Please Love Me

Please Love Me
Part 120


__ADS_3

"Untuk apa kau kemari" Jason menatap tajam pada wanita yang baru saja masuk ke kamar hotelnya.


"Pergi! Sebelum aku yang akan menyeretmu," tegas Jason.


Wanita itu pun bangun dan menghampiri Jason hendak memegang dada pria itu, tapi dengan cepat Jason menepis tangan kotor wanita itu.


"Jangan berpura-pura Jason, ayolah, disini hanya ada kita berdua, aku akan membantumu mengerjakan pekerjaanmu agar cepat selesai, setelah itu kita bisa bersenang-senang," wanita itu terus berusaha mendekati Jason.


"C*h Menji*jikan! Pergi dari hadapanku sekarang wanita mura*han, selagi aku masih meminta baik-baik," Jason melipat kedua tangannya di depan dada, menatap sinis pada wanita yang sekarang hanya mengenakan pakaian tipis, setelah tadi melepas bathrobenya begitu saja.


"Oh ya aku?" Wanita itu menunjuk dirinya sendiri, kamu masih berani bilang seperti itu, karena kamu belum mencobanya, jika saja kamu sudah.."


"Aku tidak sudi," Jason mengambil selimut berwarna putih di atas ranjangnya dan menggulung tubuh wanita itu hingga tersisa kepalanya saja. Wanita itu kini sudah seperti kepompong saja.


"Jason lepaskan aku! Jason!" Teriak wanita itu tanpa henti meminta dilepaskan.


Tanpa peduli pada teriakan wanita itu, Jason mengangkat tubuh wanita itu layak nya karung beras kemudian meletakkannya di depan pintu hotel.


"Jason lepaskan aku! Jason!" Wanita itu kini tampak menahan amarahnya.


Brak


Pintu tertutup dengan keras membuat wanita itu terlonjak, tapi dia tidak bisa apa-apa, yang bisa dia lakukan adalah sedikit menyeret tubuhnya seperti hewan melata.


"Si*al! Tapi tunggu, aku yakin kamu akan kembali lagi," kata wanita itu dengan rasa percaya diri yang tinggi.


Dan benar saja hanya dalam hitungan ke 10 pintu kembali terbuka menampilkan wajah datar Jason. Wanita itu tersenyum senang, tapi senyumannya pudar saat dengan kasar, Jason melempar bathrobe yang tadi wanita itu kenakan.


"Mulai hari ini kau dipecat Natalie, aku  tidak sudi menerima pegawai sepertimu, ya kau hanya pegawai jadi jangan berharap kau bisa seenaknya bersikap seperti itu padaku, dan perlu kau tahu, aku bukan seorang pria yang mudah tergoda apalagi oleh wanita sepertimu, dasar wanita mura*han menji*jikan," kata Jason tajam kemudian kembali menutup pintu kamarnya dengan keras.


"Merepotkan!" Kata Jason membersihkan tubuhnya dengan tangan seolah dirinya baru saja terkena kotoran.


"Ya ampun istriku, apa dia melihat apa yang terjadi tadi?" Jason buru-buru berlari menuju dimana tadi dia meletakkan ponselnya.

__ADS_1


"Mati? Dari kapan? Apa mungkin karena kejadian tadi?" Tanya Jason pada dirinya sendiri.


Jason kemudian menelpon kembali istrinya, tapi tidak di jawab, di ulangnya lagi, terdengar panggilan sedang menghubungkan.


"Ayolah sayang, please angkat teleponnya, kamu salah paham," gumam Jason gelisah sambil berjalan mondar-mandir sambil berharap, istrinya mau menerima teleponnya karena ada hal yang harus dirinya jelaskan.


Tubuh Jason lemas seketika, di rebahkannya tubuhnya di atas ranjang dengan ponsel yang menempel di telinganya. Dia masih terus berusaha menghubungi istrinya, dan ini ada panggilan darinya yang ke 10 tapi tetap saja istrinya tidak mau menjawab, Jason putus asa rasanya, dengan ponsel yang ada di genggaman tangan kirinya, Jason menatap langit-langit, berharap istrinya tidak salah paham karena hal tadi.


"Ini gara-gara wanita si*alan itu, awas saja kau jika sampai istriku marah besar padaku, jangan harap hidupmu bisa tenang, aku tidak segan-segan untuk membuat hidupmu hancur" kata Jason yang terdengar mengerikan.


Jason akhirnya memutuskan untuk menghubungi Kakak Iparnya, berharap pria yang nyaris menjadi suami istrinya mau membantu dirinya.


Pertama Jason memanggil pria itu langsung menjawabnya. Jason sangat senang karena Kakak Iparnya itu bilang akan membantu menyampaikan pesannya kepada Lily sang istri tercinta.


***


"Beraninya kau membawa wanita lain ke dalam kamar! Awas saja kau jika sampai berani bermain di belakangku, aku pastikan nanti hanya tinggal namamu saja," ucap Lily marah sambil meninju guling yang ditaruh berdiri di depannya, menjadikan guling itu pengganti suaminya.


Tok


Tok


"Tunggu, Kak Al sudah pulang?" Lily turun dari ranjangnya kemudian segera berlari menuju pintu dan segera membukanya.


"Kok Kak Al sudah pulang? Terus Kak Lia bagaimana? Kan Ibu tadi pergi, Kak Al meninggalkan Kak Lia sendiri? Kakak kok tega sih, bagaimana kalau Kak Lia butuh sesuatu? Kak Al memang tidak peka deh jadi cowok, aku tuh sengaja tadi ninggalin Kak Al biar berduaan sama Kak Lia, eh Kak Al nya malah pulang," kata Lily tanpa henti, kekesalan pada sang suami kini juga dilampiaskan pada Kakaknya.


Al menoyor pelan kepala adiknya, "Kakak tuh tau itu pasti akal-akalan kamu, kamu kalau mau bertindak itu, tanyakan dulu pada Kakak, Kakak mau tidak, sibuk tidak, bukan malah langsung ambil keputusan sendiri, lagian jika di sana hanya ada Kakak juga rasanya tidak akan bisa membantu semuanya, ingat kita itu manusia yang berbeda jenis, jadi jangan sembarangan seperti itu lagi," omel Al pada Lily.


"Ya tidak apa-apa, kan kalian sudah dewasa, barangkali nanti khilaf, malah ba…,akh, akh sakit Kak, lepasin!" Ucapan Lily terpotong, dilanjutkan dirinya yang meringis kesakitan karena Al menjewer telinganya.


"Punya otak itu, digunakan yang benar, jangan berpikiran yang tidak-tidak."


"Siapa juga yang berpikiran yang tidak-tidak, aku ini berpikiran yang iya-iya Kak," kata Lily menjawab perkataan Al.

__ADS_1


"Masih berani jawab ha? Mau nih telinga lepas dari tempatnya?"


"Sakit Kak, sakit, lepasin! Kakak jahat banget sih sama adiknya, ini tuh namanya kekerasan dalam persaudaraan, aku bisa tuntut Kak Al," Lily terus meronta melepaskan diri dari Al, sayangnya setiap pergerakan adiknya itu Al selalu tahu, hingga akhirnya membuat Lily kesulitan terlepas.


Bi Nia bahkan berlari ke lantai atas, ketika mendengar teriakan Lily.


Tapi saat akan membantu Nonanya itu, Al mengisyaratkan pada Bi Nia bahwa Lily tidak apa-apa, dan Bi Nia bisa melanjutkan pekerjaannya.


"Ampun Kak! Kak lepasin, janji deh aku tidak seperti itu lagi, please Kak lepasin nih telinga rasanya sudah mau lepas," ucap Lily kini memohon.


Al tersenyum puas, dengan cara ini yang bisa membuat adiknya tidak bisa berkutik.


"Ucapkan yang benar!" Perintah Al menahan diri agar tidak tertawa melihat ekspresi Lily saat ini.


"Kak maaf, tolong lepasin! Aku janji tidak akan ikut campur lagi urusan Kakak dan Kak Lia, jadi tolong Kak lepasin," kata Lily memelas.


"Bagus!" Ucap Al tersenyum puas, kemudian melepaskan telinga Lily.


Lily menggosok telinganya yang memerah, tadi telinganya terasa seperti mau lepas saja. Lily menatap kesal pada Kakaknya.


"Awas saja nanti akan aku balas," gerutu Lily melirik sinis ke arah Kak Al.


"Apa masih berani? Sini jika berani!" Kata Al menantang.


Lily yang di tantang seperti itu hanya memundurkan langkahnya, baru saja tadi terlepas, Lily tidak mau jika terjebak seperti tadi lagi hingga membuat dirinya memohon.


Al mengulum senyum, melihat nyali adiknya yang menciut, bahkan kini sudah mundur beberapa langkah.


"Bagus, anak perempuan harus patuh seperti itu, sekarang bersiaplah, masukkan keperluanmu yang penting ke dalam koper, jangan banyak-banyak, kakak tunggu 15 menit harus siap," setelah itu Al langsung pergi dari kamar Lily.


"Tunggu Kak, apa maksud Kakak?" Tanya Lily yang tidak mengerti maksud Kakaknya.


Al hanya melambaikan tangannya ke atas dan terus melangkah tanpa menoleh dan menjawab pertanyaan Lily yang kini tampak kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2