Please Love Me

Please Love Me
Part 55


__ADS_3

"Terima kasih Paman eh Ayah" kata Lily setelah mereka sampai di halaman tempat kerja Lily yang baru.


"Ya sama-sama, hati-hati kerjanya," kata Alan berpesan pada Lily. "Ya sudah kalau begitu Ayah pulang dulu," pamit Alan pada gadis cantik itu.


Tadi Alan mengobrol banyak dengan Lily, dia gadis yang ceria, dan asyik jika sudah mengenalnya. Bahkan Alan meminta agar Lily memanggilnya Ayah agar terdengar semakin akrab. Awalnya Lily tidak setuju, tapi melihat wajah kecewa yang ditunjukkan wajah pria paruh baya yang masih tampan di usianya yang sudah mencapai 50 tahun itu.


Hingga Lily pun akhirnya setuju memanggil Alan Ayah, entah kenapa dia juga merasa nyaman dengan panggilan itu. Mungkin karena dirinya yang tidak pernah mengingat kapan dirinya terakhir mengucapkan panggilan itu.


Lily melangkah memasuki gedung perkantoran dengan senyum lebar, "Semoga aku bisa nyaman kerja disini," gumamnya pelan penuh harap.


Jason hendak menghampiri Lily, tapi suara ponsel mengurungkan niatnya untuk menemui gadis yang sangat dirindukannya itu. Jason menerima panggilan dan setelah beberapa menit bicara, panggilan pun terputus dan Jason langsung masuk ke dalam kantor menuju lift khusus yang memang digunakan untuk para petinggi perusahaan.


Setelah berkenalan dengan semua temannya dan mendapat tugas masing-masing, Lily pun mulai mengerjakan pekerjaannya.


Jason yang selesai rapat tanpa sengaja melihat Lily yang sedang membersihkan kaca.


"Kau bisa lanjutkan pekerjaanmu!" Jason membiarkan sekretarisnya untuk pergi terlebih dahulu meninggalkannya, dan sementara dia sendiri memandangi Lily dengan senyum yang terukir di bibirnya tanpa sadar. Rasa marah dan cemburu yang tadi pagi menguasai dirinya lenyap begitu saja hanya karena memandangi gadis yang belum lama ini mengisi seluruh hatinya.


"Ingin sekali rasanya aku memelukmu saat ini, tapi aku tidak mau dianggap sebagai pria yang ingkar janji, pria sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya, hanya ini yang bisa aku lakukan," gumam Jason lalu pergi meninggalkan Lily, karena dirinya harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan membawanya kepada Tuan Mudanya Stevano. 


Lily menengok kiri dan kanan, hanya terlihat beberapa orang berlalu lalang, mungkin karena masih jam kerja sehingga mereka sibuk di tempatnya masing-masing. Tapi sejak tadi Lily merasa ada yang memperhatikannya, tapi begitu menoleh ya hanya itulah yang Lily lihat.


"Mmm kenapa aku jadi merinding ya, aku yakin tadi seperti ada yang memperhatikanku," ucapnya pelan.


"Lily!" Panggil seorang gadis Mira namanya, mereka tadi baru berkenalan dan mereka membersihkan di bagian yang sama.


"Kau ini mengagetkan saja," kata Lily mengusap dadanya dirinya benar-benar terkejut, saat tiba-tiba ada seseorang memanggilnya di saat dirinya masih merasa merinding di tubuhnya.


"Lagian kamu malah melamun, Ayo kita makan siang! Ini sudah jam istirahat," Ajak teman barunya itu.

__ADS_1


"Tapi pekerjaanku belum selesai," jawab Lily yang menunjukkan pekerjaannya yang memang belum selesai.


"Di lanjut nanti saja setelah makan siang, kalau memikirkan pekerjaan itu tidak akan ada habisnya, satu selesai pekerjaan yang lain masih menunggunya," jawaban Mira langsung diangguki oleh Lily. Lily merasa apa yang dikatakan teman barunya itu memang ada benarnya.


"Ya sudah aku bereskan ini dulu," kata Lily memutuskan, perutnya juga sudah lapar.


"Aku bantu biar lebih cepat," ucap Namira yang membantu membereskan peralatan yang tadi Lily gunakan.


Setelah selesai mereka pun langsung menuju ke Kantin perusahaan itu.


"Kau tidak perlu khawatir, apapun yang kau makan gratis, karena ini memang layanan yang diberikan oleh perusahaan kepada para karyawannya," bisik Mira yang melihat Lily ragu memilih apa yang akan dimakannya.


Setelah mengambil makanannya mereka pun mencari tempat duduk yang masih kosong dan memilih duduk di sana.


"Kamu sudah lama kerja disini?" Tanya Lily pada Mira sambil mulai menyiapkan makanan yang ada di piring di depannya.


"Hmm lumayan lama 4 tahun, dan kau tahu selama 4 tahun ini, aku tidak pernah melihat pemilik sesungguhnya tempat kita bekerja ini," ucap Mira menceritakan.


"Orang kepercayaannya, dan pemiliknya hanya sekali-kali datang disaat rapat, tapi rapatnya tidak pernah disini dan lebih memilih di tempat pribadi yang sudah di pesan," kata Mira menceritakan setahunya.


"Oh, tapi kau sudah bertemu dengan orang kepercayaannya itu?" Tanya Lily sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Makan dulu baru ngomong," ucap Mira berkomentar.


Lily hanya mengangguk kemudian meminum minuman pesanannya tadi.


"Kau sudah pernah melihat orang kepercayaannya?" Tanya Lily lagi karena belum mendapatkan jawaban dari Mira.


"Sudah, ya cuma beberapa kali saja, kau tahu dia begitu tampan, sayangnya…"

__ADS_1


Mira menggantung ucapannya.


"Sayangnya apa?" Tanya Lily semakin penasaran.


"Sini!" Mira meminta Lily untuk mendekat, "Sayangnya orangnya kelihatannya galak, dan bahkan tidak ada ekspresi apapun di wajahnya, beliau juga jarang sekali tersenyum, ciri-ciri pria yang kejam," bisik Mira tepat di telinga Lily.


"Benarkah?" Lily bergidik ngeri mendengar cerita teman barunya itu, dia berharap agar jangan sampai bertemu pria yang dimaksud oleh Mira.


Tapi mendengar perkataan Mira, Lily jadi teringat laki-laki yang begitu dia cintai, "Aku sungguh merindukannya," gumamnya pelan dan tentu saja Mira juga bahkan tidak mendengarnya dengan jelas.


"Hah apa? Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Mira yang seperti mendengar Lily berbicara.


"Hmm tidak, aku tidak mengatakan apa-apa," Lily berusaha mengelak.


Mengingat Jason membuat Lily jadi tidak bersemangat, dia benar-benar merindukan pria itu, padahal baru kemarin pagi mereka bertemu, dan sekarang dirinya benar-benar ingin melihatnya. "Bagaimana bisa aku melupakanmu, mendengar orang yang ciri-cirinya mirip denganmu saja, membuatku langsung rindu," ucap Lily dalam hati sambil mengaduk-aduk makanannya.


"Kenapa tidak dimakan lagi? Apa tidak sesuai dengan seleramu?" Tanya Mira yang melihat Lily tidak melanjutkan makannya.


"Hmm tidak, hanya saja aku sudah merasa kenyang," kata Lily memberi alasan.


"Aku duluan ya, mau ke toilet," kata Lily pamit kepada Mira dan kemudian bangun dari duduknya setelah di iyakan oleh teman barunya itu.


Lily membasuh wajahnya berharap agar bayangan Jason bisa menghilang dari pikirannya. Tapi nyatanya bayangan itu terus saja muncul.


"Kenapa kau malah jadi hantu seperti ini?" Kesal Lily yang terus saja kepikiran tentang Jason. Hingga kemudian Lily memutuskan keluar dari toilet dan melanjutkan pekerjaannya.


"Sepertinya aku harus menyibukkan diri dengan pekerjaan agar aku tidak terus kepikiran pria dingin itu, ini gara-gara Mira yang mengingatkanku tentangnya," gerutu Lily yang melangkah meninggalkan toilet.


Jam kerja telah usai dan waktunya untuk pulang, Lily begitu dengan teman-teman yang lain bersiap-siap untuk segera pulang, "Dah sampai jumpa besok," kata mereka satu persatu dan akhirnya meninggalkan ruang ganti khusus karyawan itu.

__ADS_1


"Lily aku pulang dulu," pamit Mira yang di angguki Lily.


Lily kemudian melangkah meninggalkan gedung tinggi itu, dengan berjalan kaki menuju ke halte terdekat, hingga tiba-tiba dirinya terkejut mendengar suara klakson dari mobil yang tiba-tiba berhenti di sampingnya.


__ADS_2