Please Love Me

Please Love Me
Bab 188


__ADS_3

"Akhirnya selesai," Liora meregangkan kedua tangannya.


"Kenapa cemberut gitu?" Tanya Liora begitu melihat wajah Lily yang ditekuk.


"Tadi bilangnya cuma lima menit lagi, ini sudah lebih dari sepuluh menit," keluh Lily yang menunggu Liora terlalu lama dari waktu yang ditentukan tadi.


"Maaf, maaf lagian kamu jangan salahkan aku, salahkan suamimu yang memberiku tambahan pekerjaan."


"Kenapa Kak Liora jadi menyalahkan suamiku? Sudahlah aku mau kembali ke ruangan suamiku saja," Lily bangkit dari duduknya dan kembali masuk ke ruangan suaminya.


"Kenapa dia? Apa aku salah bicara? Bukankah yang aku katakan tadi memang benar?" Gumam Liora kemudian mengedikkan bahunya menyelesaikan pekerjaan yang lain secepatnya agar dia bisa segera kembali untuk bertemu Ronald.


"Kenapa aku jadi memikirkan pria buaya itu, tidak, tidak, aku tidak memikirkannya, aku hanya teringat saja dengan janjiku, iya, pasti seperti itu.


Sementara itu di dalam sebuah ruangan, Jason merasa heran melihat wajah istrinya yang cemberut, padahal tadi dia melihat istrinya dan Liora masih baik-baik saja.


Lily masuk dan langsung duduk di sofa, tidak memperdulikan suaminya yang kini tengah menatapnya.


"Sayang, kenapa bukankah katanya tadi ngobrol sama Liora tapi kenapa kembali-kembali mukanya ditekuk seperti itu," Jason berjalan menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya.


"Disini aku menunggumu, disana aku juga menunggu Kak Liora menyelesaikan pekerjaannya. Kamu tahu tidak, Kak Liora tadi bilang aku disuruh menunggunya, tapi hampir lima belas aku menunggunya, dia baru selesai, kan sama saja aku bosan jadinya, ditambah lagi dia menyalahkanmu."


Jason menautkan kedua alisnya, "Menyalahkanku bagaimana?"


"Dia bilang salahkan saja suamimu yang memberikan aku tambahan pekerjaan, ya aku kesal karena dia berbicara begitu," ucap Lily dan Jason pun tersenyum, menepuk-nepuk pelan puncak kepala istrinya.


"Istri yang baik, jadi dia kesal karena Liora menyalahkanku," ucap Jason dalam hati.


Lily kemudian menatap suaminya, "Ini salahmu juga kenapa memberi Kak Liora banyak pekerjaan kan jadinya aku tidak punya teman mengobrol," kini Lily menumpahkan kekesalannya pada Jason.


"Sepertinya aku harus menarik kata-kataku tadi," gumam Jason begitu mendengar istrinya kini berganti menyalahkannya.


"Iya, iya maaf, aku memang tadi sengaja mempercepat pekerjaan agar kita bisa segera pulang, jadi jangan marah lagi ya," jawab Jason membujuk sang istri.


"Jadi kita bisa pulang? Hmm tapi bagaimana kalau kita tidak langsung pulang, kita jalan-jalan dulu," ucap Lily yang kini sudah kembali mengembangkan senyumnya.

__ADS_1


"Baiklah, apapun yang kamu mau," Jason bangun dan membantu istrinya berdiri, baru beberapa langkah, ponsel Jason berdering, dia mendapatkan kabar bahwa Nyonya Mudanya melahirkan dan dia mendapatkan tugas untuk menjemput Nyonya Besarnya ke rumah sakit.


"Kenapa?" Tanya Lily melihat perubahan wajah sang suami.


"Maaf ya sayang, aku sepertinya harus pergi, aku mendapat kabar jika Nyonya Olive baru saja melahirkan, jadi aku harus menjemput Nyonya Tiffa dan mengantarnya ke rumah sakit, Jason menatap istrinya merasa bersalah karena rencana mereka untuk jalan-jalan lagi tidak bisa terwujud.


"Hmm atau bagaimana kalau kamu ikut saja?" Ucap Jason setelah menimbang-nimbang.


"Hmmm baiklah, ayo!" Jawab Lily dan Jason pun menggandeng istrinya berjalan keluar.


"Liora, ayo ikut!" Kata Jason tiba-tiba mengejutkan Liora.


"Mau kemana bukankah hari ini tidak ada pertemuan penting?" Tanya Liora menatap Jason dan Lily.


"Ke rumah sakit."


Liora langsung bangun dan berlari menghampiri pasangan suami istri itu.


"Siapa yang sakit, kamu sakit?" Liora memeriksa semua bagian tubuh Lily karena dia mengira Lily lah yang sakit.


"Tidak kak, hmm itu Jasmine mau melahirkan," jawab Lily menghentikan aksi Liora tersebut.


"Tunggu tadi siapa yang akan melahirkan? Jasmine? Maksudmu Kak Olive?" Tanya Liora yang begitu terkejut.


"Iya Jasmine istri Tuan Stevano, memangnya siapa lagi, bahkan sampai mengajak Kak Liora?" 


"Ayo sekarang kita ke rumah sakit!" Ucap Liora kemudian berjalan mendahului Jason dan Lily.


Lily dan Jason saling pandang, kemudian Jason mengangguk, "Ayo!" Ajaknya kembali menggandeng sang istri.


"Kenapa?" Tanya Jason melihat Liora kembali lagi.


"Aku lupa kan aku tidak membawa mobil," ujar Liora. "Aku ikut kalian ya," tambahnya lagi.


"Ya sudah ayo! Kalian tunggu di lobi, biar aku yang mengambil mobilnya, jaga istriku!" Pesan Jason pada Liora sebelum meninggalkan keduanya.

__ADS_1


Liora pun mengangguk dan berjalan bersama Lily.


Begitu melihat mobil Jason, kedua wanita itu pun masuk ke dalam mobil pria itu.


"Sayang, sepertinya aku harus kembali," kata Lily setelah melihat ponselnya.


"Kenapa?" 


"Ayah mengirim pesan katanya aku diminta pulang dulu nanti Ayah menyusul, Kak Al akan pergi," kata Lily memberitahu suaminya alasan kenapa dirinya tidak jadi ikut ke rumah sakit.


"Baiklah, kita pulang sekarang!" Putus Jason kemudian.


"Tapi…" kata Lily dan Liora bersamaan.


"Terus bagaimana kamu tidak jadi ke rumah sakit, bukankah Tuan Stevano menyuruhmu…"


Jason segera memotong ucapan sang istri, "Liora nanti kamu bawa saja mobilku setelah kita sampai, dan jangan lupa kamu jemput Nyonya Besar, karena Tuan Besar sekarang sudah berada di rumah sakit."


"Baiklah aku mengerti."


Setelah mendapat persetujuan dari Liora, Jason pun dengan segera melajukan mobilnya ke rumah mertuanya yang beruntungnya masih searah dengan kediaman William dan tentunya lebih dekat dari kantor.


Begitu sampai di depan rumah Alan, Jason dan Lily segera turun, sedangkan Liora langsung pindah ke kursi kemudi dan segera meluncur untuk menjemput sang mami.


"Kakak mau kemana?" Tanya Lily begitu sampai di depan pintu justru berpapasan dengan Al yang tengah menyeret kopernya.


"Kamu sudah pulang? Ayah pasti sudah memberitahumu, tunggu sebentar!" Al pun memanggil supir untuk memasukkan kopernya ke dalam bagasi.


"Kak Al mau kemana? Kemarin Kak Lia pergi sekarang Kak Al juga mau pergi, kalian semua tega ninggalin aku," kata Lily yang sudah meneteskan air matanya.


"Ale bukan begitu, tapi Kakak memang harus pergi, cuma enam bulan, setelah itu Kakak akan segera kembali, lagian masih ada Ayah juga suami kamu, jadi kamu tidak akan kesepian oke," ucap Al menenangkan adiknya.


Tanpa banyak kata Lily memeluk kakak laki-laki satu-satunya itu. "Terus bagaimana jika Kak Lia kembali, sedangkan Kak Al pergi? Apalagi tempat kalian berbeda dan semakin jauh, apa Kakak benar-benar sudah menyerah atas Kak Lia? Bukannya Kak Al bilang akan menunggu Kak Lia kembali, terus kenapa Kak Al pergi?"


"Ale," Alan buru-buru menghampiri anak-anaknya.

__ADS_1


"Ayah, Ayah larang Kak Al pergi Ayah, jangan biarkan Kak Al meninggalkan kita," Lily menangis menatap sang Ayah sambil menunjuk-nunjuk kakaknya.


"Ale, sudah sayang, Kak Al hanya pergi sebentar, Kak Al akan segera kembali," Alan langsung memeluk putrinya yang kini menangis sesenggukkan.


__ADS_2