Please Love Me

Please Love Me
Part 126


__ADS_3

"Apa maksudmu?" Lily menatap Jason tajam tidak terima dengan apa yang suaminya baru saja ucapkan.


"Kamu meragukan perasaanku, kamu tahu bagaimana saat aku mengejarmu, tapi kamu meragukan perasaanku tanpa pikir panjang," marah Lily.


"Sayang bukan seperti itu maksudku, aku hanya takut saja, tidak bermaksud meragukan perasaanmu seperti tadi yang kamu katakan," Jason mengusap wajahnya kasar saat melihat istrinya yang justru marah.


"Tapi perkataan kamu itu yang seolah meragukan rasa cintaku? Saling suka? Kamu pikir segampang itu?" Lily benar-benar tidak tahu jalan pikiran suaminya.


"Tidak, maksudku bagaimana kalau dia yang menyukaimu?"


"Terus kenapa? Itu hak dia, aku juga tidak berhak untuk melarangnya. Yang terpenting aku tidak menyukainya bukan, lagian jangan terlalu percaya diri seperti itu, mana mungkin dia langsung menyukaiku, kamu sendiri saja butuh waktu cukup lama bukan untuk menyukaiku?" 


Kali ini Jason terdiam, tidak bisa menjawab ucapan istrinya. 


"Jadi mana mungkin orang yang hanya dalam hitungan hari,tidak bukan jam melainkan menit, bisa langsung menyukaiku, karena apa tidak ada yang istimewa dariku, jadi kamu tidak perlu khawatir akan hal itu."


"Kamu tidak tahu saja jika dirimu istimewa, bahkan sangat istimewa, jika tidak mana mungkin aku jatuh cinta padamu bahkan sampai menghapuskan perasaan cinta yang sudah aku miliki cukup lama," ucap Jason dalam hati.


"Tapi dengan kamu memberikan senyuman yang seperti itu, mungkin dia nanti suka, kan kamu tidak tahu yang ada di dalam hati dan pikiran dia," akhirnya Jason mengungkapkan apa yang sedari tadi di pendamnya, kenapa dia tidak suka Lily tersenyum ke pria itu.


"Dan juga tadi kamu bahkan kejar-kejaran sama dia, dan aku sangat-sangat tidak suka karena itu," kata Jason yang terdengar seperti rengekan.


"Kenapa cuma kejar-kejaran," jawab Lily bingung.


"Apa perlu aku ingatkan?" Kesal Jason melihat tanggapan istrinya.


"Kamu lupa kalau awal mula kita saling jatuh cinta karena kejar-kejaran, bahkan kamu langsung menciumku begitu saja, bahkan kamu bilang jika kamu mengira aku hanya khayalan, dan kamu tadi tidak melakukan hal seperti itu kan?"


Lily kemudian tertawa, membuat Jason semakin kesal saja.


"Kenapa kamu malah tertawa, benar kamu tadi juga seperti itu dengannya?" Jason menatap Lily dengan tatapan penuh selidik.


"Kamu cemburu?" 

__ADS_1


"Tentu saja, tidak perlu kamu tanyakan harusnya kamu tahu."


Lily berjinjit dan menarik hidung suaminya gemas, "Aduh duh, ternyata pria dinginku cemburu, manis sekali sih cemburunya, aku suka banget lihat kamu cemburu seperti itu, sumpah," Lily tersenyum geli melihat bagaimana suaminya saat cemburu saat ini. 


"Siapa juga yang cemburu," Jason melipat kedua tangannya di depan dada.


"Yakin nih tidak cemburu? Ya sudah," ucap Lily kemudian meninggalkan Jason.


"Kamu mau kemana?" Tanya Jaso melihat istrinya yang berjalan menjauh.


"Mau nyamperin pria tampan tadi," teriak Lily dan berlari.


"Apa?" Jason pun berlari mengejar istrinya.


Dengan langkahnya yang lebih lebar, jelas saja Jason bisa segera menyusul istrinya. Di angkatlah tubuh Lily dari belakang, membuat Lily memekik kencang karena terkejut. Tapi kemudian keduanya tertawa saat Jason memutar tubuh melayang Lily.


"Sayang turunin!" Pinta Lily disaat kepalanya sudah pusing karena di putar-putar.


Jason menurunkan tubuh istrinya, dan memeganginya erat agar tidak limbung, setelah dikira rasa pusing istrinya hilang, Jason kembali menangkap tubuh istrinya ala bridal style, dan menurunkan Lily di air pantai, hingga membuat pakaian yang Lily kenakan basah semua.


***


Sementara itu Dahlia tampak gelisah di tempatnya, sedari tadi kegiatan yang dilakukannya hanya melihat ponselnya.


"Kenapa Kak Al tidak membalasnya?" Gumam Dahlia yang terlihat gusar.


"Apa Kak Al tidak membacanya? Tidak mungkin, bahkan centang duanya sudah berwarna biru, atau jangan-jangan ada orang lain yang membacanya? Rasanya itu lebih tidak mungkin, melihat tipe orang seperti Kak Al tidak mungkin dia semudah itu membiarkan orang lain membaca pesannya," ucap Dahlia bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya.


"Kenapa tidak dibalas sih? Cuma dibaca saja, apa Kak Al sangat tidak menyukaiku, makanya dia mengabaikan pesanku ya? Aduh gimana dong ini, uda pesan yang aku kirim seperti pemaksaan banget lagi, tapi biarkan saja lah, sudah terlanjur juga, ih tapi aku malu banget sumpah, sudahlah tidak bisa aku tarik juga kan apa yang sudah dikirimkan, bisa sih, tapi sudah dibaca juga," Dahlia terus berbicara pada dirinya sendiri.


"Akh bagaimana ini?" Teriak Dahlia menghentak-hentakan kakinya.


"Aw sakit!" Dahlia meringis memegang kakinya yang terasa sakit karena ulahnya sendiri. Dahlia benar-benar lupa jika kakinya masih sakit.

__ADS_1


Vega langsung berlari ke kamar putrinya begitu mendengar teriakan. "Sayang ada apa?" Tanya Vega panik.


"Oh, itu aku tidak apa-apa Bu," jawab Dahlia yang merasa bersalah karena membuat ibunya khawatir karena teriakannya.


"Kakimu kenapa?" Tanya Vega yang kini panik melihat Putrinya memegang kakinya.


"Tidak apa-apa Bu, sungguh. Tadi hanya kepentok saja, tapi ibu tidak perlu khawatir aku baik-baik saja kok," ucap Dahlia meyakinkan Ibunya agar Ibunya tidak cemas lagi.


"Bagaimana tidak apa-apa, kamu sampai berteriak seperti itu, jangan coba bohongi Ibu, karena takut Ibu khawatir.


Dahlia hanya menyengir menunjukkan deretan giginya. "Ibu sungguh Lia tidak apa-apa, ini rasa sakitnya juga sudah hilang," Dahlia hendak menggerakkan kembali kakinya dan dengan cepat Vega melarangnya.


"Stop jangan melakukan apapun, itu bisa membuat kakimu tidak sembuh-sembuh," ujar Vega memperingati.


"Ya Ibuku sayang, Ibu sekarang bisa kembali melakukan pekerjaan Ibu."


"Kamu yakin?" 


Dahlia hanya mengangguk.


Drt


Drt


Ponsel Dahlia bergetar, Dahlia segera mengambil ponselnya, berharap jika Al yang akan membalasnya.


Tapi Dahlia harus kecewa saat ternyata bukan Al yang mengirimkan pesan melainkan teman kuliahnya. Menanyakan kenapa dirinya tidak masuk beberapa hari ini.


Dahlia kini tampak sibuk berbalas pesan dengan temannya, hingga sedikit lupa tentang kegalauannya pada pesan yang dikirimkannya kepada Al.


Cukup lama Dahlia berbalas pesan dengan temannya itu, hingga akhirnya obrolan mereka berakhir karena temannya bilang dosen sudah datang.


Dalam keheningan, Dahlia kembali memikirkan pria yang sudah lama dia kagumi.

__ADS_1


"Apa aku kirim pesan lagi aja ya, tapi bagaimana jika tidak dibalas juga, aku kirim aja deh," Dahlia tampak berulang kali mengetikan sesuatu tapi berulang kali pula dia menghapusnya dan berakhir ponselnya dia geletakkan begitu saja di atas tempat tidur.


Dahlia lalu mengambil ponselnya kembali, memutuskan untuk menelpon tapi di urungkan lagi, begitu seterusnya, hingga tanpa sengaja, Dahlia memencet ikon panggil. Dan tak lama terdengar suara orang di seberang telepon yang membuat Dahlia tiba-tiba gugup.


__ADS_2