Please Love Me

Please Love Me
Bab 331


__ADS_3

Lily mengalungkan tangannya di lengan Jason, saat ini keduanya berjalan melewati lorong rumah sakit, baru saja mereka keluar dari ruang dokter kandungan. Lily memegang hasil usg sambil terus tersenyum, matanya sama sekali tak teralihkan. Jason pun akhirnya bertugas menuntun jalan wanitanya agar tidak menabrak sesuatu. Sebenarnya dalam hati, Jason ingin ikut berteriak senang,  akhirnya dia akan memiliki seorang anak laki-laki yang ditunggunya selama ini, karena kedua anaknya yang lain sudah berjenis kelamin perempuan. Tapi Jason tetaplah Jason, pria itu tetap memasang wajah datarnya, apalagi mengingat jika saat ini mereka sedang berada di tempat umum. Jason mencebikkan bibirnya karena tidak mendapat tanggapan dari suaminya itu, hingga kini keduanya berada di parkiran.


Jason membukakan pintu agar sang istri bisa langsung masuk, kemudian berlari kecil menuju sisi lainnya, dia langsung saja masuk dan mulai mengendarai mobilnya.


"Loh kenapa kita berhenti disini?" Pandangan Lily kini tertuju pada sebuah restoran.


Jason melepas seatbelt lalu menatap Lily.


"Aku lapar, kita makan dulu sebelum jemput Cinta ya," Jason kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ku rasa waktunya cukup, ini juga sudah dekat dengan sekolah putri kita, atau kalau tidak kamu coba kirim pesan pada guru atau satpam barangkali nanti kita datangnya sedikit terlambat," ucap Jason panjang lebar tanpa mendapat respon istrinya.


"Sayang!"


"Dari tadi aja diam, giliran lapar ngomong baru kayak kereta, gak berhenti-berhenti."


"Ayo cepat ambil ponsel kamu dan hubungi sekolah Cinta, kita harus segera turun, nanti Cinta akan menunggu lama loh."


Lily yang sedikit kesal tetap saja menuruti perintah suaminya, mengambil ponsel lalu menghubungi satpam, tidak mengirim pesan, khawatir pesannya tidak sempat dibaca. Dan setelah mengakhiri panggilan, Lily segera turun dan menyusul suaminya yang kini menunggu dirinya di samping mobil.


"Sudah?" Tanya Jason.


Lily pun mengangguk, Jason menggandeng tangan Lily segera mengajak wanita itu masuk. 


Lily hanya menggeleng pelan saat melihat banyaknya menu yang dipesan yang suaminya, dan suaminya itu hanya bilang jika ingin mencoba semuanya.


"Tapi kamu yakin sayang, akan makan semua ini?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Memangnya aku tidak boleh memakan semua ini?" 


Lihat mood suaminya mulai memburuk dan sebelum Jason membatalkan niatnya yang ingin makan semua itu, Lily pun mengiyakan saja, kalau tidak habis bisa dibungkus, pikir Lily. Tapi Lily kini menatap tak percaya pada meja di depannya dimana semua piring itu sekarang sudah kosong, semua makanan sudah tandas tak tersisa.


Jason mengelus perutnya yang merasa kenyang sambil menyandarkan punggung di kursi.


"Sudah?"


"Lima menit lagi, biar turun dulu makanannya."


Setelah lima menit berlalu, Jason segera bangkit, dirinya meminta sang istri untuk lebih dulu ke mobil, sedangkan dirinya melangkahkan kaki menuju kasir untuk membayar sekaligus mengambil pesanan makanan yang akan dibawanya pulang.


"Kamu juga membungkus makanan?" 


"Iya, jadi kamu nanti tidak perlu masak untuk makan siang, dan yang ini untuk satpam di sekolah Cinta, sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu menjaga putri kita," ucap Jason sambil meletakkan makanan di kursi belakang.

__ADS_1


"Kita jalan sekarang."


Lily mengangguk, lalu memasang seatbeltnya. Sedang Jason mulai melajukan kendaraan menuju sekolah Cinta.


Sesampainya disana, keduanya turun bersama, benar saja sekolah Cinta sudah mulai sepi, karena Jason yang datang sedikit terlambat sekitar 15 menit.


Lily segera turun lebih dulu, tak ingin putrinya lebih lama menunggu. Dan sampai disana Lily tersenyum karena lagi-lagi putrinya tidak sendiri, ada anak laki-laki yang waktu itu ditemuinya.


"Hai Ian," sapa Lily disambut Ian yang langsung mencium punggung tangan Lily.


"Hai tante, hmm kalau begitu Ian pulang dulu."


Lily menahan tawa melihat anak laki-laki itu yang kini berjalan terburu-buru dan justru berakhir menabrak tubuh Jason.


"Ma...maaf om."


Lily menggandeng tangan Cinta dan segera mendekat.


"Wajah kamu jangan seperti itu sayang, lihat Ian jadi takut," Lily merangkul lengan Jason membuat Ian menatap bingung.


"Oh iya sayang, perkenalkan ini om Jason, ayah Cinta," Lily memperkenalkan Jason kepada Ian.


Anak laki-laki itu dengan segera meraih tangan Jason dan mencium punggung tangannya. 


"Ian om."


"Ian pamit dulu, tante, om," pamit anak itu.


"Tidak mau main ke rumah Cinta dulu," ucap Jason begitu Ian melewatinya.


Ian menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Jason, lalu kembali menoleh ke arah mobil yang tadi mengantarnya.


"Sebentar om, tante," Ian segera berlari setelah mengatakan itu.


Jason juga ikut melangkah ke pos, mengucapkan terima kasih karena sudah menjaga putrinya, sambil menyerahkan sesuatu bawaannya.


"Hati-hati sayang!" Teriak Lily.


Ian berhenti sejenak, mengangguk menatap Lily lalu kembali melanjutkan langkahnya. Tak lama anak itu kembali berlari menghampiri Jason dan Lily. 


"Ian sudah ijin om," ucapnya.


Lily tersenyum ke arah Jason.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo masuk!" 


Lily membukakan pintu mobil membiarkan putrinya masuk, yang kemudian disusul oleh Ian yang duduk di samping gadis kecil itu.


Lily mendekati Jason yang sedang memasang seatbelt nya.


"Bagaimana sayang?" Bisik Lily sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Kamu ini selalu saja," Jason menyentil kening Lily pelan, sudah tahu kelakuan istrinya yang suka sekali menjodoh-jodohkan putri-putrinya, padahal putri mereka masih kecil. Dan jika Jason menegurnya, jawabannya sama, hanya bercanda. 


Jason kemudian segera melajukan mobilnya membuat Lily berakhir cemberut, tapi dirinya kembali tersenyum saat mendengar Cinta dan Ian mengobrol yang menurut Lily tampak menggemaskan.


Tak butuh waktu lama, hingga kini akhirnya mobil yang Jason kendarai telah sampai di halaman rumah. Keempat orang itu pun turun lalu melangkah masuk dan langsung disambut Aulia serta kekacauan yang sudah gadis kecil itu buat.


"Ibu!" Teriaknya saat menoleh dan begitu melihat wajah sang ibu.


"Ya ampun sayang!" Lily mengedarkan pandangan dimana semua mainan berserakan di sana-sini.


Yang ditegur justru kini lari dan berlari meminta digendong ayahnya.


"Ayah tolong Uli," bisik gadis kecil itu yang masih bisa Lily dengar.


"Ayo bereskan ayah bantu," ujar Jason yang kemudian membantu putri kecilnya itu.


"Maaf ya Ian berantakan, ini biasa adiknya Cinta," ujar Lily kemudian menuntun teman putrinya itu ke ruang keluarga. Sementara Cinta langsung berpamitan untuk mengganti bajunya.


"Tante tinggal dulu ya sayang, Ian mau jus?"


Anak laki-laki itu memberi anggukan sebagai jawaban. Lily tersenyum kemudian melangkah pergi menuju dapur.


Tak lama Cinta datang dan bergabung bersama Ian yang tadi ditinggalkan Lily dengan televisi yang menyala.


"Kamu suka film ini?"


"Iya kak, bagus, seru juga."


Ian mengangguk memperhatikan Cinta yang tengah larut menonton film kartun kesukaannya. 


Ian langsung mengalihkan pandangannya, menatap ayah Cinta yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang mereka.


"Ehem!" Jason berdehem mendekat ke arah kedua anak itu, meminta Cinta untuk bergeser sehingga kini posisinya berada di tengah-tengah.


"Kamu suka film ini juga?" Tanya Jason pada Ian sembari melihat anak laki-laki yang kini duduk di samping kirinya.

__ADS_1


Ian menggeleng, "Ian jarang nonton televisi om," jawabnya kemudian.


Tak hanya Jason, Lily yang baru saja datang dengan membawa nampan di tangannya bahkan sampai menghentikan langkahnya mendengar jawaban Ian.


__ADS_2