
"Yeah akhirnya selesai!" Kata Cinta dan Aulia senang.
Setelah membungkus kado tadi, Cinta dan Lily ikut membantu Jason dan Aulia. Jason menatap istrinya yang hanya berbicara dengan anak-anak mereka.
"Sudah sore, ayo kakak sama adik mandi, sebentar lagi pasti teman-teman akan datang," ucap Lily kepada kedua putrinya yang langsung diangguki antusias Cinta dan Aulia.
Ketiganya kemudian bangun dari duduknya, lalu melangkah menaiki tangga menuju kamar anak-anak.
Jason menghela nafas berat, menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.
"Bagaimana aku menjelaskan jika kamu terus menghindar sayang," gumam Jason menyandarkan tubuhnya, kepalanya mendongak dengan mata yang terpejam, dia harus segera menjelaskan apa yang terjadi, sebelum semuanya semakin runyam, jika salah paham ini terlalu berlarut.
Sementara itu, di kamar Lily tengah mendandani kedua putrinya. Dia puas melihat penampilan Cinta dan Aulia.
"Wah, Princessnya siapa ini?" Tanya Lily pada keduanya.
"Ibu dan ayah," jawab mereka bersamaan.
Lily tersenyum kembali merapikan rambut keduanya.
"Sayang, sudah selesai belum? Itu semua sudah datang."
Lily menoleh dan melihat suaminya yang kini tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya.
"Ayo sayang, semua sudah datang," Lily menggandeng keduanya untuk turun.
Jason lagi-lagi hanya menghela nafasnya, baru kali ini, Lily mendiamkannya seperti ini. Karena biasanya istrinya itu, akan langsung marah-marah padanya, bukan diam dan selalu menghindar seperti ini.
Pria itu kemudian keluar, menutup pintu kamar anak-anaknya menuju kamarnya sendiri, Jason akan mandi sebentar, sebelum menemui para tamunya. Disambarnya handuk lalu segera membawa ke kamar mandi.
"Lebih baik kamu mengutarakan apa yang kamu rasakan daripada diam seperti ini sayang, itu justru membuatku frustasi, aku tidak tahu harus apa, dan bagaimana," Jason menyugar rambutnya ke belakang di bawah guyuran air shower.
Kedua tangannya menempel di dinding, kepalanya menunduk, merasakan perih di matanya, sebulir air keluar dari pelupuk mata, bercampur dengan air shower, sungguh dirinya tidak terbiasa dengan sikap Lily ini.
Niatnya yang hanya sebentar, tapi ternyata tidak, dilihatnya jari-jarinya yang kini tampak mengeriput. Jason melingkarkan handuk di pinggangnya lalu berlalu keluar. Jason berjalan mendekat ke arah ranjang, dimana disana ada pakaian yang disiapkan untuknya. Dan siapa lagi jika bukan Lily yang melakukannya.
Jason pandangi pakaian itu, dirinya semakin menyesal mengingat kejadian tadi siang. Bagaimana bisa dia kesal pada istrinya, bahkan dalam keadaan marah, istrinya masih menyiapkan segala keperluannya.
Ponsel Jason berbunyi, tanda jika ada sebuah pesan masuk yang ternyata dari orang yang sedang dia pikirkan sekarang.
"Cepat turun! Semua orang sudah menunggu, ayah dan ibu juga sudah pulang, baru sampai."
Setelah membaca pesan istrinya itu, Jason segera memakai pakaian yang disiapkan istrinya, dan buru-buru keluar tidak ingin istrinya bertambah marah padanya.
__ADS_1
"Tuh dia yang ditunggu-tunggu," ucap Lily kemudian wanita itu berjalan menghampiri Jason, menggamit tangan suaminya itu, mengajaknya untuk bergabung, karena acara potong kue akan dimulai.
Jason tersenyum dan terus memandangi wajah istrinya yang tampak semakin cantik saja.
"Apa istriku sudah tidak marah lagi padaku?" Tanya Jason pada dirinya sendiri. Bahkan disaat semua tengah menyanyikan lagu, Jason hanya fokus pada satu titik, siapa lagi jika bukan Lily.
"Ayah aaaa…."
Lily mencubit lengan Jason, karena suaminya itu tidak juga membuka mulutnya saat akan menyuapinya potongan kue.
Jason meringis, mengusap bekas cubitan istrinya, pandangannya tak lepas pada ibu dari anak-anaknya.
Lily memberi kode pada Jason, jika semua orang kini sedang menatapnya, juga berbisik pada Jason, mengatakan jika Aulia akan menyuapinya.
"Oh, iya," Jason kemudian berjongkok menyetarakan dengan tinggi putrinya lalu dengan senang hati membuka mulut menerima suapan kue dari sang putri.
"Makasih sayang," ucap Jason mengecup puncak kepala Aulia.
Aulia tersenyum dan balas mencium pipi ayahnya.
"Aku mau kue nya."
Aulia dan Jason menoleh mendengar suara anak terkecil pasangan Jasmine dan Stevano.
"Ayo sayang, potongin kue nya buat Kak Vian!" Lily ikut berjongkok berbicara pada putrinya.
"Sini biar kak Cinta saja, yang lanjutin motong," kata Cinta karena melihat adiknya itu enggan memotong kue lagi.
Cinta kemudian memotongkan kue, tentunya masih dibantu oleh Lily, memberikan potongan kue pada Vian, Alno, Vier, Vira, Ken dan Kenzio yang memang diundang untuk datang.
"Selamat ulang tahun," anak-anak itu mengucapkan selamat, sekalian memberikan kado yang sudah mereka persiapkan untuk Aulia bergantian dengan berbaris sesuai urutan umur mereka dari yang paling besar.
Dan saat giliran Vian tiba, anak Jasmine dan Stevano tidak sengaja terdorong oleh Zio yang berbaris di belakangnya hingga berakhir menabrak Aulia dengan bibir yang menempel di pipi putri Jason dan Lily. Karena Aulia sedang menatap ke samping tepatnya menatap sang ayah yang juga sigap menahan tubuh putrinya agar tidak terjatuh.
Kejadian yang tiba-tiba itu membuat semua orang panik, tapi semua merasa lega karena tidak terjadi apa-apa dengan kedua anak itu, bahkan kini Jasmine dan Lily tersenyum melihat posisi keduanya dan segera mengabadikannya. Dimana Vian dengan posisi memeluk tubuh Aulia dan mencium pipi gadis kecil itu.
Lily dan Jasmine beradu pandang dengan senyum mengandung arti.
Vian kembali berdiri tegak, "maaf," ucapnya kemudian berbalik dan menatap Zio mengomel pada sepupunya itu.
*
*
__ADS_1
Kini Aulia dan Cinta asyik bermain di atas kasur setelah beberapa saat lalu tampak sibuk membuka kado di kamar ayah ibunya.
Lily hanya membiarkan saja sambil membereskan sisanya. Tiba-tiba pintu terbuka, tampak Jason masuk.
"Kenapa kalian belum tidur?" Tanya Jason kepada kedua putrinya itu.
Lily hanya melirik, kemudian dirinya melangkah dan duduk di kursi depan meja rias, setelah pekerjaan beres-memberes selesai.
"Uli mau tidur disini sama ibu."
"Kak Cinta juga."
"Kalian sudah besar, tidak malu masih tidur sama ibu, lagian kan kalian sudah punya kamar sendiri."
"Memangnya ayah tidak malu, orang sebesar ayah juga masih tidur sama ibu."
Cinta justru membalikkan perkataan ayahnya. Dan Uli hanya mengangguk mendukung kakaknya.
"Gantian dong ayah, kami yang tidur sama ibu, ayah tidur sendiri, atau ayah takut?"
Jason hanya mengerucut mendengar perkataan putri pertamanya itu.
"Iya ayah pasti takut kak, kita saja tidak takut," sahut Aulia.
Jason kemudian melihat ke arah istrinya, lalu berjalan mendekat.
"Kamu dengar sendiri sayang, masa mereka mengusir aku dari kamar kita," adu nya dengan wajah dibuat sememelas mungkin.
"Ya, tidak apa-apa, sekali-kali," jawab Lily cuek sambil masih memakai skincare nya.
Jason mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah, ayah tidur di tempat lain, ayah tidak takut," ucap Jason kepada kedua putrinya yang tertawa senang.
"Sayang beneran nih, kamu mau tidur sama anak-anak?" Jason kembali mengalihkan pandangan ke sang istri, berharap istrinya itu, berubah pikiran.
"Hmm," jawab Lily dengan gumaman. Lalu dia bangun dan berjalan ke arah ranjang.
"Ayo anak-anak ibu, kita tidur sekarang sudah malam," ucap Lily merebahkan diri di atas kasur empuknya.
"Ya sudahlah," ucap Jason menghampiri ketiga perempuan yang disayanginya, lalu mengecup kening mereka satu persatu dari anak-anaknya dan terakhir tentunya pada sang istri yang tidak hanya mendapat kecupan di kening, tapi juga di bibir.
"Jangan lama-lama marahnya, yang kamu lihat hanya salah paham sayang," ucap Jason pelan tepat di telinga sang istri, sebelum akhirnya pria itu keluar dari kamarnya.
__ADS_1