Please Love Me

Please Love Me
Part 53


__ADS_3

"Sudah siap Kak?" Tanya Liora yang mengalihkan pandangan dari ponselnya dan kini menatap Bunga. 


Hari ini sesuai kesepakatan tadi malam, Liora akan mengantarkan Kakak Iparnya itu untuk memeriksakan kandungannya.


"Sudah, ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Bunga.


Mereka pun kemudian bersama-sama keluar rumah. Dan tepat di depan pintu utama Jason sudah bersandar pada mobil, menunggu mereka.


"Jason kenapa kau ada disini?" Tanya Bunga pada asisten suaminya itu.


"Aku di suruh Nyonya Muda untuk mengantarkan kalian. Kalian akan ke dokter kandungan kan?" Tanya Jason menjelaskan tentang Jasmine yang menyuruhnya mengantarkan ke rumah sakit, karena dia dan suaminya akan pergi ke rumah orang tua Jasmine, sekaligus ke butik Ibunya untuk mengambil pakaian yang akan dipakainya nanti malam.


"Iya," jawab Bunga.


"Kak, Ayo!" Suara Liora membuyarkan akan apa yang tadi Bunga pikirkan. Dia kemudian merangkul bahu Kakak iparnya, dan kemudian masuk ke dalam mobil bagian belakang.


Tak lama mobil mereka pun sampai di pelataran rumah sakit tempat Tiffa, Ibu Mertuanya juga dirawat. 


Liora menggandeng Bunga menuju ke poli kandungan. Kemudian setelah sudah berada disana.


"Tunggu sebentar Kak, aku akan kesana dulu, Kakak duduk saja disini dan jangan kemana-mana," Liora meminta Bunga untuk duduk di ruang tunggu sementara dirinya menemui petugas yang ada disana menanyakan sudah nomor antrian berapa.


Setelah tahu, Liora kemudian kembali menghampiri Bunga dan duduk di sebelahnya.


"Sudah antrian ke berapa?" Tanya Kakak Iparnya itu Liora yang kini duduk di sebelahnya.


"Dua orang lagi kita bisa masuk Kak," kata Liora tersenyum. "Mmm Kak, aku mau ke toilet dulu ya, Kakak tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar?" Tanya Liora merasa tidak enak karena setelah orang yang di dalam keluar giliran Bunga yang akan diperiksa


"Tidak apa-apa pergilah, nanti jika kamu kembali dan Kakak di dalam kamu langsung masuk saja," kata Bunga dengan tersenyum.


Liora mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana, "Kakak ada dimana? Apa masih ada di rumah sakit," tulis Liora dalam pesannya setelah meninggalkan Kakak Iparnya sendirian. 


Bukan menuju toilet tapi dia menuju ke ruang rawat Maminya setelah tidak lama dia mendapat balasan pesan tadi yang dia kirimkan. "Ya, dan sebentar lagi akan berangkat setelah Mami selesai sarapan," begitulah balasan pesan yang masuk dari Kakaknya Max, ya Liora mengirim pesan pada Max menanyakan keberadaannya dan Liora segera ke ruang rawat Maminya begitu Kakaknya membalas pesan jika dia masih di rumah sakit.


"Baiklah, tunggu aku sebentar lagi, aku sedang menuju ke ruang rawat Mami," Liora langsung mengirim pesan kepada Max untuk menunggunya sebentar dan di iyakan oleh Kakaknya, karena Max pikir, Liora yang akan menggantikan dirinya menjaga Maminya tanpa Max tahu jika Liora menelepon Bibi Arum untuk menjaga Maminya nanti.

__ADS_1


Sesampainya di ruang rawat Maminya, Liora langsung saja menerobos masuk, membuat Tiffa dan Max langsung menoleh.


"Sayang kamu mengagetkan saja," kata Tiffa.


"Hehe, maaf Mi, soalnya Liora buru-buru."


"Buru-buru mau kemana kamu?" Tanya Max menatap adiknya dengan tatapan menyelidik.


"Kita tidak punya banyak waktu, ayo Kak Max sekarang ikut denganku!" Liora kemudian menarik tangan Max keluar.


Sebelum benar-benar keluar Liora menoleh pada Maminya dan berkata, "Nanti Bibi Arum akan kemari Mi sebentar lagi, beliau sudah ada di jalan."


Tiffa hanya mengangguk dan hanya melihat kepergian anak-anaknya dengan penuh tanda tanya.


Liora kita mau kemana?" Tanya Max yang ditarik oleh adiknya.


"Kakak diam dan ikut saja," jawab Liora.


"Dengan cara ini aku bisa membuat Kakak menemani istri Kakak," ucap Liora dalam hati.


"Kenapa kamu mengajakku ke tempat ini? Liora kamu sedang tidak ha.."


Liora memotong ucapan yang akan Max katakan, "Kakak jangan bicara sembarangan, Ayo ikut!" Ajak Liora kembali menarik Max menuju di mana tempat pemeriksaan.


"Cepat Kakak masuk sekarang!" Perintah Liora kemudian. "Apa Kakak tidak ingin melihat janin yang ada di perut istri Kakak. Apa Kakak tidak mau tahu perkembangan anak Kakak?" Tanya Liora menggenggam tangan Kakaknya menatapnya penuh keseriusan.


Max melihat Kakaknya tampak diam seperti memikirkan perkataannya, hingga senyumnya langsung terbit begitu melihat Kakaknya membuka pintu ruangan dokter yang sedang memeriksa Kakak Iparnya.


"Semoga setelah ini, Kak Max menyadari kesalahannya," harap Liora dalam hati dan meninggalkan tempat itu setelah memastikan jika Kakaknya sudah benar-benar masuk ke dalam ruangan itu.


Liora kemudian menghubungi pria yang disukainya. "Halo Kak Jason, aku ingin menagih janjimu sekarang!" Katanya begitu panggilan terhubung.


"Maaf Liora, aku tidak bisa, ada urusan lain yang harus aku kerjakan," kata Jason dari seberang telepon.


"Ayolah Kak please! Aku maunya sekarang, selagi Mami hari ini ada yang menjaga," pinta Liora dengan nada memohon.

__ADS_1


Terdengar Jason menghela nafas, "Baiklah, cepat aku masih ada di depan, tapi aku tidak bisa lama-lama," ucapnya kemudian.


"Baiklah, tunggu aku, aku akan segera kesitu," jawab Liora kemudian memutuskan panggilan teleponnya.


Liora tersenyum senang, akhirnya dia bisa pergi dengan pria yang disukainya itu. Dan dengan terburu-buru Liora pun berjalan menuju ke tempat Jason berada.


***


"Pagi Non," sapa pelayan pada seorang gadis yang baru saja turun dari tangga.


"Pagi Bi, Kok sepi Bi? Kak Al mana?" Tanya Lily yang baru saja duduk di sebuah kursi di ruang makan.


"Tuan Al sudah pergi pagi-pagi sekali Non, katanya ada yang harus dikerjakan," kata Bibi menyampaikan apa yang tadi Al katakan.


"Oh, mmm.." Lily menggantung ucapannya, ingin bertanya tapi ragu.


"Ada apa Non, apa ada sesuatu yang dibutuhkan, Nona tidak perlu sungkan katakan saja," ucap Bibi yang mengerti jika Lily seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Ah tidak apa-apa Bi," kata Lily sambil meminum s*s* yang sudah disiapkan oleh pelayan.


"Mmm Bi, apa Ayah Kak ada di rumah?" Pertanyaan yang sedari tadi hanya di dalam pikiran Lily kini akhirnya terucapkan juga.


Bibi tersenyum dan mengangguk, "Tuan ada di rumah, sekitar lima belas menit yang lalu baru saja pulang, mungkin sekarang beliau sedang istirahat," jawab pelayan itu ramah.


Lily menghela nafas lega, kemudian segera menghabiskan s*s* itu, kemudian langsung bangun dari duduknya setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


"Mmm Bi, sepertinya aku harus pergi sekarang, ini hari pertama aku kerja dan aku tidak mau terlambat," kata Lily berpamitan pada Bibi.


"Tapi Non.." tanya Bibi melihat meja makan, makanan yang disiapkan masih utuh, hanya segelas s*s* saja yang dihabiskan Lily, padahal Al berpesan padanya untuk memastikan agar Lily sarapan terlebih dahulu sebelum pergi.


"Maaf ya Bi, aku takut terlambat," kata Lily merasa tidak enak, "Masalahnya aku harus mengejar angkutan umum, kalau tidak aku nanti akan benar-benar terlambat," ucap Lily dalam hati.


"Makan dulu sarapannya! Tidak baik-baik menunda-nunda waktu makan," kata seorang pria yang tiba-tiba datang dari arah belakang Lily.


Deg

__ADS_1


Deg


__ADS_2