
Lily membantu Jason membaringkan tubuh suaminya itu di atas ranjang mereka. Ranjang yang sudah begitu Jason rindukan. Setelah memastikan posisi tidur suaminya nyaman, Lily yang hendak pergi tidak jadi karena Jason menahan tangannya.
"Mau kemana?"
"Aku mau mengambil minuman dulu, kamu pasti haus."
"Nanti saja, kemarilah!" Jason menepuk sisi ranjang yang kosong.
Lily menurut, berbaring di samping suaminya. Jason mengulurkan tangannya menjadikan lengan sebagai bantalan sang istri, sedang tangan satunya melingkar di pinggang Lily. Lily tersenyum, tangannya terulur meraih wajah suaminya.
"Sepertinya perlu dicukur," ucapnya sambil menyentuh lembut dagu suaminya.
"Biarkan saja. Sudah bapak-bapak juga."
"No, nanti kalau kita jalan, bisa dianggap aku sedang jalan sama bapaknya."
Jason terkekeh, kemudian mengecup sayang bibir yang protes tadi.
"Oh ya, Uli mana?" Tanya Jason yang tidak melihat keberadaan putri keduanya, kalau Cinta, jelas saja anak itu masih ada di sekolahnya.
"Sejak kemarin Uli tinggal bersama Kak Lia, dia lagi ambil cuti dan merasa kesepian, mau ajak Cinta tidak bisa kan karena dia harus sekolah. Jarak rumah kak Lia sama sekolah Cinta kan cukup jauh juga."
Jason mengangguk mendengar perkataan istrinya.
"Tapi apa tidak merepotkan kakakmu sayang, apalagi Uli anak yang super aktif."
"Anteng kok dia disana, kemarin aku video call, waktu kamu istirahat."
"Hmm aku kangen sama anak-anak."
"Nanti aku minta kak Lia mengantarkan Uli pulang deh."
"Jangan! Kasihan kakakmu, lebih baik suruh supir saja, buat menjemput mereka. Nanti biar pulangnya Dahlia diantarkan supir lagi. Katanya dia kesepian, main aja disini, biar ngobrol sama kamu juga."
Lily mengangguk, kemudian meraih ponselnya yang tadi dia letakkan di atas meja, menggulir layar mencari nama Dahlia. Jason hanya menatap sang istri yang tengah berbicara dengan kakaknya, tak lupa tangan pria itu mengelus perut Lily, sesekali tangannya mulai naik ke atas, dan meremasnya pelan.
__ADS_1
"Sa...yang!" Ucap Lily terbata, terkejut dengan aksi suaminya.
Jason hanya tersenyum tanpa merasa bersalah. Sementara Dahlia yang di seberang telepon, bertanya khawatir begitu mendengar nada suara Lily.
"Aku tidak apa-a...pa kak…, kak su...dah du...lu yah!" Setelah mengatakan itu, Lily langsung mematikan panggilan, ditariknya tengkuk sang suami dan segera mencium bibir pria yang sepertinya sengaja memancingnya, apalagi sudah sekitar seminggu Lily tidak merasakannya. Lily bahkan kini naik di atas tubuh suaminya tanpa melepas pagutan bibir mereka.
"Apa kamu yakin akan baik-baik saja? Kamu sudah beneran sembuh kan sayang?" Tanya Lily begitu bibirnya terlepas, memastikan kondisi suaminya sebelum mereka memulai.
"Hmm," jawab Jason membiarkan istrinya yang memimpin.
*
*
"Ayah!"
Cinta dan Aulia segera berlarian menghampiri Jason yang kini duduk di ruang keluarga sedang menonton televisi, sedangkan Lily tadi berpamitan ke dapur untuk membuat makan siang. Jason sebenarnya melarang, memilih memesan saja, atau kalau tidak sekalian menitip Dahlia, tak ingin istrinya kelelahan, tapi kata istrinya dia tidak ingin merepotkan kakaknya. Dahlia bahkan sudah menjemput Cinta juga sekalian mengantarkan kedua putrinya pulang, itu saja membuat Lily merasa tidak enak. Apalagi Dahlia tadi juga menolak Lily yang akan mengirimkan sopir, gadis itu bilang kasihan sopir yang nantinya akan bolak-balik. Lily akhirnya pasrah saja. Dan Jason pun terpaksa menyetujui juga keinginan istrinya. Asal istrinya tidak perlu memasak banyak-banyak dan membiarkan bekas alat-alat yang dipakainya agar dicuci bi Nia
Dea sedang pergi bersama Bi Nia, membeli segala keperluan yang habis, sedangkan Alan dia seperti biasa ke rumah sakit.
Jason tersenyum menyambut kedua putrinya yang kini naik ke atas sofa di samping kiri dan kanannya. Keduanya dengan kompak mencium pipi Jason yang langsung merangkul kedua putri yang sangat dia rindukan.
"Hmm tadi pagi, kak Cinta ganti pakaian dulu ya," kata Jason yang diangguki oleh putri sulungnya itu.
"Kak!" Sapa Dahlia yang baru saja masuk, setelah memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
"Hai, Lily masih ada di dapur."
Dahlia pun mengangguk dan menyusul ke dapur, beberapa kali kesana membuat dirinya hafal dimana tata letak ruangan.
"Uli mau ikut ke kamar juga yah."
"Hmm ayo!" Jason bangun setelah kedua putrinya turun dari sofa.
"Gendong!" Ucap keduanya kompak.
__ADS_1
Jason hanya terkekeh melihat tingkah manja keduanya, Jason bersiap mengangkat tubuh kedua putrinya, tapi urung saat Lily tiba-tiba ada di sana dan melarangnya.
"Sayang kalian jalan aja ya, ayah masih lelah karena perjalanan," Lily mencoba memberi pengertian kepada kedua putrinya itu.
Beruntung baik Cinta maupun Uli memang selalu mendengarkan ucapan ibunya yang membuat kedua anak itu berakhir menggenggam tangan Jason di sisi kiri dan kanannya.
"Ayo ayah!" Ucapnya mengajak ayahnya ke kamar dengan menggandengnya.
"Ayo!"
Lily tersenyum kemudian melangkahkan kakinya kembali ke dapur, dia sudah mengira kedua putrinya akan meminta digendong sang ayah, hingga Lily pun menitipkan masakannya pada Dahlia, dan berpamitan pada kakaknya itu, ingin melihat anak-anak dulu, dan Dahlia pun mengiyakan, untungnya gadis itu sekarang sudah bisa memasak, hingga tidak bingung saat ditinggal Lily dengan masakannya.
"Sudah matang kak?"
"Sebentar lagi."
Lily mengangguk mengerti, lalu mengambil piring untuk memindahkan hasil masakannya. Lily juga meminta Dahlia untuk membantunya memindahkan hasil masakan ke meja makan, sebelum mereka akan makan bersama nanti.
"Bagaimana keadaan kak Jason, sudah baik-baik saja kan?" Tanya Dahlia dengan tangan yang sibuk dengan peralatan penggorengan.
"Iya kak, tidak ada masalah dari hasil pemeriksaan kemarin."
"Syukurlah," ucap Dahlia yang juga merasa lega.
"Oh ya, bagaimana hubungan kakak dan kak Devan? Baik-baik saja kan?"
"Baik, walaupun hanya bertatap muka dan mengobrol lewat telepon, tapi semuanya baik-baik saja."
"Pasti berat ya kak menjalani hubungan jarak jauh?"
"Hmm ya seperti itu, kalau kangen repot."
"Kapan rencana kakak akan bertemu dengan keluarganya?"
Dahlia hanya mengedikan bahu acuh, dia sendiri tidak tahu, Devan sama sekali belum memperkenalkan dirinya dengan keluarga pria itu, walau hubungan mereka sudah terjalin lumayan lama. Devan hanya mengatakan jika ayah dan ibunya masih sangat sibuk dan belum ada waktu untuk bertemu dengan Dahlia. Awalnya Dahlia mengerti dan paham, tapi lama-lama, Dahlia merasa jengah, karena Devan selalu menggunakan alasan yang sama. Dahlia menarik nafas dalam, dia merasa Devan memang mencintainya, tapi disisi lain dia merasa ragu, saat Dahlia menanyakan tentang keluarganya yang sampai saat ini belum membayar rasa penasarannya.
__ADS_1
"Kak apinya!" Teriak Lily menyadarkan Dahlia yang entah kenapa tiba-tiba melamun.
Dahlia langsung saja melihat wajan yang kini berkepul asap. Menatap Lily lalu menunjukkan cengirannya. Merasa bersalah karena sudah menghancurkan masakan Lily.