
Jason terus bertanya, tapi putrinya masih saja menangis, Jason memakaikan seatbelt memutuskan untuk mulai melajukan mobilnya, mungkin dengan ibunya, Cinta akan menceritakan apa yang membuatnya menangis seperti ini. Karena biasanya dari Lily lah, Jason tahu apa yang terjadi di keseharian putrinya, sebelum tidur dia dan istrinya selalu menyempatkan waktu menceritakan keseharian masing-masing.
Sesekali Jason melirik ke arah Cinta, gadis kecil itu rupanya tertidur, pantas saja, Jason tidak mendengar suara tangis lagi. Tangan kirinya yang bebas, merapikan rambut putrinya, menyelipkannya ke belakang telinga.
Jason segera turun begitu mobilnya telah terparkir sempurna di halaman rumah mertuanya. Dirinya tersenyum saat pintu terbuka dan sang istri lah yang kini datang menyambutnya.
"Kamu masuk dulu, biar aku bawa Cinta masuk."
"Cinta tidur?"
"Hmm iya, tadi dia nangis."
Lily mendekat saat suaminya membuka pintu mobil samping tempat duduk putrinya. Penasaran begitu mendengar dari suaminya bahwa Cinta menangis.
Begitu Jason menggendong Cinta, Lily membantu menutupkan pintu mobil, lalu keduanya melangkah bersama ke dalam, menidurkan Cinta di kamarnya yang di lantai bawah. Seperti sebelumnya saat kandungan Lily membesar, sepasang suami istri itu kembali pindah ke bawah.
"Apa terjadi sesuatu di sekolahnya?"
"Aku tidak tahu sayang, begitu aku datang Cinta seperti tengah kesal, dia segera menarikku masuk ke mobil dan begitu di mobil, dia malah menangis, aku tanya dia hanya diam saja, ya sudah aku jalankan mobil saja, berharap cepat sampai rumah dan kamu yang menanyakannya langsung, mungkin jika kamu yang tanya dia akan cerita, tapi di jalan dia ketiduran, mungkin lelah menangis," jelas Jason setelah menyelimuti tubuh putrinya.
"Hmm kira-kira kenapa ya, Cinta tidak biasanya begitu. Ya sudah, aku coba telepon satpam saja ya, mau tanya barangkali memang terjadi di sekolahan," Lily hendak mengambil ponselnya tapi Jason menahan.
"Kenapa?"
"Kita coba tanyakan sama Cinta saja dulu saat dia bangun, kalau dia tidak mau cerita baru kita tanya ke satpam."
Lily menimbang saran suaminya, kemudian mengangguk setuju.
"Ya sudah ayo keluar, oh ya Uli mana?"
"Di dapur, lagi ngerusuhin ibu buat kue."
Jason mengangguk, mengajak sang istri duduk di sofa ruang keluarga, menyalakan televisi dan menonton bersama.
*
*
__ADS_1
"Jadi Cinta kenapa? Tadi ayah bilang sama ibu, kalau Cinta menangis saat pulang, ada yang terjadi di sekolah?" Lily mencoba menanyai putrinya.
Ibu dan anak itu kini sedang berada di dalam kamar Cinta, sedang menemani putrinya itu belajar, sekalian mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan Aulia, Jason sengaja mengajaknya pergi, agar kakaknya bisa leluasa berbicara dengan ibunya.
"Cinta kesal sama kak Ian bu, kak Ian bilang bakal ke sekolah Cinta seperti biasanya, tapi Cinta tunggu sampai ayah datang, kak Ian tidak muncul-muncul."
Lily menghela nafas, rupanya karena anak laki-laki yang belakangan ini dekat dengan putrinya, Lily tidak menyangka jika mereka begitu dekat, hingga ketidakhadiran Ian membuat Cinta begitu sedih.
Lily meraih tangan Cinta dan menggenggamnya.
"Sayang dengarkan ibu, kak Ian punya kegiatannya sendiri, tidak biasa terus menemani Cinta dan juga kamu kan tahu, kak Ian punya adik mungkin kak Ian menemani adiknya, jadi Cinta harus maklum jika kak Ian bisa kapan saja tidak bisa menepati janjinya, karena itu bisa saja di luar kendali kak Ian, sampai disini Cinta mengerti maksud ibu?"
Cinta menutup wajahnya dan justru kembali menangis.
"Tapi tetap saja bu, Cinta ingin kak Ian datang menemani Cinta seperti biasanya."
Seperti biasa, Lily bisa mengerti jika mungkin kebersamaan Cinta dan Ian sudah menjadi kebiasaan dan saat kebiasaan itu tidak terjadi seperti biasanya, Cinta seperti merasa kehilangan sosok Ian, jika begini, Lily juga tidak tahu harus bagaimana.
Lily membawa Cinta ke dalam pelukannya, dia ikut sedih melihat kesedihan putrinya itu. Dia harus segera membicarakan hal ini pada Jason. Meminta pendapat suaminya, apa yang harus mereka lakukan, membuat Ian dan Cinta menjauh rasanya tidak mungkin, Lily tahu bagaimana rasanya tidak punya siapa-siapa, jika dia menjauhkan Ian pada putrinya rasanya Lily begitu tega, tapi masalahnya tidak mungkin jika Ian akan terus bersama dengan putrinya.
Cinta langsung melepaskan pelukannya.
"Mau bu."
"Hmmm ya sudah, ayo kita ke dapur, sebentar lagi juga waktunya makan malam."
"Oh ya bu, dek Uli kemana? Kok sejak Cinta bangun dan selesai mandi, Cinta tidak melihat dek Uli."
"Pergi sama ayah."
"Kemana?"
"Hmm ibu tidak tahu, bilangnya mau keluar sebentar, bentar lagi juga pasti pulang."
Cinta mengangguk kemudian bangun dari duduknya, menggandeng tangan Lily dan menuruni tangga pelan-pelan.
Begitu tinggal beberapa langkah lagi menuju ke lantai bawah, bertepatan pula dengan Jason yang baru saja masuk dengan tangan kiri menggandeng Uli, sedangkan di tangan kanan, Jason tengah menenteng plastik putih, hasil dari mereka pergi keluar tadi.
__ADS_1
"Baru turun juga sayang?" Jason segera menghampiri Lily membantunya agar sampai di lantai bawah.
"Hmm iya, habis temenin Cinta belajar dulu tadi. Kamu bawa apa?"
"Oh ini tadi beli di depan jalan raya sebelum masuk komplek."
"Apa itu ayah?" Cinta tampaknya penasaran dengan bawaan ayahnya.
Gadis kecil itu mengambil alih plastik yang di pegang ayahnya lalu dengan segera melongok apa yang ada di dalamnya.
"Martabak."
"Hmm iya dengan rasa kecoklatan kak Cinta, ada coklatnya."
Wajah Cinta kembali murung, menyerahkan kembali plastik berisi martabak kepada ayahnya kembali. Kemudian melangkah pergi menuju ruang makan. Dan Uli yang melihat kakaknya pergi, segera menyusul, mengira jika kakaknya marah karena saat pergi tidak mengajaknya.
"Kenapa putri kita?" Tanya Jason kepada sang istri.
"Nanti saja, ayo kita makan malam dulu, ayah dan ibu pasti sudah menunggu."
Jason hanya menurut, walaupun sebenarnya dirinya penasaran apa benar yang dipikirkannya, apa yang membuat putrinya sedih.
"Ibu kan padahal tadi siang buat kue."
"Hmm iya, tadi aku pikir Cinta bakal senang dan gak sedih lagi, jika aku beli martabak dengan rasa kesukaannya. Jadi ya sudah aku beli saja, kalau kue buatan ibu kan bisa dimakan besok-besok juga."
"Iya sih."
"Oh ya sayang, tapi kok Cinta gak kelihatan senang?"
"Entahlah."
"Apa mungkin karena kau tidak mengajaknya?"
"Kurasa tidak mungkin deh, tadi saat Cinta bertanya adiknya kemana, aku sudah katakan jika kalian pergi keluar, dan Cinta biasa-biasa saja. Tidak tahu kenapa dia tiba-tiba sedih lagi."
Obrolan mereka terhenti saat keduanya kini sampai di ruang makan. Benar saja, Alan dan Dea sudah ada disana juga kedua putrinya yang juga sudah ikut bergabung. Jason menarik kursi untuk istrinya duduk, disusul dirinya, kemudian semua memulai menyantap makan malam mereka dengan Lily yang memulai mencairkan suasana agar putri pertamanya itu tidak murung lagi.
__ADS_1