Please Love Me

Please Love Me
Bab 252


__ADS_3

Lily dan Jason yang menggendong Cinta, kini menuruni anak tangga, membawa putrinya untuk mencari udara segar, di sore hari ini.


Mereka menuju taman, dan Lily melihat ayahnya tengah membaca koran, Lily menatap suaminya mengajaknya menghampiri Alan.


"Baca berita sekarang bisa di ponsel, tapi ayah masih saja baca koran," komentar Lily yang kemudian duduk di samping ayahnya.


Alan tersenyum, dia kemudian melipat koran yang tadi dibacanya.


"Sudah kebiasaan saja," jawabnya kemudian pandangan pria paruh baya itu tertuju pada cucunya yang kini ada di gendongan Jason.


"Cucu Kakek sudah sembuh?" Alan kemudian berdiri dan memegang kening Cinta, memastikan jika cucunya sudah benar-benar membaik.


"Iya Yah, sudah lebih baik, ini aja sudah ngoceh lagi," jawab Lily menatap ketiga orang yang dia sayangi.


Alan mengelus rambut Cinta, "Sini sama kakek," ujarnya kemudian mengulurkan kedua tangan.


Cinta menggeleng dan justru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ayahnya.


"Kok Cinta tidak mau sama Kakek?" Ucap Alan yang lalu berpura-pura merajuk.


Cinta perlahan mengintip wajah kakeknya sekarang. 


"Sudahlah Ayah, Cinta sedang ingin bermanja dengan ayahnya, jadi biarkan saja, tahu sendiri jika sudah sama ayahnya pasti yang lain dilupakan," sahut Lily.


Alan kemudian duduk kembali, menatap putrinya dan Jason bergantian, "Oh ya, kapan rencana kalian akan pergi liburan berdua?" Tanyanya saat mengingat apa yang dikatakan Jason semalam padanya dan Dea.


Lily langsung menatap suaminya, memberi isyarat pada Jason, agar Jason yang menjawabnya.


"Suamimu belum mengatakannya padamu?" Tanya Alan karena putrinya hanya diam dan menatap Jason. Dia mengira jika Jason belum mengatakan tentang niatnya itu.


"Kita lihat nanti Yah, lagian jika Cinta baru saja sembuh dan kami tidak tega meninggalkannya jika kondisi badannya belum membaik," jawab Jason dan Alan mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Baiklah," jawab William, setuju dengan keputusan mereka.


Alan tersenyum saat Cinta kini mengulurkan tangan ingin digendongnya.


"Cinta mau sama Kakek ya," ucap pria itu begitu senang saat cucunya ingin bersama dengannya lebih lama.


*


*


Liora mencari-cari ponselnya, tapi dia tidak menemukannya, padahal dia mengingat dengan jelas, jika meletakkannya di atas meja nakas sebelum dirinya pergi. Gadis itu menoleh saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


Tiffa masuk dengan penampilannya yang sudah rapi.


"Loh El kenapa belum bersiap, sebentar lagi keluarga calon suami kamu akan datang loh sayang," ucap Tiffa yang kini berjalan menghampiri putrinya.


Liora menekuk wajahnya kemudian duduk di atas ranjang.


"Mi, tidak bisakah hal ini dibatalkan saja, aku tidak mengenal orangnya, dan lagi, apa Mami yakin, El bakalan bahagia menikah dengan pria yang sama sekali tidak El kenal? Atau kalau tidak bisakah Mami dan Papi setidaknya memberi El waktu untuk mengenalnya terlebih dahulu," ucap maminya dengan wajah memelas, berharap maminya menyetujui dengan apa yang tadi dikatakannya.


"Maafkan Mami ya sayang, ini semua Papi yang putuskan, kamu tahu bagaimana Papi kan? Apa yang Papi putuskan tidak akan ada seorangpun yang bisa membantahnya, contohnya saja dulu kakakmu, dia bahkan sampai kabur agar lari dari perjodohan."


"Apa El juga harus kabur seperti Kak Max dulu?" Tanya El menatap maminya putus asa.


"Iya dan kamu akan menyesalinya nanti, seperti kakakmu saat itu," sahut Stevano yang tiba-tiba saja sudah ada di depan pintu, mendengarkan percakapan mami dan adiknya membuat kedua orang yang sedang berbicara itu langsung menoleh dan menatapnya.


"Tapi, bagaimana jika aku menyesalnya setelah menerima lamaran ini?" Kini giliran Liora bertanya pada kakaknya itu.


"Kamu tidak akan menyesal, Mami yakin itu, ya sudah, ayo cepat bersiap, atau kamu ingin menemui keluarga calon suamimu dengan penampilan seperti ini?"


"Baiklah aku akan bersiap sekarang, Mami sama Kak Vano tolong keluar dulu," kata Liora meminta keduanya keluar, dirinya benar-benar tidak punya cara lagi untuk lari dari keadaan ini.

__ADS_1


"Ingat Liora kamu tidak bisa kabur, karena di luar kamarmu, sudah kakak perintahkan beberapa penjaga untuk mengawasimu," kata Vano.


Langkah pria itu berhenti, dia kemudian berbalik dan memberikan ponsel Liora, sebelum akhirnya pria itu meninggalkan kamar adiknya.


"Iya Kak, kau tenang saja, aku tidak mungkin melarikan diri dari kamarku yang berada di lantai dua," ucap Liora melihat punggung kakaknya yang kini menjauh.


Stevano tersenyum menutup pintu kamar Liora. Liora segera mengisi daya mengaktifkan ponselnya, dia kemudian tersenyum.


"Kakak yang pengertian," gumamnya, karena ternyata baterai ponselnya kini sudah penuh. 


Liora dengan segera menghubungi nomor Ronald, tapi dirinya harus kecewa karena ternyata nomor Ronald tidak aktif.


Liora menghela nafas, kemudian dirinya pun memutuskan untuk bersiap, dirinya tidak punya jalan lain. Dia hanya berharap Ronald akan datang dan meyakinkan keluarganya, hingga dia tidak harus melakukan perjodohan itu. Tapi bagaimana jika Ronald tidak datang? Bahkan nomor pria itu tidak bisa dihubungi. Liora terdiam sibuk dengan pikirannya, hingga tak lama sang ibu datang mendekat dan memegang kedua bahunya.


"Kamu cantik banget sayang," kata Tiffa dan Liora melihat senyum maminya yang lebar dari pantulan cermin.


Liora hanya tersenyum kecut menanggapi, bagaimana tidak, hari ini dia akan bertemu pria yang akan menjadi calon suaminya, tapi  dia tidak mengenalnya, ingin rasanya Liora menangis dan tertawa bersamaan. Menertawakan dirinya sendiri.


"Sudah ayo, kita turun!" Ajak Tiffa, dan Liora pun hanya bisa pasrah.


Keduanya kini melangkah menuruni anak tangga. Bisa Liora dengar sayup-sayup percakapan dua orang, satunya adalah suara papinya, Liora sangat mengenali suara itu, tapi dahi Liora mengernyit saat mendengar suara  orang satunya, dia seperti mendengarnya tapi dia lupa, dia pernah mendengar suara itu dimana. Liora meremas kedua tangannya saat langkahnya semakin dekat dengan ruang tamu. 


"Ayo El kemarilah," perkataan William membuat Liora yang sedari menunduk kini mengangkat kepalanya. Dan dirinya terkejut saat melihat siapa yang kini tengah menatap dirinya.


"Paman? Kenapa Paman ada disini?" Tanya Liora saat melihat pria yang dia kenal ada disana. Kemudian arah pandang Liora tertuju pada pria satunya yang menurut Liora terlihat begitu tampan.


"Hai baby," sapa pria itu tersenyum ke arahnya.


"Kenapa diam saja? Ayo sapa calon suami dan ayah mertua kamu," ucap Tiffa menyenggol lengan putrinya.


"Calon suami? Maksud ibu?" Tanya gadis itu menatap maminya yang kini masih setia di sampingnya.

__ADS_1


"Itu, calon suami kamu," Tiffa menunjuk pria itu dengan dagunya.


Liora terdiam, dia sudah seperti orang linglung saat ini, dirinya begitu bingung. Gadis itu memandangi anggota keluarganya satu persatu, arti tatapannya seolah meminta penjelasan dari mereka semua.


__ADS_2