama kita sama loh kak, aku juga namanya Liora, teman-temanku selalu memanggil seperti itu, hanya dua orang hmm tidak, tapi sama kakak sekarang ada tiga orang yang memanggilku Alana."
"Hmm aku bisa menebak dua orang lainnya, dia pasti ayah dan calon suamimu kan?"
Alana mengangguk membenarkan mereka pun melanjutkan obrolannya, dan berhenti ketika pelayan menyajikan makanan untuk mereka.
"Terima kasih," ucap Alana dan Liora bergantian, yang hanya dibalas anggukan sopan pelayan yang tadi melayani.
Kini mereka kedua mulai menyantap makanannya, tidak ada yang bicara sama sekali saat mereka makan.
Liora dan Alana sama-sama mengelap bibirnya dengan tisu saat mereka sudah selesai.
Mereka kemudian kembali melanjutkan mengobrol. Liora merasa senang bisa menemukan seorang teman yang memiliki hobi dan kebiasaan yang hampir sama.
Obrolan mereka terhenti saat mendengar suara dering ponsel yang ternyata adalah milik Alana. Alana melihat nama yang tertera di layar ponsel kemudian meminta izin pada Liora untuk menjawabnya sebentar.
"Kak, maaf aku angkat telepon dulu, calon suamiku nelpon."
Liora mengangguk membiarkan gadis itu menjawab telepon yang ternyata dari calon suaminya.
"Calon suamiku bilang bentar lagi sampai, maaf ya kak, kakak jadi buang-buang waktu gara-gara kami, padahal jelas kakak ini orang sibuk," ucapnya.
"Hmm santai saja." Liora terdiam, dia juga teringat suaminya yang sampai saat ini sulit dihubungi, mencoba berfikir positif, walau kadang pikiran buruk sempat terlintas di kepalanya, setelah pertemuannya ini Liora berniat untuk mencoba menghubungi suaminya kembali.
"Kak!"
"Kak!"
"Hah iya?" Liora tersadar dari pemikirannya sendiri saat Alana mengguncang tangannya.
"Kakak baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja kok." Jawab Liora tersenyum.
"Maaf saya terlambat," ucap seseorang tiba-tiba dari belakang Liora.
__ADS_1
Alana tersenyum, melihat senyum Alana, Liora menoleh karena yakin jika yang datang adalah calon suami gadis itu. Dan Liora begitu terkejut saat melihat siapa orang yang kini di belakangnya.