Please Love Me

Please Love Me
Bab 253


__ADS_3

"Sini duduk dulu El!" William menepuk sofa di sampingnya, meminta putrinya untuk duduk.


Liora dengan wajah bingungnya tetap menurut, dia duduk, kemudian diikuti sang ibu. Gadis itu benar-benar tidak menyangka jika Ronald lah yang menjadi calon suaminya. Bukankah William tidak menyetujuinya, Liora masih ingat jelas saat ayahnya itu tidak merestui hubungannya dengan Ronald, bahkan kakaknya Max, sampai menyuruh orang untuk selalu mengawasinya, takut jika dia masih berhubungan dengan Ronald diam-diam. Dan sekarang, apa yang dia lihat, calon suaminya adalah Ronald kekasihnya, pria yang begitu dia cintai.


"Kenapa baby? Apa kamu kecewa karena pria yang dijodohkan adalah aku?" 


"Hmm tidak, aku….hmm aku...aku hanya sedikit bingung dengan apa yang terjadi."


"Jadi siapa ini yang akan menjelaskan?" Tanya William entah pada siapa.


"Papi aja," ucap pria itu, membuat Liora lagi-lagi mengernyitkan dahi bingung.


Sejak kapan papinya dipanggil dia papi.


"Baiklah, Papi akan ceritakan."


Flashback


Saat itu, Ronald datang mewakili pamannya untuk melakukan pertemuan dengan Stevano dan William, mereka membahas kerja sama yang akan kedua perusahaan besar itu lakukan dan semuanya berjalan lancar, dan begitu selesai, Stevano dan William bergantian menjabat tangan Ronald kemudian berpamitan, mereka terlihat profesional.


Saat William dan Stevano akan melangkah pergi, Ronald dengan segera menghentikan langkah mereka.


"Paman, Vano, tunggu! Ada sesuatu yang harus aku bicarakan."


William menoleh, "Maaf sepertinya sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Tuan Ronald," jawab William datar.


"Paman tolong jangan seperti ini, aku mohon dengarkan aku dulu, aku tulus mencintai putri Paman, tidak bisakah paman memberikan kami restu?"


"Maaf Tuan Ronald, kita bertemu disini untuk membicarakan pekerjaan, dan hal itu saya rasa sudah selesai."


William melangkah dan Ronald dengan cepat menghadangnya.


"Apa Paman ingin aku berlutut?"


Ronald tiba-tiba saja duduk bersimpuh  di hadapan William.


William melihat sekitar, banyak orang yang saat ini melihat mereka. 


"Bangun dan ikut aku!" Ujar William dengan cepat melangkah keluar.


Stevano tersenyum, lalu menepuk bahu Ronald.

__ADS_1


"Aku mendukungmu! Jadi berusahalah lebih keras," ucapnya lalu segera menyusul ayahnya.


Tapi baru beberapa langkah, Stevano berhenti dan berbalik.


"Apa yang kamu tunggu, kamu ingin kesempatan yang sudah Papi berikan melayang begitu saja," kata Stevano kemudian melanjutkan langkahnya.


Ronald dengan segera bangun dan berlari mengejar William dan Stevano, dia tidak peduli, apa yang orang pikirkan atas apa yang tadi dia lakukan. Yang terpenting dia bisa berbicara dengan William dan tentunya agar mendapat restu dari pria itu.


Seorang pengawal pribadi membukakan pintu mobil untuk kedua Tuannya dan juga Ronald tentunya.


"Cepat katakan!"


"Aku serius dengan El."


"Oh ya, lalu bagaimana dengan wanita-wanitamu? Aku tidak mau, jika suatu saat kamu menikah dengan putriku, dan tiba-tiba ada wanita yang datang padanya dan bilang jika wanita itu mengandung anakmu," kata William tanpa mau menatap Ronald.


"Soal itu, aku bisa jelaskan paman, aku dan semua wanita itu…, intinya hal itu tidak akan pernah terjadi, aku bisa jamin soal itu, jadi paman tidak perlu khawatir. Jujur saja awalnya aku memang penasaran dengan putri paman, aku mengira jika semua wanita itu sama saja, ternyata El berbeda, dan lama kelamaan, aku menyukainya, tidak lebih tepatnya aku mencintainya," Ronald kemudian menatap William.


"Aku yakin paman sudah tahu, bagaimana kehidupanku dulu, paman pasti sudah mendengarnya dari ayah, karena itu aku mengira semua wanita sama saja, hingga banyak hal yang terjadi, dan aku mengerti bahwa walaupun mereka semua sama, tapi keadaan kenapa mereka melakukan itu berbeda. Dan lagi aku pernah dengar, jika paman pernah berniat menjodohkan El dengan seorang pria, tapi justru itu menyakiti hatinya, apa paman akan melakukan hal itu lagi?"


"Jadi kamu mencari tahu tentang keluarga saya? Ya saya waktu itu memang salah, tapi bukan berarti saya akan mengulang kesalahan yang sama, saya menjodohkan El dengan siapa, terserah saya, karena yang saya yakin, pria pilihan saya adalah yang terbaik, seperti saat itu, tapi sayangnya pria itu mencintai gadis lain."


"Apa maksudmu berkata seperti itu?" William mengepalkan tangannya menatap tajam Ronald.


"William Anderson menjodohkan putra keduanya dengan seorang gadis pilihannya, tapi putra kedua kabur dan digantikan putra pertama, putra kedua menyesal setelah tahu siapa calon mempelai wanitanya, hingga berniat merebut istri dari kakaknya, hingga terjadilah perselisihan antara dua bersaudara, benar kan apa yang aku katakan Stevano?" Ronald kini menatap Stevano meminta pembenaran. Tapi Stevano hanya diam saja, justru William lah yang sekarang kembali berbicara.


"Kau sudah lancang karena mengorek informasi pribadi saya."


"Maaf jika menurut Paman itu lancang, tapi aku tidak mengorek kehidupan pribadi siapa-siapa, semua orang bahkan tahu tentang itu, untuk apa aku harus berbuat sejauh itu, sementara ada orang yang dengan sukarela menceritakan tentang kisah itu kepada saya? El juga berhak bahagia paman, tentunya dengan lelaki pilihannya, oke aku akan mundur jika aku memang lelaki bre****k seperti apa yang orang-orang pikirkan tentangku selama ini, tapi aku bukan lelaki seperti itu, aku akui aku memang bukan orang baik, tapi aku sedang berusaha menjadi lebih baik, untuk memantaskan diri agar bisa bersanding dengan putri Paman."


"Sudahlah Pi, yang dia katakan memang benar, El berhak bahagia, kemarin karena keputusan sepihak Papi El terluka, apa Papi akan melakukan hal itu lagi, dan tentang Ronald, dia memang tidak sebreng**k yang orang-orang pikir selama ini."


"Apa maksudmu Vano?" Tanya William menatap putranya.


Vano menghela nafas dan menceritakan semua fakta yang dia temukan tentang Ronald dan wanita-wanitanya, bahkan Stevano juga menemui mereka semua, yang terdaftar sebagai wanita pria itu.


"Kamu sudah mencari tahu semuanya?" Tanya William terkejut, apalagi selama ini Stevano hanya diam saja. 


Tak hanya William yang terkejut, bahkan Ronald pun ikut terkejut mendengar hal itu. Dirinya tidak menyangka jika Stevano mencari tahu tentang dirinya. 


"Hmm tentu saja, aku tidak membiarkan El berpacaran dengannya jika dia memang seseorang yang tidak baik," kata Stevano dengan santainya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? El dan dia benar-benar berpa…"


"Kamu tahu aku dan El berpacaran diam-diam selama ini?" Tanya Ronald memotong ucapan William.


"Hmm tentu, memang kau pikir siapa yang membantu El setiap akan keluar denganmu tanpa ketahuan Max."


"Vano kamu…" ucap William dan Ronald bersamaan.


"Tidak perlu berterima kasih, aku melakukan itu untuk adikku."


"Tunggu, jadi selama ini kamu…"


"Kebahagian El lebih penting Pi, dan El mencintai Ronald, jadi restuilah mereka, dan papi tidak perlu khawatir karena dia bukan pria yang seperti Max katakan, semua orang pernah salah, baik di masa lalu atau masa sekarang, dan kita tidak berhak menghakimi kesalahan orang lain, jika kita sendiri terkadang masih tidak menyadari kesalahan kita, dan jika papi masih ragu padanya, aku akan tunjukkan hasil pencarianku tentangnya pada Papi nanti."


William diam memikirkan perkataan Stevano. Dia larut dalam pikirannya.


"Apa kamu bisa berjanji padaku, akan membuat putriku bahagia?" Tanya William kepada Ronald setelah cukup lama terdiam.


Ronald tersenyum, "Tentu Paman, aku berjanji akan selalu membuat El bahagia, aku akan selalu mencintainya dan akan selalu bersamanya, hanya maut yang bisa memisahkan kita," jawab Ronald semangat.


"Baiklah, segera bahwa ayahmu kemari untuk melamar putriku secara resmi, jika tidak, aku akan menikahkan putriku dengan pria lain."


"Tentu Paman, aku akan segera membawa ayah kemari," jawab Ronald.


"Lebih tepatnya, aku perlu meyakinkan ayah dulu, hingga bisa membawanya kemari," tambahnya dalam hati.


Flashback off


"Jadi El, waktu itu aku tidak pernah muncul, bukan karena aku menghilang, lebih tepatnya, aku pulang untuk meyakinkan sekaligus menjelaskan pada Ayah, dan itu butuh waktu cukup lama," jelas Ronald.


"Terus kenapa kamu dan papi sudah terlihat akrab, hanya pertemuan saat itu?"


"Tidak, itu karena aku sering berkunjung kemari."


"Kenapa aku tidak pernah melihat?"


"Bagaimana kamu akan melihat, jika kerjaanmu hanya mengurung diri di kamar sepulang kerja," sahut William.


"Jadi bagaimana ini, apa kita bisa melanjutkan acara ini? Lebih tepatnya, apa Nak El menerima lamaran putra paman?" Tanya Mike yang sedari tadi terdiam dan hanya sibuk mendengarkan.


Dan tampak semua tersenyum saat Liora menjawab bahwa dirinya menerima lamaran Ronald.

__ADS_1


__ADS_2