Please Love Me

Please Love Me
Bab 189


__ADS_3

"Baiklah, Kak Al boleh pergi, tapi janji harus cepat kembali," ucap Lily yang akhirnya mengijinkan kakaknya pergi setelah mendengar alasan kepergian Al dari dua pria yang disayanginya.


"Baiklah, kamu tenang saja, Kakak pasti akan segera kembali," Al tersenyum dan mengacak rambut adiknya.


"Kak Al nanti berantakan rambutku," kata Lily segera menyingkirkan tangan Al dari kepalanya.


"Ya sudah Kakak berangkat sekarang, nanti ketinggalan pesawat," Al kemudian berpamitan kepada Ayah dan adiknya, dan Jason pria itu yang kini mengantarkan Al ke bandara.


"Iya hati-hati," ucap Lily dan Alan bersamaan.


Lily melambaikan tangannya, saat melihat mobil kakaknya sudah melaju meninggalkan kediaman mereka.


Alan merapikan rambut putrinya yang berantakan, "Kak Al pergi, Ale dan Jason tetap disini ya temani Ayah, kalau akhirnya kalian pergi, Ayah pasti akan kesepian tinggal sendirian disini," ucap Alan yang kini memeluk putrinya.


"Ayah tenang saja, aku dan suamiku tidak akan pergi dari rumah ini, lagian bukankah Ayah sudah mengajukan syarat pada suami Ale kan sebelum menikah untuk tidak meninggalkan rumah ini, tapi Ayah…" Lily pun mendongak menatap ayahnya.


"Kenapa?" Alan menunduk menatap putrinya curiga.


"Bukankah lebih bagus jika Ayah menikah dengan Ibu Dea, Ayah jadi tidak kesepian lagi, dan rumah juga akan semakin ramai, Ale lihat hubungan Ayah dan Ibu Dea juga semakin dekat, jadi mau tunggu apalagi? Mau tunggu Ayah sampai cucu Ayah lahir gitu? Kayaknya seru juga deh, jika nanti Ayah punya anak lagi bersama Ibu Dea, nanti gedenya bisa barengan sama anak Ale," ucap Lily yang tiba-tiba membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.


"Kamu ini ada-ada saja," Alan segera melepaskan pelukannya pada sang putri, tapi Lily justru menahan dan memeluknya semakin erat.


"Ayah jangan menghindar deh, Ale sedang serius nih, ayolah Yah, Ale kan selama ini tidak meminta apapun, apa meminta satu hal ini saja, Ayah tidak bisa melakukannya, lagian Ale tidak akan memaksa jika kalian memang tidak saling mencintai, tapi ini, Ayah dan Ibu Dea saling mencintai, baik aku dan Kak Al juga akan mendukung Ayah, jadi tidak perlu ditunda-tunda lagi bukan? Kalau semakin lama Ayah menundanya, bagaimana kalau Ibu Dea justru direbut orang lain," kata Lily berusaha membujuk Ayahnya.


"Itu tidak mungkin, awas saja jika dia berani menyebut Dea dariku," kata Alan tidak terima.


Mendengar nada bicara ayahnya, Lily tersenyum, "Cie yang tidak rela pujaan hatinya direbut, tapi tidak mau juga cepat-cepat memberi kepastian, jangan gitu tau Yah, nanti jika yang aku katakan ben…"


Alan dengan cepat membungkam mulut putrinya agar tidak melanjutkan ucapannya.


"Berhenti Ale jangan katakan hal itu lagi, ingat ucapan adalah doa, dan ayah tidak mau hal itu sampai terjadi," kesal Alan karena putrinya terus mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengarnya.

__ADS_1


"Mmmm," Lily berusaha menyingkirkan tangan ayahnya.


"Ayah bau obat," gerutu Lily.


"Oke, oke, aku tidak akan mengatakan hal itu lagi, tapi sekarang katakan apa rencana Ayah, kapan Ayah akan melamar Ibu Dea?" Tanya Lily kini melepaskan pelukan Ayahnya dan duduk menghadap ke arah Ayahnya, menatap pria itu penuh selidik.


"Ada deh, sudah ah nanti kamu tinggal terima beres saja," ucap Alan yang segera berdiri dan meninggalkan putrinya untuk menuju ke kamarnya dengan senyuman yang terukir di sudut bibirnya, membiarkan putrinya penuh dengan rasa penasaran.


"Akhirnya," ucap Lily tersenyum kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang yang juga berhak tahu akan hal baik ini.


*


*


"Maaf Pak, apa para karyawan disini semuanya sudah pulang?" Tanya seorang pria yang sudah menunggu seseorang hampir satu jam lamanya.


"Iya Tuan, sudah pulang dari 1 jam yang lalu, mungkin masih ada tapi hanya beberapa yang memang disuruh untuk lembur, maaf apa ada yang bisa saya bantu," ucap petugas keamanan yang berjaga.


"El?" Satpam itu tampak sedang mengingat-ingat apa ada karyawan di tempatnya bekerja yang bernama El seperti yang Ronald sebutkan.


"Maaf Tuan sepertinya disini tidak ada yang bernama El? Atau mungkin Anda salah tempat?" Tanya petugas keamanan yang kini meragukan Ronald.


"Tidak mungkin salah, karena tadi pagi aku sendiri yang mengantarnya bahkan melihat dia masuk," jelas Ronald.


"Mungkin dia membohongi Tuan, jaman sekarang jangan mudah percaya sama orang apalagi yang baru dikenal," ujar petugas keamanan yang kini justru menasehati Ronald.


"Dia tidak mungkin bohong, aku juga melihatnya disaat pertemuan pengajuan kerjasama, karena dia saat itu juga ikut saat pertemuan," ucap Ronald lagi.


"Mmm begini saja, apa Tuan ingat dia bekerja di bagian mana?" 


"Sekretaris, dia sekretaris pemimpin perusahaan ini, bahkan dia juga sering keluar bersama pemimpinnya untuk pertemuan diluar.

__ADS_1


"Oh maksud Anda, Nona Eliora?" 


"Iya benar dia, apa dia juga lembur hari ini?"


"Tidak Tuan, Nona Liora sudah pulang sejak siang."


"Pulang? Siang tadi? Kenapa?" Gumam Ronald yang masih didengar oleh petugas itu.


"Saya tidak tahu Tuan, tapi sepertinya mereka pergi dengan buru-buru," beritahu petugas seperti apa yang dilihatnya.


"Mereka? Maksudnya dia tidak pulang sendiri? Memangnya dia bersama siapa?" Tanya Ronald lagi.


"Iya Tuan, Nona Liora pulang bersama Tuan Jason, pemimpin perusahaan ini, dan sepertinya mereka tidak akan kembali lagi," jelasnya.


"Apa hubungan El dengan pria itu? Kenapa aku sering melihat mereka berdua" ucap Ronald dalam hati.


"Terima kasih Pak, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Ronald setelahnya dan segera pergi dan kembali masuk ke dalam mobilnya, melajukannya menuju ke kediaman orang tua Liora, memastikan bahwa gadis itu memang pulang ke rumahnya.


Ronald mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Liora tapi tak kunjung juga mendapatkan jawaban, hingga membuat Ronald akhirnya kesal sendiri.


"Beraninya kamu El mengingkari janji yang kau ucapkan," kata pria itu sambil mencengkram setir, melampiaskan kekesalannya.


Tak lama, mobil yang Ronald kendarai telah sampai di kediaman orang tua Liora, Ronald menurunkan kaca jendelanya bertanya pada salah satu pengawal.


"Maaf apa El  ada di rumah?" Tanya Ronald tapi dirinya harus kecewa saat mendengar bahwa gadis yang sedari tadi dicarinya memang pulang tapi sudah pergi lagi, tepatnya satu jam yang lalu.


"Boleh saya tahu kemana dia pergi?" Tanya Ronald lagi.


"Maaf Tuan kami tidak tahu, karena Nona El datang langsung menjemput Nyonya dan terburu-buru pergi lagi," kata pengawal yang memang tidak tahu kemana majikannya pergi.


"Ada apa?" Tanya pengawal yang lain menghampiri.

__ADS_1


"Nyonya dan Nona kamu tahu mereka pergi kemana?" Tanya pengawal yang sedari tadi berbicara dengan Ronald yang kini menatap mereka bergantian, berharap jika pengawal yang baru saja datang tahu kemana El pergi.


__ADS_2