
"Sudah selesai?" Jason bertanya kepada Lily setelah memastikan semua makanan yang terhidang di atas meja sudah habis tak tersisa.
"Hmm sudah," jawab Lily kemudian membersihkan mulutnya dengan tisu. Lily berpikir sejenak, "Kamu tidak menyuruhku untuk membayar setengahnya kan?" Tanya Lily was-was takut jika pria di hadapannya ini akan membagi dua untuk membayar makanan yang tadi mereka makan.
"Kau pikir aku ini lelaki yang pelit, sampai-sampai harus menyuruhmu untuk membayar setengahnya?" Kesal Jason akan pertanyaan yang tadi Lily lontarkan begitu saja. Dimana harga diri Jason jika dia memang melakukan itu.
"Ya kan mungkin saja, kau punya dendam padaku, lalu kau membuatku harus membayar makanan ini," kata Lily acuh.
Jason mengambil sumpit, lalu memukulkan sumpit itu di kepala Lily dengan sangat pelan dan Jason pastikan bahwa itu tidak akan sakit sama sekali. "Berhenti mendramatisir keadaan gadis aneh, aku rasa kepalamu ini hanya berisi drama saja, makanya tidak ada yang beres pada apa yang kau pikirkan. Sudahlah ayo, aku harus pergi, dan biar ku antar kau sampai ke rumahmu terlebih dulu," kata Jason yang kemudian bangun dari duduknya.
Lily menahan pergelangan tangan Jason, "Hmm kau tidak perlu mengantarku aku bisa sendiri, kalau kau memang ada keperluan, kau pergi saja, aku tidak apa-apa," ucap Lily menolak Jason dengan halus.
"Baiklah aku pergi dulu kalau begitu," pamit Jason akhirnya, tapi lagi-lagi, Lily menahan tangan Jason. "Ada apa lagi? Apa kau takut ditinggal sendirian?" Tanya Jason dengan senyum mengejek.
"Mmm bukan seperti itu, hanya saja aku mau mengingatkanmu, jangan lupa untuk membayar makanannya, karena aku tidak mau ditahan dan harus mencuci piring dulu, hanya karena tidak bisa membayar makanan yang tadi aku makan," jawab Lily tanpa dosa.
Jason mendengus kesal, karena Lily menahannya hanya karena takut jika dirinya akan kabur begitu saja dan membiarkan gadis itu membayar makanannya, bagaimana mungkin Lily berpikir seperti itu, "Dia pikir aku seorang pria yang kejam, membiarkan seorang gadis membayar makanan yang sudah kumakan," gerutu Jason.
Dan Lily menahan tawa mendengar gerutuan Jason, apalagi melihat ekspresi wajahnya yang terlihat kesal itu.
"Kalau mau tertawa ya tertawa saja, tidak usa ditahan," ketus Jason.
Jason melihat jam di pergelangan tangannya, "Sepertinya aku harus pergi sekarang," kata Jason yang kemudian berlalu begitu saja setelah mengacak-acak rambut Lily.
"Apa tadi dia sudah membayar makanannya," tanya Lily pada dirinya sendiri sambil menatap Jason yang kini masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Lily kemudian memberanikan diri bertanya pada kasir restoran tersebut dan kasir itu bilang jika semua makanan sudah di bayar oleh Jason, "Kapan pria itu membayar makanannya?" Itulah yang Lily pikirkan saat ini.
Tidak ingin ambil pusing, Lily pun akhirnya keluar dari restoran tersebut, tapi tiba-tiba sebuah mobil menghampirinya.
Kaca jendela mobil terbuka, "Maaf apa benar dengan Nona Lily?" Tanya sang supir dan Lily hanya mengangguk heran.
"Silahkan masuk Nona, saya akan mengantar Anda," kata sang supir setelah membuka pintu untuk Lily.
"Ta..tapi, Anda tidak perlu khawatir Nona saya bukan orang jahat, saya diperintahkan oleh Tuan Jason," kata Pria yang berumur sekitar 50 tahun itu.
"Jason?" Tanya Lily memastikan jika dia tidak salah mendengar apa yang pria paruh baya itu katakan.
"Benar Nona," jawab pria paruh baya itu, dan Lily pun akhirnya masuk ke dalam mobil begitu tahu jika memang Jason lah yang menyuruh pria paruh baya ini mengantarnya.
"Lily hanya diam sambil memandang ke luar jendela, "Lebih baik besok saja aku mencari pekerjaan," katanya dalam hati.
Tring
Tring
"Halo Mine," jawab Lily begitu panggilan terhubung.
"Kamu sudah dapat pekerjaan untukku?" Tanya Lily senang saat sahabatnya mengabari jika dia sudah menemukan pekerjaan untuknya.
"Cleaning service? Ah itu tidak masalah Mine, yang terpenting sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan, dan terima kasih atas bantuanmu," kata Lily dengan wajah ceria dan tidak lupa dia juga berterima kasih pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Baiklah, nanti kamu kirim alamat kantornya saja," sekali lagi terima kasih Mine," ucap Lily kemudian memasukkan kembali ponselnya setelah Jasmine mengakhiri lebih dulu panggilan teleponnya.
Lily tersenyum lebar saat mendengar kabar bahagia itu, apapun pekerjaannya selagi itu pekerjaan yang baik Lily akan menjalaninya dengan senang hati.
"Sudah sampai Nona," kata pria paruh baya itu membuyarkan lamunan Lily.
"Ah sudah sampai ya, terima kasih Pak," kata Lily kemudian berpamitan pada orang yang mengantarnya itu.
"Sudah sampai dengan selamat Tuan," lapor sang supir pada orang di seberang telepon.
"Terima kasih Pak, sekarang Anda bisa kembali ke kantor," kata orang di seberang telepon kemudian mengakhiri panggilan itu.
Tak lama ponselnya kembali berdering.
"Halo Nyonya, bagaimana?" Tanya Jason pada orang yang menelponnya.
"Aku sudah mengatakannya, dan ingat janjimu untuk tidak menampilkan wajahmu untuk sementara ini di hadapannya, karena aku takut Lily akan menolaknya begitu tahu kaulah yang ada di balik ini semua, setidaknya sampai Lily benar-benar merasa betah dulu dengan pekerjaannya, dan aku yakin Lily akan berpikir dua kali untuk keluar dari pekerjaannya walaupun tahu ini semua karena kamu" kata Jasmine memberi peringatan.
"Baik Nyonya terima kasih untuk bantuan Anda, sampaikan terima kasih juga pada Tuan Muda karena mau membantuku atas masalah ini," kata Jason pada Jasmine, dan setelah itu panggilan pun terputus.
Jason merasa lega, karena sudah bisa membantu Lily mendapatkan pekerjaan.
"Jika kamu menolak bantuan dariku, hanya ini yang bisa aku lakukan Lily, aku akan membantumu diam-diam, dan aku berharap jika suatu saat nanti kamu tahu kenyataannya, kamu mau memaafkanku, karena aku tidak ingin membuatmu terus kesulitan dan penyebab utamanya adalah aku," kata Jason menatap foto Lily dalam ponselnya. Foto yang Jason ambil diam-diam saat Lily tidur waktu itu di rumahnya.
"Tuan meeting sebentar lagi akan dimulai," kata seseorang yang menjabat sebagai sekretarisnya.
__ADS_1
"Baiklah kamu siapkan berkasnya dan kita akan segera kesana," kata Jason kemudian mempersiapkan diri untuk melakukan rapat, Jason yang selama ini mengurus perusahaan Stevano ini, diberikan kepercayaan penuh oleh Stevano untuk mengambil segala keputusan tentang perusahaannya. Apalagi Stevano yang juga disibukkan dengan perusahaan Papinya, jadi tidak mungkin jika Stevano mengurus dua perusahaan sekaligus, sementara istrinya sedang hamil dan dia tidak ingin terus meninggalkan sang istri yang memang sangat membutuhkan dirinya untuk selalu disisinya. Karena Stevano tidak ingin mengulang masa lalu kedua orang tuanya, dengan kurang memperhatikan orang-orang yang dia sayang dengan alasan sibuk dengan pekerjaan.