Please Love Me

Please Love Me
Bab 167


__ADS_3

"Liora?" Tanya Jason memastikan bahwa benar nama gadis itu yang disebut istrinya.


"Hmm iya, aku ingin berbicara dengannya," kata Lily.


"Apa yang ingin kamu bicarakan padanya?" 


Tanya Jason penasaran.


"Hmm apa ya…?" Ade deh, aku ceritanya nanti saja jika kamu sudah pulang," ucap Lily dan Jason hanya mendengus kesal, dirinya begitu penasaran, tapi istrinya tidak mau mengatakannya.


"Sekarang kamu bisa ke tempat Liora dan serahkan ponselmu kepadanya?" Tanya Lily menatap wajah suaminya yang ditekuk.


"Tidak bisa," jawab Jason datar.


"Sayang kamu marah? Baiklah nanti sehabis berbicara sama Liora aku akan beritahu semua," jawab Lily agar suaminya tidak marah.


"Janji ya kamu akan ceritakan semuanya?" Tanya Jason.


"Hmm iya janji, sekarang kamu bisa tidak ke kamar Liora dan menyerahkan ponsel kamu padanya?" Tanya Lily lagi.


"Tidak sayang, aku tidak bisa," jawab Jason dan itu membuat Lily mengernyitkan dahinya.


"Kenapa? Kan aku janji akan menceritakan semuanya," ucap Lily menatap suaminya kesal.


Jason menghela nafas panjang, "Bukan masalah itu sayang, tapi aku benar-benar tidak bisa, aku seorang pria dan aku tidak mau masuk ke dalam kamar seorang gadis, terlebih lagi aku sudah menikah, aku tahu kamu yang memintaku, tapi aku tetap bisa, aku disini jauh darimu, sebisa mungkin aku selalu berusaha menjaga perasaanmu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, jadi lebih baik aku berjaga-jaga," ucap Jason serius.


Lily kemudian tersenyum, kekesalan yang tadi ada di wajahnya lenyap seketika saat suaminya mengatakan hal yang menurutnya manis.


"Baiklah aku tahu, hmm begini saja, bagaimana kalau kamu kirim pesan ke Kak Liora sekarang, minta ijin padanya aku meminta nomornya, nanti jika dia memang membolehkannya, kamu bisa kirimkan nomornya ke aku, biar aku nanti yang bicara sendiri padanya?" Ucap Lily masih dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Baiklah, aku kirim pesan dulu sama Liora," kata Jason dan Lily hanya mengangguk mengiyakan.


"Suamiku benar-benar menggemaskan, aku tidak menyangka pria dinginku begitu manis," ucap Lily dalam hati menatap suaminya tanpa berkedip.


"Sudah sayang, tapi belum dibaca," kata Jason yang kemudian kembali melihat wajah istrinya.

__ADS_1


"Sayang!"


"sayang!  Kenapa senyum-senyum sendiri gitu?" Tanya Jason heran.


"Tidak apa-apa, aku kangen kamu, pengen kamu cepat-cepat pulang saja," ucap Lily.


"Sayang, ntar lagi ya, ayah datang," ucap Lily yang kemudian langsung mengakhiri panggilan saat merasa ayahnya akan masuk.


Lily dengan segera memejamkan matanya, pura-pura tidur.


Kemudian Lily merasakan ada yang mengelus lembut rambutnya kemudian mencium keningnya.


"Ayah tahu ini pasti ulah mu kan?" Gumam Alan dengan suara yang begitu pelan, tidak ingin mengganggu tidur putrinya.


Setelah itu, Alan kembali keluar dan menghampiri Dea.


"Biar aku bantu!" Ucap pria itu yang tiba-tiba sudah ada di belakang Dea membuat wanita itu begitu terkejut.


"Akh!" Teriak Dea yang kini menoleh menatap tajam Alan.


Dea mengelus dadanya yang masih merasakan debaran yang begitu kencang, apalagi dirinya tadi sedang melamun dan tiba-tiba saja pria yang membuatnya melamun mendadak ada di belakangnya.


Dea menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, "Hmm tidak apa-apa," ucapnya setelah mulai tenang.


"Kenapa kembali? Bukankah tadi kamu bilang mau istirahat?" Tanya Dea yang kini sudah mengalihkan pandangannya, menatap tepat ke dalam mata pria itu, nyatanya masih membuat jantungnya berdebar.


"Hmmm tidak jadi, nanti saja, Ale tampaknya begitu lelap, aku tidak mau mengganggu tidurnya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Alan yang melihat wanita itu tampak sibuk.


"Tidak ada, lebih baik kamu duduk saja," perintahnya, karena jika Alan membantunya sudah dipastikan apa yang sudah Dea persiapkan untuk makan siang malah akan berantakan.


Mendengar penolakan Dea, Alan pun duduk dan memperhatikan Dea yang sibuk dengan peralatan memasak yang memang sengaja dibawanya.


"Aww," ringis Dea saat justru jarinya terkena pisau. Bagaimana tidak kena pisau, jika dari tadi Alan terus memperhatikannya, tentu saja hal itu membuat Dea grogi.


Alan dengan cepat menghampiri wanita itu dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa bisa kena sih, makanya kalau lagi memotong sayuran itu hati-hati bukan malah melamun," terdengar pria itu justru mengomeli Dea, dia tidak sadar jika Dea seperti itu juga karena sebagian salahnya, jika saja Alan tidak duduk di sana dan bahkan memperhatikannya tentu saja Dea tidak akan salah tingkah hingga tanpa sengaja mengenai  jarinya sendiri.


Tiba-tiba air mata Dea menetes, mendengar Alan yang bawel seperti tadi, mengingatkannya tentang saat mereka masih bersama.


"Kenapa menangis? Apa rasanya sakit sekali?" Tanya Alan mencoba menatap wajah Dea yang kini justru menunduk menyembunyikan air matanya.


"Tidak, aku tidak apa-apa," Dea menarik jarinya dan segera pergi dari hadapan Alan. Dea tidak ingin terlihat lemah dihadapan pria itu.


Tapi Alan justru menarik tangannya, "Apa perlu ke rumah sakit? Atau kalau tidak, apa kamu membawa peralatannya, biar aku jahit luka kamu," ujar Alan tampak serius.


Dea pun tertawa mendengar perkataan Alan, kamu pikir lukaku separah apa sampai harus dijahit segala?" Ucap Dea.


Dan tawa Dea berhasil membius Alan, tawa yang masih sama, dulu Alan yang selalu membuatnya tertawa seperti itu, tapi Alan pula yang membuat tawa itu tak lagi tampak di wajah Dea setelah Alan memutuskan untuk menikah dengan wanita lain.


"Cantik!" Ucap Alan tanpa sadar dan Dea yang mendengar itu, akhirnya menghentikan tawanya seketika dengan wajah yang memerah.


Alan yang tersadar juga tampak salah tingkah dan melepaskan tangannya pada tangan Dea, saat  Dea memberi isyarat pada Alan untuk melepaskan.


Alan pun kini hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena bingung harus apa lagi. Dirinya saat ini sudah seperti remaja saja.


"Ah sepertinya aku harus ke mobil."


"Aku akan melanjutkan masakanku."


Kata Alan dan Dea bersamaan.


"Hmm mobil di sana!" Kata Dea menunjukkan Alan jalan yang benar karena pria itu berjalan ke arah berlawanan.


"Hmm tempatmu masak juga ada disana!" Kini giliran Alan yang menunjuk jalan yang hampir saja  dilaluinya, jika Dea tidak mengingatkan dimana posisi mobilnya.


Keduanya pun kini bertukar arah, Dea melanjutkan menyiapkan makanan, dan Alan pun menuju ke mobilnya, Alan ingin istirahat di dalam mobil, tidak ingin mengganggu putrinya yang tertidur lelap.


Sementara di dalam tenda, Lily diam-diam memperhatikan keduanya.


"Hmm bagaimana? Kamu setuju kan jika mereka bersama? Kita tidak boleh egois, bagaimanapun orang tua kita juga harus berbahagia," ucap Lily yang sedang melakukan panggilan video dengan seseorang sambil menunjukkan kebersamaan Alan dan Dea.

__ADS_1


__ADS_2