Please Love Me

Please Love Me
Part 68


__ADS_3

"Mmm Jasmine masuklah, angin malam tidak terlalu bagus untuk kesehatanmu, apalagi kamu sedang hamil besar," Lily mengatakan itu dan melepaskan pelukan sahabatnya, dirinya kini mulai sedikit lega, memang bercerita tak akan mengubah apapun karena pada dasarnya orang lain kadang tidak tahu harus berbuat apa, karena dia tidak mengalami sendiri, memberi saran pun belum tentu itu yang terbaik untuk orang yang bercerita masalahnya, dan jika itu memang baik kadang pencerita belum tentu akan melakukannya dengan berbagai alasan dan pertimbangan, tapi setidaknya dengan bercerita perasaan jadi merasa lega, karena sedikit beban yang kita rasakan sedikit berkurang.


"Tapi.." 


Lily segera memotong ucapan Jasmine.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin sendiri sebentar, sungguh aku baik-baik saja, dan kau tidak perlu khawatir seperti itu. Sekarang masuklah! Bagaimana kalau Alno mencarimu?" Ucap Lily saat sahabatnya itu meragukan sedikit perkataan Lily.


"Baiklah, jika ada apa-apa katakan padaku, dan jangan pernah merasa sungkan, kamu sudah seperti saudaraku sendiri," kata Jasmine menggenggam tangan Lily.


"Lily maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk hal ini, tapi aku akan berusaha akan tetap disampingmu disaat kamu membutuhkan ku," ucap Jasmine merasa bersalah karena dirinya hanya bisa diam, dan tidak berani melakukan apapun.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja," Lily meyakinkan Jasmine bahwa dirinya benar baik-baik saja.


"Ya sudah aku masuk dulu," Jasmine melepaskan genggaman tangan Lily kemudian melangkah masuk ke dalam rumah, lewat pintu samping  karena mereka memang berada di taman samping rumah William Anderson.


Lily kembali melamun, dengan pandangan lurus ke depan bahkan terlihat tatapannya kosong, tanpa terasa air matanya kembali turun begitu saja, tapi Lily dengan cepat menghapusnya, dia tidak mau terlihat lemah, dia akan menunjukkan ke semua orang, bahwa dirinya lebih dari kata baik-baik saja.


Lily kembali menoleh saat merasakan ada jas yang tersampir di kedua bahunya, Lily hanya melirik sekilas kemudian kembali memandang ke arah depan.

__ADS_1


"Maaf," kata Al memecah kesunyian yang terjadi karena keduanya tadi memilih sama-sama diam.


"Maaf untuk apa? Kenapa Kak? Kenapa kau melakukan ini padaku? Ku kira kau adalah salah satu orang yang bisa kupercaya selain Jasmine. Tapi apa yang tadi kau katakan Kak?" Lily kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kembali dia keluarkan air matanya yang tadi bahkan sudah mengering.


Al membawa Lily ke dalam pelukannya. "Maafkan aku Lily, aku hanya tidak ingin kamu terlihat lemah di depan pria itu, aku tahu hatimu sakit saat mendengar kabar pria dan gadis itu, makanya aku mengatakan itu, aku ingin kamu terlihat baik-baik saja, hanya itu maksudku Lily," Al merasa bersalah karena niat baiknya agar Lily terlihat baik-baik saja saat mendengar tentang pria yang baru diketahui olehnya dicintai oleh gadis yang di pelukannya justru akan bersanding dengan gadis lain.


"Tapi kenapa harus melakukan itu KaK? Kau tahu jika sudah seperti itu kita tidak bisa mengelak, apalagi jika didengar oleh orang lain seperti tadi? Bagaimana jika hal itu akan dipertanyakan? Bagaimana Kak? Apa yang akan kau jawab? Kau akan bilang jika pernikahan dibatalkan? Begitu maksud Kakak?" Tanya Lily menggebu-gebu, dia tidak habis pikir pria pintar seperti Al, tidak berpikir sejauh itu, dimana konsekuensi dari pernyataannya tadi akan terus menghantui hidupnya kedepannya.


Bagaimana Lily siap menjawab pertanyaan orang-orang? "Aku dengar kamu akan menikah dengan dia? Kapan? Kenapa tidak mengundangku?" Pertanyaan-pertanyaan


seperti  itu mungkin saja akan menjadi teman kesehariannya.


"Apa yang harus aku jawab jika Ayah bertanya Kak?" Lirih Lily nyaris tidak terdengar.


"Masalah Ayah, aku yang akan bicara dengannya dan kamu tidak perlu khawatirkan hal itu, jadi jangan menangis lagi, aku tidak ingin melihat kamu menangis apalagi itu disebabkan karena diriku," Al meyakinkan Lily bahwa semuanya baik-baik saja.


"Aku yakin Ayah akan mengerti, tapi bagaimana dengan orang yang lain, bagaimana jika suatu saat keluarga Tuan William bertanya tentang pernikahan yang Kak Al sebutkan tadi, jika bertanya pada kita, kita bisa saja mengelak dan mencari alasan, tapi bagaimana bisa kita akan terus beralasan, bukankah hal itu juga akan ketahuan suatu saat nanti, terus apa yang akan Kak Al katakan, jika mereka bertanya pada Ayah? Dan lalu mereka akan tahu jika Kak Al berbohong, apa tanggapan keluarga Tuan William terhadap Ayah, bukannya ujungnya kita akan membuat Ayah kecewa, apalagi jika Ayah sampai menghadapi masalah yang kita perbuat?" Lily mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada di pikirannya.


Al terdiam, tubuhnya seakan membeku, dia pria cerdas dan tentu langsung paham dengan apa yang Lily tadi ucapkan. Hanya jika menyangkut Lily dan Jason saja, Al melakukan hal di luar dugaan, tanpa berpikir panjang, memikirkan sesuatu yang akan terjadi sebenarnya.

__ADS_1


Al merutuki dirinya sendiri, kenapa dia tidak berpikir sejauh itu, sebelum bertindak? Begitulah yang saat ini Al rasakan.


Sementara seseorang yang menatap dari jauh sepasang manusia itu yang sebenarnya tidak dia tahu apa yang mereka bicarakan, karena memang jaraknya yang agak jauh, tapi kedua tangannya mengepal saat pria itu memeluk Lily bahkan menyentuh wajah gadis yang dicintainya itu. Bahkan kini terlihat jelas bahwa Jason kini tengah mengeraskan rahangnya, pertanda dia benar-benar marah saat melihat pemandangan di depannya itu.


Tak lama setelah itu Jason pun pergi meninggalkan tempat dimana tadi berdiri dan diam layaknya patung, menuju ke ruang keluarga, dimana Tuan dan Nyonya Besar, putri satu-satunya dan tamunya itu kini berada.


Dan sampai disana, dokter Alan pun berpamitan setelah meminta maaf karena kejadian yang terjadi di tengah undangan makan malam dari seorang William Anderson.


"Baiklah saya permisi dulu," pamit Alan.


"Biar saya antar ke depan," usul William pada Alan. "Oh ya terima kasih sudah memenuhi undangan kami dokter, walaupun saya tahu Anda pasti sibuk, saya tunggu undangan pernikahan putra Anda, dan saya pastikan seluruh anggota keluarga akan hadir, apalagi mereka adalah sahabat baik menantu saya," kata William sambil berjalan beriringan dengan Alan..


Alan hanya tersenyum kaku, saat mendengar perkataan William dan kemudian dirinya pun melangkah menuju mobilnya dimana Alan dan Lily sudah menunggunya.


"Kami pamit dulu Paman, terima kasih undangan makan malamnya" ucap Al membuka kaca jendela mobil dan ikut berpamitan pada William.


Lily sedikit menundukkan kepala dan tersenyum untuk sekedar memberi sapaan pada mertua sahabatnya itu.


Tak lama, mobil Akan yang dibawa oleh supir pribadinya pun melaju meninggalkan pelataran kediaman William.

__ADS_1


"Ayah akan mempersiapkan semua, Ayah ingin kalian menikah, seperti apa yang tadi Di katakan," ucap Alan di tengah suara deru mesin mobil.


Dan hal itu membuat kedua orang yang duduk di belakang terkejut bukan main, mendengar perkataan itu keluar dari Alan. Terutama Lily yang kembali membeku tidak tahu harus berbuat dan mengatakan apa untuk merespon apa yang tadi Alan katakan.


__ADS_2