
"Jadi kau tidak tahu jika Jason yang selama ini memimpin perusahaan ini?" Tanya Jasmine yang masih belum percaya jika sahabatnya itu belum mengetahui jika Suaminya selama ini menjadi atasannya.
Lily menggeleng, "Aku sama sekali tidak tahu, pantas saja tadi semua orang menatapku seperti ingin menguliti ku, ternyata karena aku jalan dengan bergandengan dengan orang kepercayaan pemilik perusahaan," jawab Lily lesu mengingat tadi dirinya yang menjadi pusat perhatian semua orang, kini Lily tahu sudah jawabannya, alasan kenapa semua orang di sepanjang jalan tadi seperti membencinya.
"Memangnya kamu tidak pernah ketemu Jason disini sewaktu bekerja?" Tanya Jasmine penasaran.
"Nah itu dia, aku tidak pernah bertemu dengannya meski semua orang terus membicarakan sosoknya," jawab Lily kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Tapi kenapa aku tidak begitu percaya ya, masa kamu tidak pernah bertemu sekalipun, walau itu mungkin sepersekian detik?" Tanya Jasmine yang meragukan perkataan sahabatnya.
"Hmm, tunggu aku ingat-ingat," Lily mengetuk-ngetukan jari telunjuknya di dagu seolah sedang berpikir, lebih tepatnya mengingat-ingat sesuatu.
"Oh ya, aku memang pernah bertemu dengannya sih di ruangan ini, dan kau tahu dia tiba-tiba memakan semua makanan buatanku yang aku buat karena perintah atasan, terus dia mengajakku bersembunyi saat sekretarisnya itu mengetuk pintu ruangan ini," jawab Lily yang mengingat kejadian beberapa hari sebelum dirinya mengambil cuti.
"Hahaha, dan kamu tidak curiga sama sekali? Lily..Lily.. kau memang tidak pernah berubah, lagian ya Lily, tidak mungkin kan ada orang bisa masuk ke sembarangan ruangan, apalagi itu ruangan orang yang berstatus sebagai salah satu orang tertinggi di perusahaan," Jasmine tertawa saat tahu jika sahabatnya itu masih seperti sahabatnya yang dulu, "lola!"
"Ih Jasmine jahat banget mengataiku lola," kesal Lily pada sahabatnya yang masih saja tertawa.
"Lagian aku memang tidak tahu, mana dia juga memakai pakaian casual lagi, kan aku orangnya selalu berpikir positif, jadi ya aku pikir dia cuma bermain disini," jelas Lily membela dirinya sendiri.
Tawa Jasmine kembali pecah," Lily mana ini kantor bukan tempat bermain," ucap sahabatnya itu di sela-sela tawanya.
__ADS_1
"Mine sudah jangan tertawa lagi,"
"Baiklah, baiklah aku tidak tertawa lagi," Jasmine berusaha untuk menghentikan tawanya.
"Sudah nih aku tidak tertawa lagi, oh ya bagaimana dengan Kak Al? Apa Kak Al pernah pulang semenjak kamu menikah dengan Jason?" Tanya Jasmine yang kini mulai serius.
"Kak Al pulang, kau tahu, bahkan Kak Al yang memberi kami tiket pergi honeymoon," jawab Lily antusias.
"Benarkah? Terus sikapnya pada Jason bagaimana?"
"Bagaimana ya? Mereka sudah seperti Tom and Jerry saja, tidak pernah akur," jawab Lily yang memang dibuat pusing jika kedua pria yang disayanginya itu sudah bersama.
"Kamu jangan kesal gitu mungkin itu cara mereka biar bisa akrab," jawab Jasmine yang banyak tahu bagaimana Al.
"Begini Lily, kadang cara seseorang bisa akrab dengan orang lain dengan sering mengajaknya ribut, berdebat, mmm bukan ribut yang sebenarnya sih, jika mereka memakai cara yang biasa-biasa saja mungkin mereka merasa canggung, apalagi orang seperti Kak Al, kamu tahu kan Kak Al itu memang orang yang tidak mudah akrab dengan orang lain terutama orang yang baru dikenalnya, jika dari awal dia bertemu orang tidak suka, ya dia akan katakan tidak suka, tapi jika semakin mengenal orang itu Kak Al telah salah menilai selama ini, ya dia pasti tidak akan segan untuk minta maaf hingga akhirnya dia bisa akrab, kamu tidak seperti tidak ingat saja, bukankah sekarang kamu akrab dengan Kak Al juga karena dulu sering ribut dan berdebat dengannya?" Kata Jasmine menatap Lily mengingatkan Lily bagaimana dulu dirinya dengan Al.
"Ah iya kenapa aku bisa lupa hal itu ya," Lily menepuk pelan keningnya saat mengingat bagaimana dulu dirinya dengan Al, ya bisa dikatakan seperti saat ini Jason dan pria yang ternyata Kakak kandungnya itu.
"Kau benar juga Mine, padahal aku sempat kesal sama Jason karena terus menanggapi Kak Al hingga bisa dikatakan sepanjang hari, rumah isinya hanya debat mereka berdua saja, Ayah saja sampai geleng-geleng kepala dan memilih meninggalkan keduanya jika mereka sudah bersama," cerita Lily tentang kejadian di rumahnya.
"Mmm, oh ya Mine, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Lily ragu.
__ADS_1
"Hmm, tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan, aku pasti akan menjawabnya," Jasmine yang tadi mengelus perut buncitnya itu kini menatap sahabatnya, memberikan seluruh perhatiannya kepada Lily yang ingin menanyakan yang Jasmine yakin penting.
"Mmm...itu," Lily saling meremas kedua tangannya yang sudah berkeringat.
"Kenapa? Apa seorang Lily bisa malu juga kepada sahabatnya?" Ledek Jasmine agar Lily menghilangkan rasa ragunya untuk bertanya.
Lily mencebikkan bibirnya kesal mendengar ledekan Jasmine.
"Siapa juga yang malu, kamu seperti tidak tahu aku saja," Lily mencoba mengelak tuduhan sahabatnya.
"Oke..oke… sekarang apa yang ingin kamu tanyakan? Aku serius nih!" Jawab Jasmine tidak sabar ingin mendengar pertanyaan apa yang ingin ditanyakan Lily.
"Bagaimana perasaanmu setelah kamu hamil?" Dengan memberanikan diri akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari gadis berambut sebahu itu.
Jasmine tersenyum, "Tentu saja senang, dan aku tidak pernah menyangka jika di perutku tumbuh malaikat kecil di tengah pernikahanku yang..mmm kamu tahu sendiri kan bagaimana dulu pernikahanku? Tadinya aku sempat hancur dan semuanya seperti rasanya akan berakhir, tapi dengan hadirnya mereka di hidupku entah kenapa aku merasa sangat bahagia, hatiku yang saat itu terluka perlahan terobati, mereka seakan menjadi semangat baruku untuk melalui semuanya, dan aku beruntung dengan kehadiran mereka pula, hubungan aku dan Suamiku semakin baik, hingga kita bisa bahagia sampai sekarang dan aku selalu berharap kebahagian itu akan bertahan selamanya," pandangan Jasmine menerawang jauh saat dimana hal itu pertama kali terjadi di hidupnya.
Lily memeluk Jasmine erat, "Maaf sudah mengingatkanmu pada luka itu," katanya merasa tidak enak karena sudah mengungkit kejadian disaat sahabatnya benar-benar di titik terendahnya dimana saat itu Ibu sahabatnya itu di penjara atas kesalahan yang belum tentu dilakukannya, difitnah, bahkan dirinya dibenci oleh mertuanya dan diusir Suaminya tanpa mendengar alasan dibalik pengusiran dirinya.
"Ah sudahlah lupakan tentang itu, aku juga sudah bahagia sekarang, oh ya kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan kamu saat ini sedang hamil?" Tanya Jasmine antusias melonggarkan pelukannya dan menatap sahabatnya penasaran.
"Belum, doakan saja, lagian kita juga baru beberapa hari menikah," kata Lily dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Wah ada yang bisa malu-malu juga nih," ledek Jasmine semakin gencar membuat Lily sampai menutup wajahnya dengan tas.