Please Love Me

Please Love Me
Bab 256


__ADS_3

Ronald tersenyum melihat pesan yang dikirim gadisnya, selesai rapat, buru-buru Ronald mengambil ponsel dan melihat barangkali ada pesan dari kekasihnya, dan benar saja, saat dirinya akan rapat, Liora mengirimi dia pesan yang membuat dia jadi senyum-senyum sendiri.


"Ehem!"


Deheman seseorang mengalihkan fokus Ronald, Ronald meletakkan ponselnya dan melihat seseorang yang datang.


"Ayah," sapa Ronald kemudian menghampiri pria paruh baya, yang membesarkan dirinya seorang diri.


"Apa ini karena Eliora?" Tanya pria itu.


Ronald mengangguk, masih dengan senyum di bibirnya. Mike yang melihat itu ikut tersenyum, dia bahagia sekaligus merasa lega karena putranya kini benar-benar berubah. Lebih tepatnya dia tahu sebenarnya bagaimana putranya, awalnya dia menyesal karena tidak percaya pada putranya, tapi ternyata putranya benar-benar membuktikan bahwa putranya itu tidak seperti yang dipikirkannya selama ini.


"Ayah senang, Eliora bisa mengubahmu menjadi lebih terbuka seperti ini, jika tidak bersama Eliora mungkin kita masih salah paham, dan ayah masih mengira kamu meniduri semua wanita-wanita itu."


"Ya, Ronald juga masih tidak menyangka, bisa bertemu dengan El, gadis yang selama ini Ronald cari ternyata memang ada," Ronald kini duduk di samping Mike.


"Oh ya Ayah ada apa kemari?" Tanya Ronald yang baru menyadari pasti ada maksud kenapa ayahnya mengunjunginya ke kantor.


"Ah iya, Ayah mau kembali besok, ada pertemuan penting yang harus Ayah hadiri di perusahaan. Mungkin Ayah akan kembali kesini satu minggu sebelum pernikahan kalian, tapi jika ada sesuatu kamu harus segera hubungi Ayah," ucap Mike menepuk bahu Ronald.


"Kenapa?" Tanya Mike karena Ronald terkejut karena tepukannya.


"Tidak apa-apa, hanya saja, aku ingin Ibu juga hadir di pernikahanku," ucap Ronald tiba-tiba.


Mike menghembuskan nafasnya berat, "Apa kamu masih terus mencarinya?"


"Iya Yah, tapi sama sekali belum mendapat kabar."


"Ayah pergi dulu," kata Mike yang kini bangkit dan meninggalkan Ronald sendiri.


Ronald menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dering ponselnya tiba-tiba berdering, Ronald mengambil ponsel dan segera menjawabnya.


"Tebak sekarang aku dimana?" Wajah cantik Liora muncul memenuhi layar.


"Hmm mungkin di butik." 


Liora mengerucutkan bibirnya, "Salah, coba lihat baik-baik," katanya menjauhkan ponsel dan berputar membiarkan Ronald menatap sekeliling.


"Baby kamu di…"


"Hmm jadi cepat turun!" 


"Kamu tunggu disana," pinta Ronald segera keluar dari ruangannya, buru-buru menuju lift dan masuk ke dalamnya.


Tak lama pria itu kini sudah ada di lobi, dia mengedarkan pandangan, dan kini pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk. Ronald tersenyum dan berjalan cepat untuk menghampiri Liora.


"Sudah lama?" Tanya Ronald yang kini duduk di samping Liora.

__ADS_1


"Hmmm," Liora melihat jam yang melingkar di pergelangannya. "Sudah sekitar sepuluh menit yang lalu," tambahnya kemudian.


"Oh ya, lihat ini!" Kata Liora mengambil paperbag yang tadi dia letakkan di sampingnya, dan mengangkatnya hingga sampai di depan wajah Ronald.


"Bukan kamu yang masak kan?" Tanya Ronald menatap Liora ragu.


"Tentu saja aku yang masak, kan ini spesial untuk kamu," katanya membanggakan diri.


"Hmm itu…"


Liora tiba-tiba tertawa, "Takut banget kayaknya saat aku bilang ini masakanku."


"Bu...bukan seperti itu, aku hanya…


"Kamu tidak perlu khawatir, bukan aku yang memasak, tapi Kak Olive yang tadi sekalian membuat bekal untuk Kak Vano," Liora kemudian mendekat dan berbisik pada Ronald.


"Aku hanya membantunya mencuci dan memotong sayuran."


Ronald tersenyum mendengar kejujuran calon istrinya itu.


"Hmm tidak apa-apa, kamu tenang saja karena aku bisa memasak."


"Baiklah, ya sudah ayo, kita ke ruanganmu," Liora bangun dan meraih tangan Ronald, menariknya untuk segera pergi dari sana.


*


*


"Sudah bangun?" Tanya Jason yang baru membuka pintu kamar mereka.


"Kamu dari mana?" Lily bangun mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya.


"Keluar sebentar tadi, kamu tunggu disini dulu, aku siapkan air hangat untukmu mandi," kata Jason yang langsung melipir masuk ke kamar mandi.


Tak lama pria itu sudah kembali keluar. Dia segera mengangkat tubuh istrinya membawa ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Mau aku mandiin sekalian?" Jason mengerlingkan matanya menggoda sang istri.


"Tidak, kamu sana keluar dulu," wajah Lily kini sudah merona, apalagi saat mengingat percintaan mereka semalam yang baru berhenti hampir pagi, Lily merasa dirinya juga baru tidur beberapa jam saja.


Jason hanya tersenyum, dia kemudian  mengacak rambut istrinya.


"Baiklah, nikmati waktumu," ucapnya kemudian berlalu keluar, dia juga tidak lupa menutup pintu kamar mandi.


"Ayo makan!" 


Lily yang baru selesai mandi, berjalan mendekat ke arah suaminya yang kini duduk di sofa, banyak makanan kini tersedia di meja. Lily bahkan tidak tahu kapan suaminya memesan semua itu.

__ADS_1


"Kamu memang paling mengerti aku," kata Lily mencubit kedua pipi suaminya.


"Aku memang sudah sangat lapar," tambahnya langsung menyantap makanan yang ada di depannya.


Uhuk, uhuk


"Pelan-pelan sayang, tidak akan ada yang merebutnya darimu."


Jason segera memberikan segelas air pada Lily dan Lily segera menerima dan meneguknya.


"Makasih," ucap Lily setelahnya.


"Sayang, ada yang ingin aku sampaikan," kata Lily dan Jason bersamaan.


"Kamu dulu," keduanya kembali berkata bersamaan.


"Kamu dulu saja," kata Jason menatap istrinya.


Lily menarik nafas, menatap Jason ragu.


"Sebenarnya…tunggu, tapi  kamu janji dulu tidak akan marah," ucap Lily ragu.


Jason menyelipkan rambut Lily ke belakang telinganya.


"Tidak akan, sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan, aku janji."


"Bagaimana kalau besok pulang, aku tidak tega meninggalkan Cinta terlalu lama, bahkan sekarang saja aku sangat merindukannya, maaf mungkin permintaanku ini membuat kamu kecewa, aku hanya…"


Sstt!


Jason meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Liora, memberi kode agar wanitanya itu tidak kembali berbicara.


"Aku setuju, dan yang itu juga yang ingin aku sampaikan padamu,"


"Benarkah?"


"Hmmm," jawab Jason menganggukkan kepalanya.


"Kita benar-benar sehati," jawab Lily senang.


"Ya kau benar, kita memang sehati," jawab Jason sependapat dengan istrinya.


"Kita sudah sepakat" jawab Lily.


"Ya sudah, kita teruskan makannya, setelah itu kita jalan-jalan lagi sebelum kembali sekalian beli oleh-oleh," sahut Jason dan Lily setuju.


Keduanya kini pun menghabiskan makanan mereka, setelah selesai, Jason dan Lily kembali mengganti pakaiannya, lalu keluar untuk jalan-jalan di hari terakhir mereka disana. Liburan yang seharusnya masih beberapa hari ke depan, hanya mereka lakukan dua hari saja, karena mereka tidak tega meninggalkan anaknya terlalu lama.

__ADS_1


__ADS_2