Please Love Me

Please Love Me
Bab 251


__ADS_3

Liora bingung karena dirinya yang seharusnya ke ruangannya justru diseret oleh maminya untuk mencoba beberapa gaun yang dipilihnya.


"Mami, El harus bekerja," kata Liora karena dia sudah terlambat, dirinya tidak enak pada yang lainnya, karena bagaimanapun Liora sama seperti mereka, seorang pekerja disana, ya walaupun bisa dikatakan jika butik itu milik ibu kakak iparnya.


"Kata siapa kamu bekerja hari ini, Mami sudah meminta izin pada Liana jika hari ini kamu ambil cuti, kamu lupa jika nanti malam akan ada keluarga calon suami kamu, jadi kamu harus tampil cantik," jawab Tiffa menempelkan gaun yang baru saja di pilihnya di tubuh Liora.


"Kamu, coba yang ini!" Pinta wanita itu kemudian.


Liora hanya mendesah pasrah.


"Mi, kenapa kini Mami malah terlihat semangat, katanya Mami akan dukung keputusan El, El mau bilang jika El sudah menemukan pria yang ingin El nikahi, jadi tolong, Mami bujuk Papi lagi ya," rengek Liora bergelayut manja di lengan maminya.


"Maafkan Mami sayang, Mami tidak bisa membujuk Papi lagi," jawab Tiffa dengan raut wajah sedihnya.


"Semua sudah terlambat, dan lagi, calon kamu akan datang hari ini, jadi tidak mungkin papi dan mami membuat kehadirannya disini sia-sia, apalagi mengingat jika mereka tidak tinggal jauh dari sini, apa kamu tega mengusirnya begitu saja tanpa memberikan hasil apa-apa?" Tambah wanita itu lagi.


"Tapi Mi…" 


"Sudah ya, cepat gantinya, kita tidak punya waktu untuk bersantai-santai lagi," kata Tiffa yang kini tampak antusias membuat Liora heran kenapa maminya bisa berubah pikiran seperti itu.


"Mi…"


Tiffa yang sudah tidak sabar mendorong Liora ke ruang ganti, walaupun gadis itu terus menolaknya.


Liora menghembuskan nafas berat, dia bingung, apa dia harus menghubungi Ronald, ya Liora memutuskan untuk menghubungi kekasihnya itu, Liora buru-buru merogoh tasnya, dia bahkan sampai menumpahkan seluruh isi tas nya mencari ponselnya. Tiba-tiba gadis itu menepuk jidat, saat mengingat jika ponselnya tadi dia geletakan begitu saja di atas meja.


"Bagaimana ini?" Gumam Liora berjalan mondar-mandir di ruang ganti. Takut jika nanti Ronald datang bersamaan dengan keluarga calon yang dimaksud orang tuanya.


Saat sedang sibuk berpikir, tiba-tiba dari luar terdengar sang mami memanggil.


"El sudah belum? Apa Mami perlu masuk?" 


"Tidak perlu Mi, sebentar lagi El akan keluar," jawab Liora cepat. Dan mau tidak mau, gadis itu pun segera mengganti pakaiannya.


Tak lama Liora keluar dari ruang ganti, dan di luar maminya tidak sendiri lagi, melainkan bersama dengan dua ibunya, Dea dan Liliana.


"Wah cantiknya anak ibu," puji Dea yang langsung mendekat ke arah Liora.


"Bu," Liora memeluk wanita yang sudah membesarkannya itu.


"Semoga bahagia ya sayang," ucapnya kemudian.


Liora hanya diam, entahlah dia bisa bahagia atau tidak, tapi dia juga berharap dalam hati semoga dirinya bahagia dengan pilihan orang tuanya, mungkin ini yang terbaik pikirnya kemudian.


*


*

__ADS_1


"Kenapa kamu belum bersiap? Katanya Tuan Stevano memintamu ke rumahnya?" Tanya Lily melihat suaminya kini duduk di sofa.


"Bagaimana keadaan Cinta sekarang?"


Bukannya menjawab, Jason justru balik bertanya.


"Sudah lebih baik, panasnya juga sudah turun," jawab Lily yang kini duduk di samping suaminya. 


Sejak semalam Cinta demam, membuat pasangan suami istri itu berjaga semalaman, apalagi melihat Cinta yang begitu rewel dan ingin terus digendong. Dan baru tadi Cinta akhirnya bisa tidur.


"Aku sudah mengabari Tuan Stevano jika aku tidak bisa kesana, aku yakin Tuan Stevano mengerti, lagian masih ada Jack juga, pasti Max sudah memerintah dia."


Jason meminta istrinya bergeser, kemudian berbaring dan tidur berbantalkan paha istrinya.


"Jika kamu mengantuk tidur saja."


Lily mengelus kepala suaminya yang kini memejamkan mata.


Jason tidak menjawab, Lily tahu jika suaminya kini sudah tertidur, dari suara nafasnya yang kini terdengar teratur. Mungkin suaminya kelelahan, membuat secepat itu bisa terlelap.


Pintu diketuk dan tak lama terbuka, Lily tersenyum melihat siapa yang masuk.


"Ibu," ucapnya tanpa bersuara.


Dea memberikan isyarat agar Lily tetap di tempatnya, biarkan wanita itu yang masuk yang ternyata membawakan makan siang.


"Terima kasih Bu," ucap Lily pelan.


Dea mengangguk dan berjalan ke arah dimana cucunya kini tertidur, dia mendekat kemudian memeriksa kondisi cucunya, setelah itu dia berpamitan keluar. 


Jason membuka matanya saat mencium aroma makanan yang menusuk ke dalam hidungnya.


"Lapar," ucapnya kemudian membuat Lily menunduk agar bisa melihat wajah suaminya itu.


"Mau makan?"


Jason mengangguk, kemudian bangun.


"Bau makan aja, langsung bangun," kata Lily dan Jason hanya tersenyum.


Lily kemudian menyiapkan makan untuk suaminya dan keduanya pun makan di dalam kamar.


Setelahnya Lily langsung membereskan bekas makan mereka.


"Sayang," panggil Jason.


"Hmmm," jawab Lily tanpa menoleh.

__ADS_1


"Hadap sini dong!" Pinta Jason menarik Lily hingga terjatuh di pangkuannya.


"Kenapa?" Tanya Lily mengernyitkan dahi menatap suaminya.


Tanpa aba-aba, Jason langsung mencium bibir Lily, lalu Lily pun membalas ciuman suaminya, hingga keduanya pun larut.


"Kangen banget sama kamu," ucap Jason begitu ciuman mereka terlepas.


"Kan tiap hari ketemu," jawab Lily heran dengan perkataan suaminya.


"Bukan seperti itu, belakangan ini kita sama-sama sibuk, hingga tidak sempat untuk berduaan," Jason kemudian menatap istrinya, tidak melanjutkan ucapannya.


"Terus maksud kamu?"


"Bagaimana jika kita liburan berdua?" kata Jason mengutarakan keinginannya.


"Lalu Cinta?"


"Aku sudah bilang sama Ayah sama Ibu, untuk menjaga Cinta, dan mereka juga tidak keberatan, lagian kita cuma pergi beberapa hari saja, mau ya sayang?" 


Lily diam berpikir, yang dikatakan suaminya memang benar, tapi dia juga tidak tega meninggalkan Cinta.


"Apa Cinta tidak kita ajak aja?"


"Ya ujung-ujungnya kita tidak quality time berdua dong," jawab Jason dengan muka memelas.


Melihat ekspresi wajah suaminya saat ini, Lily jadi tidak tega juga.


"Baiklah, tapi tunggu Cinta benar-benar sembuh dulu ya," jawab Lily akhirnya.


Wajah Jason langsung berbinar mendapat jawaban istrinya.


"Tentu saja, masa iya aku tega meninggalkan putri kita yang masih sakit. Makasih ya sayang, aku kira tadi kamu bakal menolaknya."


Jason langsung memeluk istrinya, melepas pelukan kemudian kembali mencium Lily. Tapi kegiatan mereka terhenti saat Cinta terbangun, menangis dan memanggil ibunya.


"Bu…ibu...ibu…"


Lily dan Jason melepas pagutan bibir mereka, kemudian sama-sama tertawa. Lily bangun kemudian menghampiri putrinya.


Melihat itu membuat Cinta tertawa-tawa, kedua tangan mungilnya menggapai-gapai udara, meminta gendong.


"Bu, Ibu!" 


Lily langsung mengangkat tubuh putrinya dan menciumi seluruh wajahnya gemas. Dirinya merasa lega, karena akhirnya keadaan putrinya sudah lebih baik.


"Ayah," ucap Cinta begitu melihat ayahnya ada di belakang ibunya.

__ADS_1


"Ayah," tangan Cinta terulur dan Jason yang mengerti maksud putrinya langsung mengambil alih Cinta dari gendongan istrinya, kemudian mereka pun membawa Cinta keluar dari kamar.


__ADS_2