
Alan melirik ke arah Lily yang duduk di sampingnya sambil terus menangis, sedari tadi dia terus menenangkan putrinya tapi tak kunjung membuat tangis wanita itu surut yang ada malah semakin terisak, banyak pikiran buruk yang tiba-tiba mengusik pikirannya.
Tak lama mobil yang dikemudikan Al telah sampai di depan rumah sakit dimana tadi seseorang sempat memberitahukan padanya bahwa pria bernama Jason telah dilarikan kesana usai mengalami kecelakaan mobil dari bandara menuju ke tempat tujuan.
Buru-buru Lily turun dan berlari masuk, dia bahkan sampai melupakan jika saat ini dirinya tengah hamil. Alan segera berlari menyusul putrinya yang mencari dimana keberadaan Jason berada.
"Anda wali dari pasien bernama Jason Louvis?"
"Iya dok, saya ayahnya," jawab Alan karena Lily sudah berlari menerobos para perawat lalu memeluk Jason yang terbaring tidak sadarkan diri, menumpahkan tangisnya.
"Sayang bangun! Sayang ayo tidur di rumah saja, disini tidak nyaman, kamu pasti capek habis perjalanan," ucap Lily di tengah tangisnya.
Hingga tiba-tiba tubuhnya ditarik paksa dan hanya bisa melihat suaminya dibawa para perawat entah kemana.
"Lepaskan Ale ayah! Ale harus bawa suami Ale pulang!" Lily terus meronta dari dekapan ayahnya.
"Ayah, bagaimana?"
Alan tak menjawab, dirinya sibuk menenangkan putrinya, Al menghela nafas pelan, dirinya mengerti, Al memilih diam sampai nanti waktunya tepat, dia akan kembali bertanya lagi, tapi melihat adiknya yang menangis histeris, tentu saja keadaan Jason...Al hanya berharap jika adik iparnya itu baik-baik saja.
"Kak Al tolong bawa suami Ale kesini, tadi suami Ale dibawa pergi!" Tangis Lily.
"Tenang sayang, dokter sedang memeriksanya," kata Alan menatap wajah putrinya, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah penuh air mata itu, hatinya sakit melihat putrinya dalam keadaan seperti itu.
__ADS_1
"Kak Al kenapa diam saja! Suami Ale pasti capek, dia mau istirahat, cepat susul suami Ale dan ajak pulang!" Kini Lily berteriak karena melihat Al sama sekali tidak beranjak dari tempatnya tadi.
"Kak!" Ucap Lily lemah, sepertinya dia sudah merasa lelah.
"Ayah," Lily mendongak menatap ayahnya.
"Iya, nanti suami Ale juga pasti pulang, nanti kita pulang sama-sama, biarkan dokter memeriksanya dulu ya, Ale harus ingat Ale tidak sendiri, ada anak-anak Ale dan Ale harus kuat, suami Ale pasti akan baik-baik saja."
Lily membalik tubuhnya dan memeluk Alan, dirinya butuh kekuatan dan salah satunya dari Alan.
"Sudah ya, jangan menangis lagi, nanti cucu ayah yang di dalam perut Ale ikut sedih." Alan sedih melihat putrinya yang kini terlihat begitu rapuh.
*
*
Kemarin, Jason sudah dipindahkan ke ruang rawat, kondisinya sudah stabil, tinggal menunggu sadar saja.
"Selamat pagi sayang," ucap Lily ceria berharap keceriaannya menular pada sang suami hingga akhirnya memutuskan untuk membuka mata dan kembali berkumpul dengannya. Lily menarik kursi yang berada tepat di samping brankar dan duduk disana. Kemudian ia meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat, lalu mengecupnya cukup lama.
Seperti biasa, Lily mulai membersihkan tubuh suaminya dengan telaten, berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis, tapi tanpa dia sadari, air matanya menetes begitu saja, Lily buru-buru menghapusnya, sebelum bulir bening itu menjatuhi tangan suaminya.
"Maaf, aku tidak sedih lagi kok, aku tidak menangis, ini tadi hanya kelilipan saja," ucapnya.
__ADS_1
Lily memang kerap sekali mengajak suaminya ngobrol, walaupun Lily tahu, jika suaminya mungkin tidak menjawab ucapannya, tapi Lily yakin, suaminya pasti mendengarkan setiap kata yang dia ucapkan.
"Kamu sampai kapan tidur? Kamu tidak kangen sama aku? Biasanya kamu pengen tidur di samping aku sambil dielus, tapi kamunya malah disini, Cinta dan Aulia juga menanyakan kamu terus sayang, katanya kenapa ayah tidak pulang-pulang, mereka sangat merindukanmu," kata Lily yang teringat ucapan kedua putrinya. Cinta dan Aulia memang tidak diberitahu jika ayahnya sudah pulang, Lily tidak ingin membuat kedua putrinya sedih saat mendengar jika ternyata sudah tiga hari ini ayahnya di rumah sakit.
"Sayang, bangun dong, ada yang ingin aku beritahukan padamu, hmm sebenarnya aku ingin mengatakan nanti jika kamu pulang, tapi rasanya aku tidak sabar," Lily menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
Dituntunnya tangan suaminya yang diam tak bergerak mendekat ke perutnya.
"Kamu bisa tebak gak?" Tanya Lily sambil mengusap pipi suaminya, sebuah tanya yang tidak mungkin dijawab suaminya. Lily kembali menarik nafas dalam-dalam, mengisi rongga dada yang rasanya semakin sesak saja.
"Iya sayang, aku hamil, ada anak ketiga kita disini, jadi sayang, kamu bangun dong, anak kamu juga pengen disapa kamu, pengen dielus."
Tiba-tiba air mata Lily kembali jatuh membasahi pipi, hatinya sesak karena tangan suaminya yang ada di perutnya tidak juga bergerak.
"Kamu marah sama aku ya, kamu marah makanya gak mau bangun, kalau kamu marah aku minta maaf, tapi ayo dong buka mata kamu. Kamu mau apa, aku akan turutin, mau dimanja, mau dipeluk terus kalau tidur? Akan aku lakukan, tapi kamu katakan langsung sekarang padaku," ucapnya menatap suaminya dengan tatapan kecewa.
Wajah Lily menunduk, kini bulir bening itu mengalir deras, bulir demi bulir mengalir membasahi kedua tangan yang saling bertaut. Lily kemudian menekuk satu tangannya, menjadikannya sebuah bantalan, satu pipinya bersandar pada lipatan tangannya itu dengan wajah yang menatap genggaman tangannya dengan Jason. Menatap tangan itu dengan pandangan sayu, tangan yang biasanya dengan lembut membelainya kini hanya terdiam kaku, sama sekali tidak ada pergerakan.
Entah berapa lama Lily menangis hingga akhirnya dengan perlahan mata wanita itu mulai terpejam. Bahkan disaat terpejam pun Lily masih terpikirkan suaminya, terbukti dengan dia yang terus mengigau sambil memanggil nama Jason, bahkan sesekali terdengar isak keluar dari bibir wanita itu.
Rasanya begitu pedih, baru dia mendapatkan kabar bahagia kehamilannya, tapi di lain sisi, dia juga mendapat kabar buruk tentang suaminya.
Isak pelan yang keluar dari bibir Lily sedari tadi kini tak terdengar lagi, perlahan tapi pasti kini Lily mulai lebih tenang saat merasakan sentuhan lembut di puncak kepalanya yang menyalurkan ketenangan ke dalam hati dan juga pikirannya.
__ADS_1