
"Ibu!" Lily berlari dan memeluk Ibu dan Kakaknya yang tengah berpelukan. Lily ikut menangis bersama kedua perempuan yang sangat disayanginya.
Sebelumnya
Lily meninggalkan kamar rawat Dahlia dengan berbagai pertanyaan dalam pikirannya.
"Tunggu!"
Tiba-tiba Lily berhenti begitu mengingat sesuatu.
"Tadi Ibu menyebutkan dirinya Ibu kepadaku," kata Lily dengan bibir yang tersenyum tapi kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya, aku tidak salah tadi Ibu menyebut dirinya Ibu, apa Ibu…" Lily langsung berbalik arah dan berlari menuju ke sebuah tempat untuk memastikan semuanya.
Lily terus berlari tak peduli dengan tatapan orang-orang, dan begitu sampai di depan pintu ruangan yang menjadi tempat tujuannya, Lily langsung membukanya dengan kasar. Lily berdiri di tengah pintu yang terbuka lebar.
"Ibu!" Lily berlari memeluk Ibu dan Kakaknya.
Tangis ketiganya kini semakin menjadi, Lily bahagia, sangat bahagia, ini pertama kalinya dia bisa memeluk tubuh Ibunya.
"Ibu!" Kata Lily lagi, dirinya masih belum percaya jika saat ini di dalam pelukan hangat seorang Ibu yang tidak pernah didapatkannya.
"Maafkan Ibu, maafkan Ibu," Vega terisak memeluk kedua putrinya.
Flashback
Setelah kepergian Al yang telah selesai mengatakan dengan mudah soal pernikahan, Vega berjalan pelan dan duduk di kursi tunggu, memikirkan setiap kata yang terucap dari pria yang dicintai putrinya.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat mengagetkan Vega, "Bisakah saya berbicara dengan Anda," ucap pria yang kemarin Vega lihat pria ini memakai jas putih, tapi kali ini dirinya hanya mengenakan kemeja berwarna hitam dengan lengan panjang yang sudah digulung sampai ke siku.
Tak langsung menjawab, Vega justru menatap pria itu lama, merasa heran sebenarnya karena dari kemarin Vega melihat pria yang umurnya sekitar lebih beberapa tahun darinya itu, selalu ikut campur urusan keluarganya.
"Bagaimana?" Tanya pria itu memastikan apakah Vega mau atau tidak.
Daripada Vega merasa terus penasaran, akhirnya Vega pun mengiyakan ajakan pria tersebut.
"Baiklah," putus Vega pada akhirnya.
"Ikut saya!" Perintah pria itu kemudian berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Vega yang kini berjalan mengikutinya di belakang.
Lorong demi lorong rumah sakit mereka lewati, hingga sampailah mereka di taman yang terletak tepat di samping rumah sakit.
"Namaku Alan, Ayah Aleandra, maksudku gadis yang bernama Lily yang selama ini Anda besarkan. Anda masih ingat bukan pertemuan kita kemarin?"
Jelas saja Vega masih mengingatnya, bagaimana tidak jika bahkan pria itu kemarin menampar pipinya.
Bagaimana reaksi Vega saat ada orang yang tiba-tiba datang dan mengakui kesalahannya, tentu saja Vega begitu terkejut mendengar pengakuan perminta maafan itu.
"Dan saya yakin, Anda pasti tahu kenapa saya melakukan itu, saya yakin Anda masih mengingat percakapan kemarin," tambah Alan yang sepertinya ragu jika Vega akan mengingat pembahasannya kemarin.
Mengatakan kejadian kemarin, Vega pun kembali teringat perdebatannya dengan Alan.
"Apa yang Anda katakan? Apa maksud Anda mengatakan hal seperti itu kepada putriku?"
"Anda siapa? Seorang dokter? Jangan hanya Anda seorang dokter, Anda bisa ikut campur dengan urusan kami, cukup lakukan tugas Anda, sembuhkan Putriku, dan bawa dia padaku dengan keadaan yang kurang suatu apapun."
__ADS_1
"Berhentilah bersikap seperti itu kepada Putriku! Jika tahu Putri saya mendapatkan perlakuan seperti ini dari Anda, aku tidak akan repot-repot meluangkan waktu untuk berterima kasih kepada Anda, dan Anda tenang saja, saya akan mengganti uang yang Anda keluarkan selama ini untuk membesarkan Putri saya, dan jangan pernah mengatakan kata-kata kasar itu lagi kepada Putri saya kedepannya."
"Anda Siapa? Anda tidak berhak mencampuri urusan keluargaku, aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk Putri-putriku, ingat Anda hanya orang luar."
Semua perdebatan antara dirinya dan juga pria itu kemarin masih teringat jelas di kepala Vega.
"Sekarang katakan apa maksud Anda memintaku untuk berbicara. Apa yang sebenarnya ingin Anda bicarakan, dan apa maksud Anda mengatakan bahwa Anda adalah Ayah dari putriku, dan lagi Anda menyebut namanya dengan sebutan Aleandra?" Rentetan pertanyaan Vega ajukan pada pria yang baru dia ketahui bernama Alan.
Alan mengambil sesuatu dari saku celananya. Selembar kertas yang dia lipat, diberikannya kepada Vega.
"Lihatlah dan Anda akan tahu setelah itu."
Vega menatap lipatan kertas itu cukup lama.
"Bukalah!" Perintah Alan lagi yang otomatis membuat Vega langsung menoleh ke arahnya.
Dengan ragu Vega membuka lipatan kertas itu, dari atas Vega tidak terlalu mengerti isi yang tertulis di kertas itu, hingga saat matanya menatap tulisan paling bawah dan betapa terkejutnya Vega, saat melihat di kertas itu tertulis dengan jelas, bahwa Lily adalah anak kandung Alan.
"Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin?" Vega menjatuhkan kertas itu, menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Bukankah seharusnya Vega senang saat tahu kebenaran itu? Tapi dalam hati Vega sama sekali tidak merasakan seperti itu, rasa sedih, rasa takut, penyesalan semua bercampur jadi satu di dalam diri Vega hingga perlahan bulir bening tanpa ijinnya menetes begitu saja dari kedua matanya. Vega menatap Alan yang mengambil kertas yang tadi dijatuhkannya.
Pandangan keduanya bertemu, "Anda pasti bohong kan? Tidak mungkin...tidak mungkin putriku adalah anak kandungmu? Apa ini cara Anda mengikat putriku agar tidak bisa lepas darimu? Apa sebegitunya Anda menginginkan putriku, hingga Anda sampai membuat rencana yang terperinci seperti ini? Tolong lepaskan putriku! Anda pasti sudah menikah dan jangan jadikan putriku orang ketiga yang masuk dalam kehidupan keluarga Anda!" Vega menarik kerah kemeja Alan, Vega pikir apa yang baru saja Alan lakukan adalah untuk mengambil Lilynya, iya Lily putrinya, Lily miliknya.
Vega selama ini keras terhadap Lily, dia selalu berusaha untuk tidak menganggap Lily sebagai putrinya. Tapi tetap saja jauh di dalam lubuk hatinya, Vega menyayangi gadis itu, tapi Vega selalu menepisnya, dan sekarang disaat ada orang yang ingin mengambil Lilynya rasanya Vega sangat tidak terima, Vega tidak mau kehilangan putri yang selama ini kurang mendapat kasih sayangnya, Vega ingin mempertahankan Lily, dan jika Vega diberi kesempatan itu, Vega akan berubah, Vega akan menyayangi putrinya.
"Apa Anda pikir saya orang seperti itu?" Tanya Alan tak habis pikir dengan apa yang saat ini Vega pikirkan.
__ADS_1
"Lily memang Putriku, nama aslinya Aleandra Licya Horison, saat itu dia masih sangat kecil dan dibawa Ibunya pergi ketika kami berpisah, dan ini.." Alan menunjukkan beberapa foto di ponselnya, foto kebersamaan keluarganya sebelum istrinya memutuskan untuk berpisah.
Tangan Vega gemetar saat menggeser-geser ponsel Alan, air matanya terus berjatuhan saat melihat foto-foto itu. Dan benar Lily kecilnya ada di dalam foto itu, ya Vega mengenalinya. Karena wajah Lily saat itu tidak banyak berubah dengan Lily kecil yang selama ini dirawat dan dibesarkannya.