
"I love you too Pria dingin," ucap Lily dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Jason kemudian sedikit melonggarkan pelukannya dan membalik tubuh Lily hingga saat ini, mereka tidur dengan saling berhadapan.
"Aku tahu kamu belum tidur," ucap Jason mengusap lembut pipi Lily.
"Kata siapa aku belum tidur, aku tadi sudah tertidur, tapi karena kamu berisik makanya aku jadi bangun," jawab Lily berkilah.
"Aku tadi berbisik bukan berisik," Jason tidak terima saat istrinya justru bilang dirinya berisik.
"Ya sudah, ayo tidur, sudah malam, kamu pasti juga lelah seharian ini," ucap Jason kemudian memejamkan matanya.
Lily mengangkat tangannya dan menyusuri wajah Jason dengan jarinya, alisnya yang lumayan tebal, hidungnya yang mancung serta bibirnya," Lily yang sudah tidak sabar mengecup bibir suaminya yang sedari tadi dia pandangi.
Saat Lily hendak melepas ciuman itu, Jason justru menahan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka.
Nafas keduanya terdengar memburu saat ciuman itu terlepas.
"Jassoon"
Tubuh Lily menegang dan gelenyar nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya, perutnya terasa diaduk-aduk.
Nafas Lily meningkat saat suaminya merubah posisi dan kini menindihnya. Hingga keduanya pun larut dalam penyatuan cinta mereka.
***
Lily menggeliat pelan dalam tidurnya, tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya, dia baru saja tidur dua jam yang lalu setelah mandi dan berendam hampir satu jam setelah melakukan kegiatan percintaan mereka.
Saat membuka mata dilihatnya pria yang dicintainya itu tampak masih tenang dalam tidurnya.
Lily tersenyum mengingat kejadian semalam, entah berapa kali mereka melakukannya. Tangan Lily bergerak membelai dengan lembut wajah Jason yang masih terlelap hingga gerakan itu terhenti saat merasakan ada pergerakan dari suaminya itu.
Tak lama mata Jason terbuka, dia tersenyum hangat, senyum yang sangat jarang terlihat dan mungkin akan terlihat jika hanya bersama Lily, gadis yang dicintainya, yang sekarang sudah berstatus sebagai istrinya.
__ADS_1
"Selamat pagi sayang," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan tepat ke dalam mata Lily. Hingga tiba-tiba dia mendaratkan bibirnya di bibir Lily.
Rasanya sangat bahagia, itulah yang mereka rasakan sekarang terlihat dari senyuman lebar yang terukir di sudut bibir keduanya.
"Pagi," balas Lily setelah tautan bibir mereka terlepas.
Drt
Drt
Terdengar bunyi ponsel bergetar membuyarkan tatapan keduanya.
Jason bangun dan mengambil ponselnya yang ternyata bergetar. Jason pun mematikan panggilan itu, kemudian mengembalikannya ke tempat semula.
"Kenapa tidak diangkat, mungkin saja penting," kata Lily mencoba untuk bangun, menyusun bantal dan menyandarkan tubuhnya.
"Kamu jauh lebih penting, oh ya apa masih sakit?" Tanya Jason mencoba mengalihkan pembicaraan agar istrinya itu tidak lagi membahas soal panggilan telepon tadi.
"Kenapa hmm? Jangan berpikir macam-macam, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan," Jason meyakinkan istrinya lalu mencium kening istrinya lama, Jason merasa ada perubahan pada istrinya.
"Kamu mau sarapan di kamar atau ruang makan?" Tanya Jason membuyarkan lamunan istrinya.
"Di ruang makan saja, takutnya Ayah menunggu kita," jawab Lily kemudian turun dari tempat tidur.
"Kamu mau kemana?" Tanya Jason yang melihat istrinya justru hendak melangkah meninggalkannya.
"Aku mau ke kamar mandi, cuci muka," jawab Lily yang kemudian berlalu dengan langkah yang sedikit aneh.
Jason hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tadi bilangnya sudah tidak sakit," gumamnya kemudian segera bangun dan menghampiri istrinya.
Tanpa banyak kata tubuh Lily tiba-tiba melayang di udara, Lily menatap Jason yang tiba-tiba menggendongnya seperti sebelumnya.
"Jangan membantah, aku tahu kamu masih merasakan sakit," kata Jason saat istrinya itu akan memprotes apa yang baru saja dilakukannya.
__ADS_1
"Hanya sedikit," Lily menyembunyikan wajahnya di dada bidang Suaminya saat merasakan panas pada pipinya dan dapat dipastikan jika saat ini wajahnya memerah karena malu.
Jason gemas melihat wajah malu-malu sang istri yang sebelumnya dia belum pernah lihat.
Setelah sampai di dalam kamar mandi, Jason menurunkan Lily dan mendudukkannya di pinggiran tatakan wastafel yang terbilang cukup luas, jika tidak mana mungkin Lily bisa duduk disitu.
Jason kemudian mengambil sikat gigi Lily, mencuci dan memberinya pasta gigi kemudian membantu istrinya itu menggosok gigi.
"Aku bisa sendiri, berikan padaku," tolak Lily pada awalnya, tapi sang suami tidak mengizinkannya, hingga akhirnya Lily hanya bisa pasrah suaminya yang membantunya.
"Mau jalan-jalan?" Tanya Jason pada istrinya yang baru selesai berkumur.
"Mmm tidak deh, besok saja. Lagian aku juga ambil cuti seminggu, jadi masih sisa 3 hari lagi," jawabnya sambil menatap wajah Jason.
Lily tiba-tiba memeluk Jason, Jason yang tidak siap hampir saja limbung saat istrinya tiba-tiba memeluknya, untungnya dia langsung berpegangan pada pinggiran wastafel.
"Kenapa?" Jason bertanya saat dia merasa kaos yang dipakainya basah, dan dia yakin saat ini istrinya menangis.
Lily hanya diam saja.
"Apa masih sakit?" Tanya Jason khawatir.
Lily dengan cepat menggeleng, tak lama Lili melepas pelukan itu dan kembali memandangi suaminya.
Jason menghapus air mata Lily, "Maaf karena telah menyakitimu, dan tolong jangan menangis lagi," ucapnya dengan suara yang lembut, yang jarang sekali bahkan tidak pernah didengar oleh orang lain.
"Aku hanya tidak menyangka jika akhirnya bisa memilikimu, terima kasih karena memperjuangkan cintamu untukku, terima kasih karena tidak berpaling disaat aku bilang ingin menjauh darimu, dan maaf jika aku menyakitimu karena perkataanku waktu itu, aku hanya tidak ingin kamu menyesal, aku ingin kamu memikirkan baik-baik dan mencari tahu siapa orang yang benar-benar kamu sayang," air mata yang tadi dihapus kini kembali tumpah.
Jason kemudian membawa Lily ke dalam dekapannya, "Tidak sayang, harusnya aku yang berterima kasih, terima kasih karena sudah memberiku cinta yang besar, yang walaupun kamu terluka kamu tetap bertahan untukku, karena kamulah aku jadi menyadari perasaanku sesungguhnya, karena kamu aku tahu bahwa bukan tentang siapa yang cepat yang dapat, tapi yang benar-benar bisa membuat bertahan, bahkan disaat aku pernah menolaknya. Maaf karena sempat membuat menyerah, dan maaf jika aku melanggar janjiku yang bilang aku akan menjauh darimu, tapi nyatanya aku selalu berada dibelakangmu walau itu dengan cara yang diam-diam, karena aku tidak ingin orang yang aku cintai terluka ataupun menderita karena sikap dan ucapanku," Jason yang tak kuasa pun ikut larut dalam perasaan yang kini istrinya juga rasakan.
"Janji jangan pernah tinggalkan aku Jason, aku mencintaimu, dan membayangkan hidup tanpamu sungguh hal itu saja sangat membuatku menderita.
"Aku tidak mau berjanji tapi aku akan selalu berusaha untuk selalu berada di sisimu, Istriku, dan aku juga meminta padamu, untuk tetap berdiri di sampingku, jangan pernah lepaskan genggaman tanganmu padaku apapun yang terjadi, karena pernikahan ini bukan akhir dari kisah cinta kita, tapi sesungguhnya pernikahan ini adalah awalnya, masih banyak hal yang menanti kita kedepannya, dan kita akan hadapi semuanya bersama," Jason kemudian melonggarkan pelukannya dan mengecup kening Lily lama dan penuh rasa sayang.
__ADS_1