
"Ronald Alvian Orlando," kata Ronald menyambut uluran tangan Liora dan kembali memperkenalkan dirinya dengan nama lengkapnya.
"Tidak tanya," ketus Liora yang langsung menarik tangannya kembali.
"Aku anggap kamu sudah memaafkanku dengan jabatan tangan tadi," tambah Liora.
"Ayo Bu, kita pergi dari sini!" Liora kemudian menarik tangan Ibunya agar segera pergi dari tempat tadi.
"Makasih ya Nak Ronald, dan maafkan sikap Putri Ibu tadi," kata Dea sambil berlalu.
"Nanti mobil Ibu akan ada yang mengambil," kata Liora begitu sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Ya, terima kasih sayang, dan maafkan Ibu karena jadi merepotkanmu," kata Dea menatap putrinya yang kini duduk di kursi kemudi.
Liora langsung menoleh dan menatap Ibunya, tidak suka mendengar apa yang wanita di sampingnya katakan.
"Ibu, jangan pernah bilang ucapan seperti tadi lagi, aku tidak suka, tidak ada kata terima kasih dan merepotkan antara anak dan Ibu, Ibu sama sekali tidak merepotkanku, justru aku akan sangat merasa bersalah jika aku tidak datang dan membiarkan Ibu bertemu orang seperti tadi," kata Liora kemudian mulai menjalankan mobilnya.
"Sayang, Nak Ronald adalah pria yang baik, kamu tidak boleh berbicara seolah-olah dia pria jahat," Dea membenarkan perkataan Putrinya yang salah menilai Ronald tadi.
"Ibu, kita baru mengenalnya, jadi Ibu jangan langsung mengecap dia pria baik-baik, apa yang kita lihat belum tentu itu benar, kecuali jika kita benar-benar mengenalnya," ujar Liora yang masih tidak terima jika Ibunya menilai Ronald pria yang baik.
"Ibu, jika suatu saat Ibu bertemu orang seperti itu, jangan langsung percaya dan Ibu harus lebih hati-hati lagi," kata Liora mengingatkan Ibunya.
Dea tersenyum, "Baiklah sayang, Ibu akan selalu ingat nasihat putri cantik Ibu ini," kata Dea mengalah jika tidak nanti perkataan Putrinya akan semakin panjang.
Liora kemudian fokus pada kemudinya, melajukan mobilnya.
***
"Gadis yang menarik," gumam Ronald saat melihat kepergian anak dan Ibu itu.
"Akh kenapa aku lupa menanyakan namanya," ucap Ronald yang lupa untuk bertanya siapa nama gadis tadi.
"Jika kita bertemu lagi, aku anggap kita berjodoh," Ronald pun langsung masuk ke mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu, berniat untuk pergi ke Bandara segera, karena jika tidak dirinya pasti akan terlambat.
.
__ADS_1
.
.
"Sayang sudah siap apa belum?" Tanya Jason membuka pintu kamar dirinya dan sang istri.
"Iya sebentar lagi," jawab Lily yang kemudian keluar dari kamarnya.
"Kenapa lama sekali?" Kesal Jason yang tidak sebentar menunggu istrinya.
"Siapa yang membuat lama," ucap Lily dengan bibir yang mengerucut, karena ulah suaminya tadi yang membuatnya lama dengan melakukan kegiatan percintaan mereka.
Jason langsung mengecup bibir Lily berharap rasa kesal istrinya bisa mereda.
Benar saja, senyum langsung terbit di bibirnya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak tahan jika terus berdekatan denganmu," bisik Jason yang kini memeluk istrinya.
"Gombal," kata Lily masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Tidak apa-apa gombal dengan istri sendiri, seperti ini saja sudah membuatku ingin lagi," kata Jason yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya dari sang istri.
Jason terkekeh geli, melihat istrinya yang pergi meninggalkannya dengan setengah berlari.
"Bagaimana aku bisa tahan melihat tingkahmu yang sangat menggemaskan," gumam Jason segera menyusul istrinya.
"Sayang tunggu! Sepertinya kamu sudah tidak sabar," goda Jason hingga Lily menghentikan langkah dan langsung menoleh padanya.
Lily menekuk wajahnya, kesal mendengar perkataan suaminya yang sekarang lebih suka menggodanya, rasanya Lily merindukan sikap dingin Suaminya sebelum menikah dengannya, setiap bertemu mereka akan selalu memperdebatkan sesuatu yang tidak penting. Mengingat itu Lily tanpa sadar tersenyum.
Jason melihat istrinya tersenyum seperti itu jadi curiga, Istrinya pasti membayangkan sesuatu yang aneh.
"Sayang! Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Jason membuyarkan lamunan istrinya dan sekarang menatap istrinya dengan tatapan menyelidik.
"Tidak ada, ayo berangkat sekarang!" Lily kemudian merangkul tangan Suaminya mengajaknya untuk segera pergi.
"Loh kalian mau kemana?" Tanya Alan yang juga akan keluar.
__ADS_1
"Kita mau pergi dulu Yah," jawab Lily.
"Aku akan mengajak Lily jalan-jalan Yah, hanya sebentar," Jason menjelaskan pada Ayah mertuanya.
"Oh ya sudah, kalian hati-hati," Alan pun akhirnya mengijinkan anak dan menantunya.
"Oh ya Yah, Kak Al dimana?" Tanya Lily yang tidak melihat keberadaan Kakaknya.
"Kak Al pergi, tadi ada yang menghubunginya setelah itu dia langsung pamit sama Ayah," jawab Alan sambil melangkah bebarengan dengan anak dan menantunya.
"Oh, ya sudah Yah, kalau begitu saya kita pergi dulu," pamit Jason dan mencium punggung tangan Ayah mertuanya diikuti Lily.
Kemudian mereka berdua bergandengan tangan keluar rumah menuju mobil Jason.
"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Lily pada suaminya yang sudah mulai melajukan mobilnya.
"Nanti kamu akan tahu," ucap Jason yang malas menjelaskan kemana mereka akan pergi.
"Ya sudah jika tidak mau bilang," Lily kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan jari-jari mungilnya yang lentik kini sibuk berselancar di benda persegi panjang itu.
"Menurut kamu bagaimana?" Tanya Jason tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya.
"Bagaimana apanya?" Tanya Lily menghentikan kegiatannya tadi dan menoleh lalu menatap suaminya yang tampak fokus pada kemudi.
Jason yang merasa diperhatikan melirik sekilas ke arah samping nya dimana dapat dia lihat kini sang istri sedang memandangnya.
"Bagaimana menurutmu tentang tiket tadi?" Jason menatap sekilas istrinya dan kembali fokus.
"Tiket hadiah dari Kak Al?" Tanya Lily memastikan.
"Iya, apa kamu sungguh ingin pergi ke tempat itu?"
"Sebenarnya memang aku ingin sangat pergi kesana, apalagi tempat itu adalah tempat yang sangat ingin aku datangi," jawab Lily tersenyum dengan pandangan lurus membayangkan dirinya benar-benar pergi ke tempat itu.
"Kamu tahu kenapa aku menyukai tempat itu?" Lily bertanya pada suaminya.
"Karena aku mendengar cerita dari Jasmine bahwa tempat itu, tempat yang indah, apalagi suasana di sekitarnya. Jasmine juga memberikan beberapa foto yang menunjukkan bahwa tempat itu benar-benar sangat indah. Dan sejak saat itu aku bilang ke Jasmine dan Kak Al, jika aku memutuskan menjadikan tempat itu, tempat pertama yang ingin aku kunjungi. Kamu pasti heran kan, dengan alasan aku menyukai tempat itu, tapi ya seperti itulah, kadang kita tidak perlu alasan untuk menyukai sesuatu, karena dari hal yang sederhana saja, bisa membuat kita menyukai sesuatu itu," kata Lily bercerita kepada Suaminya.
__ADS_1
"Baiklah karena kamu menyukainya, lusa kita akan kesitu, kita tidak boleh menyia-nyiakan sesuatu baik yang datang ke hidup kita," putus Jason yang ingin selalu membuat istrinya bahagia.