Please Love Me

Please Love Me
Part 130


__ADS_3

"Selamat siang, benar Anda Dokter Riu?" Tanya Jason yang tidak ingin berbasa-basi lagi.


Jason mengulurkan tangannya pada pria yang usianya hampir 65 tahunan itu.


"Iya benar," jawab pria yang dipanggil Jason dokter Riu.


Dokter Riu tampak berdiri dan membalas uluran tangan Jason.


"Silahkan duduk!" Dokter Riu mempersilahkan Jason untuk duduk.


Jason pun duduk tepat di hadapan dokter Riu.


"Dari mana Anda mengenalku? Apa Anda dulu pasienku?" Dokter Riu menatap Jason dari atas sampai bawah. "Tapi sepertinya tidak mungkin," tambahnya kemudian.


"Anda benar sekali dokter, perkenalkan nama saya Jason dan kedatanganku kemari karena ada yang ingin bicarakan pada dokter dan ini hal penting."


"Iya silahkan! Apa yang ingin Anda bicarakan?" Tanya dokter Riu yang kini sudah serius menatap Jason.


"Nyonya Felicya Horison, Anda mengenalnya bukan?" 


"Saya permisi dulu," ucap dokter Riu yang kini bangun dan hendak pergi meninggalkan Jason, tapi Jason segera menahannya.


"Tunggu! Saya tahu Anda pasti tahu sesuatu kan?" Ucap Jason sambil memegangi lengan pria itu.


"Saya tidak tahu apapun, dan juga siapa Anda sampai menanyakan tentang pasien saya," dokter Riu menutup mulutnya yang kelepasan bicara.


"Benar dugaanku, Anda tahu sesuatu," ucap Jason dengan senyum menyeringai.


"Walaupun saya tahu, saya tidak akan memberitahu apapun kepada Anda, kenapa? Karena Anda tidak berhak untuk tahu mengenai apapun tentangnya," kata dokter Riu yang tanpa sengaja sudah terlanjur mengungkap bahwa dia mengenal Felicya.


"Jadi jika anaknya Nyonya Felicya sendiri yang bertanya pada Anda, apakah Anda akan memberitahunya, atau Anda ingin dokter Alan Horison yang ingin bertanya sendiri secara langsung kepada Anda?" Jason menatap dokter Riu dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


"Kamu mengenal Alan?" Bukannya menjawab dokter Riu justru bertanya apa Jason mengenal Alan.


"Ya, sangat mengenalnya. Jadi lebih baik Anda beritahukan semuanya, atau mungkin Ayah akan membenci Anda karena telah menyembunyikan hal sepenting itu dari beliau," ucap Jason yang kembali duduk bersandar dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kamu Alvaro?" Tanya dokter Riu yang sudah tidak berbicara formal lagi.


"Sekarang lebih baik Anda beritahukan semuanya," ucap Jason yang sudah tidak ingin berbasa-basi lagi.


Dokter Riu menarik nafas dalam-dalam, "Baiklah jika kamu memang Alvaro putra Felicya aku akan memberitahukan semuanya, karena bagaimanapun kamu memang berhak untuk tahu," ucap dokter Riu setelah berpikir cukup lama.


Dokter Riu pun menceritakan apa yang memang dia tahu kepada Jason yang dia kira Al, putra dari pasien yang dulu sempat ditanganinya, pasien yang tak lain adalah Felicya teman kecil adiknya, juga istri dari anak pemilik rumah sakit tempatnya dulu bekerja.


***


Lily menggeliat saat cahaya matahari yang masuk mengusik tidurnya. Lily meraba samping tempatnya tidur, ternyata suaminya sudah tidak ada di sana.


Lily mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya yang menyinari. Diraihnya ponsel miliknya yang berada di atas meja samping tempat tidurnya, ada secarik kertas di bawah ponsel, Lily pun membacanya.


"Love you too," ucap Lily dengan senyuman yang lebar.


Kalimat sederhana itu nyatanya membuat Lily senang dan bersemangat.


Tak lama bel berbunyi, Lily langsung turun dari tempat tidur, bisa dia tebak jika sekarang orang yang datang adalah orang yang mengantar makanan untuknya.


Lily membuka pintu dan tebakannya ternyata memang benar.


"Selamat pagi Nona, kami datang untuk mengantarkan makanan untuk Anda," ucap petugas hotel itu.


Lily mempersilahkan masuk, membiarkan orang-orang itu melakukan tugasnya.


Setelah selesai dan berbasa-basi pada Lily, orang-orang itu pamit untuk undur diri.

__ADS_1


Lily tersenyum dan memfoto dirinya juga semua makanan itu, dikirimkannya foto itu kepada suaminya, setelah itu Lily bergegas ke kamar mandi, untuk membasuh wajahnya dan menggosok gigi terlebih dahulu.


*


*


Jason yang sudah selesai urusan dengan dokter Riu tersenyum melihat pesan yang dikirim istrinya. 


"Rasanya ingin cepat kembali sekarang juga," gumamnya.


Dengan cepat Jason membalas pesan istrinya, mengatakan jika dia akan pulang nanti siang, dengan alasan pekerjaannya belum selesai, padahal Jason memilih pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.


Jason mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan agar dirinya lebih cepat sampai, rasanya Jason sudah tidak sabar lagi. Bersusah payah meluangkan waktu di tengah kesibukannya, Jason tidak ingin semuanya sia-sia. Karena sehabis ini, mungkin dirinya akan kembali sibuk apalagi kini dia sendiri yang menghandle semuanya sendiri karena Stevano harus menggantikan posisi William, setelah beberapa waktu lalu dia hanya menjadi wakilnya.


Tak lama mobil Jason sudah ada di tempat tujuannya, Jason mengelilingi tempat  itu, memastikan bahwa semuanya sudah sesuai dengan keinginannya. Setelah semua beres, Jason pergi meninggalkan tempat itu  dan mengendarai mobilnya menuju hotel, dirinya sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan sang istri tercinta.


Perjalanan yang ditempuh cukup jauh, untung saja dirinya tadi tidak memerlukan waktu yang lama, sehingga dia bisa kembali lebih cepat. Sepanjang perjalan Jason bernyanyi mengikuti lagu yang sedang diputar. Tampaknya kebahagian terlihat sangat jelas tergambar di wajah pria berusia 28 tahun itu. Jason kemudian menghubungi istrinya, dering pertama, kedua, bahkan sampai ketiga kalinya, istrinya tidak juga menjawab panggilan dirinya. Akhirnya Jason mempercepat laju kendaraannya agar segera sampai secepatnya.


Beberapa menit kemudian, mobil yang Jason kendarai kini sudah sampai di depan hotel tempatnya menginap, Jason turun, memberikan kunci mobil pada petugas, sementara dirinya masuk dan berjalan cepat menuju lift, dan begitu masuk ke lift, Jason menekan nomor lantai tujuannya.


Ting


Bunyi terdengar tak lama pintu lift terbuka, Jason melangkah menuju kamarnya yang sudah tidak jauh lagi.


Langkah kaki Jason terhenti, saat melihat sang istri yang sedang tertawa lepas bersama seorang pria yang bisa Jason perkirakan usianya tidak jauh darinya. Darimana istrinya mengenal pria yang usianya sedikit jauh diatasnya, itulah yang Jason pikirkan saat ini.


Rahang Jason mengeras bahkan kedua  tangannya terlihat mengepal. Amarah Jason terasa naik ke ubun-ubun, saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, pria itu mendekat dan merangkul bahu istrinya. Jason yang tidak terima segera datang menghampiri keduanya, pantas saja saat tadi dia menelpon Lily, istrinya itu tidak menjawab panggilannya ternyata dia sedang asyik berbincang dengan seorang pria yang tidak dikenalnya.


"Apa yang sedang kau lakukan? Cepat lepaskan tanganmu dari istriku!" Teriak Jason, suaranya terdengar mengerikan membuat merinding orang yang mendengarnya.


 

__ADS_1


__ADS_2