Please Love Me

Please Love Me
Bab 223


__ADS_3

Lily menatap Liora penuh arti, dan Liora terus mengangguk-anggukkan kepala dan mengerjapkan matanya berkali-kali berharap Lily mau membantunya.


"Jadi Kak Liora mau meminta bantuanku?"


Liora mengangguk mantap menjawab pertanyaan Lily. 


"Kenapa harus meminta bantuanku? Apa kalian sedang bertengkar?"


Liora menunduk sedih, "Lebih dari itu," jawabnya kemudian mengangkat kepalanya menatap Lily dengan pandangan mengiba.


Lily kini membenarkan posisinya menghadap Liora, "Baiklah aku akan membantu, tapi kamu ceritakan dulu apa masalahmu, karena kulihat masalahnya cukup serius, apalagi saat melihat wajah Ronald…"


"Wajah Ronald kenapa? Apa dia baik-baik saja?"


"Wajahnya baik-baik saja." Jawab Lily.


"Terus tadi kamu mengatakan…"


"Ya dia tidak terlihat baik-baik saja, apa kalian bertengkar?"


"Hmm tidak, sebenarnya…"


Liora pun kini menceritakan semua sama Lily dari mulai Max yang tidak suka dia dekat dengan Ronald, kata-kata Ayah Ronald tentangnya, juga Max yang sekarang menyuruh seseorang untuk mematai-matai dirinya.


"Jadi Ronald pria buaya? Tidak, tidak jika seperti itu, aku tidak akan membantumu, aku tidak ingin nantinya kau terluka Kak," Lily dengan cepat menolak permintaan Liora saat tahu cerita dari gadis itu.


"Tapi Lily, mungkin saja itu hanya…"


"Kak, bahkan ayahnya sendiri mengatakan seperti itu, berarti kemungkinan besar hal itu benar adanya. Bagaimana jika nanti Kak Liora menjalani hubungan dengan dia, terus tiba-tiba ada wanita yang datang mengaku dirinya mengandung anak Ronald, aku tidak mau, pokoknya aku tidak mau jika nantinya Kak Liora bisa saja terluka."


Sepertinya Lily tetap kekeh dengan keputusannya, setelah tahu seperti apa Ronald itu.


"Lily aku mohon!" Pinta Liora dengan wajah memelas.


"Apa Kakak benar-benar mencintainya?"


"Iya aku mencintainya, entah sejak kapan perasaan itu muncul tapi aku benar-benar mencintainya," jawab Liora dengan pandangan lurus ke depan.


"Baiklah, tapi jika dia sampai menyakiti Kakak, aku tidak akan tinggal diam," ujar Lily akhirnya, dia pun segera bangkit.

__ADS_1


"Bersiap-siaplah, akan aku tunggu."


"Mau kemana?"


"Nanti Kak Liora akan tahu," ucap Lily kemudian dirinya mendorong Liora masuk ke walk in closet untuk berganti pakaian.


Liora pun hanya bisa pasrah, mengikuti apa yang Lily minta.


Lily menghubungi suaminya mengatakan jika dirinya akan pulang diantar Liora, dan Jason tidak perlu menjemput dirinya pulang. Setelah selesai menghubungi suaminya, Lily pun kini menghubungi seseorang, menyuruh untuk ke rumahnya dengan memberikan alamatnya, dan yang terakhir Lily menghubungi orang rumah, jika akan ada seseorang yang datang, Lily mengirimkan foto orang tersebut dan meminta orang rumah untuk mempersilahkan orang itu masuk.


Setelah selesai menghubungi mereka semua, Lily menatap ke arah walk in closet dimana Liora kini sudah bersiap.


"Ayo!" Ujar Liora menghampiri Lily.


"Tidak mau berdandan dulu."


"Tidak perlu, tanpa berdandan pun aku sudah cantik," jawab Liora penuh percaya diri.


"Baiklah, ayo, tapi awas saja nanti jangan salahkan aku jika tiba-tiba kamu menyesal karena tidak mau berdandan."


"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Liora yang kini penasaran setelah mendengar perkataan Lily.


"Jangan bohong!"


"Aku tidak bohong, jika Kak Liora tidak percaya, coba saja cek ponsel Kak Liora, pasti suamiku sudah mengirim pesan pada Kakak," ucap Lily yang kini benar-benar meninggalkan Liora yang mengambil ponselnya yang sejak semalam ada di atas nakas.


Benar saja ada pesan dari Jason yang mengatakan dirinya untuk berhati-hati, tidak boleh terlalu cepat mengendarai mobilnya dan memintanya untuk menjaga istrinya baik-baik. Liora hanya memutarkan bola matanya malas, mendengar pesan-pesan dari Jason, tanpa Jason minta pun Liora juga pasti akan melakukannya.


"Seperti Kak Vano saja," gumam Liora mengingat kakak pertamanya yang juga selalu berpesan seperti itu saat dirinya bersama Kakak Iparnya Jasmine.


Liora memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, kemudian dirinya pun langsung keluar,  menyusul Lily yang ternyata sudah lebih dulu, berada di bawah.


"Lama banget sih Kak," Lily yang sedang duduk di sofa langsung bangun saat melihat Liora menuruni anak tangga.


"Lily kenapa kamu turun lebih dulu dan tidak menungguku, kau… tidak tahukah kamu bahaya menuruni anak tangga sendirian. Bagaimana jika… ah pasti kalau Kak Jason tahu, aku pasti kena amarahnya," bukannya menjawab Lily, gadis itu kini marah-marah tidak jelas saat tahu Lily sudah turun lebih dulu tidak menunggunya.


"Aku baik-baik saja kok Kak, lagian aku tadi juga turun pelan-pelan, jadi Kak Liora tidak perlu khawatir, ya sudah kita mau berangkat sekarang apa nanti saja," tanya Lily menatap Liora yang kini sudah berdiri di hadapannya.


Liora menghela nafas panjang kemudian membungkukkan badannya mengelus perut Lily dan berbicara dengan bayi yang masih ada dalam kandungan wanita itu. Kemudian dirinya kembali menegakkan badan, menatap Lily.

__ADS_1


"Lain kali jangan pernah ulangi hal seperti ini lagi, aku tidak takut Kak Jason marah, tapi aku takut jika sampai terjadi sesuatu dengan kalian," ucap Liora tulus.


Lily yang merasa terharu, langsung memeluk Liora erat. Dirinya benar-benar tidak menyangka, saat ini banyak orang yang menyayanginya.


"Sudah-sudah kenapa jadi melow seperti ini, ayo kita berangkat sekarang saja," kata Liora menggamit tangan Lily dan mengajaknya keluar untuk mengambil mobilnya.


Begitu keluar, Liora meminta salah satu pengawal untuk mengambilnya, sementara dia menemani Lily di depan pintu rumahnya.


Tak lama, mobil Liora pun sudah ada di halaman. Liora pun mengajak Lily untuk segera masuk, dan setelahnya Liora pun dengan segera melajukan mobilnya.


"Mampir dulu yah, aku mau beli sesuatu, aku lapar, tadi pagi aku belum sarapan," ujar Liora meminta izin pada Lily.


"Terserah Kak Liora saja," jawab Lily


Liora melihat ke arah kaca spion dimana ada motor yang terus mengikutinya, dan Liora sangat tahu siapa orang itu, dialah orang suruhan Max, Liora sering melihat orang itu belakangan ini. Liora mendengus kesal karena motor itu terus berada di belakang mobil Liora.


"Kenapa Kak?"


"Lihatlah di belakang, sedari tadi dia terus mengikuti kita," ucap Liora memberi tahu Lily apa yang menyebabkan dirinya begitu kesal saat ini.


Lily menoleh ke belakang, dan benar saja ada sepeda motor yang terus membuntuti mobil yang membawa mereka.


"Sudahlah, biarkan saja, toh aku hanya ke rumahmu," ujar Liora setelah cukup lama terdiam.


Lily mengangguk mengerti, membiarkan Liora terus melajukan mobilnya, hingga tak lama, mobil yang Liora kendarai kini sudah berada di halaman rumah orang tua Lily.


Melihat ada mobil yang datang, satpam rumah pun langsung menghampiri mobil itu. Mengetahui bahwa anak majikannya yang datang, segeralah orang itu membukakan pintu untuk Lily.


"Non Ale, orangnya sudah datang, Bibi sudah menyuruhnya masuk dan sekarang ada di ruang tamu," lapor orang itu dan Lily pun mengangguk.


"Terima kasih Pak," kata Lily dirinya pun kemudian turun.


"Ada tamu?" Tanya Liora yang mendengar ucapan orang tadi. Liora merasa heran karena saat mengedarkan pandangan ke sekeliling, tapi dirinya tidak melihat ada mobil atau apapun yang menandakan jika ada orang yang datang.


"Ya sudah ayo masuk!" Kata Lily mengajak Liora untuk masuk.


"Tapi katanya tadi ada orang, apa tidak apa-apa aku masuk, atau kalau tidak aku langsung pulang saja," kata Liora.


Gadis itu pun memilih akan kembali masuk ke dalam mobilnya. Tapi dengan cepat Lily menarik tangan Liora membawanya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2