
Kaca jendela mobil itu diturunkan, "Ayo masuk!" Perintahnya kemudian.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," jawab Lily setelah tahu siapa orang di dalam mobil itu.
Tin
Tin
Suara klakson mobil di belakangnya terus bersahutan.
"Ayo, kau tidak dengar mereka menungguku," kesal Jason karena Lily tidak juga masuk ke dalam mobilnya.
"Nona jangan berantem di tengah jalan, maafkan saja pacarnya, lihatlah karena pacar Anda kami tidak bisa jalan," Teriak salah satu pengguna jalan protes kepada Lily.
"Ya sudah jalan saja sekarang!" Kata Lily kepada Jason. "Apa kau tidak mendengar mereka menunggumu untuk jalan?" Kesal Lily karena Jason tidak segera melajukan mobilnya hingga dia mendapatkan tatapan tajam dari pengguna jalan lainnya tapi Jason masih tidak bergeming.
Dengan kesal Lily pun akhirnya masuk. Jason tersenyum menang, dan kemudian mulai menjalankan mobilnya.
"Kau darimana?" Tanya Jason pura-pura tidak tahu.
"Pulang kerja," jawab Lily singkat yang kemudian menyandarkan tubuhnya.
"Kau sudah mendapatkan pekerjaan? Padahal aku juga akan sudah menemukan pekerjaan yang cocok untukmu," kata Jason tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang fokus mengemudi.
"Tidak perlu, terima kasih," jawab Lily yang kini memandang ke luar jendela.
Lily sengaja memandang keluar jendela, karena untuk menyembunyikan rasa senangnya, akhirnya laki-laki yang di rindukannya kini ada di sampingnya.
Jason diam-diam mencuri pandang ke arah Lily, dia tersenyum melihat gadis itu.
"Bagaimana pekerjaan barumu?" Tanya Jason di tengah keheningan yang terjadi.
"Hmmm menyenangkan dan kau tahu aku langsung mendapatkan teman baru," cerita Lily dengan semangat.
Jason senang mendengar itu, "Semoga saja kau akan betah di tempat kerja barumu," ucap Jason penuh harap.
__ADS_1
"Sepertinya aku betah tapi kau tahu, pemilik perusahaan tempatku bekerja tidak ada yang tahu dia siapa, dan temanku bilang hanya orang kepercayaannya yang selalu datang ke perusahaan," cerita Lily lagi.
"Ya aku tahu," gumam Jason pelan bahkan Lily pun tidak mendengarnya.
"Hah kau bilang apa?" Tanya Lily karena seperti mendengar gumaman pria itu tapi tidak jelas.
"Tidak ada," jawab Jason kemudian.
Lily kemudian mendekat ke arah Jason dan berbisik. "Tapi kata temanku, orang kepercayaan pemilik perusahaan, terlihat seperti pria yang kejam, datar, dingin dan tanpa ekspresi apapun, wajahnya sangat kaku karena jarang tersenyum," Lily kemudian kembali duduk seperti semula. "Hah membayangkan ceritanya saja sudah mengerikan, aku harap tidak akan bertemu dengannya," kata Lily penuh harap.
Sementara itu Jason mengeratkan pegangan pada setir mobilnya, wajahnya merah padam, "Beraninya orang itu menakut-nakuti gadisku, tidak maksudku berani dia membicarakan kejelekanku di depan gadisku, lihat saja aku akan memberikan pelajaran pada orang yang mengataiku pria kejam itu," kesal Jason dalam hati mendengar cerita Lily tentang dirinya.
"Oh ya, aku tidak akan mungkin bertemu dengannya kan? Aku kan hanya tukang bersih-bersih biasa, jadi aku pasti tidak akan bertemu dengan pria itu, ya tidak akan pernah," Lily bertanya tapi dia sendiri yang justru menjawab pertanyaannya.
"Lihat saja, karena ceritamu, gadisku ini tidak ingin bertemu denganku, awas saja kau nanti!" Jason masih saja menggerutu di dalam hati.
Lily menatap Jason karena merasa diabaikan pria itu, dia sudah cerita panjang lebar tapi sama sekali tidak mendapatkan respon dari pria di sampingnya itu.
Yang ditatap masih dengan wajah memerah karena marah, mendengar cerita gadis yang yang dicintainya itu.
Lily menyentuh pipi Jason, membuat Jason langsung terkejut hingga dia mendadak mengerem mobilnya.
"Apa kamu sakit? Wajahmu kenapa merah sekali?" Tanya Lily khawatir apalagi Jason langsung mengerem mobil, tanpa tahu jika Jason melakukan itu karena sentuhan dirinya yang tiba-tiba. Untung saja jalanan yang mereka lewati sepi, sehingga tidak harus mendapat amukan dari pengguna jalan yang lain.
Tapi tak lama Jason menyembunyikan senyum penuh arti, sepertinya dia punya ide agar bisa dekat dengan gadisnya itu.
"Aww," ringis Jason memegang kepalanya.
"Kenapa? Apa kamu merasa pusing?" Panik Lily.
"Aww, iya kepalaku rasanya berputar-putar," kata Jason yang kini menenggelamkan wajahnya di setir mobil.
"Terus bagaimana ini? Maksudku kita masih di jalan," Lily memandangi jalanan sekitar, hari sudah semakin gelap, apalagi matahari sudah kembali keperaduannya.
Lily tampak berfikir, sementara Jason tersenyum melihat kekhawatiran di wajah Lily tadi.
__ADS_1
"Baiklah aku yang akan menyetir, aku bantu kamu pindah kesini," ucap Lily memutuskan setelah berpikir cukup lama.
Jason langsung melotot mendengar itu, bagaimana mungkin Lily yang menyetir, apa gadis itu bisa, kata-kata itu tiba-tiba muncul difikirannya.
"Tidak, aku tidak bisa, bagaimana jika terjadi apa-apa, aku belum siap, aku bahkan belum memperjuangkan cintaku, dan memiliki gadis ini," ucap Jason dalam hatinya tampak berfikir.
"Tunggu tapi kalau kau menolaknya, bukankah dia akan curiga, dan kau tidak bisa lebih lama dengannya," seperti ada yang berbisik seperti itu di sebelah kirinya.
"Iya benar juga yang kau katakan," kata Jason membenarkan bisikan itu.
Setelah berperang dengan hatinya Jason pun memutuskan, "Baiklah lebih baik aku yang berkorban, bukankah cinta butuh pengorbanan," keputusan yang terpaksa dia ambil karena hanya ingin lebih lama bersama gadis itu, Jason tidak peduli jika setelah ini dirinya akan berbaring di ranjang rumah sakit, yang penting dia bisa bersama gadis yang sedang tampak khawatir dengan kesakitan pura-puranya.
Lily turun dan membuka pintu mobil sebelahnya, dimana Jason berada dan membantu Jason turun dan mereka berganti posisi.
"Ah sudah," kata Lily setelah berhasil memindahkan Jason yang masih memegang kepalanya berpura-pura sakit.
Lily kemudian berlari kecil menuju ke kursi kemudi, membuka pintu mobil dan duduk di sana. Lily meregangkan jari-jari tangannya, baginya mengemudi sudah seperti dia akan melawan preman jalanan. Rasanya jantungnya berdebar dengan kencang, bahkan keringatnya sudah menetes membasahi sebagian wajahnya.
Jason semakin ragu pada keputusannya melihat Lily sekarang, "Apa aku jujur saja, dan kembali menyetir seperti tadi?" Jason bertanya-tanya dalam hatinya.
"Tidak, tidak, kapan lagi aku bisa dekat dengannya seperti ini, aku harus mengalah dan bersabar, aku bisa mengajarinya pelan-pelan," pertanyaan yang diajukan di dalam hatinya bahkan kini dia jawab sendiri.
"Kamu tenang dan jangan gugup, tarik nafas, buang perlahan," kata Jason kepada Lily dengan suara dibuat selemah mungkin.
"Ya baiklah, tarik nafas," Lily tampak menarik nafasnya dalam-dalam.
"Buang," Jason memberi instruksi dan diikuti Lily dengan membuang nafasnya perlahan.
Lily melakukan itu berkali-kali sesuai instruksi Jason, hingga dirinya kini bisa merasa tenang, kemudian Jason pun memberi arahan kepada gadis itu, bagaimana menjalankan mobilnya, tampak Lily memperhatikan dengan seksama.
"Sudah mengerti?" Tanya Jason menatap Lily dengan penuh keraguan.
"Ya aku mengerti," jawab Lily mantap.
"Ya sudah cobalah," perintah Jason pada Lily. "Kini kupasrahkan hidupku sepenuhnya kepada Mu Tuhan," tambahnya dalam hati.
__ADS_1
Lily menjalankan mobil itu sesuai apa yang Jason tadi ajarkan, hingga tak lama tiba-tiba…
Brak