
"Benarkah?" Itulah respon yang bisa Alan katakan.
Alan melirik sekilas Lily, ada rasa sakit juga yang tiba-tiba dia rasakan saat melihat gadis itu yang sepertinya sedang mati-matian menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Al hanya diam saja, William dan Tiffa tersenyum, Liora kini menoleh dan menatap Jason, melihat ekspresi pria itu, yang dikatakan sangat datar, hingga Liora tidak tahu apa tanggapan pria itu dari ucapan yang tadi Papinya ucapkan. Sementara Jasmine dan Stevano saling pandang dan kemudian memandang ke arah Lily, Liora dan Jason bergantian. Hanya mereka berdua lah yang tahu begitu rumitnya hubungan ketiganya, karena mereka bertiga, seakan diam ditempat, tidak ada yang menyerah dan tidak ada pula yang berjuang, hanya mengatakan orang yang dicintai bahagia, padahal sebenarnya orang yang dicintainya tidak bahagia. Mereka bilang akan mundur dan mengalah, tapi sama-sama menutupi lukanya.
Al menghela nafas dan kemudian menggenggam tangan Lily dan membawanya ke atas meja, membiarkan semua orang melihatnya.
"Selamat Tuan Jason, atas kabar bahagianya, oh ya saya juga akan menyampaikan kabar bahagia ini, kita juga akan menikah bulan depan," kata Al tersenyum dan menoleh ke arah Lily yang kini juga menatapnya. Terkejut tentu saja, apalagi Al mengatakan itu di depan semua orang.
"Kak!" Kata Lily pelan.
"Kenapa sayang, tidak perlu malu, nanti juga semua orang akan tahu," ucap Al lagi membuat Lily tidak bisa berkata apa-apa.
Jason mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, rasanya dia ingin memukul Al saat itu juga.
Dan Liora menyadari jika Jason marah mendengar apa yang pria bernama Al itu katakan, terlihat jelas saat dia melihat Jason mengeraskan rahang dengan tangannya yang mengepal di bawah meja. Tapi Liora bisa apa, jika Jason tidak menolak, Liora akan egois kali ini dia hanya akan diam, biar orang tuanya yang memutuskan, jika Jason menerima permintaan orang tuanya, Liora tidak masalah menikah walau hanya dia yang memiliki rasa cinta, karena dia yakin suatu saat Jason akan kembali mencintainya. Karena Liora tahu jika Jason pernah memiliki rasa padanya, karena Liora mendengar sendiri Jason mengatakan itu belum lama ini kepada Kakaknya, walaupun hal itu terjadi sudah lama, dan rasa cinta yang pria itu miliki dulu, pasti akan kembali suatu saat nanti, saat dimana hanya ada mereka berdua, tidak ada gadis lain yang hadir di tengah keduanya.
"Wah selamat dokter Alan!" Kata William tersenyum lebar, tidak tahu jika ekspresi semua orang disitu sudah terasa dingin, bahkan Tiffa juga sudah menyadari itu.
__ADS_1
Awalnya Tiffa tidak setuju, saat suaminya akan membicarakan hal itu saat ini, dia menyarankan pada suaminya untuk menanyakan secara langsung kepada putrinya, tapi William mengatakan sudah terlihat jelas ada cinta di mata putrinya kepada Jason, dan dia ingin membuat putrinya itu bahagia, dengan menyatukan putrinya dengan orang yang dicintainya, hingga Tiffa pun pasrah pada keputusan yang telah suaminya ambil itu.
Alan tersenyum kikuk, dia memang selama ini tidak ada waktu untuk anaknya, tapi dia tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi dia juga tidak bisa berkomentar lebih jauh, dia sudah menganggap Lily sebagai putrinya, tapi bagaimanapun dia tetaplah orang asing, hingga dia tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan gadis itu, apalagi dalam hal asmara.
"Selamat Lily, jangan lupa undang kami," kata Liora dengan senyum lebarnya dan Lily tidak suka itu, tidak suka dengan ucapan ataupun senyuman yang ditunjukkan oleh Liora, yang seakan mengejeknya bahwa dialah pemenangnya.
Jason menatap Liora tajam, dia juga tidak suka dengan apa yang dikatakan gadis itu.
Stevano yang melihat suasana di ruang makan yang dingin dan mencekam kini akhirnya menginterupsi.
"Apa kita di ruang makan hanya akan mengobrol? Lihatlah makanan kini sudah dingin, karena kalian semua mengabaikannya dan malah asyik dengan pembicaraan kalian. Jika mau mengobrol, ngobrol lah sesuka hati tapi tidak di saat di ruang makan, karena akan dipastikan, kalian tidak akan jadi makan, karena sibuk dengan pembicaraan kalian itu," Stevano bangun membawa piring miliknya dengan sang istri.
"Kami permisi dulu," kata Jasmine yang berpamitan dan Tiffa pun mengangguk dia tahu putranya itu tidak nyaman dengan obrolan ini.
Jasmine kemudian mengikuti suaminya dan menggandeng tangan Alno, yang sedari tadi hanya fokus pada makanan dan ponsel yang ada di tangannya.
Lily kemudian meletakkan sendok dan garpunya dan kemudian bangun dari duduknya. "Saya juga permisi dulu Tuan Nyonya, Ayah," Lily berpamitan kepada ketiga orang tua yang ada di sana.
Alan mengangguk, dia yakin Lily terkejut dengan apa yang Al katakan, karena dirinya pun begitu, hingga dia membiarkan Lily untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
Lily melirik Al sekilas dan kemudian dia berlalu dari tempat itu yang terasa mencekam baginya.
Jason hendak bangun dan mengejar Lily tapi Liora dengan cepat menahan tangannya, hingga Jason tidak bisa berbuat apa-apa, sebenarnya bisa saja dia menepis tangan Liora tapi dia tidak melakukan itu, dia tidak ingin membuat Liora malu.
"Maafkan kami dokter Alan, kami tidak menyangka jika keadaannya akan kacau seperti ini," ucap Tiffa merasa tidak enak.
"Ah tidak apa-apa, biasa anak-anak," ucap Alan memaklumi.
William diam saja, tampaknya dia sedang berfikir dan Tiffa bisa melihat itu, kemudian keenam orang itu pun melanjutkan makannya dengan diam, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar di ruangan itu, memecah keheningan.
Lily duduk di kursi taman sendirian, dia menoleh saat ada seseorang yang menepuk bahunya pelan.
Tiba-tiba Lily memeluk dan menangis dipelukannya menumpahkan segala rasa sakit yang dirasakannya saat ini.
"Menangislah, wajar manusia menangis apalagi jika dia benar-benar merasa lelah dengan kehidupannya. Menangis bukan berarti lemah, karena menangis sedikit bisa meringankan apa yang membuat hati kita terluka," Jasmine menepuk punggung Lily yang saat ini semakin terisak.
"Aku harus bagaimana Mine? Kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa Mine? Kenapa aku harus terus terluka?" Isak Lily yang bahkan kini suaranya terdengar sangat lirih.
"Jika Kak Al berbicara seperti itu, apa yang harus aku lakukan selanjutnya Mine? Aku tidak mau Kak Al merasakan sakit yang aku rasakan, dia orang yang baik, dan aku tidak bisa membiarkan Kak Al menikahi gadis yang bahkan cintanya tak pernah untuknya, Aku harus bagaimana?"
__ADS_1
Jasmine hanya diam saja, dia biarkan sahabatnya itu menumpahkan segala apa yang ada di hatinya, dia juga bingung harus mengatakan apa, Jasmine sendiri merasa serba salah, dilain sisi Lily sahabatnya di sisi lain Liora adalah Adik Iparnya, dia tidak ingin membuat keduanya terluka.