Please Love Me

Please Love Me
Bab 295


__ADS_3

Jason keluar dari kamar mandi, di dapati sang istri yang masih asyik bertelepon, wajah khawatir Lily hilang digantikan dengan wanita itu yang kini sepertinya tampak bahagia, membuat Jason mengernyit. Jason yang penasaran ikut bergabung, duduk di samping Lily mencoba mencuri dengar apa yang sedang kedua wanita itu bicarakan.


"Iya kak, sudah dulu ya, besok aku kesana sama suami aku. Selamat sekali lagi," Ucap Lily yang kemudian mengakhiri telepon mereka karena mencium wangi sabun yang menguar mengusik indera penciumannya. Wangi yang menjadi candu bagi Lily yang ingin segera memeluknya erat dan tidak ingin melepaskan.


"Kenapa? Selamat untuk apa?" Lily menatap suaminya dan memeluknya erat, mengendus aroma pada tubuh suaminya.


"Kak Liora hamil," beritahu Lily.


"Liora hamil?"


"Hmm, jadi besok kita harus menjenguknya. Tapi kita menjenguk di rumah saja, sorenya habis kamu pulang kerja, soalnya Kak Liora bilang, dia akan pulang besok siang, Jasmine juga."


"Baiklah, besok aku akan pulang lebih awal besok."


Lily mengangguk, kemudian mengurai pelukan sebentar menatap wajah suaminya.


"Buka!" Pinta Lily penuh harap.


Sementara Jason mengernyit tidak tahu apa maksud sang istri.


"Buka kaos yang kamu pakai!" Lily menarik kaos polos berwarna hitam yang dipakai suaminya ke atas.


"Jason mengangkat kedua tangannya, membiarkan sang istri melakukan apa yang diinginkannya.


Setelah berhasil melepas pakaian suaminya, Lily meletakkan di belakangnya, naik ke pangkuan Jason dengan posisi saling berhadapan, dan lalu memeluk pria itu kembali.


Jason ikut melingkarkan kedua tangan di tubuh istrinya, mengelus punggung wanitanya dengan penuh kelembutan.


*


*


Sepertinya janjinya kemarin, Lily dan Jason kini berada di dalam mobil, melakukan perjalanan menuju kediaman William.


"Cinta senang mau ketemu Vira?" Tanya Lily pada putrinya yang duduk di pangkuannya. Lily dan Jason sengaja mengajak Cinta karena kebetulan Ayah dan ibunya sedang pergi menghadiri pesta pernikahan anak teman ayahnya, hingga tidak ada yang menjaga Cinta di rumah, selain itu, putrinya juga bilang ingin bertemu dengan anak sahabatnya.


"Senang Bu, kata Kak Vila, Kak Vila punya adik bayi."


"Iya sayang, nanti sekalian kita lihat adek bayi nya ya."


Cinta mengangguk lalu mengelus perut ibunya.


"Kak Cinta sudah tidak sabal ingin dedek juga cepat kelual, bial kita main sama-sama."


"Iya Kak Cinta." Jawab Jason menirukan suara anak kecil.


"Ayah tidak cocok!" Komentar Cinta dengan bibir mengerucut.


Jason terkekeh, mengulurkan tangan meraup wajah cemberut Cinta.


"Ayah!" Kesal Cinta.


"Sayang sudah, kamu suka sekali menggoda Cinta." 


"Habisnya lucu, lihat wajah kesal Cinta, kayak kamu."

__ADS_1


"Kamu ini!"


"Ibu masih lama tidak?"


"Hmm tidak kok sayang sebentar lagi," jawab Lily sepertinya kekesalan putrinya tadi sudah hilang.


"Ayah nanti sama paman Vano saja, jangan ikut-ikut ibu, ibu mau sama Cinta." Ujar Cinta memberi ultimatum.


"Terserah ayah dong, bagaimana kalau ayah ingin sama ibu?"


"Ibu, ayahnya nakal!" Adu Cinta.


"Sayang!"


"Hehe maaf," ucap Jason mengelus rambut sang istri.


Kini Cinta sibuk bertanya pada Lily tentang apa yang baru saja di lihatnya. Rasa ingin tahu anak kecil itu kadang membuat Lily harus memutar otak agar tidak salah menjawab. Tak terasa kini akhirnya mobil Jason kini sudah di depan gerbang tinggi nan megah kediaman William. Pengawal yang memang sudah sangat hafal mobil orang kepercayaan Tuannya itu, dengan segera membukakan gerbang membiarkan mobil Jason masuk.


"Selamat malam Tuan."


Jason hanya mengangkat tangannya membalas sapaan mereka.


Mobil Jason berhenti, dua orang berlari menghampiri, masing-masing membuka pintu sisi kanan dan kiri, tepatnya samping Jason dan Lily duduk.


Jason segera mengambil alih Cinta dalam gendongannya, dan membantu istrinya turun, dengan menaruh tangan di atas kepala Lily, agar kepala istrinya tidak terbentur. 


"Terima kasih," ucap Lily pada dua pengawal yang membantunya.


Setelah itu, Lily dan Jason kini melangkah masuk, pintu terbuka pelayan menyambut kedatangan keluarga kecil Jason mempersilahkannya masuk, mengantarkan ke ruang keluarga dimana semua orang kini sedang berkumpul.


Jason dan Lily mengusap dada lega, mengira jika putrinya akan menangis, ternyata tidak sama sekali. Sepasang suami istri itu kini justru tersenyum saat melihat putrinya kini berceloteh pada teman-temannya, siapa lagi jika bukan Alno, Ken, Vier dan Vira.


Lily dan Jason kemudian berjalan mendekat dan duduk di samping Liora, yang sedang menemani anak-anak bermain bersama Ronald.


Kedatangan Jason langsung disambut Ronald yang kini sudah berdiri.


"Selamat bro," ucap Jason menepuk bahu Ronald.


"Terima kasih," jawab Ronald kemudian pria itu mengajak Jason untuk mengobrol di tempat lain, yang tentunya tidak jauh dari jangkauan istri-istri mereka.


Sementara itu, Lily ikut bergabung dengan Liora dan anak-anak.


"Oh ya Jasmine mana?"


"Di kamar sama Kak Vano."


Lily mengangguk mengerti, 


"Oh ya, kamu sudah tahu jenis kelaminnya?" Tanya Liora yang kini mengelus lembut perut Lily.


"Perempuan."


"Wah Kak Jason laki-laki sendiri dong."


"Gak lah, nanti kita bikin lagi sampai aku ada teman di rumah."

__ADS_1


Bukan Lily yang menjawab, tapi Jason yang ternyata menyimak pembicaraan mereka.


Ronald hanya menggeleng, sementara Lily menunduk malu.


"Yang ini aja belum lahir, kamu sudah mau bikin lagi-bikin lagi aja."


"Yan kan nanti istriku, biar rumah jadi ramai. Iya kan Kak Cinta?" Jawab Jason lalu meminta dukungan putri kecilnya, yang memang tadi melihat ke arah Jason saat mendengar suara pria itu.


"Kenapa ayah?"


"Kamu mau adek yang banyak kan?"


"Mau." Cinta mengangguk antusias.


"Tuh sayang, Cinta aja mau," bangga Jason karena Cinta mendukung perkataannya.


"Kamu ih."


Jason terkekeh, sementara Cinta sudah kembali sibuk bermain boneka bersama Vira.


"Baru tau aku, Kak Jason bisa bicara tanpa disaring gitu," bisik Liora pada Lily.


"Sekarang aja dia bisa bicara seperti itu." Jawab Lily ikut berbisik.


"Jangan membicarakan orang di belakangnya."


"Tenang saja Kak, karena kami membicarakan orang di depannya secara langsung.


Jason hanya mendengus, sementara Ronald terkekeh.


Jason dan Ronald menoleh, saat mendengar langkah kaki yang ternyata Stevano.


Jason langsung berdiri dan menunduk memberi hormat, membuat Stevano menatap Jason tajam.


"Sudah aku bilang, bersikaplah biasa jika di luar kantor. Anggap saja kita teman," ucapnya.


"Bukankah kalian memang sudah berteman?" Liora menatap bergantian Stevano dan Jason.


"Mana ada teman menundukkan kepala seperti itu."


"Maaf Tuan, saya hanya sudah terbiasa, jika disini."


"Tapi kau bisa tidak melakukan itu, jika aku datang ke rumah kalian."


"Tentu saja, karena Anda hanya tamu disana dan aku tuannya."


Plak


Stevano menepuk lengan Jason cukup keras.


"Argh! Bisa tidak kau kira-kira jika menepuk, sudah mau ngajak perang saja," protes Jason sambil mengusap-ngusap lengannya bekas tepukan Stevano.


"Maaf aku juga sudah terbiasa," jawab Stevano cuek lalu duduk di sofa single tepatnya di depan Jason.


Jason lagi-lagi mendengus mendengar jawaban Stevano.

__ADS_1


Lily dan Liora hanya menggelengkan kepala, kedua wanita itu memilih berpamitan untuk menemui Jasmine dan bayinya. Sementara anak-anak, mereka titipkan pada ayah mereka.


__ADS_2