Please Love Me

Please Love Me
Bab 255


__ADS_3

Kini Jason dan Lily sudah sampai ke tempat tujuan mereka, setelah menempuh perjalanan berjam-jam. Kini Jason menyeret koper keduanya berjalan menuju kamar yang mereka pesan.


"Wah, bagus sekali sayang," kata Lily mengagumi tempat untuknya menginap beberapa hari ini.


"Apa kamu suka?" Jason memeluk Lily dari belakang, saat Lily berdiri memandang keluar jendela.


"Hmm sangat suka," Lily mendongak dan menatap wajah suaminya.


Jason pun balas menatapnya lalu perlahan wajahnya mendekat, dan kini bibirnya sudah mendarat mulus di bibir istrinya.


"Baguslah kalau kamu suka, kamu mau istirahat dulu, atau mau langsung jalan-jalan?" tanya Jason begitu ciuman mereka terlepas.


"Aku mau istirahat dulu saja, nanti sore baru kita jalan-jalan sekalian makan malam, bagaimana?" ujar Lily menatap suaminya meminta pendapat dari pria itu.


"Baiklah, ya sudah kamu istirahat dulu saja, aku mau ke kamar mandi," ujar Jason yang kemudian langsung menuju ke kamar mandi.


Lily segera merebahkan diri di atas ranjang, dia mengambil ponsel dan mengaktifkannya, baru saja pergi tapi dia tiba-tiba terpikirkan putri kecilnya. Tak berlama-lama, Lily langsung mendial nomor ayahnya, dia merindukan putrinya dan ingin mendengar celotehan Cinta.


Tak lama, layar ponselnya kini penuh dengan wajah ayahnya.


"Kapan sampai?" Tanya Alan.


"Baru saja Yah."


"Kenapa tidak istirahat dulu saja?"


"Hmm bentar lagi, oh ya Yah Cinta mana?"


"Cinta? Hmm tadi dia bersama ibumu, sepertinya sedang mandi, kenapa? Kamu sudah merindukannya?"


"Hmm iya Yah, Ale sudah sangat merindukannya. Nanti kalau pergi-pergi lagi, Ale pasti akan mengajaknya," kata Lily.


Alan terkekeh mendengar ucapan putrinya.


"Nah ini Cinta nya, Cinta ini Ibu, katanya kangen," ucap Alan yang Lily yakin sedang menatap seseorang yang sepertinya berjalan mendekat ke arah pria itu.


Lily terus menatap layar, dan kini muncullah wajah putrinya dengan bedak yang tebal di seluruh wajahnya juga rambutnya yang basah.


"Bu...Ibu…"


Lily langsung duduk bersandar dan tersenyum saat mendengar Cinta memanggil-manggilnya bahkan putrinya itu menggapai-gapai ponsel Alan, ingin memegangnya sendiri.


"Sayang jangan, biar Kakek yang pegang ya," bujuk Alan.


"Ibu!" 


Tapi sepertinya itu tidak mau dan terus berusaha merebut ponsel kakeknya, hingga yang Lily lihat di layar ponselnya tembok yang terlihat berguncang.

__ADS_1


"Cinta biar Kakek yang pegang sayang!" Ucap Lily ikut berbicara seolah dirinya juga ada di sana.


Tapi kini dirinya justru mendengar Cinta yang justru menangis. 


"Cinta?" Tanya Jason yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.


Lily mengangguk menjawab pertanyaan suaminya.


"Cinta...Cinta sayang kok nangis sih? Hei Cinta, ini Ayah," kata Jason dan Cinta kini terlihat sudah duduk di pangkuan Alan dengan wajah sembabnya.


"Ayah, Tatek nakal," adunya dengan wajah cemberut.


'Kakek tidak nakal," Alan gemas pada cucunya itu, hingga menciumi seluruh wajah Cinta.


"Dak mau," Cinta menjauhkan wajahnya tidak ingin dicium kakeknya. Bahkan gadis kecil itu  menutupi wajah Alan dengan tangan mungilnya.


Jason dan Lily yang melihat itu tidak bisa untuk tidak tertawa. Keduanya pun kini mengajak putrinya mengobrol dan setelah cukup, Lily pun mengakhirinya dan memutuskan untuk beristirahat.


*


*


Ronald hari ini kembali datang ke rumah William, dirinya berniat untuk menjemput kekasihnya dan akan mengantarkannya ke tempat kerja. Saat ini pria itu tengah berbincang pada Tiffa, dan dia menoleh, saat melihat seseorang menuruni tangga.


Ronald tersenyum saat melihat gadisnya itu. Dia bahkan langsung berdiri dan menghampiri Liora.


"Mi, kami pergi dulu," pamit Liora diikuti oleh Ronald.


"Iya, kalian hati-hati," jawab Tiffa, lalu keduanya kini keluar menuju mobil Ronald.


"Kenapa kamu pagi-pagi sekali sudah datang? Aku kan sudah bilang agak siangan aja."


"Aku merindukanmu, jadi aku putuskan untuk datang pagi-pagi, biar bisa lebih cepat melihat kamu juga."


"Pagi-pagi sudah gombal," ujar Liora yang kini masuk ke dalam mobil


Ronald tersenyum dan berlari kecil memutari mobil dan segera duduk di kursi kemudi.


"Serius baby, aku tidak gombal, sungguh aku merindukanmu dan ingin segera melihatmu," kata Ronald serius.


"Ya, ya, ya, ya sudah lebih baik jalan sekarang, jika tidak nanti kamu yang akan terlambat sampai ke kantor."


"Baiklah," jawab Ronald yang akan melajukan mobilnya tapi tidak jadi, justru kini menatap Liora yang membuat gadis itu mengernyit heran.


"Kenapa?" Tanya Liora.


"Hmm baby, bagaimana kalau kita mempercepat pernikahan kita, aku ingin segera hidup bersamamu," ujar Ronald tiba-tiba.

__ADS_1


"Ya tidak bisa dong, semuanya kan butuh persiapan yang matang, kamu ini aneh-aneh saja, lagian ini itu sudah termasuk cepat, dua bulan lagi loh, dan kamu minta dipercepat, memangnya mau kapan?"


"Minggu depan, kalau tidak besok juga boleh," jawab Ronald dengan entengnya. 


Liora hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Ronald.


"Sudah ayo jalan sekarang, kantor tempatmu bekerja tidak searah loh dengan tempatku bekerja, kamu tidak lupa itu kan?"


"Iya," jawab Ronald dengan menekuk wajahnya, pria itu kini akhirnya segera melajukan mobilnya ke butik tempat Liora bekerja.


Tak lama, kini mereka pun sampai. Liora mengulum senyum saat melihat wajah Ronald kini. Liora melepas seatbeltnya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ronald dan dengan cepat mencium pipi Ronald, lalu segera turun dari mobil dan berlari masuk.


Ronald yang baru tersadar, tiba-tiba tersenyum. Apalagi melihat Liora yang kini berlari menjauh.


"Menggemaskan, hmm rasanya jadi tidak ingin pergi" gumam Ronald, pria itu kemudian melajukan mobilnya dengan enggan.


Liora mengintip dari jendela, melihat apa Ronald sudah pergi atau belum, dan begitu Liora melihat mobil pria itu pergi, Liora berbalik dan terkejut saat ternyata di belakangnya ada Liana.


"Ibu mengejutkan saja," kata Liora memegang dadanya.


"Kenapa hanya melihatnya dari sini?"


"Tidak, hmm aku hanya ini Bu, membersihkan kaca ini kenapa kotor sekali ya," kata Liora mencolek kaca jendela, seolah-olah ada debu disana.


"Masa sih sayang sudah dibersihkan kok," ucap Liana meniru apa yang Liora lakukan.


"Ah itu masih kotor Bu," ucap Liora sambil terus berjalan mundur, setelah cukup jauh, Liora berlari lalu masuk ke ruangannya.


Liora duduk sambil terus memandangi cincin yang kini tersemat indah di jari manisnya, gadis itu tersenyum, rasanya masih belum percaya jika kini dirinya sudah bertunangan dan yang paling tidak menyangka lagi dirinya bertunangan dengan Ronald.


Klunting


Tiba-tiba terdengar pesan masuk, Liora langsung membukanya saat tahu siapa pengirimnya. Liora membaca sambil senyum-senyum sendiri.


"Bagaimana ini belum juga satu jam berpisah, aku sudah merindukanmu"


Dengan cepat Liora mengirim pesan balasan.


"Tapi aku tidak merindukanmu."


Baru juga terkirim, Ronald langsung membacanya, bahkan pria itu kini tampak sedang mengetik pesan balasan.


"Bohong, nanti hidungnya semakin panjang loh,"


"Aku tidak berbohong."


"Baiklah, tidak apa jika kamu tidak merindukanku, aku saja yang merindukanmu, itu sudah cukup bagiku. Sudah dulu ya, sebentar lagi aku akan rapat, nanti pulangnya aku jemput," balas Ronald.

__ADS_1


Liora menatap pesan terakhir Ronald cukup lama, dia kemudian mengetikan pesan balasan, "Aku juga merindukanmu, berharap hari ini cepat selesai hingga akhirnya kita bisa bertemu," dikirimnya pesan itu, Liora kemudian meletakkan ponselnya dan mulai bekerja.


__ADS_2