
"Kenapa pagi-pagi sekali sudah melamun disini?"
Lily menoleh dan tersenyum kemudian menarik tangan suaminya agar duduk di sampingnya.
"Tidak apa-apa, hanya ingin melihat matahari terbit," jawab Lily kemudian menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Apa kamu masih sedih atas kepergian Ibu dan kakakmu?"
"Tidak, aku tidak sedih atas kepergian Ibu dan Kak Lia, kenapa aku harus sedih jika kepergian mereka untuk tujuan yang penting, aku hanya sedih karena aku tidak bisa menemani Ibu disaat Ibu sedang berjuang melawan penyakitnya," ucap Lily berusaha untuk tersenyum meski rasanya itu sulit.
Jason langsung menoleh dan menatap istrinya yang juga ikut menatapnya.
"Aku sudah tahu semuanya, waktu itu tanpa sengaja aku dengar Kak Lia membicarakan hal ini pada Ibu, ditambah saat Ibu masuk rumah sakit, saat itu Kak Lia tidak ada di tempat dan hanya aku yang menunggu Ibu, dokter menjelaskan padaku, dan akhirnya aku tahu, tapi jika memang Ibu dan Kak Lia menginginkan aku untuk tidak tahu karena tidak ingin membuatku cemas, maka aku akan berpura-pura tidak tahu dan mendukung keputusan mereka, aku ingin Ibu dan Kak Lia tidak perlu mengkhawatirkan aku disini, tapi sayang jujur aku sangat takut, aku takut jika aku harus kehilangan Ibu di saat aku baru bisa bersamanya selayaknya Ibu dan putri kandung, aku takut ibu tidak bisa…" Lily kini sudah terisak di dalam pelukan suaminya, dia tidak siap jika harus secepat itu kehilangan Ibu yang selama ini membesarkannya.
"Sayang, kita harus berpikir positif, kita harus yakin jika Ibu kamu akan sembuh dan kembali dengan baik-baik saja."
"Iya aku tahu, aku selalu berpikir seperti itu, tapi sayang segala kemungkinan bisa saja terjadi, bagaimana jika yang terjadi justru Ibu…"
"Sstt! Aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Ibu kamu di sana, aku akan mencarikan dokter hebat yang bisa menyembuhkan Ibu kamu, kita jangan menyerah dan menduga-duga pada apa yang belum terjadi, tapi kita harus berusaha semaksimal mungkin agar hasilnya seperti apa yang kita harapkan. Lihatlah matahari itu! Kita harus sepertinya tidak pernah lelah untuk menjadi cahaya yang menyinari alam semesta, dan kamu juga jangan pernah lelah untuk memberi semangat pada Ibu kamu, karena semangat dari putrinya lah yang seperti cahaya baginya. Disaat malam, bulan yang menggantikan tugas matahari, tapi bukankah sebenarnya sinar bulan tetaplah berasal dari pantulan sinar matahari hingga membuat bulan tampak bersinar? Dan kamu juga harus sepertinya, walaupun kamu tidak bisa menemani Ibu di sana, doa dan semangat dari kamu lah yang membuat Ibu terus berusaha berjuang melawan penyakitnya demi putri-putrinya. Jadi sayang, kamu jangan bersedih lagi, dan jangan memikirkan hal negatif yang belum tentu terjadi, juga jangan merasa bersalah karena kamu tidak bisa berada di sisi ibumu ketika dia dalam kesulitan seperti ini, karena jika Ibu dan Kakakmu tahu, mereka akan ikut sedih, mereka juga berat memutuskan untuk tidak memberitahumu, tapi kita juga sama-sama tahu, jika mereka melakukan itu demi untuk kebaikanmu dan anak kita, sekarang apa kamu mengerti?"
Lily mengangguk di pelukan suaminya, "Terima kasih sayang, terima kasih karena sudah membantu Ibu dan Kak Lia."
Jason mengelus lembut rambut istrinya, "Tidak perlu berterima kasih, bagaimanapun Ibu dan kakakmu juga adalah keluargaku, dan aku akan melakukan yang terbaik untuk mereka. Karena mereka adalah salah satu diantara banyaknya hal yang menjadi sumber kebahagiaan kamu," Jason mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali.
"Ayo masuk! Aku harus bersiap-siap untuk berangkat ke kantor," ucap Jason yang berdiri lebih dulu kemudian membantu istrinya untuk ikut bangun.
"Kenapa tidak libur lagi saja, aku malas di rumah sendiri, selain itu, pasti juga akan bosan, kamu tahu Kak Al sudah kembali ke Apartemennya dan Ayah juga sedang pergi ke luar kota," ucap Lily bergelayut manja pada lengan suaminya tidak lupa wajahnya yang terlihat cemberut.
__ADS_1
"Tidak bisa sayang, hari ini meeting penting, dan Tuan Stevano tidak ada karena beliau ada rapat dengan dewan direksi di perusahaan Tuan William. Atau begini saja, bagaimana kalau kamu ikut saja?"
"Tidak ah, nanti disana ujung-ujungnya aku hanya sendiri sementara kamu sibuk dengan pekerjaan."
"Kamu bisa nanti bersama dengan temanmu itu, siapa namanya, aku lupa," ucap Jason tampak berpikir, mengingat-ingat siapa nama teman yang pernah bekerja bersama istrinya.
"Mira maksud kamu?"
"Nah iya itu dia, bagaimana?"
Lily tampak berpikir kemudian mengangguk, "Baiklah setidaknya aku ada teman," putusnya kemudian.
Lily dan Jason pun berjalan menuju kamarnya bersama, untuk bersiap-siap.
*
*
"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku harus ikut campur urusannya? Setidaknya biarkan saja dia, kenapa aku harus peduli padanya?"
Setelah mendapat ciuman dari Ronald kemarin, Liora terdiam, benar-benar terdiam bahkan sampai tidak menyadari jika Ronald menghentikan mobilnya di sebuah bar.
Ronald langsung turun, tidak peduli dengan keberadaan Liora, mungkin lebih tepatnya Ronald melupakan keberadaan gadis itu, karena Liora sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.
Mendengar pintu mobil yang ditutup dengan keras Liora langsung tersadar, dan buru-buru turun dari mobil sebelum Ronald menguncinya.
Dan berhasil, Liora turun dan kemudian mengikuti Ronald yang masuk ke dalam, musik yang begitu memekikkan membuat Liora harus menutupi telinganya, susah payah dia melewati orang-orang yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya, akhirnya Liora bisa melihat Ronald sedang duduk di depan bartender. Dan meneguk minuman yang sudah disajikan untuknya. Tiba-tiba seorang wanita mendekatinya, dan Liora melihat Ronald mengusir wanita itu, tapi tampaknya wanita itu tidak menyerah dan tetap berusaha mendekati pria itu.
__ADS_1
Liora kemudian mendekat dan mendorong wanita itu, "Pergi! Apa kau tidak melihat dia datang bersamaku," ucapnya kemudian duduk di samping Ronald.
"Siapa kau memangnya? Bukankah kau sama juga sepertiku?" Ucap wanita itu kesal, sambil menunjuk-nunjuk Liora.
"Aku...aku kekasihnya, tidak melainkan aku calon istrinya, jadi kamu sebaiknya menyingkir!"
"Iya benar, gadis cantik ini adalah calon istriku, jadi dengarkan ucapannya dan pergilah!" Ronald menarik pinggang Liora agar semakin dekat dengannya, bahkan Ronald juga berkali-kali menciumi pipi Liora.
Wanita itu tampak kesal menghentak-hentakkan kakinya lalu berlalu.
"Ayo kita pergi dari sini!" Liora mendorong wajah Ronald yang sangat dekat dengan wajahnya, bangkit dan menyingkirkan tangan Ronald dari pinggangnya. Kemudian menarik tangan pria itu.
"Tidak, aku tidak mau pergi, aku mau disini! Ya aku mau tetap disini!" Ucap Ronald yang mulai kehilangan kesadaran diri.
"Kamu ingat tadi bilang apa pada wanita itu?" Teriak Liora agar Ronald bisa mendengar ucapannya.
Ronald pun mengangguk.
"Sekarang lihat aku!" Liora meraih wajah Ronald agar melihatnya dan Ronald pun hanya menurut.
"Kamu tadi bilang ke wanita itu, aku ini siapamu?" Tanya Liora menatap wajah Ronald.
Ronald terdiam dan mengamati wajah gadis di depannya, kemudian tangan kanannya terangkat dan membingkai wajah Liora, "Kamu calon istriku, itu yang kamu bilang, jadi sekarang dengarkan apa yang aku katakan, ayo kita kembali"
"Tapi…"
"Tidak ada tapi-tapian," potong Liora kemudian tanpa mendapat persetujuan pria itu, segera menarik tangan Ronald untuk keluar dari tempat itu dan Ronald pun hanya bisa menurut.
__ADS_1
"Kenapa kau sampai mengatakan calon istri segala sih Liora, kamu tahu jika seperti ini kamu hanya mempermalukan diri kamu sendiri," ucap Liora menghentak-hentakan kedua kakinya di atas kasur.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Suara Ronald terdengar hingga membuat Liora terkejut dan rasanya dia ingin menenggelamkan wajahnya sekarang juga.