Please Love Me

Please Love Me
Part 60


__ADS_3

"Ayah ada apa?" Al bertanya lagi karena Ayahnya itu tidak menjawab pertanyaannya bahkan ekspresi wajahnya pun berubah tidak seperti saat tadi meningalkan ruang makan.


"Apa tadi Lily yang pulang?" 


Pertanyaan Al terjawab sudah saat tak lama setelah Ayahnya masuk, Lily juga ikut masuk.


Al mengernyitkan dahi heran saat melihat jika di belakang Lily ada seorang pria.


"Sepertinya aku pernah melihatnya," ucap Al dalam hati sambil mengingat-ingat siapa pria yang sepertinya tidak asing itu.


"Duduklah! Apa kalian akan terus berdiri seperti itu?" suara itu membuyarkan lamunan ketiganya yang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.


Jason pun langsung duduk menuruti perkataan pria yang Jason kenal sebagai dokter Nyonya besarnya.


"Ayo Lily duduk!" Al menggenggam tangan Lily dan menarikkan kursi untuk tempat gadis itu duduk.


"Terima kasih Kak," kata Lily menatap Al sekilas kemudian langsung menunduk.


Sementara Jason yang melihat itu  sudah mengepalkan tangannya di bawah meja. Sebisa mungkin dia akan menahan amarah yang kapan saja bisa saja meledak jika terus disuguhkan pemandangan seperti itu.


"Makanlah, setelah itu ada hal yang Ayah ingin bicarakan!" Perintah Alan dengan nada suara yang tidak bisa terbantahkan.


Al mengambilkan makanan untuk Lily, saat melihat gadis itu hanya diam saja, dan hanya memandang semua makanan yang sudah terhidang di atas meja.


Jason menusuk daging yang tadi diambil, kemudian memotong daging itu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang membuat ketiga orang lainnya menatap ke arahnya. Sementara orang yang ditatap tidak menyadari itu dan masih sibuk, berperang dengan peralatan makan.


"Ehem," Alan berdehem dengan keras membuat Jason menoleh dan menatap ke arah Alan tanpa rasa takut sedikitpun.


"Maaf sudah mengganggu ketenangan Anda dokter," kata Jason kemudian, bagaimanapun dirinya adalah tamu, jadi sudah seharusnya Jason meminta maaf saat Tuan rumah merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Biar aku ambil sendiri Kak," Lily merebut piring yang ada di tangan Al, lalu mengambil sendiri lauknya.


Al pun tersenyum dan memberikan piring itu pada Lily, Al pikir jika Lily merasa malu pada pria yang Al ingat dia adalah asisten dari suami temannya Jasmine, Al pernah bertemu sekali dengannya, apalagi di sana juga ada Ayahnya.


Sebenarnya baik Lily maupun Jason sudah tidak ingin makan lagi, perutnya masih kenyang, apalagi belum lama dari mereka tadi makan malam. Tapi karena untuk menghargai Alan yang menyuruhnya untuk makan, akhirnya mereka pun hanya bisa menurut karena tidak ingin membuat kecewa ataupun menyinggung Alan.


Setelah itu mereka pun makan dalam hening, satu pun diantara mereka tidak ada yang bersuara yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu.


"Jam berapa kamu seharusnya pulang kerja Lily?" Tanya Alan menatap gadis cantik yang kini duduk di hadapannya. 


Mereka kini pindah ke ruang keluarga, karena Alan bilang akan berbicara dengan Lily.


"Jam lima Ayah, maaf aku pulang terlambat, tapi Ayah jangan salah paham dulu, tadi ada kejadian yang tidak bisa aku biarkan begitu saja Ayah" Lily bahkan tidak berani menatap mata Alan yang menatapnya dengan tatapan yang bahkan Lily sulit mengartikannya.


Alan terdengar menghela nafas perlahan, "Bukan maksud Ayah untuk melarangmu ini dan itu, Ayah hanya khawatir terjadi sesuatu padamu, kamu tinggal disini berarti kamu sudah menjadi tanggung jawab Ayah," kata Alan tegas.


"Maaf Ayah," Lily takut melihat tatapan Alan, tapi tak bisa Lily pungkiri jika di dalam hatinya Lily merasa senang, karena dirinya mendapatkan perhatian dari Alan, perhatian seorang Ayah pada anaknya, itulah yang Lily rasakan saat ini hingga tanpa terasa air matanya menetes mengingat kembali dirinya yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tuanya.


Tanpa mereka semua duga, Alan mendekat kemudian memeluk Lily, mendekapnya dengan penuh kasih sayang, seperti seorang Ayah yang sedang menjadi sandaran putrinya.


"Kenapa menangis? Ayah tidak marah, Ayah hanya mengingatkanmu, kamu anak gadis dan Ayah tidak ingin terjadi sesuatu pada anak gadis Ayah, Ayah hanya mengkhawatirkanmu, maafkan Ayah jika cara bicara Ayah salah, selama ini Ayah memang mendidik Kak Al dengan tegas, dan Ayah lupa jika kamu adalah seorang gadis, kamu berbeda dengan Al dan harusnya Ayah berbicara lebih lembut," Alan mengusap rambut Lily dengan lembut.


Lily menggeleng, "Tidak Ayah jangan minta maaf, Ayah sama sekali tidak salah, aku menangis karena aku merasa bahagia, karena aku bisa merasakan sebagaimana anak yang disayangi oleh Ayahnya," isak Lily dalam pelukan Alan.


"Jangan menangis lagi, kamu bisa menganggap Ayah seperti Ayahmu sendiri jika kamu mau, dan Ayah sama sekali tidak merasa keberatan, Ayah justru merasa senang" tambah Alan.


Al tersenyum, rupanya dia mengambil keputusan yang tepat mengajak Lily untuk tinggal di rumahnya. Buktinya Ayahnya terlihat sangat menyayangi Lily seperti putrinya sendiri, dan tidak ada alasan lagi untuk Al bisa segera meresmikan hubungannya dengan Lily, dia tidak ingin kehilangan gadis itu, itulah yang hatinya rasakan saat ini.


"Siapa namamu?" Tanya Alan yang kini melihat ke arah Jason sambil masih memeluk Lily.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Jason, maaf dokter Alan, ini semua bukan salah Lily, tadi Lily menolongku, hingga dia pulang terlambat hari ini," Jason menatap Alan yang kini juga menatapnya, bahkan Jason tak gentar sedikitpun saat mendapat tatapan tajam Alan.


"Pulanglah! Sudah malam, terima kasih karena sudah mengantar Lily kemari," Alan tampaknya mengusir Jason secara halus.


Lily melonggarkan pelukannya kemudian memandangi Alan dan Jason bergantian, Lily jadi merasa serba salah pada keduanya.


"Ya lebih baik kau pulang," sambung Al kemudian.


"Yah, aku antar dia keluar," pamit Al pada Ayahnya.


"Kak, biar aku yang mengantarnya," Lily mengajukan diri untuk mengantar Jason ke depan.


"Tidak perlu, biar Al yang mengantarnya ke depan sekarang lebih baik kamu masuk ke kamarmu," Alan bangun dan meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamarnya yang memang ada di lantai satu.


"Turuti apa yang dokter Alan katakan," bukan Al, akan tetapi Jason yang mengatakan itu.


"Tapi…


"Tidak apa-apa, masuklah!" Potong Jason cepat sebelum dirinya berubah pikiran dan akhirnya membawa Lily ikut bersamanya.


"Masuk Lily!" Kali ini Al yang berbicara.


"Ayo aku antar ke depan!" Setelah menyuruh Lily masuk, Al mempersilahkan Jason untuk berjalan lebih dulu.


Jason pun hanya menurut dan keluar dari rumah itu, hingga tiba-tiba langkahnya berhenti ketika mendengar Al berkata padanya.


"Siapapun kamu, aku harap kau tidak mendekati Lily lagi, asal kau tahu, Lily adalah gadisku, dan kau bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri bukan, bahkan Ayahku sudah menyayangi Lily dan bahkan menyetujui hubungan kami, jadi mundurlah karena tidak ada celah lagi bagimu di hubungan kami, karena aku akan segera menikahinya," kata Al yang seperti memberi peringatan pada Jason.


Jason mengepalkan kedua tangannya erat, kemudian kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobil, melajukannya meninggalkan pelataran rumah Al.

__ADS_1


 


__ADS_2