
"Ada apa?" Tanya Lily yang menyusul Jason masuk ke dalam kamarnya.
"Jason menoleh dan menatap istrinya dalam, kemudian menggeleng, "Tidak ada apa-apa, kenapa kesini hmmm? Bukankah Kakakmu itu pulang, jadi lebih baik mengobrol dengannya, selesaikan urusanmu dengan Al, tentang kisah kalian sebelumnya agar nanti tidak ada lagi kecanggungan. Bagaimanapun kisah kalian telah selesai tapi kalian belum mengakhirinya baik-baik. Minta maaf padanya walaupun ini bukan salahmu, bilang juga terima kasih padanya karena telah berusaha membahagiakanmu selama ini, tapi ternyata takdirlah yang tidak mengizinkan kalian bersama menjadi pasangan, dan takdir masih baik karena kalian tetap bisa bersama walaupun sebagai saudara," kata Jason mengingatkan istrinya tentang itu.
Lily tersenyum dan mengangguk kemudian memeluk suaminya itu, Lily tahu terjadi sesuatu dengan Jason, tapi Suaminya itu berusaha menutupinya darinya yang berarti mungkin bisa saja semua ini ada hubungan dengannya.
Lily memeluk suaminya erat, menyalurkan segala kekuatan yang dia punya untuk pria yang dicintainya itu. Meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sendiri.
"Jika lelah istirahatlah, jika butuh tempat bersandar, jadikan bahu ini sandaranmu, dan ingatlah masih ada aku yang akan selalu disisimu, kamu kini tidak sendirian lagi," kata Lily menenangkan Suaminya.
Jason melepaskan pelukannya, menuntun Lily agar duduk di sampingnya di atas ranjang.
Lily hanya menurut, membiarkan Suaminya menceritakan masalahnya, tanpa menyela atau pun berkomentar terlebih dulu, mendengar penjelasan Jason tanpa harus memaksanya.
"Tuan Muda yang menelponku," setelah mengatakan itu Jason kembali terdiam, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari keluarga Anderson, aku mengirim surat pengunduran diri tepat setelah acara pernikahan kita selesai, tetapi..Tuan Muda tidak menyetujuinya, dia bilang bekerja padanya tidak termasuk dengan bekerja pada Tuan Besar, karena yang Tuan Muda kelola adalah hasil jerih payah sendiri Tuan Steven tanpa melibatkan keluarga Anderson. Hingga Tuan Muda bilang, aku harus tetap bekerja padanya. Aku sengaja mengabaikan panggilannya, karena aku benar-benar merasa sudah tidak pantas mendapatkan kebaikan lagi dari keluarga itu. Hingga aku memutuskan lebih baik jika mengundurkan diri. Bagaimanapun aku merasa tidak enak jika harus bekerja dengan mereka sementara aku telah menyakiti anggota keluarga mereka secara tidak langsung," Jason menggenggam tangan istrinya dan menatap wajah gadis itu.
"Apa kamu tetap menerima aku jika aku sudah tidak bekerja di tempat keluarga kaya itu?" Tanya Jason serius.
"Tentu saja, kamu pikir aku menikah denganmu, karena kamu bekerja di tempat mereka, aku mau menikah denganmu karena memang aku cinta, dan kamu tenang saja, jika kamu tidak bekerja, maka aku akan menghidupimu, aku akan rajin bekerja, jadi kamu tidak perlu khawatirkan masalah keuangan," jawab Lily dengan bangganya.
"Kamu tidak perlu seperti itu, karena tugasmu bukan menghidupiku, menemaniku di saat-saat seperti ini saja sudah membuatku bahagia," Jason pun kemudian kembali menarik Lily dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ayo keluar! Rasanya aku tidak bisa terlalu lama di kamar ini hanya berdua denganmu takutnya aku akan menerkammu bahkan di hari yang masih pagi ini," Jason melonggarkan pelukannya berdiri dan mengulurkan tangan kanannya di depan wajah Lily.
Lily lagi-lagi tersenyum dan menyambut uluran tangan Suaminya yang membantunya berdiri, kemudian keduanya berlalu meninggalkan kamar menuruni tangga dengan bergandengan tangan.
"Kayak lagi nyebrang di jalan aja gandengan tangan," celetuk Al yang melihat adik dan Adik Iparnya itu turun dari tangga.
"Bilang aja iri," jawab Jason dengan wajah datarnya.
"Ngapain iri dengan wajah datarmu itu," jawab Al kemudian tatapannya kini beralih ke adiknya.
"Kamu jangan terlalu dekat dengannya sayang, nanti lama-lama kamu ikut membeku jika sering dekat dengan pria tua yang dingin," Al dengan senyum mengejek mengatakan itu pada saingan yang kini menjadi Adik Iparnya.
"Apa tadi yang kau katakan? Pria tua yang dingin? Siapa yang kau maksud ha?" Ketus Jason.
Sepertinya Al telah mengibarkan bendera peperangan dengan Jason. Terlihat jelas jika keduanya saat ini sedang saling menatap dengan tajam. Jika matanya keduanya ada sinar laser, mungkin saja akan menembus tebalnya dinding kediaman Alan Horison.
"Kau, lihatlah darimana mengatakan jika aku pria tua, sekarang lihatlah baik-baik, wajahku saja seperti pria berumur 20 tahunan," ucap Jason tidak terima.
"What terlihat 20 tahunan? Ngaca dulu deh kamu, umur hampir 30 tahun saja ngakunya 20 tahunan," cibir Al.
Al menghampiri Lily. "Kasihan banget kamu sayang harus mendapatkan suami tua bahkan usianya sampai selisih 10 tahunan" Al mengelus rambut adiknya sambil tersenyum mengejek ke arah Jason.
"Jangan pegang-pegang!" Jason langsung menarik tubuh Lily dan segera menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Kau!! aku sumpahin kelak akan menikah dengan gadis yang umurnya jauh darimu, tidak hanya 10 tahun, tapi 20 tahun," kata Jason lalu langsung menarik istrinya untuk duduk di sofa ruang keluarga yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Haha, rupanya kau pandai melucu juga, dengar ya pria kulkas, itu tidak mungkin!" Teriak Al karena agar Jason dapat mendengarnya dengan jelas. Kemudian dirinya berjalan menyusul adik dan Adik Iparnya itu, ada sedikit perasaan senang saat sengaja meledek pria dingin yang telah menjadi suami adiknya itu
Alan yang menyaksikan perdebatan itu dari ruang keluarga hanya geleng-geleng saja.
"Kalian ini seperti anak-anak saja," kata Alan begitu melihat Anak laki-laki dan menantunya itu sudah duduk di sofa.
"Dia dulu yang mulai Yah," ucap Jason menunjuk Al, membuat Lily langsung menatap suaminya. Tak lama senyum Lily terukir di bibirnya, saat melihat sisi lain suaminya, yang melakukan pembelaan dan mengadu kepada Ayahnya dengan cara yang terbilang memang seperti anak kecil yang bertengkar dengan temannya.
"Lagian kamu..
"Sudah-sudah, Ayah pusing mendengarnya," kata Alan memotong ucapan Al, berharap perdebatan dua pria itu, berhenti sampai situ saja, karena dirinya benar-benar pusing melihat keduanya sekarang yang lebih mirip dengan anak-anak.
"Kamu kenapa sayang senyum-senyum sendiri seperti itu?" Jason bertanya saat arah pandangnya tertuju pada sang istri yang tengah tersenyum entah karena apa.
"Emm tidak ada," jawab Lily masih dengan senyum manisnya.
"Ayo katakan apa yang membuatmu tersenyum," tanya Jason masih penasaran.
"Bukan karena apa-apa hanya saja aku bahagia, lihatlah sekarang aku seperti putri, putri yang dikelilingi oleh tiga pria tampan," jawab Lily asal, dirinya tidak ingin jika suaminya tahu apa penyebab dia tadi tersenyum.
"Oh ya aku ada sesuatu untuk kalian, dan aku ingin kalian melakukannya," kata Al menginterupsi keduanya, meletakkan amplop berwarna coklat di atas meja.
__ADS_1
Semua pandangan kini tertuju pada Al, dan Al pun hanya mengisyaratkan agar Lily membuka amplop itu.
Jantung Lily berdebar entah itu perasaan apa, dan dengan ragu, Lily mengambil amplop coklat itu dan sebelum membuka, Lily menatap ketiga pria itu bergantian.